AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI


16.01.2006 – AINA LAHUM ‘INDAAMAA aL-HARBU ‘ALAA aL-‘IRAAQI

Dimana Mereka Saat terjadi Perang Irak…?

Invasi yang sudah memasuki minggu ketiga itu kini telah memakan korban sipil begitu banyak, ratusan orang telah tewas, ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggalnya yang telah rata dengan tanah. Perang telah memisahkan orang tua dengan anak-anaknya, suami dengan istrinya, dan telah menghilangkan kebebasan manusia untuk hidup damai.

Siapa yang tidak menangis melihat bayi yang tak berdosa menjadi korban perang dengan tubuh yang telah terbakar dan tidak utuh. Siapa yang tidak terketuk nuraninya melihat seorang ibu histeris dengan memukul-mukulkan tangan ke kepalanya karena enam orang anaknya telah menjadi mayat.
Dan siapa yang tidak panas hatinya melihat warga setempat diperlakukan semena-mena. Menyuruhnya supaya bersujud dan diam sembari memukulkan popor senjata ke kepala saat digeledah di tanah air mereka sendiri oleh pasukan penjajah karena mereka dianggap termasuk bagian dari Fida’in Irak. Tak ada tempat bagi mereka yang berusia muda untuk hidup bebas karena agresor telah menganggap mereka bagian dari suatu rezim otoriter.

Semuanya itu bisa kita saksikan dan kita dengar di layar kaca, media cetak, dan radio-radio dalam maupun luar negeri. Dunia mengecam kesombongan Amerika, demonstrasi marak di seantero dunia. PBB yang diharapkan menjadi penengah dalam konflik ini tidak bisa berbuat apa-apa. Sidang darurat Dewan Keamanan kemarin bukannya mengeluarkan resolusi mengecam invasi tersebut malah mengeluarkan resolusi yang dapat diartikan malah menjustifikasikan invasi tersebut yakni tentang dilanjutkannya program pangan Oil for Food yang sempat terhenti untuk Irak.

Dan saya melihat semuanya, saya merasa bukan orang Arab, dan saya pun dibatasi oleh jarak dengan daerah konflik tersebut.Yang saya rasakan, saya hanya orang Islam yang gemas melihat ketidakadilan yang menimpa umat Islam sekarang ini, setelah Bosnia, Chechnya, India, Palestina, Philiphina, Ambon, Afghanistan dan sekarang saatnya Irak. Kita semua melihatnya.

Saya sampai bertanya-tanya tentang kemampuan orang Arab dalam menyelesaikan konflik yang sudah berpuluh-puluh tahun melanda kawasan tersebut. Yang paling lawas adalah konflik Palestina sejak Israel yang dibantu Inggris dan PBB berdiri pada tahun 1948, sampai sekarang Palestina tetap menjadi ladang pembantaian bagi orang-orang Arab. Atau konflik teranyar di akhir abad ini yaitu invasi Saddam ke Kuwait, dengan alasan Kuwait telah merampok minyak Irak melalui pengeboran di sepanjang perbatasannya.

Secara ekstrim saya sampai bertanya-tanya manakah jiwa kepahlawanan orang-orang Arab pendahulu atau khususnya Ikhwanul Muslimin dalam setiap pertempuran. Sedangkan yang saya dengar dan lihat di media sekarang ini adalah kekalahan-kekalahan dan korban-korban yang berjatuhan di pihak Arab. Jangan-jangan semua semangat kepahlawanan itu bualan belaka dan hanya ada di buku-buku saja—yang kemudian saya sadari tidak demikian, karena tanpa jiwa dan ruhul jihad dan kepahlawanan itu tak mungkin ada Alhambra di Cordova, Samarra di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, Taj-Mahal di India, Maqam Sa’id bin Abi Waqqash di Cina, Masjid Agung di Demak, bahkan Masjid Raya di Roma.

Secara ekstrim lagi adalah saya tidak perlu lagi peduli dengan Irak dan masalah kaum muslimin lainnya di kawasan Timur Tengah sana, karena saya selalu merasa sakit hati saja melihat tayangan-tayangan dan berita saat ini. Yang menggambarkan betapa kekuatan sekutu telah hampir mendekati Baghdad dan lagi-lagi korban yang ditampilkan menjadi mayat ataupun tawanan perang adalah orang-orang Arab.
Daripada saya sakit hati dan membuat pikiran tidak bisa menanggung beban berlebihan serta daripada saya selalu mengucapkan kata-kata ARAB BAHLUL ketika menyaksikan tayangan-tayangan itu, lebih baik cari channel lain dan nonton film holywood yang bagus-bagus, menonton tayangan kriminal, atau channel gosip-gosip murahan. Tapi pada akhirnya tetap juga tidak bisa, selain saya tidak suka tayangan-tayangan murahan tersebut, saya tidak bisa membiarkan hati ini beralih dari kecintaan terhadap saudara-saudara saya di sana yang sedang menderita. Tapi sejujurnya saya ikut merasakan penderitaan mereka.

Yang saya sesalkan adalah mana tindakan dari saudara sebangsanya sendiri melihat semuanya itu. Tidakkah mereka tergugah? Tidakkah orang-orang Kuwait itu sadar bahwa Yusuf al-Qorodhawi telah berfatwa bahwa haram hukumnya menyediakan fasilitas apapun kepada siapapun juga yang akan memerangi kaum muslimin?
Tidakkah mereka sadari bahwa orang-orang Kuwait itu telah mempergunakan uang zakat yang merupakan hak kaum muslimim di dunia sebesar 20% dari hasil pertambangan minyaknya, untuk menyewa anjing-anjing penjaga dan satpam-satpam Amerika untuk menjaga wilayahnya dan menyerbu Irak? Tidakkah mereka lupakan sejenak peristiwa 1991? jangan pikirkan tentang perbuatan tiran dan diktator Saddam Hussain dulu, pikirkan sajalah rakyatnya yang notabene adalah satu rumpun dan bangsa dengan mereka.

Yang saya pertanyakan pula adalah mana fatwa ulama-ulama Arab Saudi? sedangkan ulama Syi’ah saja yang merupakan “musuh ‘aqidah” orang sunni memfatwakan kepada kaum muslimin dunia wajib berjihad melawan agresor yang akan menindas dan mengusir mereka. Mana peran ulama-ulama sholih yang menyesaki Mekkah dan Madinah dengan keilmuan dan kezuhudan mereka, yang menggemuruhkan Masjidilharam dengan kewara’an mereka dalam khutbah hajinya, yang menggaungkan dunia dengan suara-suara indah mereka dalam kaset dan CD murottal 30 juznya? Mana suara mereka?

Dan akhirnya saya kembali harus mengutip perkataannya Soekarno—yang sempat saya idolakan namun kemudian saya samakan dia dengan diktator Gamal Abdul Nasser bahkan Saddam Hussain sendiri, yang mengorbankan dan memenjarakan para ulama sholih demi kepentingannya. Soekarno pernah bilang: JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya pun merunut ulang sejarah.

