Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami


21.7.2005 – Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)

Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Tapi Sayangku…., itu bukan pembenaran untukku. Karena ia butuh syarat berat untuk memenuhinya. Pikirmu aku sudah punya akhlaq sekapasitas para sahabat nabi yang mereka semuanya berpoligami? Ah, tidak…aku tidak pernah membayangkan dapat dibandingkan dengan mereka. Namun aku pun punya cita-cita tertinggi meniru segala akhlaq mereka.
Tiba-tiba aku berpikir, kelak, saat kau mengizinkanku. “Akankah aku siap…? Entahlah…, lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
******
“Hei…pagi ini apa yang sedang kau lamunkan?”sisi lainku berkata. “Kenapa kau memikirkan ini…?”
” Ah tidak, soalnya tadi pagi aku menerima email lucu sebuah puisi dari seorang kawan di milis. Tentang poligami. Jadi merangsang syaraf kecil di sebelah kananku untuk sedikti menulis ini.”
“Bisa kau perdengarkan puisi itu…?” pinta sisi lainku.
“Oh tentu…buatmu tiada yang bisa aku tolak”.
Puisi suami yg minta ijin poligami :

Istriku,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal
bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…

Balasan Puisi sang istri …

Suamiku,
bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
TAPIIIIIIII..
bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain!!!
karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? Plis deh gitu lho …
——Yuandi Oktarinda——
aku pikir aku bukan lah MENTARI, aku hanya sejengkal lilin 5 watt belaka (bahkan dalam krisis BBM ini aku terasa makin padam)
duh Rabb…
dedaunan di ranting cemara
dengan terburu-buru
di antara waktu yang memburuku untuk menyelesaikan SPMKP
08:08, 21 Juli 2005

Selaksa Harap Sekeping haru


19.7.2005 – SELAKSA HARAP SEKEPING HARU
Pagi itu di sebuah pantai di kawasan Anyer, angin masih menyisakan dinginnya malam sedangkan sinar matahari sesekali menghangatkan suasana karena awan hitam masih sering menutupinya. Debur ombak menjadi pelengkap kesegaran pagi itu dengan pasir pantai yang putih dan lembut. Tapi akung tak ada kicau burung camar disini.
Terlihat di ujung utara pantai ini sekelompok wisatawan berkumpul melihat sebuah kerja keras yang dipertontonkan para nelayan dalam menarik jala yang terpasang sore kemarinnya.
Jalan tersebut panjangnya hampir mencapai 300 meter. Dimulai dari ujung selatan dengan sebuah tonggak bambu jala dipasang mengelilingi area sekitar pantai. Sebuah jukung (perahu kecil) nelayan membawa jala dan memasangnya hingga radius 100 meter dari tepian pantai kemudian ke arah utara sekitar 100 meter pula, lalu ditarik kembali kurang lebih 100 meter ke tepi pantai membentuk sebuah bujur jangkar perangkap ikan.
Nah, pagi ini adalah ritual keseharian para nelayan, sekitar 10 orang menarik tali jala yang ada di ujung utara, sedang satu orang nelayan lainnya naik jukung dan mencabuti patok bambu dengan mengitari area tangkapan. Upaya menarik jala sambil berjalan dari ujung utara ke ujung selatan inilah yang ditonton para wisatawan.
Yang paling seru dan menegangkan adalah ketika para penarik jala sudah sampai di ujung selatan, karena di titik inilah akan terlihat seberapa banyak tangkapan yang akan diperoleh. Dengan usaha yang sangat keras, bergotong royong, tarikan kuat, sesekali pula sorakan, mereka tetap bersemangat menarik jala. Para penonton bertambah banyak dengan rasa keingintahuan yang tinggi melihat suatu peristiwa yang jarang mereka lihat. Semua berharap akan melihat tangkapan yang melimpah dan besar-besar, apalagi kalau ikan hiu yang tertangkap.
Ujung jala mulai terlihat, semeter demi semeter jala ditarik. Penonton masih harus menunggu sekitar lima menit lagi untuk dapat melihat ujung jala yang lainnya. Akhirnya sampailah di ujungnya. Penonton segera merubungi. Tapi apa yang terlihat dari hasil tangkapan itu, tidak ada ikan kakap, tuna apalagi ikan hiu, udang pun tak ada. Yang ada hanya ikan teri dan ikan lain yang besarnya hanya sebesar telapak tangan. Hasilnya kalau ditimbang hanya sekitar dua kilogram.
Melihat sedikitnya tangkapan itu, penonton merasa kecewa dan terdengar gumaman tidak jelas dari mereka. Namun para nelayan menanggapinya dengan dingin-dingin saja, tak tergurat di wajah mereka kesedihan atau kekecewaan, sepertinya semua itu adalah hal yang biasa saja, dan mereka pun langsung membubarkan diri.
Ada banyak hikmah yang dapat digenggam dari peristiwa itu. Aku tersadar bahwa setiap usaha yang kita lakukan dalam mencapai sesuatu mungkin saja hasilnya tidak sepadan dengan kerja keras kita, atau tidak seperti yang kita harapkan di awal. Kemudian aku sadari pula sesungguhnya Allah tidak melihat hasil, tetapi Allah selalu melihat usaha yang kita lakukan, apakah usaha itu ditempuh dengan niat yang ikhlas, niat yang benar, dan jalan yang benar?
Hikmah lainnya adalah adanya teguran terhadap kesombongan orang-orang kota, bahwa tak selamanya suatu usaha dapat dihitung berdasarkan materialisme belaka namun juga pada semangat kegotongroyongan yang masih melekat di sebagian lapisan masyarakat Indonesia. Buktinya para nelayan itu langsung membubarkan diri tanpa meminta hasil kerja keras mereka kepada pemilik jala itu.
Ada hikmah lainnya yakni adanya semangat untuk selalu melihat ke bawah tentang kehidupan para nelayan kita, yang notabene mereka adalah saudara-saudara kita juga. Sangat ironis sekali ketika republik ini mengklaim sebagai negara maritim, Negara yang nenek moyang mereka adalah seorang pelaut dengan pedang panjang (eh salah yah…J ), negara yang luas lautnya meliputi hampir 2/3 total wilayahnya, namun kehidupan para nelayannya masih berkutat dengan kemiskinan absolut dan sangat-sangat memprihatinkan.
Di saat nelayan-nelayan negara lain sudah memakai GPS untuk mengetahui posisi ikan, memburu paus, melanglang buana dengan kapal canggihnya, nelayan kita masih berkutat dengan perahu mesin tunggalnya dan masih tradisional (sekitar 80% dari total perahu dan kapal yang dimiliki para nelayan). Dan nelayan kita masih berkutat dengan persoalan bagaimana perahu mereka bisa berlayar di tengah harga BBM yang semakin naik. Itulah nelayan kita.
Sorenya, dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Gambaran para nelayan kita masih berjalan di ingatanku. Kadang memang selaksa harap hanya akan menjadi sekeping haru (atau tangis malah…) kalau kita tidak ingat bahwa yang menentukan segalanya adalah ALLAH KARIIM.
Allohua’lambishshowab.
dedaunan di ranting cemara
di pantai yang adanya membuatku melayang
Medio 2004

