Ramadan sebagai Zona 5G Spiritual: Mengapa Koneksi kepada Allah Terasa Lebih Kuat?



Pada saat pertemuan pertama pengurus masjid yang baru, salah seorang pejabat pajak memberikan sambutan. Di dalamnya ada kalimat yang membuat saya bertafakur. Kurang lebihnya ia mengatakan demikian: “Ramadan ini menjadi masa di mana konektivitas hamba kepada Tuhannya sedang tinggi-tingginya.”

Ini benar adanya. Di bulan itu intensitas ibadah meningkat: ada puasa di siang hari, tarawih, tadarus, sedekah, salat malam, atau iktikaf. Aktivitas spiritual yang biasanya tersebar menjadi padat dan terjadwal.

Ditambah lagi ada lingkungan yang secara kolektif ikut menguatkan. Semua orang sedang dalam mode yang sama. Kita bisa melihat dan merasakannya pada masjid yang ramai, azan yang terasa lebih dalam, dan media sosial penuh ayat dan doa.

Secara psikologis, atmosfer ini menciptakan conscience collective, sebuah istilah yang dipopulerkan sosiolog Prancis bernama Emile Durkheim dalam bukunya berjudul The Division of Labor in Society (1983). Durkheim menyebut istilah itu sebagai totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang hidup dalam rata-rata anggota suatu masyarakat.

Contoh atmosfer yang bisa kita bayangkan adalah saat PSSI mencetak gol dan seluruh isi Stadion Gelora Bung Karno berteriak bersamaan atau saat terjadi Tsunami Aceh pada 2004 dan seluruh bangsa berduka. Inilah yang disebut conscience collective. Ditarik ke bulan Ramadan, sikap ini salah satunya mewujud pada rasa tidak enak makan terang-terangan di siang Ramadan.

Kembali kepada pembahasan kita. Selain dua hal di atas, ada lagi yang menyebabkan konektivitas itu sedang tinggi-tingginya, yaitu puasa melemahkan segala distraksi. Ketika kita lapar dan haus, ada ego yang ditundukkan. Ketika tubuh melemah, justru jiwa yang muncul ke permukaan. Kita lebih peka, mudah merasa kecil, rapuh, dan bergantung.

Ditambah lagi, ada karunia yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa di Ramadan seperti pengampunan dosa-dosa masa lalu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, doa yang tak tertolak, dan banyak lagi lainnya.

Jadi, konektivitas tinggi yang terjadi di Ramadan itu karena kita lebih sadar daripada di kebanyakan hari lainnya. Lalu, dengan adanya konektivitas tinggi itu, apa signifikansinya? Apa dampaknya bagi kita?

Sinyal 5G

Kalau kita analogikan dengan sinyal telekomunikasi yang ada di ponsel kita masing-masing, adanya konektivitas yang tinggi itu seperti sinyal yang tadinya hanya ada satu batang, tiba-tiba penuh menjadi 5G. Responsnya cepat, gangguan minimal, dan jeda waktunya menjadi lebih rendah.

Ramadan itu seperti daerah yang ada menara BTS-nya. Di luar Ramadan, kita berdoa seperti mengirimkan pesan ke daerah blank spot. Di Ramadan, doa yang kita panjatkan serupa sinyal video call dengan koneksi yang stabil.

Jadi, konektivitas tinggi akan membuat doa kita terasa lebih hidup, tangis lebih mudah jatuh, rasa bersalah lebih tajam, harapan lebih besar, dan dosa lebih terasa mengganggu. Dalam kondisi ini, hati kita menjadi lebih mudah menerima dan lebih mudah tersentuh. Di saat itulah, hati menjadi ladang perubahan.

Kalau kita sudah menyadari bahwa Ramadan menghadirkan konektivitas yang lebih kuat, tentunya kita lebih beranjak. Tidak berhenti pada perasaan hangatnya, tidak sekadar “scroll” doa. Inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan isi hati yang selama ini ditahan. Ini sebagai doa tambahan selain doa utama Allahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Berdoalah yang banyak dengan sepenuh pinta. Seperti seorang budak kepada raja diraja. Mengutarakan segala keresahan dan ribuan harap. Mumpung kita berada di sebuah bulan yang sinyalnya sedang kuat-kuatnya, sedang tinggi-tingginya.

Namun, sinyal yang kuat tidak otomatis membuat kita berbicara. Sinyal itu hanya memberi kita sebuah kesempatan. Maka persoalannya bukan apakah koneksi itu ada, melainkan apakah kita benar-benar memakainya. Apakah kita berani jujur dalam berdoa? Apakah kita sungguh-sungguh meminta? Sebab bisa jadi, yang membuat doa kita terasa jauh selama ini bukan karena Allah menjauh, melainkan karena kita jarang benar-benar datang. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya membawa hati. Kita melafalkan permohonan, tetapi enggan membuka kedalaman.

Doa yang hanya sebatas bibir, doa yang tak mengubah apa-apa.

*
Riza Almanfaluthi
26 Februari 2026
Sumber gambar: images.bloombergtechnoz.com
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
👉 https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.