SMS Ini Membuatmu Menangis


sms ini membuatmu menangis

[Semalam aku tanya pada malam tentang engkau:
Apakah kau tak punya hati
untuk mencintai diriku yang selalu mencintaimu
walau aku selalu melukaimu?
biarlah airmata ini menjadi saksi,
keberadaan benteng cintaku
yang kian kokoh terbangun hanya untukmu]

dedaunan di ranting cemara
di antara Brown, Hitti, dan Haikal
10:07 17 Agustus 2005

Hidup Itu Bukan Sebait Lagu



lelap kulelapkan tidurku
sampai kau datang padaku
aku akan menyanyi sebuah lagu tentang cinta
yang berakhir bahagia seperti pertama
aku cinta kepadamu…(lagu tentang cinta)
Hidup itu bukan sebait lagu, yang mengungkapkan hanya kebahagiaan semata. Namun dibalik itu sudah pasti dan niscaya adanya kepedihan, kekecewaan, nelangsa, dan tangisan. Maka selayaknya tak perlu merindukan bait-bait lagu untuk diperdengarkan dalam setiap waktu kita.
Hidup itu bukan sebait lagu, yang mengungkapkan hanya kebahagiaan semata. Namun dibalik itu ada dorongan agar kita selalu merasa sempit terasa dunia ini, bahkan putus asa menjadi teman setia. Maka sudah selayaknya tak perlu merindukan bait-bait lagu sebagai pemuas nelangsa karena ia hanya semu.
Maka sore ini, tak perlu kita dengarkan lagu tentang cinta dari Bebi Romeo dan Rita Effendi, karena ayat-ayat-Nya sudah menunggu kita untuk dibaca, yang tentu dan sudah pasti ada di dalamnya pula tentang ayat-ayat cinta.
Maka bacalah ia. Aku merindukannya.
dedaunan di ranting cemara
di antara kalendar yang menuju tanggal merah
16:55 16 Agustus 2005

Merdeka pun Kau Tetap Mati


pada tanah rantau yang tercium amisnya darah
kutancapkan satu bambu runcing kuning mengilat
agar aku berdiri tegak kibarkan merah putih
menantang cambuk angin yang menggelepar-gelepar
memandang Bandung berkubang lidah api yang menjulur-julur
menunggu matahari yang masih saja tak mau terbenam
menghitung tapak demi tapak gerilya
tapi!!!
aku tak mampu menelan kala agar berhenti memilin detiknya
aku tak mampu menyapa tahun keseribu
aku tak mampu menghentikan tujuh setengah windu
yang membuatku mengeriput, ciut, kecut
aku tak mampu menjadikan bambu ini kayu Sulaiman
dan akhirnya aku takut menidurkan jiwa ini
karena harga liang kubur yang melangit
tak mampu kubayar seringgit demi ringgit
dengan kaleng tua di tangan yang menjepit
menanti sesen dua sen dari lalu lalang yang tersenyum sengit
tapi!!!
saksikanlah aku menjadi busuk di Asia Afrika
yang tak mau menerimaku di sudutnya
saksikanlah aku beralas merah putih
hingga tahu-tahu semut-semut masuk
melalui semua lubangku
aku mati

dedaunan di ranting cemara
di antara menit-menit jelang kemerdekaan
18:40 15 Agustus 2005

Ukhuwah Islamiyah


Ahmad—sebut saja demikian—terlihat meneteskan air matanya ketika ia membaca sebuah artikel tentang penderitaan kaum muslimin Bosnia, dalam sebuah majalah Islam pada pertengahan tahun 1994. Ketika ditanya kenapa ia sampai menangis, ia hanya menjawab, hatinya terasa perih dan seperti ikut merasakan penderitaan mereka.

Sekarang ia sudah menjadi seorang pegawai negeri di sebuah departemen ternama di republik ini. Dan hatinya tetap selalu merasakan penderitaan umat Islam di manapun mereka berada, bahkan penderitaan itu sempat ia rasakan kembali tidak hanya untuk saudara-saudara seakidahnya nun jauh disana, namun di dua tempat di negara ini yang dijadikan tempat pembantaian dan penghinaan umat Islam.

Refleksi dari keprihatinannya ia wujudkan dalam bentuk selalu ikut serta meramaikan aksi demonstrasi menekan pemerintah untuk bertindak ditengah waktunya yang sangat padat. Ia katakan, mungkin hanya itu pengorbanan secara fisik yang ia lakukan selain infaq dan do’a untuk membantu saudara-saudaranya.

