tadi malam
senandung hujan sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tertidur
tuk memilih mimpinya sendiri
anggap saja ia adalah calon bidadari surgamu
(itupun kalau kau tak rasakan pedihnya neraka)
tadi malam
ritmis gerimis sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tersungkur dalam sujud panjangnya
tuk memilin untaian do’anya sendiri menjadi selendang pembuka pintu langit
anggap saja ia adalah satu paragraf dalam satu bab di buku kehidupanmu
tadi malam
harum tanah sempat berbisik padaku
: persiapkan saja bekalmu
tuk menuju terminal terakhir itu
raih cita-cita tertinggimu
rengkuh syahid tanpa cintanya
biarkan mewangi misik menjadi tanda persaksian itu
tadi malam
guruh guntur menggemparkan mega mendung
dengan kilat putihnya pula
sadarkan aku bahwa aku masih menjejakkan kaki
di tanah ini
jauh dari detik-detik pertaruhan nyawa
sempatkah aku ke sana?
sedang aku masih di sini
aku berteriak
aku tak mau jadi Ka’ab bin Malik (sang tertinggal)
tadi malam
semua yang berbisik serempak berteriak
: pergi sana…!!!!!
lupakan saja ia……..!!!!!!
………….aku terbangun.
Tanggal 12 Desember 2003
kepada kawan yang memesan untaian kata ‘tuk dibacakan pada sang-nya