Kisah Sederhana (2)


Cuma Kisah Sederhana (2)
Lagi, dengan Indra, setelah di kisah sebelumnya ia menceritakan tentang ban motornya yang ditambal oleh orang yang tak dikenal dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka pada ramadhan yang lalu, kita akan mendengarkan kisah tentang kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan, tentang pertolongan yang Allah berikan kepadanya.
Kali ini, saat istrinya mengalami kehamilan yang ketiga kalinya, Indra mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam masalah finansial. Sedari awal ditemukannya tanda-tanda kehamilan istrinya itu, ia sudah mulai menabung sedikit demi sedikit. Mulai dari biaya persalinan sampai biaya untuk melestarikan sunnah rasul dengan menyelenggarakan walimatul’aqiqah.
Tiga minggu menjelang hari kelahiran anak ketiganya ini ia didatangi saudara pembantunya, sebut saja Pak Hasan. Karena sedang ditimpa kesulitan, Pak Hasan meminta dengan sangat kepada Indra untuk dapat meminjamkan uangnya. Indra tidak bisa berbohong. Ia mengakui bahwa ia memang mempunyai uang. Tapi sesungguhnya uang itu untuk dipergunakan sebagai persiapan biaya persalinan dan aqiqah.
Pak Hasan mendesak dan memohon kepada Indra untuk dapat membantunya. Ia berkali-kali menegaskan bahwa ia sanggup untuk melunasi utangnya segera. Hati Indra pun luluh. Ia bersedia meminjamkan uang tersebut asal pada saat ia akan melaksanakan aqiqah uang itu sudah ada pada dirinya. Pak Hasan pun menyanggupi.
Kemudian pada hari H, persalinan istrinya tidak begitu berjalan lancar. Setelah beberapa jam dilahirkan kelainan mulai diderita si bayi perempuan ini, kulitnya mulai menguning. Ibu bidan yang membantu proses persalinan sudah angkat tangan dan menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Alhasil bayi perempuannya diinap di sebuah rumah sakit ibu dan anak di kawasan Depok. Dengan tabungan yang sudah berkurang ditambah asuransi dari perusahaannya ia memperkirakan dapat menutupi seluruh biaya pengobatan dan rawat inap. Terkecuali untuk biaya aqiqah.
Selagi dia ditimpa kesusahan itu, ia tetap bertekad untuk menyelenggarakan aqiqah pada hari ketujuh. Dan apa yang dijanjikan oleh Pak Hasan untuk mengembalikan uangnya pada saat itu tidak terlihat tanda-tandanya. Indra pun segera mendatangi rumah Pak Hasan. Hasilnya nihil, Pak Hasan tidak sanggup melunasi utangnya pada saat itu, malah menyarankan kepada Indra untuk mengambil harta bendanya sebagai biaya pelunasan utangnya. Apa mau dikata, Indra tidak tega dan tidak mampu untuk melakukan itu. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Citanya untuk ber-’ittiba kepada rasul tercinta bakal tidak terlaksana. Cuma satu yang ia yakini sampai detik itu dan detik-detik ke depan, bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
Keesokan harinya, selagi ia bersiap-siap untuk pergi menggantikan istrinya menjaga bayinya. Indra didatangi Pak Hasan. Ia mangaku bahwa semalam tidak bisa tidur karena memikirkan utang yang tidak dibayarnya itu. Pak Hasan menawarkan kepada Indra untuk bersama-sama pergi ke kakaknya di kampung sebelah. Di sana kakaknya Pak Hasan akan membayar semua utangnya itu.
Kakaknya Pak Hasan menyambut dengan hormat sekali kepada Indra—yang menurutnya terlalu berlebihan. Sepertinya kakaknya Pak Hasan ini sangat berterima kasih sekali kepada Indra karena telah sudi membantu adiknya itu. Kakaknya menawarkan kepada Indra untuk mengambil dua ekor kambing paling besar yang ada di kandang belakang rumahnya. Katanya ini adalah sebagai pelunasan utang adiknya.
Kalau dihitung dengan uang yang Indra pinjamkan kepada Pak Hasan, dua ekor kambing itu benar-benar melebihi jumlah utangnya. Akhirnya ia membawa kambing-kambing itu ke rumahnya. Satu kambing ia niatkan untuk aqiqah anak perempuannya, sedangkan satunya lagi ia niatkan untuk memberikannya kepada fakir miskin.
Keesokan harinya, setelah beberapa hari di rawat, bayinya mengalami kemajuan kesehatan dan diperbolehkan untuk pulang. Acara aqiqah itu pun segera dilangsungkan dan berlangsung lancar dengan mengundang sanak saudaranya, tetangga-tetangganya, serta fakir miskin.
***
Subhanallah, kesabarannya membuahkan hasil berupa ketaatannya kepada Rasululloh SAW, kemampuannya berinfaq, kesehatan anaknya, serta satu lagi adalah hatinya yang semakin kaya, karena ia sanggup menolong pada saat dirinya dalam keadaan sulit.
Manusia sudah wajar dapat membantu sesama pada saat lapang, walapun demikian masih banyak juga orang yang pada saat lapang tidak berkemampuan untuk membantu sesama, apalagi pada saat dalam keadaan sempit. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita, untuk selalu bertekad dan bersabar dalam melaksanakan sunnah Rosulullah dalam keadaan sempit ataupun lapang, kecil ataupun besar. Setelah itu nantikan saja pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Allohu’alam.

dedaunan di rantig cemara
berusaha menjadi baik
10:02 13 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan02@telkom.net
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Saya Akan Menikah! Segera!


06.12.2005 – Saya akan Menikah! Segera!