Akankah Mereka Akan menjadi Pahlawan?


Libur, Berenang, Satu dari Mereka akankah Jadi Pahlawan?

Tak terasa, liburan akhir telah datang. Saya sebagai “Kepala Sekolah” kudu mempersiapkan acara liburan bagi anak-anak TPA Al-Ikhwan—tempat bagi anak-anak di RT. 011 belajar Islam dan mengaji setiap Senin, Rabu dan Kamis. Tahun kemarin kami berlibur di sebuah kolam renang khusus milik perorangan di Jalan Dahlia I, Depok.
Ternyata setelah diadakan pemungutan suara—ada pembelajaran demokrasi sejak dini—dari berbagai pilihan lainnya seperti di Kebon Raya Bogor, Kebun Binatang Ragunan, mayoritas anak-anak sepakat untuk kembali liburan ke kolam renang. Kata mereka Bogor macet, soalnya ada anak presiden kawinan (loh kok mereka tahu), sedangkan kalau ke Ragunan mereka takut wajahnya disamakan dengan para monkey. “Emang kita saudara mereka…?” cetus salah satu dari mereka. “Nehi….tum mereke jenehe” sahut yang lain. Apaan tuh artinya? Ada-ada saja.
Akhirnya jadi acara tersebut Sabtu 09 Juli 2005. Setiap anak dipungut Rp2.500,00 untuk tiket masuknya. Itu adalah limaperenam harga tiket sebenarnya. Sisanya kami yang subsidi. Kali ini tidak ada subsidi tiket total dari kami. Soalnya acara ini dadakan dan belum mempersiapkan proposal permintaan dana kepada donator utama kami yang ada di KPP PMA Lima. Biaya lainnya kami yang tanggung.
Berangkatlah kami pada pukul 08.00 WIBC (Waktu Inondesia Bagian Citayam) dengan Angkutan Kota (angkot) yang kami carter, dengan membawa 16 anak-anak dan tiga dewasa. Saya dengan megapro keluaran Februari 2005 menjadi penunjuk arah. Pengantar lainnya dipersilahkan untuk membawa kendaraannya masing-masing. Soalnya nggak muat angkotnya boo…
Setelah mengarungi kemacetan di mana-mana, pukul 09.15 WIB kami sampai. “Lama juga,” pikirku, padahal jaraknya tidak lebih dari sepuluh kilo. Akhirnya mereka pun bersenang-senang. Suara tawa dan jerit mereka menambah semarak acara. Apalagi pada saat dilangsungkannya berbagai permainan, tambah seru. Hadiah pun diberikan tidak hanya kepada para pemenang namun semuanya sehingga kebersamaan itu tampak sekali.
*****
Saat anak-anak adalah saat-saat yang indah. Saat dimana mereka belum menemukan dan menyadari eksistensi mereka. Mereka hanya mengenal tiga kata yakni main, main, dan main. Maka yang kami ajarkan di TPA adalah tidak semata-mata Iqra namun juga berbagai macam permainan yang setidaknya menumbuhkan jiwa mandiri, semangat membaca dan menulis (untuk hal ini perlu upaya lama untuk memberikan pengertian kepada mereka bahwa menulis itu penting dan mudah), semangat juang dan pembelaan terhadap Islam. Hingga untuk itu kami bebaskan mereka bermain pada saat mereka ngaji asal tidak mengganggu teman-teman mereka yang sedang kami telaah bacaan Iqra-nya.
Agar mereka tidak jenuh dengan suasana klasikal di rumah maka dari itulah diadakan acara berenang bersama di liburan ini, diharapkan dengan ini mereka menjadi tetap bersemangat untuk selalu belajar dan belajar sampai akhir hayat mereka. Satu yang lain yang diharapkan adalah munculnya salah satu atau lebih dari mereka menjadi “pahlawan-pahlawan Islam”. Semoga Allah mengabulkan do’a ini. Amin.