Jazirah Arab pernah menjadi pusat peradaban dan pemerintahan, serta kekhalifahan Islam tepatnya di Medinah pada masa Rosululloh SAW hingga khalifaturrasyidin terakhir yakni Ali bin Abi Thalib. Setelah itu pusat Islam dipindahkan ke Damaskus sebagai Ibukota dari Dinasti Umayyah. Kemudian Baghdad menjadi Ibukota selama Kekhalifahan Bani Abbasiyyah. Cordova menjadi kota peradaban cemerlang di barat dari keturunan Dinasti Umayyah.
Peradaban Islam diwarnai pula dengan sejarah Istanbul yang menjadi Ibukota Kekhalifahan Ustmani. Dengan segala potensi keilmuan dan sejarah yang dimilikinya, kota Madinah tidak dapat kembali menjadi pusat pemerintahan Islam sejak wafatnya Ali di tahun 661 M sampai sekarang.

Bahkan kota Mekkah yang suci sekalipun sejak zaman Rosululloh tidak pernah menjadi pusat kekuasaan Islam, walaupun pernah diusahakan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid—ibunya bernama Asma’ binti Abu Bakar. Bibi dari ibunya yaitu Aisyah ummul mukminin. Dan bibi dari ayahnya yaitu Khadijah istri pertama Rasulullah SAW. Semoga Alloh meridhai mereka.
Ibnu Zubair tidak dapat melanjutkan perlawanannya melawan Bani Umayyah setelah Mekkah dikepung oleh Hajjaj bin Yusuf (semoga Alloh melaknatnya) selama lima bulan dan sepuluh malam. Ibnu Zubair wafat setelah bertempur dan dikepung rapat oleh pasukan lawan. Hajjaj bin yusuf langsung sujud syukur atas terbunuhnya Ibnu Zubair lalu mengirimkan kepalanya ke Damascus. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa 17 Jumadil Ula 73 Hijriah / 692 Masehi.

Setidaknya kalau melihat potensi Arab Saudi sekarang ini, dengan cadangan minyaknya yang melimpah, adanya dua kota suci Ummat Islam, potensi hampir tiga juta jama’ah haji, maka sudah selayaknya penguasa Arab Saudi dapat memanfaatkannya sebagai pusat peradaban Islam yang kuat, namun itu tak terjadi.
Malah yang terjadi kemudian adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali mereka untuk menjaga negaranya dari ancaman musuh. Khamar yang semula diharamkan untuk masuk ke Arab Saudi, sejak perang teluk pertama menjadi barang yang mudah dijumpai dan dikonsumsi oleh pasukan-pasukan sewaan.
Hal inilah yang dianggap oleh Usamah bin Ladin bahwa pemerintahan Arab Saudi telah mengingkari Islam. Padahal sebelumnya Usamah dengan segala kekayaan yang dimilikinya dan jalur Afghanistannya pernah menawarkan diri untuk menjaga tanah Arab itu dari kemungkinan invasi Saddam sehingga tidak perlu mendatangkan pasukan asing. Namun hendak dikata apalagi, pemerintah Arab Saudi menolaknya dan malah mengusir serta mencabut kewarganegaraannya.

Yang aneh adalah sikap dari ulama-ulama di Mekkah dan Madinah yang notabene sampai sekarang menjadi rujukan ilmu fiqih dari seluruh dunia, bahkan menjadi pusat dari Dakwah Salafiyah dunia—sampai-sampai untuk mengeluarkan Laskar Jihad dari Ambon saja Ustadz Ja’far Umar Thalib meminta fatwa dari ulama Salafi yang ada disana. Dan kebanyakan dari mereka hampir tidak menyentuh dunia politik sama sekali—terkecuali di Indonesia ini dengan keterlibatan Laskar Jihad di Ambon—bahkan dalam hal menyikapi Palestina ataupun Irak saat ini. Mengapa demikian?

Dan kalau kita kembali melihat sejarahnya, maka yang menjadi pilar dari berdirinya Dinasti Su’ud sekarang ini adalah pemuka bangsawannya sendiri, para ulama, serta para pemimpin suku di daerah-daerah. Yang paling menonjol dari pilar tersebut adalah pilar ulama ini setelah bergabungnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pelopor gerakan Ishlah dunia muslim.
Salah satu dari dua syarat yang diminta oleh Pangeran Muhammad bin Su’ud kepada Syeikh adalah “hendaknya Syeikh tidak meninggalkan mereka, dan merekapun TIDAK DIGANTI oleh orang lain”. Mengenai syarat itu, Syeikh berkata kepada Pangeran: “rentangkan tanganmu, aku berba’iat padamu. Darah harus dibayar dengan darah, dan perang dengan perang.” Syeikh meyakini bahwa kebenaran itu harus mempunyai kekuatan yang mendukungnya. Karena Alloh akan melenyapkan dengan kekuasaan, apa-apa yang tidak dilenyapkan dengan Al-Qur’an.

Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, tahun 1773-1818, gabungan kekuatan itu mempersatukan masyarakat Islam untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’ah di berbagai negeri muslim.

Namun yang terjadi kemudian setelah wafatnya Syeikh adalah peran dominan dari ulama dalam kehidupan politik tidak ada sama sekali, yang menonjol adalah peran dari kaum bangsawan ini, terutama pada saat pemerintahan Raja Faisal. Pergerakan Islam dunia selain dakwah salafiyah tak ada geliatnya sama sekali. Peran ulama di sana saat ini adalah membentengi mainstream salafiyah dari pemikiran dan pergerakan Islam lainnya untuk tetap eksis dan tetap menjadi penopang dari monarki Arab Saudi.

Maka tidaklah aneh hingga saat ini belum ada satupun keterlibatan ulama salafi untuk memberikan fatwa bagaimana menyikapi serbuan Amerika dan Inggris ke Irak. Karena hal ini merupakan hal yang sensitif yang setidaknya akan membuat perpecahan di antara ketiga pilar itu. Kerajaan akan kehilangan mukanya di hadapan tuan besar Amerika ketika dianggap tidak bisa mengendalikan ulamanya yang selama ini diberikan tunjangan sangat besar.
Dan bagi para ulama ini akan menyebabkan hilangnya privillege yang selama ini dinikmatinya. Pada akhirnya entah sampai kapan kita—terutama saya—akan mendengar fatwa dari ulama-ulama sholeh itu yang akan menyejukkan ummat, yang akan menghentikan kesombongan Amerika, yang akan membangkitkan ruhul jihad muslimin di seluruh penjuru dunia, atau mungkin kita takkan pernah mendengarnya hingga Irak dan tanah air Islam lainnya benar-benar akan jatuh ke tangan Amerika dan kaum kuffar lainnya.

Sekarang saya dan Anda hanya menunggu datangnya pertolongan Alloh melalui ababil-Nya dengan perantaraan do’a-do’a yang kita panjatkan di setiap akhir shalat. Dan kita tetap akan menyaksikan pembantaian itu sembari minum teh manis hangat di pagi hari dan merutuki para emir Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, pengkhianat Kurdi Sekuler, dan para antek Amerika yang membiarkan semua itu terjadi, karena kebodohan dan ketidakmampuan kita pula untuk membantu mereka.

Allohu ‘alam bishshowab. Semoga Alloh memaafkanku karena kelancanganku ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(Q.S. 5:51)

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang”. (Al-Mumtahanah:1)

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (HR Muttafqun ‘Alaih).

Daftar Bacaan:
1. Al-Qur’anul Karim;
2. Buku Sunnah yang mulia;
3. Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Idologis, dan Penyebarannya), Al-Ishlahy Press, 1995;
4. Fajrul Islam, Dr. Ahmad Amin, 1965;
5. Al-Firaq Bainal Firaq, Isfirani;
6. Ensiklopedi Islam; 1997
7. Qadatu-Fathi’l-Iraqi
8. Wajah Dunia Islam, Pustaka al-Kautsar, 1998;
9. Zionis Israel atas Hak Palestina, Luqman Hakim gayo, Penerbit Arikha Media
Cipta, 1993;
10. Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Joesoef Sou’yb.

