SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA


Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.coSuami dengan kesabaran setara tabi’in, orang zuhud, dan shiddiqin pada zaman sekarang ini ternyata ada dan ditunjukkan kepada saya langsung malam itu setelah tulisan yang berjudul “Istri Belum Hamil-Hamil, Suami Mau Nikah Lagi” dimuat di Islamedia pagi harinya. Salah seorang ibu yang bernama Ibu Shanti memberikan sebuah persaksian di komentar blog saya. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman yang menyangsikan di dunia ada laki-laki semacam itu. Berikut kisah lengkapnya:

Hampir dua belas tahun usia pernikahan dan kami masih berdua saja. Belum juga dikaruniai anak. Semua terapi sudah kami jalani dari mulai medis hingga alternatif. Dokter yang menangani kami adalah seorang dokter spesialis kandungan yang saleh dan tidak mengeruk keuntungan pribadi. 

Ketika semua tahapan terapi telah selesai dijalani, sang dokter berkata : “Ibu dan Bapak tidak ada masalah sedikit pun, ikhtiar sudah dijalankan, sekarang saya sarankan kepada Ibu dan Bapak untuk memperbanyak sedekah, doa, dan istighfar. Posisi anak dan harta itu sejajar dalam Alquran, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Mohonlah kepada Allah untuk segera diberi keturunan. Sehebat apa pun ilmu kedokteran dan obat yang saya berikan, semua tidak akan berguna tanpa bantuan dari Allah.” 

Kami hanya tersenyum dalam tangis haru. Subhanallah, kami dipertemukan dengan dokter yang baik ini padahal pasien beliau lebih dari empat puluh orang sehari. 

Saya pernah mengalami masa-masa stres yang panjang, sampai-sampai saya enggan berkunjung kepada teman atau tetangga yang melahirkan karena ada perasaan kecewa, sedih, cemburu, dan marah. “Kapan giliran saya ya Rabb?!” 

Di saat saya menangis, suami selalu mengingatkan saya untuk bersabar. Ketika saya betul-betul merasa sedih saya membaca Alquran tanpa memilih surat maupun ayatnya. Subhanallah, Allah menegur saya melalui Alquran yang saya baca sambil meneteskan air mata ini. Yakni pada ayat “jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. 

Saya tidak mampu membaca ayat tersebut dalam satu helaan nafas. Tenggorokan saya tercekat dan sakit mengingat apa yang sudah saya pikirkan terhadap Allah. Betapa Allah sayang kepada saya, betapa Allah ingin menunjukkan seberapa sabar saya. Malam itu saya berusaha tawakal menerima apa pun keputusan Allah dan semoga bisa menerimanya dengan ikhlas. 

Dan malam itu juga saya bertanya kepada suami, ”Kenapa Ayah tidak pernah mempertanyakan kapan Bunda hamil?” Sambil tersenyum dan mengusap kepala saya dengan lembut, ia berkata: ”Karena Ayah tidak mau menyakiti perasaan Bunda dengan pertanyaan tersebut. Kita serahkan semuanya kepada Allah ya, Nda! Sementara itu, kita dekatkan diri kita kepada Allah.” 

Peristiwa itu terjadi tahun 2009, di usia pernikahan kami yang ketujuh. Sekarang, hampir dua belas tahun usia pernikahan kami. Dan dia tetap mencintai saya seperti awal mula kami menikah, tetap tidak pernah mempertanyakan kapan kami akan memiliki keturunan. Komitmen awal kami menikah adalah ingin menyempurnakan setengah din yang sudah kami miliki. Semoga kami tetap istikamah dalam berikhtiar, bersedekah, beristighfar, dan saling menerima kekurangan masing-masing.

Membaca kisah Ibu Shanti dan suaminya membuat saya kembali teringat beberapa perkataan Rasulullah saw yang pernah dicatat dalam kitab Attirmidzi bahwa sebaik-baik ibadah adalah menunggu dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan. Atau dalam hadis sahih lainnya, “Ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan.” 

Saya tidak membayangkan kemenangan dan kebahagiaan seperti apa yang didapat oleh Ibu Shanti dan suaminya jika dalam waktu dekat ini Allah segera karuniakan kepada mereka buah hati yang didamba. Sudah barang tentu ini adalah buah dari pohon ikhtiar dengan pupuk tawakal dan kesabaran itu. Insya Allah. 

Namun apa pun itu, ada ataupun tidak ada anak adalah sebuah takdir. Sebuah ketetapan Allah. Kata Rasulullah saw lagi: “Segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya adalah lebih baik baginya.” 

Semoga kita bisa menerima apa yang Allah tetapkan buat kita. Dan percayalah bahwa laki-laki sabar setara tabi’in itu ada, saat ini. Saya yakin pula, tidak hanya suami Ibu Shanti, melainkan Anda. Semoga. ***


Riza Almanfaluthi

Sumber: http://www.islamedia.co/2014/05/suami-penyabar-setara-tabiin-itu-ada.html

 

CARA AJAIB AGAR PERKATAAN ANDA DIDENGAR DAN DITAATI


CARA AJAIB AGAR PERKATAAN ANDA DIDENGAR DAN DITAATI

Saya pernah membaca kisah di bawah ini. Entah kapan. Tetapi sepertinya sudah puluhan tahun lampau. Entah pada saat saya di sekolah dasar atau pada saat saya sedang kuliah. Namun itu tak penting. Yang penting adalah pati kisah itu melekat kuat di benak saya. Kuat sekali. Kisah sebuah keteladanan.

    Sabtu sore, saya sedang menulis sesuatu. Kebetulan terkait masalah kemunafikan. Lalu saya ingat kembali kisah itu. Tetapi karena khawatir jalan ceritanya menyimpang, saya tunda untuk menuliskannya.