Ahmad mungkin salah satu dari sedikit orang dari 220 juta penduduk di Nusantara ini yang mengamalkan suatu konsep yang dalam Islam disebut Ukhuwah Islamiyah
Dalam salah satu tulisannya, Sayid Sabiq—seorang ulama Mesir penulis kitab Fiqhussunnah—menyatakan bahwa salah satu dari enam pilar kebangkitan umat Islam saat ini adalah quwwatuljama’ah (kekuatan jama’ah). Dan unsur utama pembentuk dari kekuatan tersebut adalah Ukhuwah Islamiyah—Persaudaraan dalam Islam.

Dalam konsep Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu konsep persaudaraan yang dilandasi oleh landasan yang amat kokoh yakni ‘aqidah. Abu Ahmad Marwan pun mengatakan dalam salah satu bukunya (1994:120) bahwa persamaan aqidah inilah yang akan membawa kepada persamaan pandangan hidup dan orientasi perjuangan.

Dengan konsep ini Islam tidak membatasi dirinya dalam suatu etnis bahkan batas geografis sekalipun, sehingga siapapun orangnya yang telah mengikrarkan kalimat tauhid dan persaksian Muhammad sebagai rosul-Nya, di mana pun ia berada, apapun warna kulitnya, maka ia adalah sesama saudara.

Konsep persaudaraan ini melandaskan dirinya pada Q.S Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat.

Dan salah satu hadits Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar yang berbunyi:
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Alloh alan membantu keperluannya.

Dengan ukhuwah inilah Rosululloh dapat menyatukan hati dari dua suku di Madinah yakni suku ‘Aus dan Khajraj yang sebelum mereka mengenal aqidah Islam mereka selamanya selalu berperang dengan menimbulkan kerugian yang amat besar dan dendam yang tak kunjung padam.

Kehancuran kekhalifahan Umayyah di Andalusia, Utsmaniyyah di Turki menjadi fakta sejarah yang tak bisa dilupakan oleh umat Islam ketika simpul aqidah tercabik-cabik dengan semangat kesukuan yang begitu besar. Perseteruan internal antar qabilah di Andalusia itu memuncak dengan adanya permintaan kepada musuh-musuh Islam untuk membantu menakhlukkan qabilah yang lain. Atau superioritas nasionalisme yang dihembus-hembuskan antara Turki dan Arab membuat Kekhalifahan Utsmaniyah yang dulu begitu luas dan kuatnya, runtuh dan mendapat julukan yang amat menghinakan pada saat itu yakni “orang sakit di Eropa”.

Bila melihat kondisi umat Islam sekarang ini maka tampak sekali betapa ukhuwah Islamiyah menjadi suatu hal yang hanya ada pada tataran abstrak dan belum—untuk tidak mengatakan tidak—dapat diimplementasikan pada tataran empiris, tidak sekedar hanya sebuah isi khutbah dari masjid ke masjid atau tulisan di berbagai media belaka.
Dengan kekuatan ini pula umat Islam mengibarkan panji-panji peradabannya yang gemilang ke seluruh dunia. Namun ketika umat mulai meninggalkan tali ukhuwah, hal yang berlawanan pun terjadi.

Bukti nyata dari semua ini adalah ketika darah mengalir dari tubuh-tubuh kaum muslimin yang teraniaya di pelbagai penjuru dunia seperti Chechnya, Bosnia, Palestina, Rohingya, Philipina, Ambon, dan Poso, umat Islam terdiam, hanya segelintir orang dan sedikit sekali media yang memberikan keprihatinan atas semua itu. Bahkan ketika ada dari sedikit orang itu memberikan pengorbanan secara fisik untuk membantu saudara-saudaranya itu terlepas dari kekejaman-kekejaman, publik langsung mengecam mereka sebagai fundamentalis Islam, Ekstrimis Islam, Radikalis Islam bahkan julukan terkenal saat ini yakni Teroris Islam.

Akankah mereka ingat akan sabda Baginda Rosululloh SAW yang mengatakan bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh yang bila salah satu bagian tubuh itu sakit maka seluruh bagian tubuh lainnya akan merasa sakit pula.