Ps.:
Artikel di atas ditulis saat dimulainya penyerbuan Agresor Amerika ke Iraq. Sekarang banyak beredar VCD tentang kekalahan-kekalahan yang diderita prajurit pengecut Amerika oleh para mujahidin Iraq.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit, 12.00 14 Januari 2006

Kutunggu Bapak di Masjid


16.01.2006 – [TIPIKOR]-Kutunggu Bapak di Masjid

Siang itu begitu panas. Matahari dengan teriknya membakar Jakarta. Tak ada yang tersisa dari hujan yang turun dua hari sebelumnya. Dengan peluh yang membasahi wajah, saya menuntun motor menuju pelataran parkir Polda Metro Jaya. Citizen masih menunjukkan pukul satu lebih lima menit. Setelah menyampirkan jaket, saya bergegas menghampiri petugas parkir untuk menanyakan di mana letak kantor TIPIKOR.

Petugas tersebut langsung menunjuk ke arah menara tinggi di sebelah selatan, dan mengatakan bahwa kantor tersebut berada di bawah menara itu. Pfhh…kurang lebih seratus meter jaraknya dari tempat saya berdiri.
Kembali saya melangkahkan kaki dengan tergesa agar tidak kehilangan waktu. Soalnya, batas waktu untuk menjenguk hanya sampai jam dua siang. Setelah bertanya kesana kemari—sampai beberapa kali tersesat, dan di ping pong berulang kali—akhirnya saya sampai di depan pintu besi tebal yang terkunci dari dalam dan berjendela kecil seukuran muka saja.

Saya ketuk pintu besi, dan jendela kecil itu terkuak. Muncul sebuah wajah dan langsung menanyakan apa keperluan saya. Saya katakan saja bahwa saya ingin menjenguk tetangga saya yang sedang berada dalam sel itu sambil menyebut namanya.
Petugas tersebut dengan muka masam hanya meminta saya untuk menunggu, kemudian dia menutup kembali jendela itu. Dan saya masih berdiri di depan pintu itu sambil terbengong-bengong, tidak ada penjelasan sampai kapan saya harus menunggu. Saya melihat ke sekeliling, tidak ada tempat untuk berteduh yang nyaman, yang ada hanyalah bedeng tempat para pekerja sedang menyelesaikan renovasi gedung TIPIKOR.

Saya menghampiri bedeng itu untuk sekadar menghindari terik matahari yang sepertinya semakin menyengat penduduk bumi. Di sana sudah menunggu sambil berdiri seorang ibu dengan dua orang anaknya. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya saya mengetahui bahwa kunjungannya pun sama yakni untuk menjenguk. Dia akan menjenguk suaminya yang terlibat dalam suatu aksi perampokan yang gagal. Ibu itu mengatakan bahwa suaminya hanya diajak oleh temannya. Sambil tersenyum kecut dia bilang, “sudah enggak ada hasilnya, ketangkep lagi”.

Dia pun menanyakan siapa yang akan dijenguk oleh saya. Saya hanya bilang, ”seorang tetangga”. Ibu itu kaget setengah tidak percaya. “Tetangga saja kok dijenguk segala”, tukasnya. Ya, memang saya hanya menjenguk seorang tetangga. Walaupun tidak satu RT dengan saya, sudah kewajiban seorang muslim untuk dapat menghibur saudaranya.

Saya tidak kenal dekat dengan tetangga saya itu, sebut saja Pak Anton (bukan nama sebenarnya). Dia adalah anggota legislatif periode 1999-2004 dari partai pemenang pemilu tahun 1999. Dia termasuk orang yang disegani di komplek saya. Semua orang tahu, dialah yang rajin menyumbang dana untuk menyokong kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di komplek kami. Mulai dari acara agustusan, kegiatan besar di masjid, pelopor pemasangan lampu penerangan jalan ber-watt besar, kegiatan senam pernafasan, sampai betonisasi jalan di RT-nya. Hingga akhirnya diangkatlah ia menjadi Ketua RT. Namun sayangnya dia jarang pergi ke Masjid.

Sampai suatu ketika, di penghujung masa akhir jabatannya—Pak Anton dipastikan tidak terpilih lagi karena dia membelot dan menjadi caleg dari partai baru pimpinan salah seorang putri proklamator. Sayang suara pendukungnya tidak memungkinkan kembali untuk mengantarkannya menduduki kursi empuk anggota dewan.
Bahkan surat kabar nasional memberitakan adanya aduan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat kepada Polda Metro Jaya tentang telah terjadinya tindak pidana korupsi di DPRD Kota X, yang pula menyebutkan namanya sebagai salah satu calon tersangka.

Akhirnya beberapa minggu kemudian dijemputlah Pak Anton dari rumahnya menuju Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan, sampai kemudian ditetapkan bahwa dia resmi menjadi tersangka bersama ketujuh belas anggota lainnya yang termasuk dalam kepanitiaan anggaran di dewan.

Tidak ada kegegeran di komplek saya, semua diam, sampai-sampai pula nyaris tidak ada orang yang menjenguknya. Sepengetahuan saya, kecuali istrinya, baru ada dua orang yang menjenguknya. Itu pun tidak satu RT dengannya.
Berita itu sampai ke telinga pengurus masjid Al-Ikhwan, yang dulu sempat berseberangan tentang suatu masalah. Keluhan Pak Anton tentang tidak ada yang menjenguknya dari para pendukung yang dulu selalu menempelnya menjadi bahan pemikiran Dewan Keluarga Masjid untuk mengutus saya menemui dan bersilaturahim dengannya. Untuk itulah siang itu saya berdiri lama menanti pintu besi ini terbuka.

Akhirnya setelah menunggu lima belas menit lamanya, keluar rombongan yang ada di dalam dan pengunjung yang berada di luar saling berebutan untuk masuk. Ruangan itu berukuran kurang lebih seratus meter persegi. Di sinilah tempat menjenguk itu. Antara ruangan utama dengan deretan sel-sel di sepanjang lorong hanya dibatasi jeruji. Di samping kanan ada jendela berjeruji, tempat tersangka kasus narkoba bertemu dengan penjenguknya, dan tidak ada kursi sehingga harus berdiri untuk berkomunikasi.
Setelah menyerahkan KTP ke petugas jaga, sambil menunggu Pak Anton dipanggil saya diminta untuk duduk dulu di bangku panjang seperti bangku tunggu di puskesmas. Beberapa saat kemudian, Pak Anton yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek, keluar sambil mencari-cari siapa yang menjenguknya. Saya berdiri dan menghampirinya, tampak sekali ia terkejut melihat kedatangan saya. Di mulai dari salam, jabat tangan erat, dan menanyakan kabar kesehatannya, akhirnya kami mengobrol panjang.

Tentang bagaimana bermulanya kasus ini, pertentangan antara Undang-undang Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah yang sudah diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk dibatalkan, character assassination, aspek politik yang amat kental dalam penangkapannya, kaitannya dengan pilkada langsung, dan usahanya untuk keluar sesegera mungkin dari sini.

