Buat yang mau Selingkuh: Jangan Pernah


jangan pernah

jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu…
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan itu
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau sembunyikan
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun
jangan pernah
jangan

bahkan sebelumnya

jangan
jangan pernah
jangan pernah sekalipun
jangan pernah sekalipun engkau
jangan pernah sekalipun engkau berbuat
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan
jangan pernah sekalipun engkau berbuat kebusukan…

karena
suatu saat
semuanya akan
mencium kebusukan itu

dedaunan di ranting cemara
di saat kebusukan itu tercium sudah
sesaat setelah membaca puisi penulis novel IMPERIA: Akmal N Basral
20:10 29 Juli 2005

Selembar Daun


selembar daun
hijau mulai menguning
layu
terjepit lembaran kertas
di halaman dua
menyucikan jiwa
said hawwa

masih terasa di ujungnya
anyir getah putih
baru terpetik tadi siang
di pinggiran jalan penuh debu

dan malamnya
lalu kau lihat,

aku sudah berasyik masyuk
me-rodi mataku pada
‘segenggam gumam’
bahkan dengan
‘aceh dalam puisi’

saat itu kau ingat tentang selembar daun

***
kukutip budi arianto untuk :
maaf tak sempat menjamu pada persinggahanmu tadi siang

dedaunan di ranting cemara, 01 Juli 2005
di antara kerumunan orang menyemut
di book fair

yang Muda Yang Naif


puisi yang muda yang naif
*********

Bisa saja kau bersuara lantang
bertanya
dimana adanya Tuhan
sampai suara habis
dengungkan posmo
sebagai ritual harian layaknya kitab suci

bisa saja kau bersuara lantang
kita sholat man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka satu
dalam satu tuts keyboard sekali saja)
tapi pikiran khusuk penuh wanita-wanita telanjang

bisa saja kau bersuara lantang
aku orang beriman man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka
satu dalam satu tuts keyboard sebanyak 999 kali)
tapi itu perlu diuji dan bukti
namun bagaimana bisa lulus
kalau masih bermimpi seksi
tebarkan seruan pada semua orang:
hei lihat, aku dekat dengan Zina
lihat aku sedang berzina,
nikmati saja kawan

bisa saja kau bersuara lantang
teriakkan kebebasan layaknya elang penguasa langit
tapi silakan kau hidup dimana hukum Tuhan tidak berlaku untukmu (emang
ada?)
naif
(bang naip, preman kampung depan komplek mati lehernya digorok setelah
pulang dari Bongkaran–Poskota)

atau silakan kau nikmati istidraj-Nya
sampai akhir itu tiba
dan hanya penyesalan menjadi kulitmu

dedaunan di ranting cemara
hanya di CITAYAM saja, 01.07 , 23 Juli 2005
menjura dengan pinta maaf yang tiada terkira pada semua
ampuni aku Ya Allah.

ps.
telah datang malaikat Jibril kepada Rosululloh dan berkata:
Ya Muhammad, hiduplah engkau sesukamu tapi ingatlah
sekali waktu engkau akan menjadi mayit;
cintailah orang yang kau cintai tapi ingatlah engkau akan berpisah
dengannya;
berbuatlah sesuka hatimu tapi sekali masa kau akan diminta
pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.
(HR Imam Baihaqi)

Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami


21.7.2005 – Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)

Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Tapi Sayangku…., itu bukan pembenaran untukku. Karena ia butuh syarat berat untuk memenuhinya. Pikirmu aku sudah punya akhlaq sekapasitas para sahabat nabi yang mereka semuanya berpoligami? Ah, tidak…aku tidak pernah membayangkan dapat dibandingkan dengan mereka. Namun aku pun punya cita-cita tertinggi meniru segala akhlaq mereka.
Tiba-tiba aku berpikir, kelak, saat kau mengizinkanku. “Akankah aku siap…? Entahlah…, lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
******
“Hei…pagi ini apa yang sedang kau lamunkan?”sisi lainku berkata. “Kenapa kau memikirkan ini…?”
” Ah tidak, soalnya tadi pagi aku menerima email lucu sebuah puisi dari seorang kawan di milis. Tentang poligami. Jadi merangsang syaraf kecil di sebelah kananku untuk sedikti menulis ini.”
“Bisa kau perdengarkan puisi itu…?” pinta sisi lainku.
“Oh tentu…buatmu tiada yang bisa aku tolak”.
Puisi suami yg minta ijin poligami :