dedaunan di ranting cemara
di antara sakit sebagai teman yang tak kunjung pergi
kalibata, 11 Juli 2005

Almari Penuh Buku


Seorang pemburu harta karun terperangah, takjub, memandang tumpukan harta benda yang menggunung di dalam sebuah gua bawah tanah. Menyilaukan mata. Pun naluri awal manusia yakni keserakahan muncul seketika. Raup sana dan sini. Tidak puas dengan yang ini maka ia melempar benda yang sudah di tangannya dan mengambil yang lainnya yang lebih indah, lebih berharga, lebih mahal. Akhirnya ia pun tak sanggup mengambil apa pun, karena menganggap semuanya indah di mata.
Begitulah apa yang saya alami saat memasuki ruangan ber-AC di arena Bookfair. Benar-benar saya seperti pemburu harta karun tadi. Yang begitu takjub melihat apa yang ada di dalam. Yang saya takjub bukan pada harta benda seperti yang ditulis di awal, namun begitu banyaknya buku bagus. Yang saya takjub adalah tebaran buku di setiap stand yang memaksa pikiran saya untuk bisa memiliki semuanya.
Ambil sana, ambil sini. Akhirnya yang terbeli adalah tetap yang diskonnya besar dan yang termurah lagi. Soalnya saat itu tanggal 01 Juli 2005. Kita belum gajian coy…Sampai fordis pun ramai membahasnya.
Akhirnya saya mendapatkan buku menyucikan jiwa Said Hawwa terbitan Robbani Press. Buku ini bukan untuk saya miliki, tapi niatnya untuk seseorang teman. Setelah mengambil beberapa buku dan menyelesaikan transaksi, saya pun bergegas untuk pulang, karena saat itu jam kantor, bukan hari libur. Jadi tidak semua stand saya kunjungi.
Sebelum pulang saya mampir terlebih dahulu di stand komunitas—adanya di luar gedung istora—stand Forum Lingkar Pena. Saya titipkan pada penjaga stand itu untuk memberikannya pada teman, pengurus FLP.
“Ini buku dari siapa?” tanyanya.
“Ia pasti tahu, kok…” jawab saya sambil menyelipkan selembar daun mahoni pada halaman dua buku itu.
Ya, selembar daun sebagai tanda dari saya.