Satu yang terucap darinya, “sesungguhnya ada hikmah di balik semua ini, saya lebih memahami tentang roda kehidupan, bahwa orang tidak selamanya selalu berada di atas, tentu ada masanya ia untuk di bawah, entah pelan-pelan atau sengaja dijatuhkan, dan didorong secara tiba-tiba dengan menyakitkan”.

“Kini saatnya kembali merenungi perjalanan hidup saya dan lebih mendekati pada Yang Di Atas, apalagi ramadhan sebentar lagi kan jelang, sedih saya tidak berkumpul dengan keluarga”, lanjutnya. Sesaat saya terpaku, sungguh ini menjadi nasehat mulia.
Tak terasa, hampir satu jam lamanya saya berbincang-bincang dengannya. Waktu besuk ternyata masih lama, tidak sampai jam dua tapi sampai jam tiga siang. Di akhir perbincangan, istrinya yang bekerja sebagai PNS di Pemerintah Kota X datang sambil membawa bungkusan makanan.
Saya mempersilahkan kepadanya untuk melepas kerinduan pada istrinya. Ini pula kesempatan saya pamit berpisah dengannya. Matanya berkaca, sungguh dia merasa tersanjung dan bahagia dikunjungi utusan DKM Al-Ikhwan. Saya peluk erat dirinya, dan membisikkan di telinganya, “kami tunggu bapak di masjid”.
***
Kembali saya arungi Jakarta dengan motor plat merah butut ini. Saya bersyukur motor ini masih bisa membawa saya melakukan sedikit kebaikan selain tugas utamanya mengantarkan saya menagih utang dari bule ke bule, dari India ke India, dari cina ke cina, dari makian ke makian, dari hibaan ke hibaan, dari panas dan dinginnya hujan.

Seperti rasa syukurnya saya dengan nikmat kebebasan yang ada pada saya. Kadang kita sadari, manusia memahami rasa syukur ketika kenikmatan yang dulu ia punyai sudah tiada di sisinya. Manusia sadar perlunya bersyukur tentang nikmat kebebasan dan kemerdekaan ketika ia sudah berada di dalam sel.
Pula tentang nikmat sehat baru ia sadari ketika sudah jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Tetapi sungguh terlambat orang yang mengetahui perlunya bersyukur tentang nikmat kehidupan ketika ia sudah mati. Sebagaimana digambarkan AlQur’an tentang manusia yang menghiba-hiba kepada Rabb-Nya untuk dihidupkan sekejap saja ke dunia agar banyak berbuat kebaikan yang tidak pernah ia lakukan di muka bumi. Tapi sungguh ia terlambat.

Kadang sebagai manusia, kita memang perlu untuk bersilaturahim dan menjenguk orang sakit, mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan, atau ta’ziah ke pekuburan, selain sebagai perwujudan pemenuhan hak-hak saudara-saudara kita, juga sekadar mengingatkan tentang banyaknya nikmat yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh yang dikunjungi. (Tapi saya rasa bukanlah tempatnya seorang lajang yang berkunjung dalam suatu walimatul ‘urus,y mensyukuri nikmatnya sebagai lajang yang tidak lagi dipunyai oleh sepasang mempelai.) Saya teringat Arrahman. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Sehari menjelang ramadhan, Pak Anton diberikan status sebagai tahanan kota. Malam kedua, ia ikut tarawih bersama kami. Setelahnya pun ia ikut tadarusan. Membaca ayat demi ayat bersama kami. Shubuh tadi pun ketika saya sedang menulis ini, azan mengalun darinya. Sungguh ini hadiah ramadhan bagi kami. Semoga ini adalah buah dari silaturahim dan selamanya tetap bergabung dengan kami.

Aid bin Abdullah Al-Qarny dalam bukunya “Don’t be sad”—yang menjadi buku terlaris di abad modern di dunia Arab—pernah mengatakan: maka berilah perhatian kepada orang lain dan berterimakasihlah atas kebajikan yang telah dilakukannya.

Allohua’lam.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Edited 11.00 14 Januari 2005

Menikah Tanpa Cinta


13.01.2006 – Menikah Tanpa Cinta, Why Not?

Tak bisa dibayangkan pada zaman sekarang menikah tanpa pacaran terlebih dahulu. Dengan bersusah payah meniti dari waktu ke waktu—di samping pula banyaknya biaya yang dikeluarkan—untuk dapat mengetahui lebih dalam kepribadian masing-masing. Hingga saatnya pun tiada kata-kata yang terucap dari bibir mereka kecuali: I Love You.
Dengan semaian kalimat itu cinta semakin tumbuh, tumbuh, dan tumbuh sampai mereka terikat benar dalam suatu tali yang bernama pernikahan. Namun sebagiannya malah terjerumus dalam buaian dunia hingga batasan, aturan, dan kesucian pun ternoda. Bila perlu—entah karena tidak tahu atau disengaja—ada ruh yang terbentuk sebagai penghuni baru sang rahim layaknya inden sebuah mobil.
Malah yang lebih ekstrim, mereka memproklamirkan diri untuk tidak menikah, karena buat apa menikah kalau mereka sudah sama-sama cinta dan sudah sama-sama tahu tentang diri masing-masing, itu alasan utamanya.
Lalu tak bisa dibayangkan pula pada zaman sekarang menikah dengan gaya Siti Nurbaya yang tidak perlu ketemu dengan pasangannya, dijodohkan, ditanya mau atau tidak, lalu jadilah mereka mengucapkan perkataan yang berat hingga mengguncang ‘arsy.
Tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang semua ukurannya adalah kebendaan dan kedudukan, menikah tanpa cinta, tanpa rasa kasih sayang yang muncul tiba-tiba saat mendengar lagu-lagu melankolis, saat hujan rintik-rintik hingga menderas, saat berjalan di rel panjang lurus hingga ke ujung cakrawala, saat ombak menjilat jejak-jejak tapak kaki di tepian pantai pasir putih.
Lalu tak bisa dibayangkan lagi pada zaman sekarang yang hampir semua penghuninya memuja kemewahan, sebagian penghuninya yang lain menikah dengan bermodalkan azzam dan pencarian remah-remah rahmah Sang Kuasa.
Betulkah? Faktanya adalah sebaliknya. Saat ini semuanya tidak hanya bisa sekadar dibayangkan tapi bahkan bisa disaksikan, betapa banyak jiwa-jiwa memilih pasangannya dengan perjodohan bergaya Siti Nurbaya, tanpa pacaran, tanpa cinta, dan hanya bermodalkan kedekatannya pada Sang Pemilik Jiwa, tidak dengan bertumpuk-tumpuk hepeng dan emas permata.
Lalu setelahnya, bisakah tumbuh tunas-tunas cinta, menjadi pepohonan kasih sayang, berbuah kata-kata manis yang memerah, dengan dedaunan lebat penyejuk hati? Bisakah?
Lalu bisakah cinta itu tumbuh di saat belahan jiwanya tidak mempunyai kecantikan dan kegagahan dengan parameter barat? Tidak sekaya para emir pemilik ladang minyak? Ataupun tidak mempunyai catatan darah biru bangsawan Jawa, trah habaib, ataupun klan ternama? Bisakah?
Bisa. Karena para jiwa itu menyadari parameter mereka bukan duniawi. Parameter mereka adalah ukhrawi, yang tak bisa dinilai dengan segala isi bumi dan langit. Parameter mereka adalah keridhoanNya. Parameter mereka adalah addiin yang suci dan putih. Parameter mereka adalah kelangsungan penerus di jalan terjal, berliku, sepi, penuh onak dan duri, thoriqudda’wah.
Bisa, Karena para jiwa itu menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemilik segala cinta di alam semesta ini, yang membolak-balikkan hati, pemilik segala jiwa, pemilik segala rindu, mahakaya, mahamurni. Lalu mengapa ia tidak mengetuk-ngetuk pintu langit, meminta kepadaNya saat ia membutuhkan cinta itu tanpa menodai kesucian agama ini, kesucian diri, dan kesucian calon belahan jiwanya.
Bisa, jawab Anis Matta. Sudikah mendengar sedikit ceritanya pada kitab ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”? (Pustaka Ummi, 2000) Inilah kisah indah itu.
Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”
Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.
Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.
Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.
Dan kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa. (p26-27).
Wahai saudaraku, jika tiba-tiba kesadaran itu muncul setelah membaca dan merenung, lalu mengapa takut untuk menikah? Mengapa takut tiada hari esok yang cerah tanpa “bondo”? Mengapa takut tiada martabat tertinggi sedangkan martabat itu bisa engkau rengkuh saat menjadi orang yang paling bertaqwa, bukan sekadar martabat dunia yang remeh temeh itu? Mengapa takut tidak ada cinta di antara kalian, wahai saudaraku?
Aku katakan saja untuk terakhir kalinya: ”Menikah tanpa cinta, why not?”

