RIWAYAT TANPA CELA


Jangan pernah menemukan aib dan kesalahan diri saya pada tulisan kali ini. Yang engkau akan temukan adalah keistimewaan, prestasi dan penghargaan saya. Yah, wajar saja namanya juga riwayat hidup dari sebuah karya tulis. Padahal begitu banyak aib dan kesalahan pada diri yang rentan ini, tapi memang Allah sengaja telah menutupi semuanya itu dari pandangan orang lain.
Tinggal bagaimana saya bisa mempertahankan status di bawah perlindungan itu sampai di hari hisab nanti. Karena Allah akan mempertontonkan aib hamba-Nya yang tidak bisa menahan diri dari mempertunjukkan aib orang lain kepada khalayak yang lebih ramai.
So, terima sajalah orang ganteng ini mempertunjukkan riwayatnya. Tetapi sebelumnya saya kudu mempertunjukkan dalilnya kepada Anda semua. Kenapa riwayat hidup ini isinya cuma pujian belaka.
Riduwan (2004) pernah menulis:
Riwayat hidup dibuat secara padat dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, tidak semua informasi tentang yang bersangkutan dimuat. Isinya berupa: nama lengkap, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dan jabatan (bila telah bekerja); prestasi-prestasi yang pernah dicapai dan karya ilmiah (publikasi) yang telah dihasilkan atau diterbitkan. Riwayat hidup dapat dibuat dengan gaya butir perbutir atau gaya esai yang padat.
Nah loh, betulkan? Riwayat hidup ini terpampang tanpa dosa yang ada hanya prestasi ilmiah, prestasi dunia. Prestasi akhirat? Cukup Dia saja yang tahu. Kalau semua orang tahu, ujian keihlasan akan datang membadai dan jika tiada tertahankan akan mencerabut semua imbalan kebaikan itu dan menjadi sia-sia, nihil. Orang pajak kiranya sudah memahami rasanya melihat kenihilan SPT. Empet…orang kaya kok gak mau bayar pajak.
Sekali lagi, terima sajalah orang ganteng ini memaparkan hidupnya kepada Anda semua. Anda muak dan mau muntah? Muntah saja sana, soalnya saya sudah muntah duluan sedari tadi. (He…he…he…).

RIWAYAT HIDUP

Riza Almanfaluthi, S.Sos., lahir di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, tanggal 24 Juli 1976. Pendidikan mulai Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (1988), Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (1991), Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (1994), kemudian menempuh pendidikan di perguruan tinggi kedinasan Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan, Departemen Keuangan selama tiga tahun. Dan setelah lulus di tahun 1997 langsung ditempatkan di Jakarta, tepatnya di Kantor Pelayanan Perpajakan Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga.
Tahun 1999 di kantor tersebut terpilih sebagai salah satu karyawan teladan. Dengan hobi membaca dan menulisnya, pernah memenangkan perlombaan menulis untuk menyambut bulan ramadhan yang diselenggarakan oleh Masjid Perkantoran di komplek pajak Kalibata. Sempat tulisannya dimuat di Berita Pajak, media komunikasi untuk para pegawai dan praktisi perpajakan.
Agar kemampuan menulisnya tetap terasah, selain mengajar di berbagai tempat kursus pajak, secara kontinyu mengasuh sebuah blog pribadi di intranet yang terpublikasikan ke seluruh kantor perpajakan di Indonesia. Sampai saat ini tulisannya sudah mencapai 240 artikel yang merupakan karya pribadi di dalam blog tersebut.
Pada tahun 2000 melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, pegawai Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indonesia (STIA LAN RI) dengan mengambil program studi Manajemen Ekonomi Publik.
Lulus tahun 2002 setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi dengan judul: Kajian Terhadap Penatausahaan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Final Pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga, dan memperoleh predikat cumlaude setelah dapat mempertahankan karya ilmiah tersebut di hadapan sidang yudisium.
Mendapat kenaikan pangkat yang dipercepat setelah lulus Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat V yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia di tahun 2003.
Dan setelah melewati seleksi pegawai untuk ditempatkan di lingkungan kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan sistem administrasi moderen, pada tahun 2004 diangkat sebagai Account Representative Wajib Pajak Pertambangan Emas di KPP PMA Tiga, sebuah jabatan baru di struktur organisasi DJP dalam rangka kerja nyata pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan menduduki jabatan baru tersebut mengakhiri jabatan yang selama ini dipegang yakni sebagai Juru Sita Pajak Negara, sebuah profesi yang didapat dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) teknis substantif selama 95 jam pelajaran dan lulus dengan menduduki rangking pertama pada angkatan diklat tersebut.
Setelah 8 tahun 7 bulan dan 7 hari berada di KPP PMA Tiga, pada Juli 2006 pindah tugas ke KPP PMA Empat tetap sebagai Account Representative dan membina Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Industri Alas Kaki.
Aktivitas lainnya yang ditekuni saat ini adalah sebagai moderator sebuah forum diskusi sebuah situs Islam di Intranet dan dalam proses penyusunan ebook artikel pribadi yang akan dipublikasikan secara gratis di dunia maya kepada siapa saja yang berminat.
*****