Malam sepertinya belumlah larut pada saat itu. Jarum pendek jam dinding hanya bergeser sedikit dari angka sembilan sedangkan yang panjangnya tetap berkutat menunjuk ke bawah. Segera saya buka jaket penahan angin dingin setelah berjasa menemani dalam perjalanan rutin setiap Ahad malam.
Tiba-tiba saya teringat hari ini adalah hari paling bersejarah bagi seorang teman. Hari di mana ia mengakhiri masa lajangnya dengan bersedia mendengarkan pasangan hidupnya mengucapkan kalimat yang berat pada walinya dengan disaksikan tatapan haru orang-orang tercinta.
Dengan jarak yang begitu jauh dari tempat tinggal, maka saya pun tidak bisa datang ke tempat walimatul’ursy, untuk turut merasakan dan merayakan kebahagiaan teman saya ini, yang tentunya ia adalah teman dari istri saya juga.
“Sudah di telepon, Mi…?” tanya saya pada istri tercinta.
“Oh iya belum, telepon saja sama Abi?” jawabnya sambil masih asyik bercanda dengan si bungsu.
“Lho, Abi kan sudah dari pagi nyuruhnya. Sebenarnya yang pantas untuk menelepon tuh ya Ummi bukan Abi,” tukas saya. ”Seharusnya ketika kita tidak bisa datang memenuhi undangan itu, minimal teleponlah untuk memberikan dukungan, penghargaan sebagai tanda kepedulian kita,” tambah saya panjang.
“Iya deh, Ummi minta maaf, tapi biar Abi saja deh yang menelepon, mumpung belum terlalu malam,” pintanya.
Tanpa menunggu terlalu lama saya angkat gagang telepon, menekan tutsnya, dan membiarkan dering di seberang sana lama terdengar. “Wah, sepertinya sudah tidur,” pikir saya. Selagi berpikir untuk segera menutup gagang telepon, tiba-tiba suara dari seberang terdengar.
“Halo, Assalaamu’laikum, siapa yah?”
“Wa’alaikumsalam, ini saya Abu Haqi,” jawab saya. “Selamat yah, barokallahulaka wabaroka’alaika wajama’a bainakuma fii khoir,” sambung saya dengan doa pendek.
Terdengar ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. Terasa ada kegembiraan dari nada suaranya. Setelah berbincang sebentar menanyakan keadaannya, saya segera pamit undur diri agar tidak mengganggu malam pertamanya itu, dengan tak lupa menitipkan salam kami kepada suami tercinta.
***
Perempuan ini sesungguhnya adalah teman istri saya. Ialah yang turut membantu kelancaran jalannya perjodohan kami, sampai pesta walimahan kami terselenggara, walaupun karena kesibukannya dan jauhnya jarak akhirnya ia tetap tak bisa datang.
Walaupun satu angkatan di kampus, saya tidak begitu mengenalnya bahkan saya baru mengenalnya saat ia bersama-sama dengan Ummu Ayyasy menempuh diklat penyesuaian ijazah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, di pertengahan 2005.
Ia pula yang menjadikan kami sebagai salah satu topik tulisan pada buku pertama yang ditulisnya. Ia adalah seorang penulis. Berbagai penghargaan atas prestasi dalam dunia kepenulisan telah diraihnya. Saat ini telah lima buku ia tulis dan beredar di pasaran.
Dengan segala kesibukannya sebagai PNS, penulis, relawan, dan pengurus pada sebuah jaringan kader penulis ia tak segan-segan untuk berbagi ilmu dan menyemangati saya untuk lebih concern pada dunia kepenulisan. Memang ia layak menjadi mentor bagi saya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah akhir dari sebuah penantian yang panjang. Ini adalah kado ulang tahunnya yang jatuh Agustus lalu bahkan menurut saya ini adalah kado besar ramadhan mubarak. Who knows?
Pernikahannya adalah ajang untuk membuktikan dirinya sanggup menjalankan seperti apa yang sudah lama ia tulis dulu yaitu “tugas mulia dan jihad utama seorang wanita muslimah adalah di rumah, menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Di sana pula saya memahami bahwa mendidik anak adalah satu kewajiban ibu muslimah yang tidak mungkin dilimpahkan pada pihak lain.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Lanjutnya lagi ia menulis “Menikah akan membuat saya matang. Menikah akan membuat saya lebih banyak belajar. Belajar lebih tegar dan dewasa. Belajar berbagi dan tidak egois lagi. Belajar menenggang perasaan orang lain. Belajar memahami orang lain. Belajar bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Belajar menanggung permasalahan yang lebih besar. Belajar bertanggung jawab atas semua tindakan. Saya tahu, di balik kerasnya kehidupan yang harus saya jalani, Alloh akan memberi sarana untuk memudahkan, karena Alloh tidak membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Seperti kata Miranda Risang Ayu dalam bukunya Cahaya Rumah Kita: Cakrawala selalu mengingatkan bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif yang cengeng tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu. Syaratnya, hanya berusaha bersandar kepadaNya.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Setelah itu dalam kalimat penutupnya ia pun bertekad: “Kalau begitu, saya akan menikah! Segera!”. Walaupun tekad itu baru dapat terlaksana empat tahun setelahnya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah ajang pembuktiannya untuk menjadi apa yang dicita-citakannya dalam tulisannya yang lain: menjadi ibu. ”Duh, Ibu. Betapa kesederhanaanmu ternyata menyimpan samudera makna kehidupan yang dalam. Kini, jika saya mengisi lembar biodata lagi yang ada isian cita-cita, saya kembali mengisinya dengan mantap: Menjadi Ibu.” (AMR:Menjadi Ibu, 2002).
Dalam episode perjalanannya menuju titik akhir di Ahad indah itu, tahun lalu ia sempatkan membuat sebuah tulisan yang menyentuh sanubari saya, tidak hanya saya yang berbeda gender, tapi bagi begitu banyak perempuan lainnya. Tentang diamnya ia mendengarkan kesah seorang perempuan dalam penantian panjang mencari pendamping hidup. Diamnya ia bagi saya bahkan menjadi kekuatan menghentak qalbu pada tulisannya yang berjudul ”Semua adalah Pilihan”.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah akhir dari pupus dalam sebuah metáfora kaset. Sehingga tak akan pernah lagi untuk me-rewind-nya, setiap kali ia muncul dalam sebuah puisi. Tentu ini pula adalah sebuah pilihan baginya.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah mula bertukarnya kata-kata indah untuk satu orang saja, yang lebih berhak, dan lebih berkah. Tiada untuk yang lain. Tiada hanya pada malam-malam sepi sembari memandang purnama sedangkan ia sudah punya di sudut jiwanya.
Pernikahannya di Ahad kemarin tidak perlu membuat Anda bertanya-tanya. Anda. tentunya tahu siapa dia bukan?
Pernikahannya di Ahad kemarin, ah…sudahlah, sudah cukup, tidak banyak lagi kata-kata yang bisa ditulis, karena tercekat di ujung pena yang kian menipis bila terus menerus menggores kertas. Sarinya adalah selesai sudah penantian itu. Dan sungguh pertolongan Allah akan datang pada orang-orang yang menikah sebagaimana disabdakan al-musthofa dan diriwayatkan oleh Turmudzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dan Daruquthni: “Tiga golongan orang yang pasti akan mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang berjihad di jalan Allah.” (Adhim:1998)
Cairan hangat tiba-tiba terasa di pangkuanku. Bukan, ini bukan airmata. Ini….