Ps. Untuk kawan-kawan di timur dan utara.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
kali banjir, Citayam 05:52 12 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AVG Penghapus Brontok


11.01.2006 – AVG Penghapus Brontok

Dengan menggunakan instalasi AVG Anti-Virus Free Edition edisi Oktober 2005 ditambah update terbarunya per tanggal 10 Januari 2006, Brontok di Personal Computer saya langsung terdeteksi. Sebelumnya dengan update per tanggal 06 Januari 2006, anti virus gratisan ini masih belum bisa mendeteksi adanya Brontok tangguh ini.
AVG memang program ringan dan sudah menjadi alternatif bagi para penggunanya selain anti virus branded yang beratnya minta ampun, selain dari ukurannya serta waktu yang dijalankan saat scanning.
Yang saya salut juga dengannya adalah kita bisa langsung mengupdatenya dengan update terbaru tanpa terlebih dahulu menginstall update versi sebelumnya. Berbeda dengan Norton Anti Virus (NAV) yang pernah saya install, kita tak bisa mengupdate versi terbarunya sebelum update versi lamanya terinstall terlebih dahulu.
So, bagi Anda yang sampai saat ini komputernya belum sehat juga maka saya sarankan untuk memakai AVG Anti Virus dan tentu jangan lupa untuk meng-update-nya. Insya Allah, sepertinya Oythea konsisten untuk meng-upload-nya di fordis pada tema komputer.
Tambahan saja, secara manual saya juga telah coba menghapus brontok dengan tiga cara dari tiga guru yang berbeda hasilnya nihil. Entah pakai shampoo, brontok cleaner, ataupun enabreg. Tapi ini bisa juga untuk penjagaan atau alat finishing touch setelah kita jalankan AVGnya.
Sebagai referensi lainnya antivirus yang sudah terbukti sanggup menghilangkan brontok adalah Kaspersky, tapi itu sebatas katanya karena program itu belum saya coba. Itu saja dari saya.
ps. thanks berat sama Oythea, sudah kasih update terbaru dan sarannya.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:55 11 Januari 2006

Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi


09.01.2006 – Institut Dayakologi Hingga Brontok Lagi

Lembur, Institut Dayakologi, hingga Brontok
Sabtu, 07 Januari 2006 10.00 – 15.00 WIB
Dalam setahun pelaksanaan system administrasi modern, baru kali ini saja ada nota dinas kepala kantor kepada para pegawainya untuk datang pada hari sabtu kemarin. Lembur nih ceritanya. Karena ada perubahan sistem, jadi kita-kita pegawai diharuskan untuk datang supaya tahu apa saja perubahannya langsung dari pegawai DIP kantor pusat.
Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh pagi, jadwal lembur dimulai jam sepuluh, tapi motor masih juga belum selesai di cuci. Nih, orang dari jam delapan motor sudah dititipin belum juga dikerjain dari tadi. Setengah memaksa saya meminta supaya motornya jangan terlalu bersih dicuci (soale nanti kelamaan). Akhirnya lima menit kemudian selesai juga, walaupun masih basah karena belum dilap. Nggak apa-apa nanti juga kering sendiri.
Berkutat di jalanan Jakarta di hari sabtu, ternyata sama saja dengan hari biasa. Macet juga tuh. Mengingat kejadian rabu kemarin, saya masih trauma untuk ngebut. Tapi kadang ngebut juga sih, kalau jalanan sedikit sepi.
Sampai di kantor satu jam kemudian, saya kira saya yang paling telat, eh ternyata banyak juga yang datangnya bareng sama saya. Malah ada yang datangnya lebih lambat dari saya. Yang lebih kacaunya, ternyata DIP datang jam sebelas siang lagi. Dan coba bayangin kita cuma disuruh nyalain komputer doang, lalu boleh pulang.
Yaaaa, kalau cuma ngerjain kayak ginian, gak perlu ada nota dinas-nota dinasan, lembur-lemburan, datang-datangan, kebut-kebutan (emang elo ngebut, za?). Sudah menempuh puluhan kilometer, BBM jadi tak bisa dihemat (untung saya pakai motor), acara perlu diskedule ulang, tidak bisa berkumpul sama keluarga yang memang sudah waktunya berkumpul dengan mereka, dan satu yang lain: tidak dibayar lagi. Kita kan professional, harusnya pada waktu lembur perlu juga tuh dihargai. Tapi kemarin dihargai juga tuh walaupun dengan sekotak nasi. (Btw, emang tahu upah lembur PNS , berapa sih?)
Tapi setidaknya, sambil menunggu badan ini segar kembali, saya coba ngenet dengan IP address milik Kasi. Asyik juga, cepat banget man. Nggak kayak hari kerja, yang leletnya minta ampun. Ibaratnya kalau kita buka satu halaman saja, kita bisa ngeteh (nggak ngopi, coz saya tidak suka kopi) duluan sampai habis.
Di Google, saya cari berita tentang tragedi sampit 2001, setelah di Jumat kemarin melihat di Fordis ada kepala berserakan. Apa sih yang melatarbelakangi peristiwa itu? Pertanyaan itu membuat saya mencoba untuk berimbang dengan mencari berita selain dari BBC yang tendensius sekali, juga dari Institut Dayakologi dan dari pihak Dayak lainnya. Cukup memberikan kepada saya banyak wawasan tentang Sampit 2001. Tapi tidak usah saya ceritakan di sini, panjang dan mengerikan juga.
Apalagi membaca berita tentang 80 orang etnis pendatang yang digiring oleh salah satu kelompok etnis lainnya ke sebuah hotel yang bernama Hotel Rama Sampit, dan setelah itu tidak ada kabar tentang nasib mereka. Saya langsung mengaitkan berita itu dengan berita lainnya yang disampaikan oleh teman saya, waktu berkunjung ke Palangkaraya. Di Hotel Rama tersebut, ada satu kamar penuh yang isinya cuma kepala doang. Allohua’alam tentang kebenaran berita ini.
Selain ngenet tentang Sampit, saya juga coba mencari anti brontok yang sampai detik ini komputer saya masih terinfeksi oleh virus yang terus mengembangkan variannya.
Saya download antibrontok, saya coba seek and destroy, saya coba buka registry, saya hapus folder exe, dan tralalala…. berhasil booo. Folder option-nya berhasil terlihat. Sekarang sudah bersih komputer nih.
Saya coba memasukkan UFD (USB Flash Disk), search, waow, banyak juga folder exe-nya. Saya coba tekan Del untuk menghapusnya. Tapi apa mau dikata, yang saya tekan enter, virusnya jadi aktif lagi. Saya coba seek and destroy lagi. Sampai jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, komputer masih saja restart, buka, restart lagi. Saya menyerah juga akhirnya, apalagi orang DIP sudah menunggu di belakang saya untuk coba upgrade sistem administrasi baru. Yah sudah saya lepas, kali aja dia coba benerin problem saya.
Bay de wey, sabtu kemarin masih sabtu yang—gimana yah—tidak ngenakin kayaknya. Tapi ada juga enaknya dikit, makan nasi kotak sama nambah wawasan tentang konflik yang pernah dialami anak bangsa Indonesia ini.
Thanks Allah.
Engkaulah yang mahamengetahui.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
05.45 08 Januari 2006 (Harpot launching hari ini)