Supaya saya tidak dianggap asal ”njeplak” ini dia maraji’nya:
Riduwan. (2004). Metode & Teknik Menyusun Tesis, Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta, cv.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:37 21 Januari 2007

Jangan Takut Menulis


Semuanya berkumpul di kepala ini keinginan untuk menuliskan sesuatu. Tapi apa hendak dikata, saat pena telah terpegang di tangan, lembaran kertas kosong terhampar di atas meja, atau saat program pengolah kata terbuka di depan mata, tidak ada satu huruf pun yang muncul di layar atau tertoreh hitam di atas putih. Tetap kosong. Kalaupun ada huruf yang muncul selalu tombol backspace atau delete menjadi penyapu hingga tetap bersih, atau dengan coretan tegas panjang menimpa satu atau dua kata yang sempat tertulis.
”Saya tak bisa menulis,” selalu kesah itu yang muncul. Ada apa ini?
Kalau diibaratkan kepala kita adalah teko yang telah terisi penuh dengan air maka sudah sunnatullah, air itu akan tumpah keluar. Kecuali di ujung mulut teko ada penutup rapat yang menyebabkan air tak bisa keluar. Lalu penutup apa yang menghalangi dan menyumbat isi kepala kita sehingga tak bisa mengeluarkan seluruh ide yang ada padanya dalam bentuk tulisan?
Hanya satu, perasaan TAKUT. Takut salah, takut di nilai orang lain, takut di hina, takut di banding-bandingkan, takut tidak trend, takut tidak runut, takut terlihat bodoh, takut tidak nyastra, takut tidak nyambung, dan seribu satu alasan ketakutan lainnya itu.
Ketakutan itu muncul karena satu sebab saja. Kita tidak mau dilihat jelek oleh orang lain. Maka hasilnya sungguh menakjubkan, ketakutan itu menjadi penghalang besar bagi sebagian orang untuk menulis. Bila kita selalu dihantui ketakutan itu maka yakinilah seumur hidup kita tidak akan pernah menulis satu huruf pun. Bahkan satu karakter pun tidak, entah titik atau koma. Seperti Sundel Bolongkah rasa takut itu hingga kita menjadi paranoid dengan ketakutan itu sendiri? Lalu bagaimana, dong?
Hanya satu obatnya, cuek beybeh, jangan pernah pedulikan apa kata orang, jangan pernah sekalipun berpikir tentang penilaian orang lain, jangan pernah berpikir tentang teori njlimet kepenulisan. Biarkan ia mengalir apa adanya. Jangan pernah dihentikan sampai Anda memutuskan di mana titik terakhir itu Anda tempatkan. Lalu berhentilah sejenak saat Anda telah menemukan titiknya. Istirahatlah.
Setelahnya, Anda akan temukan huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat itu menjadi sebuah paragraf. Dan paragraf-paragraf itu begitu mudahnya, begitu gampangnya memenuhi lembaran kertas dan layar Anda.
Barulah Anda tidak bisa cuek beybeh disini. Anda harus care it. Anda harus menjadi editor bagi diri Anda sendiri. Minimal Anda harus memperbaiki kesalahan tulis yang ada pada karya Anda itu. Setelahnya pilihan kata yang tepat. Itu saja. Tidak lebih.
Tunggu dulu, ada satu lagi, ulangi terus langkah ini sampai Anda temukan betapa mahirnya Anda menyusun rangkaian kata itu. Sampai Anda temukan ternyata masih ada yang harus diperbaiki dalam tulisan Anda. Sampai Anda temukan betapa ketakutan itu hanya ada di awal langkah Anda. Betapa ketakutan itu hanya pada saat Anda akan memulai suatu langkah besar. Setelah itu ia menghilang bagaikan halimun ditelan pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat tersenyum pada dunia.
Anda tidak percaya? Sekarang juga! Ambil pena, ambil kertas, and just do it!
Masih tidak percaya? Sesungguhnya tulisan ini diawali pula dari rasa takut.

***

dedaunan di ranting cemara
disampaikan pada sesi ngeblog (nulis) itu mudah.
22:24 18 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan