Uzurnya Sang Raja


:terlena gempitanya dunia
syahdunya cinta
:terlupa adanya ikatan darah
:tersiar setitik duka
:keras peringatan-nya
pada dominan raja yang uzur
akhirnya terasa berat
melangkah di persimpangan
keramaian menjadi sepi
terselubung kebingungan
pergi ke sang raja
atau pergi ke keramaian
kesedihan tetap bergelayutan
di pohon-pohon sepanjang perjalanan
tak ada tempat curahan rasa
tapi teringat
pada sebait kata yang pernah kubuat
hidup ini masalah
mau tidak mau
semuanya harus dihadapi
apapun pahit rasanya

tetaplah aku ke keramaian
dan pasti kan kembali
pada sang raja
namun aku berburu dengan waktu
akankah aku sempat menemuinya?
berserah diri pada-Nya menjadi arah dari jalanku?
dan penuh pengharapan semoga sang raja
tetap kembali bersama hidayah

dan aku sempat menemuinya
pada sang raja yang menangis tersedu-sedu
tak bisa berjihad karena uzurnya

dedaunan di ranting cemara
di antara Jaibarang dan Karangampel
Januari 2003

Hamba Dari Malam Hingga Pagi


hamba dari malam hingga pagi

terpekur
di titian malam
di sepertiga akhirnya
di panjangnya rukuk dan sujud
menjumput sejuta angan
yang kian samar
menjadi titik-titik debu kerinduan
sampai saat
sejuta harap terluncur
dari bibir hamba
menuju ‘Arsy
sejuta tanya
kenapa hamba belum mencintai-Mu
layaknya mencintai dia
yang ada di ujung timur tanah ini
kenapa hamba belum merindui-Mu
layaknya merindui dia
yang ada di ujung timur tanah ini
sedang hamba, dia
adalah makhluk
wahai Sang Pemilik Segala Cinta dan Kerinduan
deraskan cinta dan kerinduan itu
pada sungainya hati
yang berbatu dan berlumut
melautkan semuanya
ke samudera kesucian
sampai saat
haribaan pagi datang
memeluk shubuhnya.

deDAUNan di ranting cemara,
dimalamnya Pabuaran,
January 22th, 2003

Ada Jauh Setelah Nun


22.08.2005 – ada jauh setelah nun

sendiri
menuruni jalanan sepi
menyulam sore
tanpa semburat senjanya
kuhirup segar
bau tanah yang tersiram gerimis
memenuhi rongga dada
sedangkan
nun jauh di atas sana
ada banyak kata mengisi bait-bait
gunung, lembah, kabut, cemara, mendung,
gemericik air, hijaunya dedaunan, pinus, burung …
dan jalanan itu masih tetap sepi
di sorenya Baturraden
dedaunan di ranting cemara
di antara turunan menikung
Sunday Morning, January 26th, 2003

I’m not a Bird


kukepakkan sayap ini
melesat ke gumpalan awan putih,
bercengkerama dengan alam,
aku bukan burung
tapi ruh yang adanya adalah tiada

SMS Ini Membuatmu Menangis


sms ini membuatmu menangis

[Semalam aku tanya pada malam tentang engkau:
Apakah kau tak punya hati
untuk mencintai diriku yang selalu mencintaimu
walau aku selalu melukaimu?
biarlah airmata ini menjadi saksi,
keberadaan benteng cintaku
yang kian kokoh terbangun hanya untukmu]

dedaunan di ranting cemara
di antara Brown, Hitti, dan Haikal
10:07 17 Agustus 2005

Merdeka pun Kau Tetap Mati


pada tanah rantau yang tercium amisnya darah
kutancapkan satu bambu runcing kuning mengilat
agar aku berdiri tegak kibarkan merah putih
menantang cambuk angin yang menggelepar-gelepar
memandang Bandung berkubang lidah api yang menjulur-julur
menunggu matahari yang masih saja tak mau terbenam
menghitung tapak demi tapak gerilya
tapi!!!
aku tak mampu menelan kala agar berhenti memilin detiknya
aku tak mampu menyapa tahun keseribu
aku tak mampu menghentikan tujuh setengah windu
yang membuatku mengeriput, ciut, kecut
aku tak mampu menjadikan bambu ini kayu Sulaiman
dan akhirnya aku takut menidurkan jiwa ini
karena harga liang kubur yang melangit
tak mampu kubayar seringgit demi ringgit
dengan kaleng tua di tangan yang menjepit
menanti sesen dua sen dari lalu lalang yang tersenyum sengit
tapi!!!
saksikanlah aku menjadi busuk di Asia Afrika
yang tak mau menerimaku di sudutnya
saksikanlah aku beralas merah putih
hingga tahu-tahu semut-semut masuk
melalui semua lubangku
aku mati

dedaunan di ranting cemara
di antara menit-menit jelang kemerdekaan
18:40 15 Agustus 2005

Lontar dari Kadipaten Depok


lontar dari Kadipaten Depok

:buat Mapatih Gajahmada

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan
kalaulah belum tahlukkan negeri Sunda
satu negeri yang akan membuat tuan
akhiri sumpah palapamu
memulai nikmatnya dunia tidak sebatas mutih

Mapatih, haturkan hamba berkidung
tentang sebuah kidung Sundayana
melarut dalam berlonta-lontar Negarakertagama
yang belum sempat terbaca olehTuan
kerana Prapanca membuat titiknya
saat tuan telah tiada kekal

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang Diah Pitaloka Citaresmi puteri Sri Maharaja
yang datang membawa bangga ke hadapanmu tuan
tanpa ribuan pedang, tombak, perisai,
bahkan genderang tambur

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang tuan yang bukanlah tuan kalaulah tuan
bersikeras cantiknya adalah hadiah
dan tetaplah hadiah
jikalau ia bukan hadiah
maka pastilah pinangan buat Tuannya Tuan