“Ya Dedek, kalau mau pipis bilang dong, kan Abi sudah bilang, pipis itu di kamar mandi,” sambil mengangkat si bungsu ini yang dari tadi memaksa untuk ikut duduk di depan komputer melihat saya mengetik tulisan ini.
Pernikahan di Ahad kemarin, alaaah…
dedaunan di ranting cemara
mushaf di antara dua AK-47
22.30 – 05 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Akhir dari Penantian Panjang


Penantian panjang berakhir sudah

Saya ingat betul, pertengahan Oktober tahun lalu, dua minggu menjelang Ramadhan 1425 H, saya dihadapkan pada situasi di mana saya tak bisa mengakses DSH Net. Seperti yang pernah saya ungkapkan pada tulisan saya sebelumnya dengan judul “tercerabut dari akarnya”, saya mengungkapkan kegalauan perasaaan saya dengan kalimat di bawah ini:
“Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net. Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu. Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.” (blog:24 Juni 2005)
Down dan hilang filing, ya begitulah perasaan saya. Betapa saya benar-benar tercerabut dari akarnya. Hingga beberapa lamanya dalam setiap kesempatan, saya berusaha untuk mengakses DSH, namun halaman yang selalu muncul, halaman itu-itu juga: The Page Cannot be Displayed.
Di situlah kerinduan itu muncul begitu saja. Kerinduan akan berita-berita Islamnya yang up to date dan menarik—walaupun sejak itu tergantikan dengan berita-berita dari Suara Islami Online . Diskusinya yang hangat walaupun juga kadang berakhir dengan kata-kata panas dan tidak mengenakkan untuk dibaca, namun semuanya membawa saya pada lompatan ilmu pengetahuan yang lebih dari semula. Ditambah dengan kerinduan menulis artikel di Menu Partisipasi, kerinduan akan menulis pesan di Menu Ucapan, dan lain sebagainya. Sekali lagi kehilangan semuanya yang ada di DSHNet membuat adrenalin kerinduan saya begitu memuncak. Hingga suatu hari…
Hari ini tepat tanggal 01 Desember 2005—hari gajian pula—saya dapat menuntaskan rasa rindu ini setelah mencoba untuk mengetik http://10.254.60.60/ di address Internet Explorer PC saya. Saya enter, dan tiba-tiba, jrengg…, bayangan hitam –ciri khas DSHNet—muncul!! Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bergabung kembali.
Upaya saya mencoba mengklik DSHNet hari ini diawali adanya berita kemarin tentang pengakhiran kontrak pemakaian radiolink—yang selama ini dipakai sebagai jaringan utama pendukung SIDJP KPP PMA Tiga—dan tentang pengalihan jaringannya ke Kabel Vision, yang kata teman-teman di Seksi PDI , jaringannya menggunakan serat optik sehingga kecepatan transfer datanya bisa 1 gigabyte per detik. Wow…Sehingga kelemahan yang selama ini terjadi pada pada radiolink diharapkan tidak akan muncul lagi, misalnya situs-situs intranet yang tak bisa diakses, kelambatan pengiriman data dari KPP ke Kantor pusat atau sebaliknya, dan lainnya. Entahlah terbukti atau tidak, waktu yang akan menentukan.
Dari berita tersebut, akhirnya saya berkesimpulan, ketidakmampuan jaringan di KPP PMA Tiga untuk mengakses DSHNet, juga Ditrikpa, memang bertepatan dengan mulai diterapkannya SIDJP di kantor saya. Sehingga bisa dikatakan penyebabnya adalah ketidakmampuan radiolink yang ringkih dengan situasi perubahan cuaca di Kalibata.
Dan dengan berakhirnya pemakaian radiolink serta dimulainya jaringan baru yang menggunakan Kabel Vision, saya berkesimpulan pula bahwa ketidakmampuan jaringan mengakses DSHNet tidak akan terjadi lagi.
Tapi anehnya, saat saya sedang menulis ini, saya mencoba untuk merefresh DSHNet, dan tidak bisa!! Saya coba buka situs yang lain, dan ternyata tidak bisa semua. Lho, katanya….
Ah, entahlah. Saya harap semua ini karena dalam masa transisi pergantian jaringan. Harapan ini muncul supaya saya bisa bergabung kembali dengan para ikhwah di DSHNet. Harapan yang mini dan tidak absurd, saya pikir. Kalau pun kembali lagi seperti setahun yang lalu. Tapi paling tidak, hari ini saya telah memunculkan pesan pertama itu di DSHNet:
Alhamdulillah, saya kembali bergabung dengan antum semua, setelah hampir satu tahun lamanya berpisah dengan DSHNet dikarenakan jaringan yang tak sanggup untuk mengakses DSH, semoga Allah mempererat tali silaturahim di antara kita. (1-12-2005)
Dikirim oleh dedaunan (10.7.3.192 ) untuk ikhwah fillah

Saya tidak tahu, akankah pesan itu akan menjadi pesan pertama saya atau yang, lagi-lagi, akan menjadi pesan terakhir sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Saya harap tidak untuk yang terakhir ini.
Oh, iya…judul tulisan ini sepertinya tidak tepat.Memang penantian saya sudah berakhir?

dedaunan di ranting cemara
hingga cahaya itu datang kembali
12:49 01 Desember 2005

Kisah Sederhana


Ini sebuah kisah nyata, bukan kisah misteri dengan para genderuwo sebagai pemeran utama. Sebuah kisah yang setidaknya memberikan perenungan tentang hikmah apa yang berada dibalik semua itu.
Namanya sebut saja Indra, dalam perjalanan pergi ke tempat kerjanya mengalami kejadian yang aneh di pagi itu. Motor yang selalu menemaninya dalam menempuh 72 km kilometer pulang pergi setiap harinya tiba-tiba oleng dengan memperdengarkan bunyi letusan yang cukup keras. Namun ia masih bisa mengendalikannya.
”Duh…, ada apa pula ini” pikirnya. Ternyata ban belakang motornya pecah. Ia pun segera meminggirkan motornya. Pikirnya lagi, ia akan menuntun lama motor itu untuk mencari tukang tambal ban dan ini berarti bisa terlambat untuk masuk kantor. Ternyata tidak, tidak jauh dari tempatnya yang jaraknya hanya sepemandangan mata terlihat tulisan besar-besar: TAMBAL BAN di atas potongan papan triplek lapuk, dengan kompresor warna jingga terlihat menyolok dan ban-ban luar yang bergelantungan.
Indra segera menuju ke kios kecil tempat tambal ban itu. Beberapa saat, ia sudah diperlihatkan ban dalamnya yang sudah robek lebar yang tidak mungkin untuk ditambal lagi. Akhirnya ia sepakat dengan tukang tambal itu untuk mengganti ban dalamnya dengan yang baru. Tidak sampai enam menit motornya pun telah melaju kembali di jalanan setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada tukang tambal ban itu. Ia akhirnya tidak terlambat masuk kantor.
Keesokan harinya, laki-laki itu menempuh perjalanan seperti biasa menuju kantornya. Melewati tempat saat ban motornya pecah dan di jalanan yang sama, ia mendapati kios kecil tambal ban itu dalam keadaan tertutup.
Esoknya lagi, Indra mendapati keadaan yang sama dengan kemarin. Kios itu masih tutup. Sampai sepekan ia masih melihat hal yang sama. Ia pun bertanya-tanya kenapa kios ini tutup melulu. Akhirnya untuk memupuskan rasa penasarannya, ia sempatkan berhenti sejenak untuk menanyakan hal ini.
Indra pun bertanya kepada orang yang berdiri di dekat tempat itu, yang kelihatannya adalah penduduk asli. Jawaban yang diperoleh cukup mengejutkan. Bahwa kios itu sudah tutup sekitar tiga bulan yang lalu sampai sekarang. Orang itu tetap bersikeras menjawab hal yang sama walaupun Indra telah menceritakan peristiwa yang ia alami sepekan yang lalu, bahwa ia sempat membeli ban di kios itu dan masih ingat betul lokasinya. Tidak, ia tidak lupa tempat tukang tambal itu. Ia pun masih ingat betul warna kusam kiosnya.
Akhirnya, Indra kembali melanjutkan perjalanannya setelah berulangkali berusaha diyakini orang itu bahwa tidak ada tukang tambal ban di daerah ini setelah tiga bulan yang lalu itu. Lalu, ia pun bertanya-tanya siapa yang menolongnya itu?
###
Kisah lainnya pun dituturkan lagi oleh Indra, kali ini menjelang lebaran kemarin. Ia baru saja pindah kerja sebulan sebelum lebaran sebagai trainer dari sebuah perusahaan taksi ternama di ibukota ini. Perusahaan tempat kerjanya yang baru adalah perusahaan Agen Tunggal Pemegang Merek mobil terkemuka yang membuka sebuah divisi baru yakni divisi pelatihan, dan ia di hijack dengan diberikan model kompensasi yang menggiurkan dan jabatan yang baru—kalau tidak bisa dikatakan lebih tinggi dari jabatannya yang lama.
Karena baru saja bekerja, maka pada saat menerima gaji pertama Indra hanya mendapatkan gaji sesuai jumlah hari yang ia masuk pada bulan itu sesuai dengan asas proporsionalitas. Dan yang paling cukup membuat dirinya tidak sebahagia dengan yang lain adalah ia pun belum berhak untuk memperoleh tunjangan hari raya (THR). Ia pun cukup pasrah dengan hal itu, kali ini, di tahun ini, ia mungkin tidak akan sempat untuk berkumpul dengan keluarga besarnya di Bandung. Prihatin.
Sepekan sebelum lebaran, Indra dipanggil oleh atasannya. Dirinya diminta segera menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum disuruh untuk mengantarkan mobil dinas atasannya itu ke bengkel resmi yang berada di kawasan Kelapa Gading. Mobil baru merek Renault ber-cc 1400-an itu pun segera diantar Indra untuk dilakukan general check-up dengan pelayanan paling prima sesuai dengan pesan atasannya kepada bengkel resmi itu.
Dua hari setelahnya. Hari jum’at adalah hari terakhir Indra sebelum ia cuti lebaran. Kembali dipanggil oleh atasannya, kali ini ia disuruh untuk mengambil mobil yang ada di bengkel. Beberapa jam kemudian, dalam perjalanan pulang ke kantor, sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamnya, dari atasannya. Pesannya adalah ia diharapkan tidak usah ke kantor, langsung saja pulang ke rumah sambil membawa mobil untuk berlebaran di kampung. Ini sebagai pengganti THR yang tidak ia dapatkan.
Dan kejutan itu tidak berhenti di situ. Pesan singkat kembali datang. Kali ini ia mendapati pesan bahwa di bagian belakang mobil itu—yang tak sempat dilihat waktu mengambilnya—didapati satu krat susu instan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan untuk berbuka puasa di jalanan.
Bombardir SMS dari atasannya berlanjut, kejutan kali ini adalah berupa uang yang cukup untuk membeli bahan bakar khusus beroktan tinggi selama perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Indra pun sangat bersyukur sekali. Puasa penuh berkah.
Lebaran tahun ini sangat istimewa bagi Indra dan keluarga. Dalam acara silaturahim itu betapa Indra begitu banyak dihargai oleh para saudara-saudara jauhnya, apalagi dalam acara itu ia membawa mobil barunya. Ia pun miris ternyata penghargaan orang masih dilihat dari penampilan luarnya saja.
Namun Allah telah menutupi segala kekurangannya kali ini. Betapa tidak, dalam kehidupan sehari-harinya ia hanya tinggal di rumah tipe 21. Hanya mempunyai satu motor yang dinaiki berlima dengan tiga anaknya itu untuk jalan-jalan. Berdesak-desakan naik kereta api pulang pergi ke kantornya yang baru—katanya lebih hemat naik KRL daripada naik motor. Saudara-saudara jauhnya yang di Bandung tidak percaya semua ini, ketika Indra mengatakan yang sebenarnya tentang mobil itu dan kondisi dirinya. Tidak apa, benar-benar Allah telah menutupi segala kekurangannya.
###
Dua kisah itu dituturkannya kepada kami dalam acara pekanan yang rutin dilakukan. Kisah yang membuat kami terdiam dan melongo dengan begitu banyak kebaikan yang di dapat oleh teman kami ini. Karena menurut Indra selain dua kisah itu, ada lagi kisah lain yang menunjukkan banyaknya pertolongan Allah pada dirinya.
Satu pertanyaan terlontar dari kami, amalan apa saja sehingga Allah begitu murah hati padanya. Indra tidak menjawab. Ia hanya mengutip sebuah ayat:
”… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Atthalaaq: 64-65]
”Saya sangat meyakini kebenaran ayat ini”, tutur Indra. ”Saya cuma berusaha untuk menjadi salah satu hamba-Nya yang dimudahkan segala urusannya.”
Just it…
Hanya dengan keyakinan dan aksi, iman dan amal, teman saya ini begitu banyak mendapat kemudahan dari Allah. Kisah-kisahnya mendobrak benteng kukuh keangkuhan saya yang hanya mengandalkan kedekatan dengan-Nya—yang entah bermakna atau tidak—untuk sekadar mendapatkan ridha-Nya tanpa ada aksi nyata.
Ia tak perlu kuliah S2 untuk mengerti betul visi dan misi hidupnya. Visi hidupnya cuma sederhana: to be muttaqien. Misinya tak rumit-rumit amat, tidak perlu memenuhi semua komponen misi dari Fred R David yang ada 9 itu: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itu saja.
Sederhana namun perlu pengorbanan dan konsistensi untuk melaksanakan misi itu. Saya kembali ingat tentang penggambaran Umar bin Khaththab ra.saat ditanya sahabatnya tentang hakekat taqwa itu. Umar menjawab dengan menggambarkan betapa hati-hatinya seorang musafir yang berjalan di atas jalan yang penuh onak dan duri agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Itulah taqwa, setiap manusia berhati-hati menempuh hidup yang penuh godaan ini untuk menuju terminal terakhir yang abadi, yakni akhirat.
###
Pertemuan itu berakhir membawa kisah dengan sejuta makna. Membawa keyakinan baru, engkau akan mendapatkan begitu banyak kemurahan Allah hanya dengan satu kata taqwa. Cukup dengan kesederhanaan niat, kesederhanaan amal, dan kesederhanaan cinta yang tidak tertutup topeng diplomatis, untuk mencapai ridha-Nya itu.
Temanku, kami tunggu kisahmu yang lain, berikanlah kepada kami nasehatmu bak air wadi ditengah gurun sahara. Menyejukkan, menyegarkan.

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di 103
17:57 26 November 2005

Pecinta Kata-kata


pecinta kata-kata

[Purnama menggantung di langit Jakarta, menemaniku susuri jalan menuju pulang. Tiba-tiba aku rindu pada purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana? Dan gerimispun menjelma]

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka pada sebuah artikel baru yang ditulis oleh seorang penulis muda, seorang kontributor eramuslim.com, seorang teman, seorang sahabat dari terkasih Qaulan Syadiida, yang berjudul Dunia Kata-kata.
Sebelumnya kalimat itu terlebih dahulu mampir di sudut handphone di suatu malam, darinya. Tak sempat terjawab segera. Namun esoknya terbalas dengan:

[Jauh di barat daya. Purnama mengejutkanku saat shubuh. Adanya
tertusuk ranting cemara. Hingga tersadar tak boleh ada gerimis duka
di hati. Karena IA satu-satunya pelipur]

Setelah itu ia mengirim sebuah email tentang kepedulian dan kecintaannya pada kata-kata, hingga ia berkata: aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata. (Tak lebih).
Bagi para pecinta kata-kata, ketika menerima kata-kata indah, tergeraklah hati untuk segera membuat kata-kata berbalas yang lebih indah terasa di hati. Maukah kau tahu indahnya kata-kata di atas?
Siapa yang menyangkal indahnya purnama? Maka teman tadi membuat sebuah metafora purnama sebagai hiasan dan teman pulangnya. Ada sentakan keindahan lagi saat membaca kalimat berikutnya: “…purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana?”. Purnama di sudut jiwa, diksi yang cantik. Siapakah ia? Tanyakan saja padanya. “Gerimispun menjelma”, lagi-lagi pilihan kata yang indah menggantikan awal mula turunnya hujan.
Sedangkan saya benar-benar mengalami keterkejutan saat keluar dari masjid karena terpampang dengan indahnya purnama subuh yang membulat penuh di lihat mata. “Oh…saya tak menyangka, malam lalu adalah malam purnama,” pikir saya. Hingga saya terpesona beberapa saat. Sampai pada kesadaran bahwa saya harus mensyukuri atas kesejukan plus keindahan subuh yang tiada tara. Maka tak boleh ada gerimis duka, air mata yang menganak sungai di pipi, dan gulana yang meresahkan jiwa karena sarat beban. Sudah sepatutnya semuanya kita sandarkan pada-Nya, pemilik segala jiwa, mahapelipur segala lara.
Tak semua orang bisa menikmati kata-kata. Tak semua orang bisa mengerti tentang indahnya kata-kata. Tak semua orang bisa memahami cantiknya kata-kata. Hingga seorang pecinta kata-kata terkadang mencari, mencari, dan mencari seorang pecinta kata-kata untuk berbagi kata, berbagi keindahannya, berbagi cantiknya diksi, berbagi rasa dan imaji.
Namun ada yang harusnya tidak terlewati, pertanyaan tentang kepada siapakah kata-kata itu ditujukan? Karena jikalau ia tahu maka ada hati yang akan tersakiti. Bukan karena kata-katanya tapi karena kata-kata itu diurai kepada yang telah memiliki hati. Khusus untuk yang satu ini, maka tiga hal yang perlu dilakukan: hentikan segera, hentikan segera, dan hentikan segera. Jika tidak, ada sepasang hati yang akan membiru dan berdarah-darah tiada halalnya, atau ada satu hati yang merana karenanya.
Atau kau suarakan pada dunia dengan sekeras-kerasnya, tidak berbisik, tidak pada media yang amat-amat pribadi. Maka berikanlah kata-kata indahmu pada hati yang telah halal untukmu.
Seperti yang Qaulan Syadiida kirimkan kata-kata indahnya pada saya:

[Bunga mawarku mungkin hanya satu dari jutaan mawar di dunia. Tapi mawarku istimewa, unik dan sangat berharga bagiku. Karena aku telah menghabiskan waktu bersamanya, melakukan banyak hal untuknya maka aku mencintainya, meski durinya kadang menyakitiku. Jika cinta dan luka adalah dua sisi yang berkelindan dari keping yang sama mungkin aku harus belajar lapang dada agar duri mawarku tak mengenai permata hatiku, cukup aku. Meski aku tak tahu bila durinya kembali menyakitiku.]

Maka saya pun membalasnya dengan kata-kata:
[Aku merinduimu layaknya api merindui air. Aku merniduimu layaknya layar merindui angin. Aku merinduimu layaknya tanah kering merindui hujan. Maka kemarilah wahai pelipur lara untuk tuntaskan kerinduan].

dan menambahnya dengan:
[Aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata , ujar seorang teman pujangga. Maka deraskanlah kata-katamu hanya untukku bak badai yang tak temukan habisnya].

Tapi ingatlah wahai Qaulan Syadiida, sesungguhnya tiada sebaik-baik kata-kata kecuali kalimat pengesaan-Nya. Tiada sebaik-baik syair kecuali firman-Nya. Maka cintailah dengan utama kata-kataNya. Deraskanlah ia di bibir dua puluh sisi setiap harinya. Sejak itu kau akan rasakan indahnya, nikmatnya. Maka bolehlah aku dan kau disebut sebagai pecinta kata-kata.

dedaunan di ranting cemara
di antara penat yang tiada lelah mencabikku
00:46 05 Agustus 2005

Sepenggalah Suluh Untuk Kawan


04.08.2005 – sepenggalah suluh untuk kawan

Pagi ini masih saja aku menjadi bagian dari kemalangan yang menimpa ruh ruh kebaikan manusia di dunia. Sampai saat kubaca paragraf-paragraf indah tentang sebuah cinta dan kerinduan. Dan sampai detik itu pula aku tersadar waktu akan meninggalkan dhuha. Seperti dhuha-dhuha lama di Lido, Cibatok, Cilember atau di sudut kamar kost sempit kita dulu.

Semuanya penuh cinta, kawan, penuh hamasah, penuh ruhul jadid yang menggelora di dada yang dekat dengan mushaf di saku. Semuanya penuh robithoh, penuh qiyamullail, penuh shaum di setiap senin dan kamis. Semuanya penuh dengan peluh dan telapak kaki yang menebal karena susuri jalan-jalan sempit di antara sela-sela perkampungan padat rumah-rumah kost, atau karena tiada yang rindang di sepanjang jalan menuju masjid tercinta.