Behind the Scene: Bojo Loro


06.01.2006 – Behind the Scene: Bojo Loro
Email itu bertubi-tubi masuk ke inbox saya. Telepon genggam Qaulan Sadiida pun tiada berhenti deringnya menerima short message services. Jikalau saya punya alat komunikasi sepertinya (hare gene, masih juga nggak punya?) , mungkin saya akan mengalami hal yang sama dengan Qaulan Sadiida.
Beragam komentar pun datang untuk membuat ending yang lebih bernas bahkan mengusulkan untuk membuat sequel—yang saya pikir nantinya akan tersia-sia seperti judul sinetron Tersanjung dengan tujuh episodenya.
Pula dengan membawa misi terselubung anti poligami dan dendam gendernya dengan menjerumuskan ke lembah kesengsaraan yang paling dasar untuk si Bima. Hingga ada yang sengaja datang ke meja kerja saya hanya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di balik Bojo Loro.
Saya cuma bisa menjawab kepada mereka, ”That is a fiction, Bro…” Tidak lebih. Jawaban itu tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah memberikan komentar tentang pilihan pada happy, bad, or thrust ending , serta pada setiap bulir bening yang jatuh saat membacanya—satu email dan satu silaturahim langsung menyatakan itu.
Brother, jangan malu untuk menangis, jika menangis itu membuat jiwa kita lebih tercerahkan menyadari kekhilafan diri. Bahkan saya tak bisa membendung bulir-bulir bening ini jatuh saat membaca buku ”Bukan di Negeri Dongeng: Kisah Nyata para Pejuang Keadilan”, salah satu ceritanya ditulis oleh seorang wanita—Mbak HTR—yang sering engkau katakan: ”cewek ini berkali-kali membuatku menangis”.
Pula saat saya membaca buku ”Memoar Cinta di Medan Dakwah: Catatan Harian Seorang Aktivis” yang ditulis oleh ustadz Cahyadi Takariawan—seringkali dianggap sebagai Ketua MPR karena mirip dengan ustadz Hidayat Nurwahid apalagi beliau sering pakai baju batik.
Tentunya ini semua tak bisa dilepaskan oleh pasangan tandem saya, Qaulan Sadiida, yang dengan segenap hatinya pula berusaha untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi bagiannya. Terus terang saja, cita rasa bahasanya tak bisa terlampaui oleh saya. Maka hasil akhirnya pun membuat saya tak lelah untuk berulangkali membaca draft Bojo Loro. Pesan singkat darinya cuma satu saat telah menyelesaikan itu: ”Semuanya dari sini,” sambil tangannya menunjuk ke arah dadanya. Hati. Segala puji hanya untuk Allah.
Maka siapa yang tak akan tergetar mendengar senandung ayat-ayat Allah yang dikeluarkan dari hati-hati guru, ustadz, dan orang-orang yang ikhlas. Maka siapa yang dapat menghalangi keindahan dari cerita yang dibuat dengan tangisan usai salat malam oleh Mbak kita yang satu ini dengan cerpen: ”Ketika Mas Gagah Pergi”.
Maka siapa pula yang menyangkal keromantisan padang pasir saat Habiburrahman menulis ”Ayat-ayat Cinta”-nya dengan menangis juga. Maka siapa yang mengingkari keikutdukaan kita saat membaca tulisan Abu Aufa di kala ia ditinggalkan anak perempuannya yang berumur sehari bernama: Hikari.
Sebagaimana seorang teman menggambarkan kesedihan itu layaknya kesedihan Muhammad Sang Musthofa ditinggalkan Ibrahim tercinta. Layaknya kesedihan bangsa ini saat dipertontonkan tsunami 12 purnama yang lalu atau banjir bandang baru-baru saja.
Hingga dari mula itu, seorang guru menulis saya sampai berkata: ”itulah kedahsyatan hati, itulah kedahsyatan fiksi, hingga orang sampai tidak bisa membedakan realitas kehidupan kita itu fakta atau fiktif.”
”Brother, that is a fiction,” ulang saya. Dengan sedikit imajinasi liar tentunya—saya tak bisa membayangkan pula keliaran imajinasi yang dimiliki JK Rowling dengan Harry Porternya, JRR Tolkien dengan The Lord of The Ring-nya, atau Afifah Afra Amatullah dengan Genderuwo Terpasung-nya.
“Brother, That is a fiction…” ulang saya. Tapi tak menyangkal pula bahwa fenomena itu memang benar-benar terjadi pada sebagian dari kita hanya karena diawali dengan chating, sms, dan email iseng sehingga pada akhirnya melonggarkan ikatan dan batasan yang dulu dipegang erat saat di kampus.
“Brother, that is a fiction…” ulang saya sembari menyerahkan selembar tissue wangi kepada teman yang meneteskan air mata. Bukan karena meratapi nasib Kinanti, bukan karena Bojo Loro, tapi karena di atas mejanya ada semangkuk irisan bawang merah. (Maaf paragraf ini benar-benar fiksi karena melihat Squidward yang menangis bukan karena melihat adegan Spongebob meratap tak rela melepaskan kuda laut liarnya, tapi karena ada semangkuk bawang bombay di dekatnya;-)
”Brother, that is a fiction….” ulang saya. Arahkan telunjukmu ke hati, rasakan dan dengarkan denyutnya. Hingga kau rasakan rasa setara memiliki bojo loro.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00.15 06 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Mega Pro Terjungkal