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang jikalau ia bukan hadiah
maka tak ada Bubat yang memerah darah
maka tak ada Maharaja yang berkalang tanah
maka tak ada Diah yang berkeris di dada

Mapatih haturkan hamba bercerita
tentang kepedihan hati
Tuannya Tuan Sri Rajasanagara
merenggut selendang cantik tak bertuan lagi
hingga akhir hayat memendamnya di Tayung, Brebek,
tempat hamba memungut nafas pertama hamba

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang dendam yang turun temurun
hingga hamba tak sanggup menegakkan muka
di tatar sunda yang telah tuan curangi
yang telah tuan kangkangi

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang membawa bala dari tuan
tentang hamba adalah putera
para piningit Sitinggil Binaturata
bahkan sebelumnya:Singhasari dan Kadiri

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang menjadi tumbal keserakahan tuan
hingga hamba terbalut kain jijik
dari mata-mata penerus tatar Sunda
hingga hamba tak layak untuk menjadi Adipati mereka

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
seberapa menyakitkan perbuatan tuan
hingga sampai merasuk dalam
pada alam bawah sadar mereka
hingga menggendam pada banyak anak pinak
bahwa hamba adalah bagian Tuan
bagian pusaka jaya masa lalu

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang selalu bertanya
dapatkah hamba menyalahkan tuan
karena hamba mengalami ketidakadilan
yang pernah menimpa mereka 648 tahun lampau

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang kini tak layak dan tak sepatutnya
menyilih angkaramu kerana hamba
adalah milik Sang Maha Pemilik jiwa Tuan
maka hamba pun sudah sepatutnya berjuang
dengan sepenuh tenaga hamba
layaknya mereka menghadapi Tuan

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang hamba yang memastikan kisah
tak ada maharaja berkalang tanah
tak ada diah berkeris di dada
tak ada selendang beramis cempaka
kerana tahta sebenarnya bukanlah begitu rupa
hakikinya adalah ia berdiri tegak
di atas keadilan yang nyata

Mapatih, haturkan hamba bercerita
tentang bahwa ini adalah sekadar kepedihan hati hamba
bahwa hamba menulis di lontar terakhir ini
semoga Tuan sempat membaca
di sela-sela kesibukan tuan
di sana

dari hamba:
Bhre Noermahmudi
Depok, Minggu Legi 03 Rejeb 1938

dedaunan di ranting cemara
di antara istighosah Kubro—bukan Qubro
22:08 Ahad, 07 Agustus 2005

Kia Tak Selalu Berakhir Dengan Mat


I. semuanya pasti akan begitu

kuketuk pintu
tok…tok…tok…
sekali, dua, tiga
pelan dan meritmis
sepi
tak terjawab
dari sebuah pintu
bertulis:
kamar mayat

II. Kia tak…

Bila Tuhan menyuruhmu, Israfil
pastikan sangkakalamu telah mengkilap
dan nyaring bunyinya
karena ia cuma dua kali meraung
saat manusia selalu berkata:
kia tak selalu berakhir dengan mat
saat manusia akan selalu berkata:
dimana aku berada sekarang ini

Tadi Malam


tadi malam
senandung hujan sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tertidur
tuk memilih mimpinya sendiri
anggap saja ia adalah calon bidadari surgamu
(itupun kalau kau tak rasakan pedihnya neraka)

tadi malam
ritmis gerimis sempat berbisik padaku
: lupakan saja ia dan biarkan ia tersungkur dalam sujud panjangnya
tuk memilin untaian do’anya sendiri menjadi selendang pembuka pintu langit
anggap saja ia adalah satu paragraf dalam satu bab di buku kehidupanmu

tadi malam
harum tanah sempat berbisik padaku
: persiapkan saja bekalmu
tuk menuju terminal terakhir itu
raih cita-cita tertinggimu
rengkuh syahid tanpa cintanya
biarkan mewangi misik menjadi tanda persaksian itu

tadi malam
guruh guntur menggemparkan mega mendung
dengan kilat putihnya pula
sadarkan aku bahwa aku masih menjejakkan kaki
di tanah ini
jauh dari detik-detik pertaruhan nyawa
sempatkah aku ke sana?
sedang aku masih di sini
aku berteriak
aku tak mau jadi Ka’ab bin Malik (sang tertinggal)

tadi malam
semua yang berbisik serempak berteriak
: pergi sana…!!!!!
lupakan saja ia……..!!!!!!

………….aku terbangun.

Tanggal 12 Desember 2003
kepada kawan yang memesan untaian kata ‘tuk dibacakan pada sang-nya

Kau adalah Ia


1. suatu saat aku sempat menggombal padamu:

kau adalah ia
yang menggores putihnya kertas
menjadi bait-bait terindah di ujung lidah

kau adalah ia
yang memahat kerasnya karang
menjadi relief-relief magis di setiap rabaan

kau adalah ia
yang melukis birunya langit
menjadi mozaik awan di setiap pandangan

kau adalah ia
yang mengukir liatnya jati
menjadi kepingan-kepingan terhalus di ujung jari

lalu…
di setiap goresan
di setiap pahatan
di setiap lukisan
di setiap ukiran itu,
aku siapanya ia

2. tapi dua tahun enam bulan tujuh hari sudah, baru sempat kau jawab gombalku itu:

kau adalah ia
yang padanya kucoba labuhkan cinta

kau adalah ia
yang dengannya lahir dua pasang mata

tapi kau memang bukan IA
yang memiliki labuhan cinta sejati
yang tak pernah melukai

***
dedaunan di ranting cemara
di antara kelindan para putera Jayengrana: Subrangti dan Menak Subrangta
5:51 30 Juli 2005