********
Pulang kantor, kebingungan melanda. Saya harus taruh dimana tumpukan buku baru ini? Sambil berkacak pinggang di hadapan lemari kaca tempat ratusan buku yang saya miliki.
Lemari itu sudah penuh. Sisi dalam maupun sisi luarnya. Akhirnya banyak buku yang bertebaran di seantero rumah. Di atas kulkas, di atas meja belajar, diatas computer, di atas televisi, di dapur, dan di macam-macam tempat lainnya.
Para tetangga sampai bilang, “harta berharganya Pak Riza cuma buku, buku, dan buku,” sambil melirik ruang tamuku yang kosong melompong dari satu set sofa ataupun yang namanya kursi.
Memang sih, saya benar-benar terkenang dengan luasnya ruang tamu kost-kost-an milik teman-teman masjid di kampus dulu. Tiada meja tiada kursi. Mereka bilang dengan ruang tamu yang luas ini, maka bisa dimanfaatkan untuk pengajian, anak-anak TPA, dan rapat-rapat kampus. So, sampai saat ini, walaupun sang kekasih telah sedikit mendesak untuk memiliki sofa dan kursi tamu, saya tetap bergeming. Alasan saya: “anak-anak tetangga kita yang ngaji di sini mau di taruh dimana?”
Akhirnya malam itu, saya tetap membiarkan buku-buku baru tergeletak di atas ranjang empuk, bukan sebagai bantal, tapi sebagai pengantar tidur saat saya membaca Segenggam Gumam milik Helvy Tiana Rosa.
Sebelum tidur, saya bilang pada Haqi, sambil memeluknya dan menghadapkan dirinya dan diriku di depan almari besar penuh buku itu, “hanya ini yang bisa Abi wariskan padamu, anakku. Baca dan baca.”
Haqi baru saja bisa membaca. Umurnya pun baru 5 tahun.
Ya, kuwariskan ini sejak dini.
Sejak memori itu masih punya daya lekat, kuat, erat, takkan pernah terlepas. Insya Allah.
Wallohua’lam.

Hari Ini Aku Berburu Buku


Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ba’da takbir, tahmid, dan salam.

Wahai ukhti fillah….
(istilah ini saya pakai lagi setelah 8 tahun sudah tertinggal di kampus)
Semoga Allah memberikan kita yang terbaik.
Dua minggu tidak menulis “sesuatu”?
Ah masak….
Bukankah setiap perbuatan-perbuatan kebaikan itu adalah upaya menulis juga, menulis hati kita, agar senantiasa ter-relief indahnya sinaran kebaikan. Bukan selalu kelamnya keburukan-keburukan saja yang ada pada segumpal darah itu.
So, bukankah setiap email yang engkau kirim kepada sahabat-sahabat tercinta adalah suatu upaya menulis juga, upaya menuangkan gagasan dari pikiran kita? Bagi kami hal-hal kecil semacam ini adalah upaya melatih kepekaan kita dalam mengolah gagasan-gagasan tersebut ke dalam kata-kata yang tertulis.
Atau bagi Antiitu bukan suatu maha karya? Sesungguhnya adikarya berawal dari satu huruf, satu karya kecil, atau satu langkah ke depan. Ingat bukan, tentang seorang tukang batu yang berhasil memecahkan batunya di pukulan yang keseratus, tetapi ia sadar semuanya terjadi karena ia memulai pukulannya di pukulan yang pertama.
Ayo, tetap semangat, sesungguhnya ketika Anti tidak menulis secara lahir tapi Antitetap sedang menulis perjalanan hidup di benak anti. Suatu saat semua yang Antilihat, dengar, dan rasakan akan muncul dengan mudahnya, dengan begitu saja, tanpa ada aral yang melintang. Maka Anti tinggal menunggu pemantiknya, kunci pembukanya, yang akan mengeluarkan semuanya itu dengan indahnya seindah purnama di lima belas.
Pun dengan tiga hari Anti membaca begitu banyak buku, itu bukan suatu “cuma”, tapi itupun adalah dalam rangka memperkaya dan mengisi khazanah ke dalam jutaan ruang rasa dan makna. Tidak banyak orang yang dapat menyelesaikan banyak buku untuk dibaca. Tidak banyak orang yang dapat mengambil sari pati dari banyak buku yang ia baca. Dan tidak banyak pula orang yang dapat menjadikan banyak buku yang ia baca sebagai pemicu supaya ia dapat mencintai sahabatnya dengan cinta karena Allah yang lebih tulus lagi. Sebagai pemicu supaya ia berbuat sejuta kebaikan di setiap harinya. Sebagai pemicu supaya ia menjadi penerang bagi orang lain. Antipasti ingat tentang “hanya dengan shalat dan sabar, Allah akan membuka semua itu”.
So, saya yakin Antiadalah orang yang mampu untuk menjadi ketiganya itu. Semoga.
Allahua’lam.
 Tetap dengan senyum terindah.
****
Wahai ukhti fillah,
tentang banyak hal yang aku lakukan?
Baru saja hari ini saya membeli banyak buku di tempat sekelas kaki lima, di kramat sana, bukan tempat ber-ac laiknya di bookfair. Namun harganya itu loh…murah banget booo. Di tempat yang saya biasa beli sejak 10 tahun yang lampau.