04.01.2006 – Mega Pro Terjungkal, Tangan Kaki Lecet, Celana Bolong,

Tiba-tiba motor yang berada persis di depan saya mengerem mendadak. Jarak yang cukup dekat membuat insting saya berjalan. Tangan kanan sontak menggenggam rem depan. Dan kejadian itu begitu cepat. Saya jatuh ke depan dengan kaki terjepit di bawah putaran roda belakang. Tanpa bantuan orang lain mungkin saya tidak segera bisa bangun karena jepitan dan beban yang cukup berat dari motor itu.
Sepatu kiri yang terlepas segera saya pakai kembali sembari melangkah tertatih-tatih ke pinggir jalan. Mega Pro tidak sempat saya pikirkan, namun terlihat orang sudah menuntunnya ke tempat yang lebih aman.
Adrenalin yang bergolak di tubuh membuat saya lemas dan pucat pasi (katanya). Segera saya lihat luka apa yang diderita. Tangan lecet. Lutut jebol (lecet juga maksudnya), lebih parah daripada yang di tangan. Celana hitam yang biasanya saya pakai di hari senin sebagai pasangan favorit kemeja putih berlubang cukup besar di bagian lutut. Perlahan-lahan terasa nyeri juga di sekitar pergelangan tangan, sepertinya terkilir.
Motor 150 cc itu saya lihat pula. Lecet di lampu depan sebelah kiri . Kayaknya pas sebagai penghias karena sebelah kanannya pun sudah lecet waktu terjatuh di depan Depok Town Square karena banyak tumpahan oli dan tanah liat bekas galian yang berceceran. Selain itu pijakan kaki sebelah kiri lumayan bengkok juga. Air aki banyak juga yang tumpah.
Setelah beberapa lama beristirahat, menenangkan diri, serta meminta air putih pada mbak Warung tegal yang baru saja buka. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kalibata. Di sepanjang perjalanan, saya menganalisis mengapa saya sudah dua kali ini jatuh dari tumpangan ini.
Yang pertama mungkin karena ceceran oli itu membuat ban goyah dan tidak bisa stabil. Syukurnya waktu itu saya pakai sarung tangan sehingga tidak ada luka yang diderita. Namun sudah dua hari ini saya malas memakai sarung tangan, padahal benda itu selalu ada di kantong jaket ini. Dengan tidak memakai safety tool tadi akibatnya memang parah.
Nah, untuk accident yang kedua ini, saya menganalisis mungkin dudukan stang tidak dalam posisi lurus sehingga saat di rem depan langsung membuat kejutan, dan ini tidak diimbangi dengan penggunaan rem belakang ataupun rem belakang juga sudah aus, saya belum cek itu.
By the way, sejak itu saya tak lagi berani menggeber kecepatan di atas 60km /jam. Tapi entah di esok harinya, soalnya biasanya saat sudah lupa rasa sakit kumat lagi untuk menggeber di atas kecepatan normal.
The points are:
1. pakai sarung tangan setiap kita mengendarai motor, (kalau pakai helm sih sudah wajib dari sononya);
2. jangan ngebut;
3. jaga jarak.
Itu saja kali. Tapi terlintas juga, dosa apa yang telah saya perbuat sehingga Allah menegur saya dengan hal yang demikian. Astaghfirullah. Aku mohon ampun ya Allah.
riza.almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:50 04 Desember 2005

Brontok Memang Top Markotop


04.01.2006 – Brontok Memang Top Markotop

Jum’at 30 Desember 2005 kemarin menjadi jumat yang berdarah-darah buat Personal Computer (PC) saya. Virus lokal yang mencengangkan jagad teknologi informasi Indonesia bahkan dunia ini benar-benar mengobrak-abrik isi perut PC. Mulai dari aksi penggandaan folder sampai restart terus menerus saat mulai menjalankan antibodinya.
Norton Anti Virus (NAV) yang sudah lama tak pernah diupdate menjadi tak berdaya sehingga saya perlu meng-uninstall-nya. Namun karena tidak sesuai prosedur dalam merejectnya maka bekas-bekasnya masih saja ada dan kerap mengganggu dengan memunculkan pop-up windows installernya. Saya coba install ulang NAV tetap tak bisa juga.
Lalu saya coba untuk install McAfee versi 8. Malah jadi konflik dengan NAV sehingga PC semakin lambat tidak karuan. Tidak betah dengan situasi yang terus menerus begini terpaksa prosedur install ulang menjadi pilihan. Apalagi Brontok semakin menjadi-jadi dalam penggandaan dirinya.
Saya install ulang Windows XP SP2, cukup berhasil. Tapi gagal dalam install Office 2003, hang. Terpaksa reinstall ini saya tunda sampai senin karena jum’at sudah semakin gelap.
Senin pagi-pagi, saya datang untuk segera melakukan upaya yang gagal di hari sebelumnya. Saya memakai Office 2003 yang lain. Berhasil. Tapi apa lacur PC tidak bisa mendeteksi driver ethernet dan VGA. Saya lupa satu hal, karena PC ini adalah PC branded maka ia punya driver bawaan atau cd restore yang harus terlebih dahulu di install sebelum install Windows XP. Pyuhhhh….saya harus mengulangnya dari awal. Alamak…
Coba dengan CD Restore, sukses. Lalu dengan Windows XP SP2, sukses juga. Lalu install Office 2003, cukup singkat dan sukses juga. Baru setelahnya saya lihat PC saya bersih dari kotoran seperti bayi yang baru dilahirkan. Kecepatan maksimal benar-benar saya dapatkan.
Kemudian setelah install tool-tool yang dalam kesehariannya memang saya butuhkan, saya melanjutkan dengan install McAfee 8. Sukses. Setelahnya saya pindahkan file-file yang saya titipkan di sharedoc teman. Saya men-scannya, waow…brontok ada dimana-mana. Dengan removal dan sedikit trik dari teman OC, brontok benar-benar rontok.
Esok harinya, setelah memasukkan flashdisk yang saya anggap sudah bersih ke dalam colokannya. Saya lagi-lagi kaget. Brontok tidak terdeteksi oleh McAfee, tapi benar-benar ada dengan ciri folder option di explorer hilang, dan saat di search ada banyak folder exe dengan size sebesar 45kb. Kemungkinan besar yang menyebabkan McAfee tidak dapat mendeteksinya adalah variannya yang sudah berbeda dengan setting update McAfee yang hanya dapat melacak folder dengan ukuran 42 kb saja.
Terpaksa saya meminta bantuan teman OC lagi untuk mengusirnya. Segala upaya dikerahkan dan bersih juga. Tapi beberapa saat kemudian menyerang kembali entah darimana. Brontok benar-benar menguasai lagi dan amat bandel.
Akhirnya saya coba sendiri dengan upaya pertama yang saya lakukan adalah mencari removal yang benar-benar manjur. Rikpafile jadi tempat favorit untuk mencari. Berhasil saya dapatkan shampoonya. Saya coba dengan membuat notepad anti restart terlebih dahulu agar brontok tidak mengutak-atik removal saat mulai bekerja.
Melalui save mode command prompt, saya coba mengikuti petunjuk itu perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Dijalankan removal, dan benar-benar top markotop si bandel ini. Brontok GAGAL TOTAL untuk diusir. Restart jadi makanan utama saat menjalankan semua program antibodinya.
Sinar matahari sudah hampir tiada sore kemarin, dan saya putus asa mencoba mengusir virus aneh ini. Keinginan menghabisinya ditunda untuk hari itu. Tapi saya bertekad untuk mencoba membasminya keesokan harinya. Saya pikir masih ada hari esok untuk berjuang. Entahlah, ada yang mencoba untuk membantu?
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Memoar cinta di medan dakwah