Alhamdulillah, di tengah kegersangan itu, seorang menteri pada kabinet lalu ini yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Dr Rokhimin Dahuri dalam suatu acara di Jambi mengutip hadits tersebut sembari menambahkan bahwa ketika ada saudaranya di bagian daerah lain yang terkena musibah, maka sudah sepantasnya saudaranya yang lain ikut merasakan musibah yang dialami umat Islam tersebut. (Republika, 15/11). Ukhuwah ini menurutnya adalah satu dari empat hal yang dibutuhkan oleh umat Islam sekarang ini, tiga hal lainnya adalah ‘aqidah, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ekonomi perdagangan.

Yang jadi pertanyaan saat ini akankah ukhuwah Islamiyah ini dapat melekat di setiap hati umat? Untuk menjawabnya mungkin perlu mengambil 3M-nya Aa Gym, yakni yang pertama adalah mulai dari diri kita sendiri. Kita tanamkan konsep tersebut dalam bentuk usaha keras untuk mempererat kasih sayang dan silaturahim pada lingkup keluarga terlebih dahulu, dan berusaha untuk selalu sholat berjamaah.

M yang kedua adalah mulai dari hal yang kecil contohnya adalah selalu merapatkan shof pada waktu sholat berjama’ah dengan mempertemukan kaki dan bahu kita, karena salah satu contoh kecil yang nyata dari belum bersatunya tali ukhuwah umat pada saat ini adalah ketika mereka tidak bisa merapatkan shof-shof mereka pada waktu sholat.

M yang ketiga adalah mulai dari saat ini, ketika selesai membaca tulisan ini langsung kita bertekad untuk mengerjakan 2M yang pertama dan niatkan dengan ikhlas bahwa yang kita lakukan ini adalah untuk membangun kembali peradaban Islam yang gemilang di atas pilar kekuatan jama’ah dan yang akan menjadi bukti keimanan bahwa kita mencintai saudara kita melebihi kecintaan kepada diri kita sendiri, nanti kelak di hari ketika semua manusia dimintakan pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT.

Sesungguhnya berhasil atau tidak upaya itu ataupun lama atau tidaknya perjuangan itu adalah urusan Alloh SWT, yang terpenting bagi kita adalah ‘amal yang yang terus menerus, dan do’a yang kita sampaikan setiap saat.

Sebuah perumpaan tentang hasil dari suatu usaha, yaitu ketika si tukang batu berhasil memecahkan batu pada pukulan yang keseratus, namun si tukang batu menyadari bahwa bukan pukulan yang ke seratus itulah yang berhasil memecahkan batu itu namun hasil dari pukulan-pukulan sebelumnya mulai dari pukulan yang kesatu sampai kesembilan puluh sembilan.

Sehingga perjuangan menanamkan konsep ukhuwah Islamiyah ini disadari perlu suatu kerja terus menerus, yang entah apakah kita akan dapat merasakan hasilnya ataukah anak cucu kita kelak.
Wallohuta’ala a’lamu bishshowab. (ac)

Satu Hilang Tumbuh Seribu


09.08.2005 – satu hilang tumbuh seribu

Ya, sepatutnya ungkapan bermakna itu ditujukan kepada saya. Tapi bukan tentang para pahlawan yang gugur di medan juang, tapi tentang satu pekerjaan yang telah terselesaikan lalu muncullah seribu pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Sampai hanya berpikir kapan saya bisa menyelesaikannya itu pun menjadi pekerjaan rutin di saat istirahat.
Kata Qoulan Syadiida, “jangan sampai stres, karena stres akan menguras energi yang seharusnya dikerahkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan itu.” Tapi Gugur Bunga sepertinya layak untuk didendangkan kepada saya. Gugurlah waktu yang tiada berluang. Sebagai tanda berkabung saya dari menyia-menyiakan waktu.
Itu saja sih, sekadar mengingatkan bahwa kita ternyata harus mensyukuri atas nikmat waktu luang yang diberikan-Nya kepada kita. Jangan pernah kita sampai menyesal karena kita lupa dan tidak pernah berbuat kebajikan saat semua amal kita ditimbang oleh-Nya. Saat ini juga, mari kita berbuat kebajikan.
Allohua’lam.
saat gundukan yang tersusun itu
tersapu angin sore yang berdebu
mengunci mulut yang kelu
kerana maksyiat selalu
bersiaplah untuk bertemu
munkar dan nakir sebagai tamu
dengan gurat wajah yang membeku
tak mungkin senyum terkulum menyapu
maka kuberitahu
perbanyak amal yang manis bermadu
bukan sepahit empedu
…..
dedaunan di ranting cemara
di antara minahasa raya
12:36 09 Agustus 2005