(bajakan bukan yah…?, maaf kalau ini sangat menyinggung, soalnya biasanya penulis sering Antipati pada yang namanya kramat, semoga tidak)
Mau tahu buku-buku itu:
1. Mushaf terbitan Syamil;
2. History of The Arabs, Philip K Hitti (ini yang saya “ngebet banget” waktu di Bookfair, tunggu saja akan saya lahap dikau di akhir pekan ini);
3. Mensucikan Jiwa, Said Hawwa, terbitan Robbani Press;
4. Agenda Tarbiyah: Mencetak Generasi Rabbani;
5. Biarkan Bidadari Cemburu Padamu;
6. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Suad Husnan (orang Bapepam harusnya punya buku ini, punyakan…?;
7. Ada satu lagi namun segera dibawa sang kekasih, sebuah novel: judulnya lupa (kok bisa, yah inilah manusia).
Yang jadi pikiran saya saat ini, mau ditaruh di mana buku-buku itu, sedang almari pun sudah tak muat. Makanya tebaran buku dimana-mana sudah menjadi penghias rumah saat ini.
Itu saja sih…semoga engkau menjadi yang lebih cepat lagi, semoga engkau selalu menjadi manusia yang senantiasa “iri” dengan kebaikan-kebaikan orang hingga memicu engkau untuk selalu berbuat kebaikan, dan semoga engkau selalu menjadi orang yang mampu menggebrak ketika menyajikan soto (loh kok Jaka Sembung sih, emang soto gebrak…..?). 
Maaf tak sempat mampir di persinggahanmu….lagi kukutip ia.
Maafkan saya.
Allohua’lam.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

dedaunan di ranting cemara
di antara tumpukan buku
kalibata, 14 Juli 2005

ps.
Sudah sebagian besar tulisan Anti saya baca. Karena harus bergantian dengan sang kekasih. Komentar awal: bagi siapa saja yang mau mengenal sosok azimah rahayu lebih mendalam, lebih detil, ruang berpikirnya, sejuta makna yang ia miliki, maka baca buku pagi ini aku cantik sekali dan hari ini aku makin cantik. Itu lebih dari cukup dibanding dua lembar berisi biodata untuk ta’aruf. 
Komentar kedua: Saya membacanya sambil terduduk, terpekur di pojok ruangan yang paling sudut, khusyu’….

ATM Tertelan


6.7.2005 – pelajaran hari ini: ATM saya tertelan

Hari ini banyak pelajaran penting yang saya dapat. Di tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, di tengah tekanan tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan, di tengah ancaman sanksi denda 50% bila tidak membayar tuition fee hingga tanggal 10 Juli 2005 ini, ternyata tetap dibutuhkan akal sehat agar saya bisa lolos dari tekanan-tekanan itu.
Maka apa yang terjadi pada saya saat akal sehat tidak digunakan maka timbul aksi terburu-buru yang pada akhirnya membawa saya kepada kesulitan lainnya. Contohnya adalah saya yang biasanya hapal nomor pin ATM Bank Muamalat tiba-tiba kehilangan memori untuk mengingat empat digit yang harus saya masukkan ke layar. Dan bodohnya saya memaksakan diri. Sutttt…..bunyi suara ATM menelan kartu begitu menyesakkan dada.
Telepon ke sana-kemari untuk memastikan simpanan saya aman-aman saja adalah jalan akhir yang harus saya lakukan. Besoknya pula saya harus mengurus ke kantor bank di mana saya membuka rekening. Jauh lagi. Pekerjaan kantor pun terbengkalai jadinya.
Duh Gusti….Maka biasanya setelah itu saya sering merenung: kesalahan apa yang telah saya perbuat pada-Nya. Dan ketika kuhitung Masya Allah….tiada berkesudahan diri ini membuat hati semakin gelap tiada bening lagi, sebening air gletser di kutub utara sana.
Karena saya meyakini bahwa musibah atau kesulitan yang saya alami adalah salah satu bentuk dari dua, yakni ujian atau memang hukuman. Jikalau ujian maka bersyukurlah bila saya dapat melewatinya dengan berhasil dan naiklah derajat keimanan kita–tapi ingat nanti akan berbanding lurus dengan ujian yang lebih berat lagi. Jikalau musibah maka bersabarlah karena sesungguhnya Allah tak akan memberikan beban yang sungguh tak sanggup untuk kita memikulnya.
Entahlah, hari ini saya menerima ujian atau musibah. Tapi setidaknya saya dapat pelajaran penting hari ini, yakni ketahuilah: jangan terburu-buru, karena terburu-buru adalah perbuatan syaitan.
Allahua’lam.
******Ya Allah ampuni aku
dedaunan di ranting cemara
di antara angka-angka
kalibata, 06 Juli 2005