from the deepest bottom of my soul


30.12. 2005 – from the deepest bottom of my soul
Kalimat ini ada dalam bagian email yang dikirim oleh seorang teman, saat ia me-reply surat elektronik yang dikirim oleh saya. Otak bagian kanan saya langsung meresponnya dengan sinyal-sinyal, menyuruh memori sejuta gigabytenya untuk bekerja mengingat kalimat pendek ini. Dan urat kebahasaan saya langsung ngeh dan nyambung.
Ya, saat saya mendengar atau membaca kata-kata atau kalimat-kalimat indah saya selalu berusaha untuk merekamnya dalam ingatan bahkan mencatatnya dalam lembaran kertas untuk saya koleksi.
Tidak hanya dari teman saya yang satu ini, tapi pada semua orang yang mempunyai cita rasa bahasa yang baik dan enak untuk didengar ataupun dibaca. Seperti dari Kang Asep misalnya—sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu—dengan both sides perspective-nya, dari Azimah dengan Purnama di Sudut Jiwa-nya, dari Qoulan Sadiidan dengan Rindu Terlarang-nya, atau dari Ibnul Qoyyim al Jauza’I dengan Setetes Embun-nya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Terkadang saya merasakan keindahan kata itu saat ia dalam bahasa asing dan belum termaknai ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin saat ia diterjemahkan cita rasa itu sedikit berkurang, seperti judul tulisan ini.
Keindahan itu pun akan dirasakan dalam bahasa daerah dengan dua kata ini Bojo Loro, eit… jangan terlalu sensitif dulu yah. Dua kata tadi bisa berarti ganda istri dua atau istri sakit. Tinggal kita mau pilih yang mana. J
Ya sudahlah, sepertinya banyak yang ingin saya uraikan tentang kata-kata indah di sini, namun adzan Isya sudah memanggi-manggil saya. Jadi saya cukupkan dulu sampai di sini. Oh ya, terimakasih pada teman yang telah sudi untuk menyumbangkan kata-kata indahnya pada saya.
From the deepest bottom of my soul: thank you.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam, 19:29 29 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Twin Otter (Sensasi Borneo)


28.12.2005 – Twin Otter (Sensasi Borneo)

Setelah merasakan sensasi yang ternyata biasa-biasa saja saat pertama kali naik pesawat dari Jakarta menuju Palangkaraya, juga dengan Cassa dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu, saya benar-benar merinding–kalau tidak mau dikatakan takut–saat menaiki pesawat kecil bermesin ganda dari Puruk Cahu menuju Balikpapan.
Pesawat carteran jenis Twin Otter yang disewa oleh perusahaan pertambangan emas untuk pengangkutan karyawannya ini hanya dapat memuat 15 penumpang saja. Dengan bobot keseluruhan–termasuk barang-barang yang dibawa–maksimal 1500 kg. Lebih dari itu, maaf saja salah seorang penumpang harus dikorbankan untuk terbang di hari lain.
Makanya untuk memastikan penerbangan ini aman, setiap penumpang harus melalui alat ukur berupa timbangan, sehingga bisa diketahui berapa berat dirinya dan barang bawaannya. Biasanya bule asing yang bawaannya berat-berat, selain juga postur tubuhnya yang di luar ukuran normal penduduk lokal. Seringkali diatur dalam satu pesawat khusus untuk bule saja, ini bukan masalah rasial tapi karena ukuran orang dan barangnya yang berlebih itu.
Suara mesin pesawatnya berisik sekali sehingga setiap penumpang diberikan sepasang gabus kecil untuk menutup telinga saat pertama kali memasuki kabin pesawat. Suaranya akan bertambah keras ketika akan memulai lepas landas. Nah, disinilah kengerian itu berawal.
Saya persis duduk di dekat jendela, sehingga benar-benar merasakan kengerian saat melihat mesin terbang ini semakin melayang tinggi, tinggi, dan tinggi menjauhi permukaan tanah. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya bila pesawat kecil ini jatuh karena gagal saat lepas landas. Sepengetahuan saya saat-saat yang paling kritis dalam penerbangan adalah saat pesawat akan lepas landas dan mendarat.
Namun kengerian itu berangsur-angsur hilang ketika pesawat mulai stabil dan terbang di ketinggian tertentu. Saya menengok ke belakang untuk melihat penumpang yang lain. Persis di belakang saya, John Morgan–seorang manager pertambangan–sedang asyik merem melek mendengarkan musik yang diperdengarkan dari peranti digital melalui earphone-nya.
Penumpang lainnya sudah menikmati mimpinya dengan kepala yang terayun-ayun naik turun. Maklum kursi penumpangnya benar-benar hanya sebatas setengah punggung saja, sehingga tidak memungkinkan untuk menyandarkan kepala, kecuali bagi yang duduk di dekat jendela bisa menaruh kepalanya di dinding pesawat. dan Jarak antara kursi benar-benar sempit, sehingga kebanyakan para penumpang susah untuk meluruskan kaki saat terasa kesemutan. Untung perjalanan ini tidak lama hanya berkisar satu jam lima menit saja.
Hiburan satu-satunya di dalam kabin adalah penumpang dapat melihat apa yang dilakukan oleh pilot dan co-pilotnya ketika mengawaki pesawat ini. Aksi yang amat menarik untuk dilihat saat mereka mengoperasikan panel-panel, alat pengukur ketinggian, layar yang memunculkan peta daerah di bawah, dan begitu banyak tombol-tombol lainnya. Setidaknya ini dapat mengusir kebosanan yang mulai hinggap.
Namun ada yang lebih menarik lagi. Di ketinggian 1000 kaki dari permukaan laut, saya benar-benar mendapatkan sensasi Borneo. Mulai dari hutannya, sungainya yang lebar dan berkelak-kelok bagaikan anakonda, dan jalan daratnya yang panjang dan kecoklatan. Sudah pasti selain sensasi keindahan yang dirasakan, saya rasakan pula miris di hati melihat hutan kalimantan benar-benar hampir habis. Apa yang digembar-gemborkan LSM tentang kerusakan hutan benar-benar nyata, bahwa segala bentuk penebangan entah resmi atau ilegal telah membuat paru-paru dunia ini compang camping. Ditambah lagi segala bentuk penambangan liar yang membuat cekungan besar coklat dan tandus tanpa reboisasi. Duh…
Saat mendekati Balikpapan malah tambah parah, cekungan-cekungan besar itu bercampur baur dengan rumah penduduk lokal ditambah gunungan-gunungan hitam didekatnya. Dan ini semua menambah pekatnya aliran sungai dan laut di sekitarnya. Emas hitam bagi mereka memang betul-betul berharga apalagi di saat harganya begitu tinggi. di pasaran internasional.
Tiba-tiba mata ini sudah mulai lelah melihat ke bawah. Kantuk pun semakin memberatkan kepala. Namun di saat saya memulai bermimpi, terasa sekali pergerakan pesawat ini bermanuver untuk mendarat. Seiring dengan perubahan tekanan udara di kabin yang membuat telinga sebelah kiri saya sakit sekali. Ohoi…Sepinggan sudah mulai menyambut kami dengan landasannya basah oleh air hujan yang baru saja mulai turun.
Twin Otter ini mulai menjejakkan dua rodanya ke tanah dan membuang kemudinya menuju hanggar yang berisi deretan pesawat carteran. Sudah saatnya saya meninggalkannya dan menuju mobil bandara yang menjemput dan mengantar kami ke bangunan utama bandara. Saya bersyukur kepada Allah karena masih bisa menjejakkan kaki ini ke tanah, dan setidaknya ada pula kenangan yang terselip bersama Twin Otter ini, bahwa Borneo memang perlu diselamatkan. Itu saja.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Sepinggan basah
14:34 23 Desember 2005
riza.almanfaluthi@pajak.go.id

http://10.9.4.215/blog/dedaunan