    Saat jelang maghrib, saya melihat sebuah majalah wanita. Saya iseng mengambil dan membolak-balikkan halamannya. Kali saja saya dapat materi yang bagus untuk saya transfer dan bagi kepada jama’ah masjid. Kemudian mata saya terantuk pada sebuah rubrik yang diasuh oleh Ustadz Musyafa Ahmad Rahim yang membahas hadits Ar’bain nomor 28.

Subhanallah, kebetulan luar biasa, di sana ditulis juga tentang kisah yang saya ingin tulis, kisah yang sudah lampau sekali terekam dalam memori saya dan saya temukan kembali. Saya langsung ingin menceritakannya pada Anda semua Pembaca, semoga bermanfaat.

Diceritakan bahwa Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang ulama tabi’in, dikenal seorang ulama yang mau’izhahnya sangat berkesan. Saat dilakukan penelusuran dan penelitian, ternyata rahasianya adalah kesesuaian antara ucapan dengan perbuatannya.

Pada suatu hari sekumpulan hamba sahaya mendatangi Al-Hasan Al-Bashri, mereka meminta kepadanya agar dalam forum mau’izhah mendatang beliau berbicara tentang keutamaan memerdekakan budak. Harapan mereka, para pendengar mau’izhahnya yang banyak dari kalangan para tuan mereka, akan langsung memerdekakan para hamba sahayanya. Mendengar permintaan tersebut, Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Insya Allah.”

Ternyata saat majelis mau’izhah dibuka, dia tidak menyampaikan keutamaan memerdekakan budak. Maka para hamba sahaya itu mendatanginya lagi dan mengulangi permintaan yang lalu. Al-Hasan Al-Bashri menjawab permintaan mereka dengan mengatakan, “insya Allah.” Dan saat forum mau’izhahnya dibuka, dia pun tidak menyampaikan tema keutamaan memerdekakan budak. Dan para hamba sahaya itu mendatanginya lagi dan mengulangi permintaan mereka sebagaimana yang lalu.

Pada saat waktu mau’izhahnya tiba, Al-Hasan Al-Bashri menyampaikan tema keutamaan memerdekakan budak. Benar saja para tuan yang hadir dalam forum itu langsung memerdekakan hamba sahaya mereka. Dan jadilah mereka manusia-manusia merdeka.

Para hamba sahaya yang telah menjadi manusia merdeka itu pun mendatangi Al-Hasan Al-Bashri lagi. Mereka mengucapkan terima kasih sekaligus celaan, kenapa tidak dari awal Al-Hasan Al-Bashri menyampaikan mau’izhah tentang keutamaan memerdekakan budak. Kalau demikian, niscaya mereka telah menjadi manusia merdeka sejak kemarin-kemarin.

Maka Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan, bahwa waktu mau’izhah pertama tiba, dia belum mempunyai uang untuk membeli budak. Begitu juga saat mau’izhah kedua. Baru menjelang majelis mau’izhah yang ketiga, dia mempunyai cukup uang untuk membeli budak. Lalu di depan khalayak, ia langsung memerdekakan semua budak yang dibelinya. Setelah itulah dia baru bisa berbicara tentang keutamaan memerdekakan budak. Subhanallah. (Majalah Ummi No1/XXII/Mei 2010/1431 H)

**

Saya mengambil sari yang mudah dicerna buat para sahabat-sahabat saya di lingkungan rumah saya dan tentunya buat saya pribadi juga, karena ini merupakan nasehat besar. Bahwa kalau ingin perkataan kita didengar dan ditangkap dengan baik oleh istri dan anak-anak—sebagai kumpulan individu yang paling dekat–kita, maka selaraskanlah antara perkataan dan perbuatan.

Ya, bagaimana menginginkan anak kita ketika adzan maghrib terdengar, mereka langsung mematikan televisi, play station, komputernya untuk segera berbondong-bondong ke masjid sedangkan diri kita cuma bisa menyuruh dan masih saja menikmati acara televisi?

Atau bagaimana menginginkan anak kita tidak merokok, sedangkan diri kita masih mempertontonkan nikmatnya klepas-klepus di depan mereka? Dan bagaimana mungkin menginginkan istri-istri kita menjadi sholihah, sedangkan kita malas untuk mendatangi halaqah, majelis dzikir, dan majelis ilmu lainnya?

Ohya, ibarat motor selain diisi dengan pertamax maka perlu ditambah pula dengan cairan suplemen agar larinya bisa sekencang mungkin. Begitu pula agar perkataan kita bisa didengar lebih berbobot dan mantap lagi oleh pasangan hidup dan anak-anak kita, selain menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan, maka ada satu suplemen pelengkapnya: Shalat Malam.

Ya betul, pada saat shalat malam itu Allah menurunkan kepada para pelakunya perkataan yang berat. Insya Allah semua akan mendengar perkataan kita dan meresapinya dalam hati. Saya berharap Anda dan saya bisa menerapkannya.

Kiranya para pemimpin di republik ini perlu juga menerapkan cara ini agar perkataannya bisa didengar, diikuti, dan tidak dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Tak perlu buang uang untuk membeli suara rakyat saat pemilihan umum tiba. Tak perlu bayar mahar atau pergi ke dukun untuk buka-bukaan aura segala. Inilah sebuah cara ajaib untuk menundukkan hati.

Demikian. Semoga bermanfaat.

*** )I(***

 

Mau’izhah atau al-wa’zhu adalah nasehat dan pengingatan tentang suatu akibat atau akhir dari kejadian atau kesudahan dari sebuah perjalanan.

    Maraji’: Al-Muzzammil ayat 5, Majalah Ummi No1/XXII/Mei 2010/1431 H

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.49 11 Mei 2010