Sakury


1.7.2005 – Sakury dan PT Newmont Minahasa Raya, 13th Salary

Aktivitas pagi selalu di awali dengan sarapan, cek inbox dan milis Keadilan4all serta FLP (Forum Lingkar Pena). Tak lupa pula untuk cek tulisan-tulisan indah, penuh makna di ciblog ini.
Seperti pagi ini, rutinitas itu terlaksana dengan mantapnya. Sampai aku melihat blognya Sakury. That’s Great….sederhana dan menghijau. Tampaknya kata-kata itu yang pantas untuk disandingkan pada blognya. Apalagi tampilan fotonya itu loh. Beda dari yang lain. Sehati dengan teks disampingnya. Apalagi Ayat-ayat pengingat: Arrahman, menghantam ingatan kita supaya jangan melalaikan nikmat yang Ia berikan pada kita.
Hijau banget gitu loh…tanda tanya kemudian menghiasi ruang di kepala ini…sebegitu religiuskah anda … Aku tak tahu jawabannya, karena belum lama mengenalnya, bukan begitu Sakury…
The Point is …..cuek, dingin, menghamba, friendly, so what gitu loh…:-)
Nama Anda pun kembali mengingatkanku pada nama hikari.
Two thumbs up buat Anda. Jaga dan tetap istiqomah…
Dari situlah timbul keinginan untuk meng-update blogku yang telah lama menjemukan dan tak sempat kuutak-atik (karena ujian akhir mandiri, sibuk merekam SPT PPN yang belum e-SPT, dan masih banyak lainnya). Apalagi foto Jakcy Chan-nya itu loh, kayaknya dia sudah bosan terpampang di situ. Tenang Jacky, saya akan ganti segera.
Aku buka Frontpage, dan sedikit sedikit mulai menyusun amagram script. Namun di tengah asyiknya, tiba-tiba Ibu Kepala Seksi yang sangat saya hormati memanggilku. Dan menyodorkanku sembilan Putusan Pengadilan Pajak atas Banding Newmont Minahasa Raya, yang jatuh temponya tiga minggu sejak hari ini. Alamak…makhluk yang namanya PT NMR ini selalu tak bisa memberikan kesempatan kepadaku bernafas sedetik pun. Yah sudahlah, runtuh segera azam untuk memperbagus tampilan ‘aku punya blog’.
Ya, tak apa-apa sih, namun aku harus me-reschedul kegiatanku siang ini: rekaman; pergi ke Book Fair (azimah menjanjikan untuk memberiku buku terbarunya: Hari ini Aku Makin Cantik, sekuel Pagi Ini Aku Makin Cantik–apabila aku bertemu dengannya di sana), de el el.
Sudah saatnya aku bekerja kembali.
So, tak ada kaitannya Sakury dengan PT Newmont Minahasa Raya. Mungkin satu saja kesamaannya: mereka sama-sama memiliki emas. Sakury dengan emas yang ada di jiwanya (bener nih…:-) dan yang lainnya emasnya sudah ada di Bank Central of America, buat cadangan devisa katanya. Buat yang di sini, cukuplah merkury gantinya :-(.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara, setelah melihat bangkai kereta semalam di Pasar Minggu, 01 Juli 2005.
NB: gaji ke tiga belas katanya sudah masuk, tuh.

Senyum Sore


29.6.2005 – senyum sore

Semua bersiap untuk melaksanakan satu ritual wajib. Yakni menggosokkan salah satu jemarinya di atas scanner, pertanda sebuah tradisi terlaksana. Pada akhirnya terjawab dengan tiada potongan apapun pada take home pay.
Setelah itu semua sibuk dengan urusan masing-masing, langsung pulang ke rumah, ke kampus, atau tempat tongkrongan lainnya. Atau bagi mereka yang masih mencintai kantor ini, maka ia pun akan pulang saat malam mulai menyalak sengit pada setiap orang. Ingat…tanpa ada bayaran tambahan.
Oke…, selamat tinggal hari ini. Sudah cukuplah saya mengisi hidup ini. Sudah saatnya aku segera melakukan ritual itu. Sudah saatnya aku memeluk suasana lain. Dan mengharap ada sesuatu yang membuatku berbeda, dengan nilai tambah di hadapan-Nya.
Selamat tinggal, kawan….
Selamat tinggal, sore……
Semoga kita bertemu di esok hari, dengan senyummu yang menawan mengombak dihadapanku.
………………………………………..