Itu semua karena kita masih tersadar betapa jalan dakwah begitu terjal dan sepi jauh dari keramaian yang akan membuat kita lupa dan terserang virus riya. Sering kali kita beristighfar sadari setiap kelalaian, sadari niat yang melenceng dari relnya semula.

Oh ya, ghodhul bashor pun tak lupa menjadi keseharian kita. Karena sesungguhnya mata adalah pintu dari panah-panah syaitan yang akan merobek-robek jaring-jaring iman kita.

***** Dhuha telah meninggalkanku, sedangkan aku masih berusaha mengingat memori yang kian hilang ditelan kesibukan dunia. Tapi yang pasti aku kembali ingat tentang semuanya itu kawan, tentang cinta itu, tentang foto-foto dalam album tua itu yang masih tersimpan di tumpukan paling bawah dalam lemari bukuku. Padahal tadi malam aku masih tidak ingat tentang cinta itu kawan…
dedaunan di ranting cemara
Sepenggalah suluh di antara dedaunan untuk: Faisal Alami, Ujang Sobari, Suprayitno, Ramli, Amran, Anwar, Abas, LBH, Si Kembar Madiun, yang di Sukabumi, dll. dari atoz

Sumber: renungan di medio 1997

Dua Hari Tanpa Listrik


Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)

Terbukti sudah betapa manusia di zaman moderen ini sangat menggantungkan roda kehidupannya pada teknologi agar tetap bisa berputar. Maka apa yang terjadi ketika listrik “byar pet” dan benar-benar padam selama dua hari di KPP PMA Tiga?
Ruangan gelap dan tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan, sampai-sampai Wajib Pajak terheran-heran dan langsung bertanya kepada saya, “Pak, KPP PMA Tiga pindah yah?”
Bagaimana mau mengerjakan sesuatu sedangkan semuanya ada di dalam komputer yang tidak bisa dihidupkan itu, merekam, menjawab konfirmasi, memasukkan kasus ke dalam case management, melayani Wajib Pajak melalui email dan lain sebagainya. Semua itu tidak dapat dilakukan tanpa ada benda yang di tahun 1967 bentuknya seperti dua lemari besar.
Coba hitung sendiri betapa banyak kerugian yang diderita negara atau kita sendiri, selain membayar gaji pegawai yang tidak produktif, peralatan elektronik yang rusak karena aliran listrik yang tidak stabil, hilangnya kesempatan untuk berkreativitas, hingga berdebarnya jantung karena pekerjaan yang nyaris jatuh tempo.
Maka dapat dikatakan ketergantungan manusia pada teknologi—dalam hal ini komputer—adalah sebesar 98%. Sisanya untuk pekerjaan klerikal yang benar-benar membutuhkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Tapi terus terang saya tidak menikmati hal ini, karena bagi saya listrik mati atau hidup, pekerjaan sudah jelas menumpuk di depan mata. Alhamdulillah, sebelum pulang saya sempatkan diri untuk melihat-lihat kembali semua pekerjaan itu. Saya susun ulang. Saya beri post-it warna kuning. Saya beri catatan penting. Dan saya rapihkan dengan harapan Senin esok, saya dapat mengerjakan semua itu. Itu pun kalau Senin nanti aliran listrik sudah seperti sedia kala.
By the way, semua orang di sini kok pada tahu kalau pekerjaan perbaikan aliran listrik bawah tanah belum selesai sampai hari Senin nanti. Wah…wah…wah… siap-siap saja kembali tiada pekerjaan, tiada postingan ke Cicadas Blog, dan satu terakhir dan yang paling penting, gajian akan tertundakah? Semoga saja tidak. 

dedaunan di ranting cemara
di antara Jum’at yang meluruh kata-kata kerinduan
20:02 29 Juli 2005