Lontar dari Kadipaten Depok


lontar dari Kadipaten Depok

:buat Mapatih Gajahmada

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan
kalaulah belum tahlukkan negeri Sunda
satu negeri yang akan membuat tuan
akhiri sumpah palapamu
memulai nikmatnya dunia tidak sebatas mutih

Mapatih, haturkan hamba berkidung
tentang sebuah kidung Sundayana
melarut dalam berlonta-lontar Negarakertagama
yang belum sempat terbaca olehTuan
kerana Prapanca membuat titiknya
saat tuan telah tiada kekal

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang Diah Pitaloka Citaresmi puteri Sri Maharaja
yang datang membawa bangga ke hadapanmu tuan
tanpa ribuan pedang, tombak, perisai,
bahkan genderang tambur

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan kalaulah tuan
bersikeras cantiknya adalah hadiah
dan tetaplah hadiah
jikalau ia bukan hadiah
maka pastilah pinangan buat Tuannya Tuan

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang jikalau ia bukan hadiah
maka tak ada Bubat yang memerah darah
maka tak ada Maharaja yang berkalang tanah
maka tak ada Diah yang berkeris di dada

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang kepedihan hati
Tuannya Tuan Sri Rajasanagara
merenggut selendang cantik tak bertuan lagi
hingga akhir hayat memendamnya di Tayung, Brebek,
tempat hamba memungut nafas pertama hamba

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang dendam yang turun temurun
hingga hamba tak sanggup menegakkan muka
di tatar sunda yang telah tuan curangi
yang telah tuan kangkangi

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang membawa bala dari tuan
tentang hamba adalah putera
para piningit Sitinggil Binaturata
bahkan sebelumnya:Singhasari dan Kadiri

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang menjadi tumbal keserakahan tuan
hingga hamba terbalut kain jijik
dari mata-mata penerus tatar Sunda
hingga hamba tak layak untuk menjadi Adipati mereka

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
seberapa menyakitkan perbuatan tuan
hingga sampai merasuk dalam
pada alam bawah sadar mereka
hingga menggendam pada banyak anak pinak
bahwa hamba adalah bagian Tuan
bagian pusaka jaya masa lalu

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
dapatkah hamba menyalahkan tuan
karena hamba mengalami ketidakadilan
yang pernah menimpa mereka 648 tahun lampau

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang kini tak layak dan tak sepatutnya
menyilih angkaramu kerana hamba
adalah milik Sang Maha Pemilik jiwa Tuan
maka hamba pun sudah sepatutnya berjuang
dengan sepenuh tenaga hamba
layaknya mereka menghadapi Tuan

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang memastikan kisah
tak ada maharaja berkalang tanah
tak ada diah berkeris di dada
tak ada selendang beramis cempaka
kerana tahta sebenarnya bukanlah begitu rupa
hakikinya adalah ia berdiri tegak
di atas keadilan yang nyata

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang bahwa ini adalah sekadar kepedihan hati hamba
bahwa hamba menulis di lontar terakhir ini
semoga Tuan sempat membaca
di sela-sela kesibukan tuan
di sana

dari hamba:
Bhre Noermahmudi
Depok, Minggu Legi 03 Rejeb 1938

dedaunan di ranting cemara
di antara istighosah Kubro—bukan Qubro
22:08 Ahad, 07 Agustus 2005

Pecinta Kata-kata


pecinta kata-kata

[Purnama menggantung di langit Jakarta, menemaniku susuri jalan menuju pulang. Tiba-tiba aku rindu pada purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana? Dan gerimispun menjelma]

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka pada sebuah artikel baru yang ditulis oleh seorang penulis muda, seorang kontributor eramuslim.com, seorang teman, seorang sahabat dari terkasih Qaulan Syadiida, yang berjudul Dunia Kata-kata.
Sebelumnya kalimat itu terlebih dahulu mampir di sudut handphone di suatu malam, darinya. Tak sempat terjawab segera. Namun esoknya terbalas dengan:

[Jauh di barat daya. Purnama mengejutkanku saat shubuh. Adanya
tertusuk ranting cemara. Hingga tersadar tak boleh ada gerimis duka
di hati. Karena IA satu-satunya pelipur]