Guru Kehidupan


28.6.2005 – Guru Kehidupan Dan Sebuah Kenangan

Kepada sahabat istriku:
azimah rahayu
Tadi malam saya sempat membaca emailmu, tentang seorang guru ‘kehidupan’. Saya sempat tanyakan pada Istriku, sebagai salah satu mantan muridnya, “apa istimewanya seseorang sepertinya…” Dia menjawab, “ia adalah orang yang bisa menjaga hatinya.” Deg….jawaban itu menohok jantung pemikiranku. Sampai aku terdiam sesaat.
Hingga aku berpikir, hati adalah kemudi dari sebuah kapal besar bernama kehidupan kita masing-masing. Bila kita salah membelokkannya maka yang kita dapat adalah orientasi yang hilang arah. Maka terpujilah orang yang bisa menjaganya. Yang bisa menjaga hati dari segala apa yang akan membuatnya kelabu bahkan hitam mengelam, layaklah ia adalah orang yang berusaha untuk meraih cinta pada Sang Maha Pemilik Cinta.
Wuih…ironi sekali dengan apa yang kumiliki di hati ini. Bahkan aku tak sanggup menengok dan mengira seberapa kelamkah hati ini terkotori bayang-bayang semu duniawi. HIngga bait-bait doa di lima waktunya pun malu-malu aku haturkan:
Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi ‘ala tho’aatik, tsabit qolbi ‘ala syari’atik, tsabit qolbi ‘ala da’watik.
Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepadamu, tetapkanlah hatiku pada syari’atmu, tetapkanlah hatiku pada dakwahmu.
Sungguh, ceritamu membawaku kembali kepada penyadaran.
Emailmu lagi, tentang sebuah ‘kenangan’, pun merayuku untuk merajut ulang memori. Bahkan apa yang aku akan ceritakan untukmu selama sepekan dalam pengelanaan ke Jurangmangu, sudah semuanya kau tulis. Dari hamparan dhuha, melihat sosok-sosok mengalunkan ayat-Nya, sampai pada kata deja vu itu, sudah kau tulis di sana. Ya sudah, itu cukup untuk mengobati rasa rinduku.
Namun ternyata pagi ini rindu itu belum tuntas sampai aku angkat telepon menanyakan kabar pada ‘guru kehidupanku’ di Makasar sana. Empat tahun sudah ia keluar dari BPKP, dan bergabung di sebuah grup perusahaan besar milik putera daerah.
“Guru dan Kenangan”-mu cukup indah kubaca dan menjadi file yang akan disimpan di rak-rak memoriku. Tenang saja kapasitas sejuta gigabyte-ku masih dapat menampung file-file itu. Insya Allah, takkan terlupa.
‘abdurrahman (sebaik-baik nama)
dedaunan di ranting cemara, 28 Juni 2005, 11.05 WIB