Aku Takut Mati


Beberapa menit hanya memandangi layar kosong di depan mata. Tak tahu memulai dari mana untuk mengurai kejadian-kejadian tragis di depan mata selama sepekan ini. Bagaimana tidak, saya melihat dua kecelakaan membawa maut pada sore hari menjelang berbuka. Membuat saya tercenung cukup lama. Bergeming memikirkan sebuah awal mula episode kehidupan lain yakni kematian.
Selasa sore, seperti biasanya jalanan dari arah Pasar Minggu menuju Depok begitu padat, sampai menjelang flyover Tanjung Barat. Selepas itu barulah saya bisa menggeber kendaraan di atas enam puluh kilometer per jam. Tapi ada yang aneh di sore itu, sejak Stasiun Tanjung Barat kendaraan mulai memadat dan semakin lama semakin macet. Tapi dengan motor yang anti kemacetan ini, saya bisa terus melaju bersama motor-motor yang lain. Ini tidak seperti biasanya.
Terbukti, antrian panjang disebabkan para pengguna jalan melambatkan kendaraannya untuk melihat apa yang telah terjadi, ditambah dengan sepeda motor yang diparkir sembarangan dan ditinggal di pinggir jalan oleh pemiliknya untuk melihat peristiwa kecelakaan di pinggir rel. Saya pun ikut-ikutan berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Sosok muda itu terbaring kaku dengan darah segar yang keluar dari lubang hidung dan telinganya, membasahi rambutnya, kental, hampir mengering dan mulai dikerubuti lalat. Sebagian tubuhnya ditutupi beberapa helai koran. Wajahnya yang sudah ditutupi pun seringkali dibuka kembali oleh orang-orang yang ingin melihat siapa yang menjadi korban, untuk memastikan apakah korban adalah orang yang dikenalnya atau bukan. Dari saksi mata diketahui korban dipastikan terjatuh dari KRL Jakarta-Bogor karena terbentur tiang listrik besi yang amat dekat sekali dengan rel.
Dadaku berdegup kencang.
Jum’at sore, kejadian yang hampir sama, di waktu yang sama terjadi lagi. Namun kali ini tempatnya berbeda. Kalau anda termasuk pelaju KRL Bogor-Jakarta atau sebaliknya atau pemakai kendaraan bermotor, pasti tahu pintu lintasan kereta api antara Stasiun Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia. Kembali yang menjadi korban adalah anak muda dan kali ini berseragam SMU. Di tasnya ditemukan clurit dan sebotol bensin. Bisa ditebak, pelajar ini termasuk yang doyan tawuran.
Dari keterangan saksi mata diketahui, pelajar itu ditendang dari atas KRL Nambo yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bagian kepala yang jatuh terlebih dahulu, membentur bebatuan dan aspal jalanan. Bagian belakang kepala bocor, darah kental mengalir dari lubang telinga dan hidung. Setelah sekarat beberapa detik langsung tewas di tempat. Sangat kebetulan sekali, pelajar itu tewas tidak jauh dari rumahnya.
Setahun yang lalu, persis di bulan ramadhan, di tempat yang sama pernah terjadi kecelakaan. Kepalanya tidak berbentuk lagi karena dihantam KRL. Kata orang sekitar, perlintasan itu sering kali memakan korban, dan sayangnya disikapi oleh sebagian warga dengan mengaitkan hal-hal klenik, makanya setiap tahun ada yang berani momotong kambing di bawah pohon dekat rel hanya untuk dijadikan tumbal. Sayang…
Tidak biasanya, sepanjang sisa perjalanan pulang saya hanya fokus terhadap dua peristiwa itu. Saya pikir, saya banyak disadarkan tentang satu hal yang seringkali manusia lupa dan merasa akan hidup selamanya yakni kematian. Batas antara hidup dan mati sungguh amat tipis. Karena kematian bisa menjemput kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Entah dengan kesakitan yang luar biasa atau tidak. Di atas tempat tidur atau di medan laga. Ketika subuh kan menjelang atau saat mentari tenggelam di ufuk barat. Entah dengan utuh harum mewangi atau tiada berbekas, bahkan busuk.
Setelah melewati pintu kematian, maka terbentanglah di hadapan kita dunia lain. Dunia dengan segala keekstrimannya. Diawali dengan kegelapan kubur yang amat dan sangat pekat ataukah terang benderangnya cahaya. Penjaga dengan kelemahlembutannya atau sebaliknya penjaga berwajah sangar dengan alat pemukul yang luar biasa besarnya.
Lalu padang yang amat luasnya. Tentang mahkamah yang amat adilnya menghitung satu dzarrah setiap perbuatan. Tentang manusia dalam karakter dan perwujudan yang disesuaikan dengan perbuatannya di muka bumi. Tentang wadah pembalasan segala kemungkaran yang amat panasnya dan kejam siksanya. Atau tentang wahana keindahan yang tak bisa terbayangkan oleh manusia.
Saya bergidik. Tiba-tiba saya tersadar, saya jadi takut mati. Saya belum siap untuk mati. Dan saya sadar yang menentukan baik tidaknya pembalasan yang akan diterima adalah amal atau semata-mata karena rahmat Allah Yang Maha Luas. Yaa Rabb, betapa amat sedikitnya amal saya. Jangan-jangan ketakutan saya pada kematian ini adalah karena saya sudah kena penyakit wahn. Cinta dunia dan takut mati. Semuanya berbanding terbalik dengan timbangan keimanan.
Saya teringat perkataan Abu Darda’: “Sesungguhnya aku mencintai kematian karena tidak ada yang mencintainya kecuali orang yang mukmin sedangkan kematian akan dapat melepaskan seorang mukmin dari penjara. Juga aku mencintai harta dan anak yang sedikit karena yang demikian akan dapat menimbulkan satu bencana dan yang dapat menyebabkan condong pada keduniaan. Padahal nantinya satu keharusan untuk berpisah dengan dengan penuh kedukaan. Dan segala sesuatu yang diluar ingatan pada Allah adalah satu keharusan untuk ditinggalkannya nanti ketika telah tiba ajalnya.”
Duh Gusti, ampuni hamba.

dedaunan di ranting cemara
di sekitar LA
dengan sedikit revisi di 25 Juli 2005

Kersem dan Monyet


Satu-satunya pohon yang berhasil saya tanam di depan rumah adalah Pohon Kersem —orang Indramayu atau Cirebon menyebutnya demikian, tapi entah mengapa Orang Citayam atau bahkan Jakarta menyebutnya Pohon Ceri (keren amat). Buahnya kecil-kecil, berwarna merah, dan rasanya manis.
Bibit pohon itu memang asli saya bawa dari Indramayu di tahun 2002, saat berkunjung ke rumah orang tua yang memaksa saya untuk membawanya. Saya enggan membawanya karena selain repot diperjalanan juga tidak sekeren pohon mangga kalau di tanam. Di daerah saya, pohon itu cocok untuk tempat bermain monyet dan sudah tentu buahnya adalah makanan favorit mereka. Akhirnya dengan membawa tiga bibit yang diambil dari selokan sebelah rumah saya kembali ke Jakarta dengan diiringi tatapan menelisik para penumpang kereta Cirebon Express kearah bawaan saya yang memang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.
Pohon itu saya tanam di bantaran kali depan rumah. Depan rumah adalah Kali Pesanggrahan—kalau terlihat deras dan tinggi permukaannya, maka Cipulir sudah pasti kebanjiran. Jalan selebar empat meter adalah sebagai pembatas rumah dengan bantaran kali.
Dengan pupuk organik pemberian tetangga sebelah, saya menanamnya. Menemani pohon pisang raja, kelapa, rambutan, jambu, dan mangga. Satu bibit lainnya saya tanam persis di halaman rumah. Sedangkan satu lagi ditanam di belakang rumah. Pagi dan sore menjadi waktu untuk memberikan air sebagai penerus kehidupannya. Tidak sampai enam bulan, pohon yang berada di bantaran kali itu telah menjulang, menganopi, dan berbuah. Meninggalkan yang lainnya, yang masih tidak juga berbuah bahkan mati, entah kenapa.
Sejak saat itu depan rumah menjadi tempat bermain baru bagi anak-anak RT. Mereka berebutan untuk naik sampai puncaknya, tinggal saya yang tak henti-hentinya meneriaki mereka untuk turun. Bukan karena tidak mau buahnya diambil, tapi takut mereka jatuh.
Pula tempat itu kini menjadi persinggahan bagi banyak orang yang setelah berjalan di bawah panas terik matahari, seperti tukang bakso, pemulung, penjual barang kelontongan, bahkan pengendara motor yang kelelahan karena tak bisa menghidupkan mesinnya.
Satu lagi, kini setiap paginya ada yang terasa indah didengar. Senandung merdu burung-burung kecil. Ya, kesegaran pagi semakin bertambah diiringi tingkah polah mereka dalam mencari makan. Apalagi ketika matahari mulai menyinari semesta, hangatnya mulai terasa dan bertambah ramai pulalah fragmen kehidupan di sekitar pohon itu.
Dari semut–semut hitam yang menggantikan kelelawar malam, lebah-lebah yang mencari sari bunga, hingga kupu-kupu, atau kucing jantan yang menandai daerah kekuasaannya dengan air seninya di bawah pohon. Oh…satu kebaikan yang kita tanam ternyata banyak membawa manfaat bagi makhluk lain. Jadi ingat kata-kata bijak itu: tanamlah pohon kebaikan walaupun esok akan kiamat. Karena sesungguhnya kebaikan—seberapapun kecilnya, pasti akan membawa manfaat untuk siapapun. Pertanyaannya adalah akankah kita menjadi pohon-pohon itu? Yang berbuah dan meneduhi. Bahkan kita takkan pernah terlambat untuk menjadi pohon kebaikan itu, selama ruh belum sampai ke tenggorokan, pun andai besok akan kiamat. Pagi ini saya mendapat banyak pelajaran.
“Bang, ke depan bang!” seruan dari seorang ibu tua membawa sarat beban menyadarkan lamunan saya yang sedang duduk di atas motor.
“Eh, iya…iya bu,” tanpa basa-basi saya antar ia ke depan komplek.
“Terima kasih ya bang,” sambil menyodorkan tiga lembar ribuan kumal.
“Maaf bu, saya bukan tukang ojek,” sambil tersenyum dan segera memacu gas meninggalkan dia yang masih terpana.
Sekali lagi pagi ini saya mendapat satu pelajaran di bawah pohon Kersem. Jangan duduk melamun di atas motor di bawah pohon kersem, apalagi kalau Anda belum mandi, karena orang akan menyangka engkau adalah tukang ojek.Hmmm, tak mengapa.

dedaunan di ranting cemara
di pagi yang berselimut tebal kesegaran
citayam,11:17, 23 Juli 2005.

