Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.


Tak lama kemudian saya mengambil tayamum dan salat Subuh. Perjalanan masih butuh waktu dua setengah jam lagi untuk tiba di Bandar Udara Internasional Dortheys Hiyo Eluay atau biasa disebut Bandara Sentani. Bandara ini pertama kali dibangun oleh pendudukan Jepang untuk keperluan militer mereka pada Oktober 1943.

Ini kali kedua saya akan menginjakkan kaki di bandara tersebut. Tepatnya pada November 2019, sebelum wabah Covid-19 melanda dunia, saya datang untuk pertama kalinya. Waktu itu saya diminta untuk berbagi pengalaman menulis kepada teman-teman di Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku. Waktu bergulir dengan cepat, dulu datang ke tanah Papua dengan surat tugas, sekarang dengan surat keputusan. Tidak ada yang tahu masa depan dan tidak menyangka saya akan kembali ke sini.

Setelah beberapa kali memejamkan mata dengan gigil dingin yang sulit terusir, langit di luar jendela mulai berubah kelabu. Fajar seperti membuka jalan bagi kedatangan ini. Pilot juga sudah memberitahukan para penumpang kalau pesawat akan segera mendarat.

Karena saya berencana hanya sepekan di Jayapura, saya hanya membawa koper kecil. Tidak ada koper yang ditaruh di bagasi pesawat. Oleh karena itu, saya bisa keluar dengan cepat. Teman-teman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jayapura sudah berada di luar pintu kedatangan. Saya juga menjumpai teman-teman Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku. Mereka juga mengantar teman sejawat yang kemarin dipindahtugaskan dari Jayapura.

“Bisa enggak kita sampai di kantor sebelum pukul 09.00?” tanya saya kepada Mas Aan, Account Representative KPP Pratama Jayapura, yang memegang kemudi mobil. Jarak antara Bandara Sentani dan KPP Pratama Jayapura sejauh 24 km yang bisa ditempuh dengan 40—45 menit berkendara. Saya membayangkan sewaktu saya ditempatkan di Tapaktuan, Aceh Selatan dulu. Setiba di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, saya masih harus menempuh perjalanan darat selama 12 jam dengan mobil travel menuju Tapaktuan. Sekarang, jarak 24 km sekadar sepeminuman kopi sambil sekrol-sekrol media sosial.

“Bisa,” ujar Mas Aan.

“Kalau tidak bisa berarti saya akan tambah cuti setengah hari,” kata saya kepada Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal KPP Pratama Jayapura. Di dalam mobil ini ada juga Kepala Seksi Pengawasan VI Mas Didik Santoso.

Syukurnya, dengan keahlian mengemudi Mas Aan, mobil tiba di kantor pada pukul 08.58. Saya langsung melakukan presensi dan menjumpai Bu Hanna Hesky Pontoh, Kepala KPP Pratama Jayapura yang saya gantikan. Hari ini ia akan meninggalkan kantor ini untuk terakhir kalinya setelah bertugas selama dua tahun satu bulan. Tempat tugasnya yang baru adalah KPP Pratama Manado.

“Selamat datang di Jayapura, Pak Riza,” sambut Ibu Hanna di lobi kantor. Para pegawai KPP Pratama Jayapura mengikuti di belakangnya. Ia mengalungkan noken ke leher saya. Noken ini merupakan tas unik tradisional Papua yang terbuat dari serat kulit kayu. Bu Hanna juga memasangkan kusomer di kepala saya. Kusomer atau mahkota bulu kasuari ini merupakan hiasan kepala khas Papua dari suku Asmat. Tidak ketinggalan, Bu Hanna menyerahkan tifa—kendang kecil khas Papua—kepada saya. Komplet. Saya tersenyum. Rasanya saya tidak mungkin lagi berpura-pura hanya singgah sebentar di sini.

Bu Hanna memperkenalkan saya kepada teman-teman KPP Pratama Jayapura sambil mengantar saya room tour, dari lantai satu sampai lantai empat—lantai aula yang saat itu ramai dipenuhi wajib pajak yang ingin melaporkan SPT Tahunan. Saya berjalan mengikuti Bu Hanna sambil mencoba mengingat setiap ruangan yang kami lewati dan setiap wajah baru yang saya temui.

Berfoto bersama dengan Bu Hanna.

Setelah itu ia bersiap-siap ke Bandara Sentani. Banyak pegawai yang melepasnya di lantai bawah. Sebelum naik mobil yang akan mengantarkannya ke bandara, Bu Hanna membisikkan sesuatu tentang kantor ini, sesuatu yang tidak bisa saya tuliskan di sini. Cukup saya dengannya yang tahu. Sesuatu yang menguatkan.

Saya mengangguk dan kami tidak membicarakannya lagi setelah itu.

***

Riza Almanfaluthi
27 Maret 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/


Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

One thought on “Tifa di Hari Pertama

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.