Istriku,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal
bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…

Balasan Puisi sang istri …

Suamiku,
bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
TAPIIIIIIII..
bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain!!!
karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? Plis deh gitu lho …
——Yuandi Oktarinda——
aku pikir aku bukan lah MENTARI, aku hanya sejengkal lilin 5 watt belaka (bahkan dalam krisis BBM ini aku terasa makin padam)
duh Rabb…
dedaunan di ranting cemara
dengan terburu-buru
di antara waktu yang memburuku untuk menyelesaikan SPMKP
08:08, 21 Juli 2005

Mengemis


18.7.2005 – mengemis

i. mengemis
pada malam yang sudah mengeping
aku lantang berteriak
tanpa suara
menadahkan jiwa
memungut remah-remah
:rahmat-Mu
dedaunan di ranting cemara
02.33 17 Juli 2005

ii. sudikah kau?
bila bintang-bintang masih sudi mengintip
bulan sudi menengokkan wajahnya
awan sudi menyingkirkan tubuh gelapnya
angin sudi berhenti meniup
sudikah kau rasakan indahnya malam?
lalu kau susun puzzle kerinduanmu
di atas rintihan-rintihan
hingga terdengar sampai ke ‘Arsy
dedaunan di ranting cemara
02.45 17 Juli 2005

iii. bila aku merinduimu
hai, kawan…
detik ini aku merinduimu
tapi tak cuma sesaat
sampai kapan?
lalu
apa yang harus aku lakukan?
entah…

dedaunan di ranting cemara
02.51 17 Juli 2005

5 Dasawarsa 12 Purnama


untuk bapak:
(dalam perjalanan menempuh 51 usia)

aku tak peduli
pada waktu yang terus berputar
bahkan aku tak mau tahu
pada waktu yang terus menancapkan seringainya
agar aku ingat masa kanak-kanakku
agar aku ingat masa-masa remajaku
agar aku ingat masa-masa kedewasaanku
tapi aku tetap tak mau tahu

ohhhh….
naifnya aku
karena aku tak mau tahu
sementara banyak kawan dan cerita
punya selaksa cinta bahkan berjuta
sedang aku hanya sebutir adanya
ohhhh….
sementara waktu terus menerus menyeringai padaku
tak mau berbelas kasihan

sampai…..
pada suatu titik kesadaran
bahwa aku adalah
lima dasawarsa dan dua belas purnama

wahai sang waktu…
maka saksikanlah hari ini
aku lima dasawarsa dan dua belas purnama
kuluruhkan semua energiku
atas nama cinta
cinta pada kawan bahkan pada cerita
bukan selaksa dan sejuta
tapi sedepa, sehasta, bahkan seisi mayapada
hari ini,
ada sebuah rasa yang mendesak untuk kuungkap
bahwa..
aku mencintaimu kawan…
atas nama-Nya

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kepingan tahun ke-51

Menoreh di Kacanya


20.06.2005 – menoreh di kacanya, rie…(2)

saat kenangan kembali merasuk sukma
tak ada yang dapat menghalangiku mengenangmu
tentang jalanan yang menghiba
tentang pepohonan yang mengayun tiada henti
tentang derit ban yang tiada pernah menyerah
sepanjang sore
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jangan kau ragukan tentang kata yang telah kurangkai
kata demi kata
paragraf demi paragraf
di sepanjang perjalananmu itu
jangan kau hapus bekas hembusan nafasmu di kaca
biarkan ia menjadi saksi perenunganmu
sesudah itu berpikirlah:
sudahkah kau tanya pada dirimu sendiri, rie…
jadikan apa yang telah kutulis tentang
“menoreh di kacanya, rie…”
sebagai sebuah hikayat dari negeri antah berantah
yang tak dapat kau temukan di segala macam referensi
sedangkan aku masih teringat akhir perjalananmu
dengan kayuhan abang becak yang terhenti di depan rumahmu
setelah itu kau jalani begitu saja akhir pekanmu
dan gundah yang menggunung hilang di sepanjang curahan hati
pada yang mencintaimu sepanjang hidup
aku merasakan apa yang kau rasakan
tapi itu dulu, bertahun sudah
walaupun terkadang tiba-tiba ingatan itu
menyengat labirin memoriku…
dan segera kuhapus
karena kau telah berbeda…
yah, kau telah berbeda.
dedaunan, di sepanjang ranting cemara, 20 Juni 2005