Setelah itu ia mengirim sebuah email tentang kepedulian dan kecintaannya pada kata-kata, hingga ia berkata: aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata. (Tak lebih).
Bagi para pecinta kata-kata, ketika menerima kata-kata indah, tergeraklah hati untuk segera membuat kata-kata berbalas yang lebih indah terasa di hati. Maukah kau tahu indahnya kata-kata di atas?
Siapa yang menyangkal indahnya purnama? Maka teman tadi membuat sebuah metafora purnama sebagai hiasan dan teman pulangnya. Ada sentakan keindahan lagi saat membaca kalimat berikutnya: “…purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana?”. Purnama di sudut jiwa, diksi yang cantik. Siapakah ia? Tanyakan saja padanya. “Gerimispun menjelma”, lagi-lagi pilihan kata yang indah menggantikan awal mula turunnya hujan.
Sedangkan saya benar-benar mengalami keterkejutan saat keluar dari masjid karena terpampang dengan indahnya purnama subuh yang membulat penuh di lihat mata. “Oh…saya tak menyangka, malam lalu adalah malam purnama,” pikir saya. Hingga saya terpesona beberapa saat. Sampai pada kesadaran bahwa saya harus mensyukuri atas kesejukan plus keindahan subuh yang tiada tara. Maka tak boleh ada gerimis duka, air mata yang menganak sungai di pipi, dan gulana yang meresahkan jiwa karena sarat beban. Sudah sepatutnya semuanya kita sandarkan pada-Nya, pemilik segala jiwa, mahapelipur segala lara.
Tak semua orang bisa menikmati kata-kata. Tak semua orang bisa mengerti tentang indahnya kata-kata. Tak semua orang bisa memahami cantiknya kata-kata. Hingga seorang pecinta kata-kata terkadang mencari, mencari, dan mencari seorang pecinta kata-kata untuk berbagi kata, berbagi keindahannya, berbagi cantiknya diksi, berbagi rasa dan imaji.
Namun ada yang harusnya tidak terlewati, pertanyaan tentang kepada siapakah kata-kata itu ditujukan? Karena jikalau ia tahu maka ada hati yang akan tersakiti. Bukan karena kata-katanya tapi karena kata-kata itu diurai kepada yang telah memiliki hati. Khusus untuk yang satu ini, maka tiga hal yang perlu dilakukan: hentikan segera, hentikan segera, dan hentikan segera. Jika tidak, ada sepasang hati yang akan membiru dan berdarah-darah tiada halalnya, atau ada satu hati yang merana karenanya.
Atau kau suarakan pada dunia dengan sekeras-kerasnya, tidak berbisik, tidak pada media yang amat-amat pribadi. Maka berikanlah kata-kata indahmu pada hati yang telah halal untukmu.
Seperti yang Qaulan Syadiida kirimkan kata-kata indahnya pada saya:

[Bunga mawarku mungkin hanya satu dari jutaan mawar di dunia. Tapi mawarku istimewa, unik dan sangat berharga bagiku. Karena aku telah menghabiskan waktu bersamanya, melakukan banyak hal untuknya maka aku mencintainya, meski durinya kadang menyakitiku. Jika cinta dan luka adalah dua sisi yang berkelindan dari keping yang sama mungkin aku harus belajar lapang dada agar duri mawarku tak mengenai permata hatiku, cukup aku. Meski aku tak tahu bila durinya kembali menyakitiku.]

Maka saya pun membalasnya dengan kata-kata:
[Aku merinduimu layaknya api merindui air. Aku merniduimu layaknya layar merindui angin. Aku merinduimu layaknya tanah kering merindui hujan. Maka kemarilah wahai pelipur lara untuk tuntaskan kerinduan].

dan menambahnya dengan:
[Aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata , ujar seorang teman pujangga. Maka deraskanlah kata-katamu hanya untukku bak badai yang tak temukan habisnya].