Kamar-kamar Hatimu


kamar-kamar hatimu

Suatu malam ba’da tarawih yang hangat, saat aku merasa butuh banyak informasi maka tersambunglah aku segera dengan dunia maya. Ada yang terbersit cepat di benak tentang azimah rahayu, jadi kusapa paman google dan kutanya padanya, hasilnya sungguh mengejutkan, mungkin beratus halaman web tentang dirinya (tak sempat kuhitung, hemat pulsa).
Sampai kutertarik pada sebuah halaman website pribadi Unisah Raniyah. Kuklik saja. Oh… ia membicarakan tentang sebuah kamar hati. Ia teringat tulisan azimah rahayu, begini ceritanya:
…terhadap mereka , saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk.
Sedang Uni punya pendapat sendiri tentang kamar hatinya:
Bukan kamu yang memutuskan untuk meninggalkan kita yang dulu, bukan pula aku. Ternyata masing-masing kamar di hati kita mempunyai pintu yang cuma kita yang tahu kombinasi angkanya. Dan di dalam ruangan itu ternyata masih tersimpan rapat lukisan-lukisan kenangan berpigura emosi , perasaan hati, dan curahan jiwa yang cuma kita paham tinggi nilainya. Cieee…..
Ada lagi tentang kamar hati dari seorang sahabat yang mengirimku via email tentang renjana hatinya. Kali ini ia menyekat hatinya menjadi sebuah ruang. Mau tahu apa yang ia ungkapkan, ini dia:
Maha Suci Allah yang telah Menciptakan HATI, meskipun hanya sekeping tetapi dia adalah raja. Dalam hati Fahima terdapat ruang-ruang. Salah satu ruang itu adalah ruang yang istimewa. Tapi bukan yang teristimewa. Tapi Fahima senang dengan ruang itu. Ruang itu dipenuhinya dengan bunga-bunga yang diharapkan dapat memperindah dan menyejukkan jika Fahima lagi masuk kesana. Fahima mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak. Ruang itu dibuka awalnya kurang lebih dua tahun yang lalu. Penghuni pertamanya adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Penghuni keduanya adalah seorang laki-laki.
Pada awal tahun ini, ruangan itu ternyata bertambah penghuninya. Seorang laki-laki dan keluarganya. Sebenarnya Fahima sudah menyiapkan ruangan khusus untuk sang laki-laki itu. Meskipun ruangan itu belum dibuka, sekadar dipersiapkan. Tapi ternyata dia telah menjadi penghuni hati-hati yang lain yang tentu juga menyayanginya. Yah ruangan khusus itu gak jadi dibuka deh. Tapi insya Alloh akan terbuka dan Wallohu A’lam siapa nanti yang akan menghuninya.
Subhanalloh, aku terkagum-kagum pada metafora mereka tentang sebuah hati yang mereka miliki dan kenali lebih dalam seluk beluknya, serambinya, atau selasarnya. Ketika aku membaca pertama kali kamar hatinya azimah rahayu, terasa lebih familiar, terasa aku pernah mengenal kamar itu. Akhirnya kuteringat tentang kamar hati Fahima. (sekarang ia sudah memastikan penghuni hatinya, insya Allah untuk yang terakhir katanya).
Dan aku hampir memastikan bahwa kamar-kamar hati mereka penuh dengan bunga-bunga cinta. Betul tidak…..?
Kata Unisah: “cinta bisa menjadi api saat kau kedinginan, menjadi sepoi saat kau kegerahan, menjadi penegak disaat kau kelelahan, menjadi penuntun disaat kau kebutaan.” Sedang Fahima bilang: “Jika kamu mencintai, maka sembunyikan, jaga, dan pelihara cinta itu”.
Kalau azimah sendiri bilang apa? Waduh, sampai saat ini saya belum banyak membaca karyanya, jadi belum kutemukan definisinya. Tapi aku kira apa yang ia tulis semua karena cinta. Itulah definisinya. Dalam kesendirian kadang mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan karya cinta luar biasa.
Satu keyakinan utuh tentang kamar-kamar hati mereka tak semata-mata berisi cinta pure tanpa mengerti hakekatnya itu sendiri. Karena mereka pasti tahu siapa sih yang memberikan mereka cinta. Tentu Sang Maha Pemberi Cinta. Jadi semua cinta mereka itu adalah dalam rangka menaiki tahapan-tahapan cinta menuju puncak ketinggian dari cinta yakni tatayyum. Semata-mata karena-Nya. Semua untuk-Nya. Betul tidak…?(lagi-lagi AA Gym bertanya). Hingga Fahima pun mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak.Coba setinggi itukah harapan kita?
Oh ya dari tadi aku melihat kamar-kamar hati mereka dari perspektif gender. Aku jadi lupa untuk memperkenalkan isi kamar hatiku, yang kutahu hatiku ber-evolusi hanya sampai menjadi sebuah relung pada sebuah rajah cinta yang kutulis untuknya (lady semarang):

masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya

namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam

sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia

tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?

yang pasti
di sini aku masih termangu
dengan angin malam yang menjilati
relung-relung kalbuku
sedang engkau, entahlah…
(13 Mei 2003).

Coba, hanya sampai di situ saja, hanya beberapa bait, sedang Unisah sambil mengutip Sakti Wibowo sampai bilang: Lukislah Cinta.
Ah, cukuplah sampai di sini aku menerawang kamar-kamar hati. Aku bukan Pecinta (ah, masa?), maksudku aku belum bisa menggali kedalaman cinta hingga batas tertentu selayaknya mereka (azimah, unisah, fahima) gali. Tak apalah aku jadi kenek, ajun, asisten, atau apanya mereka. Tapi maaf, aku bukan pengemis cinta (maaf kang Johny, aku kutip lagi nih…).
So, two thumbs for them, for their chambers of heart.
Allohua’lam.