Sehelai Nasehat Untuk Kalian


27.6.2005 – sehelai nasehat dalam sepucuk surat untuk kalian

Kepada dua saudaraku,
di
selatan dan di ujung timur jauh kota ini.
Rentangan waktu tak cukup mampu untuk kita membalas apa yang telah Allah berikan kepada kita sejak lahir hingga helaan nafas terakhir sekarang ini. Maka pujilah Ia Yang Maha Pemurah atas segalanya.
Berjuta lembaran pun tak cukup mampu menampung kemurahan dan keagungan akhlak Sang Terkasih Muhammad Rasulullah SAW, nabi akhir zaman. Maka bershalawatlah, Sesungguhnya Allah dan para malaikat pun bershalawat padanya.
Saudaraku, pada suatu saat, tiba-tiba aku ingat tentang kalian. Sudah lama saya tidak mendengar kabar kalian. Dan kebetulan pula ingatan itu tiba saat kalian sudah menyelami bahtera rumah tangga setahun lamanya.
Saudaraku, setahun bukanlah waktu yang pendek untuk dapat saling mencintai karena-Nya. Namun setahun pun bukanlah waktu yang lama untuk dapat saling memahami.
Saudaraku, masihkah terekam kuat dalam ingatan peristiwa yang mengguncang ‘arsy setahun yang lalu. Tentang perasaan yang membuncah dan kebahagiaan yang meledak-ledak. Hidup terasa menjadi mawar harum semerbak.
Izzatul Jannah dalam bulan setengah (2004) sampai mengatakan: tidak ada yang seindah pernikahan sebab ia memberi kelegaan, ruang yang luas untuk memanjakan jiwa, rasa keindahan, dan rasa kasih. Sungguh ia adalah tempat menyejajarkan kaki yang lelah sebab benturan antara manusia, tempat meluruhkan jerih sebab ujian dan masalah. Maka Sang Nabi menyebutnya sebagai setengah diin. Tetapi, tahukah engkau bahwa pernikahan tidak selamanya mawar
Saudaraku, kututup buku itu sambil merenung, mengambil kaca metafora untuk menghitung diri seberapa salah tangan ini mengayuh biduk itu. Seberapa salah tangan ini menunjuk arah yang benar, agar tak lewati riak–riak kecil hingga gelombang tinggi menggulung. Enam tahun kami kayuh dan ternyata menyadari bahwa kami harus banyak saling belajar untuk menjadikan bahtera itu tenang. Sungguh pertolongan Allah-lah yang membuatnya tetap tenang, dan itu yang kami harapkan hingga akhirnya nanti di suatu saat aku dapat selamatkan diriku dan mereka dari panasnya api neraka. Ya Allah jauhkanlah panasnya api neraka-Mu dari kami.
Saudaraku, sari dari kita menaiki biduk itu adalah sudahkah setengah diin yang lain itu kita peroleh Mampukah kita menyelamatkan diri kita dan mereka dari kengerian abadi itu Maka yang terpenting dari semua itu adalah kita berusaha untuk tetap mengayuh biduk ini dalam ketenangan syariat-Nya.
Saudaraku, adakah biduk itu telah dapat menjadi ruang untuk memanjakan jiwa dan meluruhkan jerih Sedangkan jarak dan waktu menjadi sekat pekat yang tak gampang dilewati dengan mudah. Perlu pengorbanan.
Saudaraku, ternyata aku tak bisa membayangkan hidup seperti kalian. Aku bertanya pada diriku sendiri, bisakah aku hidup seperti kalian Suatu saat aku menyadari ternyata aku adalah orang rumahan. Aku tak bisa bepergian sebentar tanpa mengingat orang-orang yang aku cinta, melupakannya begitu saja dan menjadi sosok angkuh berstatus freeman susuri kota-kota indah di sepanjang selatan Jawa. Maka dapatkah aku menjadi sosok-sosok kuat seperti kalian yang dengan sabarnya menempuh semua itu.
Saudaraku, yang hanya dapat aku berikan kepada kalian adalah dua ayat indah bagi jiwa-jiwa yang lelah tempuhi kesabaran:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah:4-5).
Saudaraku, ternyata Alam Nasyrah adalah pelipur bagi jiwa-jiwa sarat beban.
Saudaraku, saling panggillah kalian dengan panggilan yang terindah, selayaknya Sang Nabi memanggil belahannya: Khumaira.
Saudaraku, janganlah pernah bilang ‘seandainya’ karena Rasulullah SAW melarang mengatakan itu sebab ia adalah pintu syaitan—itu yang kembali aku temukan dari Izzatul Jannah.
Saudaraku, pupuklah cinta hingga sarat dan memenuhi kamar-kamar hati kalian. Di saat pertemuannya kalian akan temukan dahsyat keindahannya.
Saudaraku, ingatlah tentang hari akhir yang sungguh abadi. Yang indahnya tak bisa terbayangkan dan terlintas dalam pikiran manusia. Yang kengeriannya pun begitu pula.
Saudaraku, jadikan momentum ini awal untuk menasehatiku pula. Untuk saling berbagi. Aku butuh itu. Aku butuh itu untuk tidak menjadi jiwa-jiwa dengan ruhani yang ringkih. Pun dengan kalian.
Saudaraku, jangan biarkan biduk itu kosong dari mawar-mawar indah semerbak mewangi. Tentang tak selamanya mawar, itu takkan pernah terjadi jika kalian menyadari cinta kalian adalah cinta karena-Nya.
Saudaraku, semoga sehelai nasehat ini—tidak hanya buat kalian juga terpenting adalah buatku juga—adalah menjadi pelipur. Pelipur dari segala keresahan, karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Penyembuh. Bukan dariku, manusia dhoif dan faqir ini.
Saudaraku, dalam setiap tangan yang menengadah ke atas di setiap malamnya, aku berharap tak melupakan kalian. Dan sudikah kiranya kalian melesatkan panah-panah harap itu kepada-Nya dengan menyelipkan namaku di setiap tangkainya. Bisa jadi dari kalian, semua harapku didengar-Nya.
Saudaraku, siang Ahad ini semakin terasa pijar-pijar panasnya. Sudah saatnya aku akhiri ini. Aku akan menekuni yang lain:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Alam Nasyrah:7-8).
NB:
Seperti apa yang diminta oleh dedek-mu,
Kutulis ini untukmu, dan ku-cc-kan untuknya.
Alfaqir ilallah
dedaunan di ranting cemara