Tapi ingatlah wahai Qaulan Syadiida, sesungguhnya tiada sebaik-baik kata-kata kecuali kalimat pengesaan-Nya. Tiada sebaik-baik syair kecuali firman-Nya. Maka cintailah dengan utama kata-kataNya. Deraskanlah ia di bibir dua puluh sisi setiap harinya. Sejak itu kau akan rasakan indahnya, nikmatnya. Maka bolehlah aku dan kau disebut sebagai pecinta kata-kata.

dedaunan di ranting cemara
di antara penat yang tiada lelah mencabikku
00:46 05 Agustus 2005

Semakin Menghijau


04.08.2005 – semakin menghijau

Sore semakin membulat dengan cahaya yang semakin pudar terangnya, namun ada yang terpenuhi dahaga padanya.Ya, setelah berkutat lagi dengan html editor amatiran seperti frontpage, akhirnya kembali saya dapat sesuatu berharga yakni filosofi pewarnaan font dan pergantian halaman. Template yang dulunya tiada Last and Next Page, kini sudah tampil dengan manisnya, juga filosofi tentang jumlah halaman.
Kini tempat dedaunan bertengger semakin menghijau. Sila lihat saja bagi Anda semua penikmat gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Mungkin saja Anda menemukan sesuatu yang berharga di sana, atau sekadar melepas lelah dari terik mentari dan gundah gulana yang menyesakkan dada. Tapi saya cuma mengingatkan saja, jikalau Anda merasakan yang terakhir itu maka cukup dengan Sholat dan Sabar yang menjadi penolong Anda, tiada yang lain, karena ia menyejukkan.
Maka akhiri saja hari ini dengan selalu mengingat-Nya. Pastilah segenggam hati akan tenang terasa.
Maaf tiada terkira.
dedaunan di ranting cemara
di antara halaman frontpage
16:31 04 08 2005
ps. bagi kawan yang lagi belajar frontpage, yakini ia sangat mudah

Sepenggalah Suluh Untuk Kawan


04.08.2005 – sepenggalah suluh untuk kawan

Pagi ini masih saja aku menjadi bagian dari kemalangan yang menimpa ruh ruh kebaikan manusia di dunia. Sampai saat kubaca paragraf-paragraf indah tentang sebuah cinta dan kerinduan. Dan sampai detik itu pula aku tersadar waktu akan meninggalkan dhuha. Seperti dhuha-dhuha lama di Lido, Cibatok, Cilember atau di sudut kamar kost sempit kita dulu.

Semuanya penuh cinta, kawan, penuh hamasah, penuh ruhul jadid yang menggelora di dada yang dekat dengan mushaf di saku. Semuanya penuh robithoh, penuh qiyamullail, penuh shaum di setiap senin dan kamis. Semuanya penuh dengan peluh dan telapak kaki yang menebal karena susuri jalan-jalan sempit di antara sela-sela perkampungan padat rumah-rumah kost, atau karena tiada yang rindang di sepanjang jalan menuju masjid tercinta.

Itu semua karena kita masih tersadar betapa jalan dakwah begitu terjal dan sepi jauh dari keramaian yang akan membuat kita lupa dan terserang virus riya. Sering kali kita beristighfar sadari setiap kelalaian, sadari niat yang melenceng dari relnya semula.

Oh ya, ghodhul bashor pun tak lupa menjadi keseharian kita. Karena sesungguhnya mata adalah pintu dari panah-panah syaitan yang akan merobek-robek jaring-jaring iman kita.

***** Dhuha telah meninggalkanku, sedangkan aku masih berusaha mengingat memori yang kian hilang ditelan kesibukan dunia. Tapi yang pasti aku kembali ingat tentang semuanya itu kawan, tentang cinta itu, tentang foto-foto dalam album tua itu yang masih tersimpan di tumpukan paling bawah dalam lemari bukuku. Padahal tadi malam aku masih tidak ingat tentang cinta itu kawan…
dedaunan di ranting cemara
Sepenggalah suluh di antara dedaunan untuk: Faisal Alami, Ujang Sobari, Suprayitno, Ramli, Amran, Anwar, Abas, LBH, Si Kembar Madiun, yang di Sukabumi, dll. dari atoz

Sumber: renungan di medio 1997

Kia Tak Selalu Berakhir Dengan Mat


I. semuanya pasti akan begitu

kuketuk pintu
tok…tok…tok…
sekali, dua, tiga
pelan dan meritmis
sepi
tak terjawab
dari sebuah pintu
bertulis:
kamar mayat

II. Kia tak…

Bila Tuhan menyuruhmu, Israfil
pastikan sangkakalamu telah mengkilap
dan nyaring bunyinya
karena ia cuma dua kali meraung
saat manusia selalu berkata:
kia tak selalu berakhir dengan mat
saat manusia akan selalu berkata:
dimana aku berada sekarang ini