
Hujan terus-menerus selama sepekan di Lhokseumawe menjadi tanda kedatangan Siklon Senyar. Fenomena cuaca yang jarang terjadi di daerah khatulistiwa.
Pada Selasa malam, 25 November 2025, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Lhokseumawe Firman Tatariyanto sudah mewanti-wanti seluruh pegawai KPP untuk bersiap siaga. Puncaknya pada keesokan hari. Banjir besar melanda kota terbesar kedua di Aceh. Jalan nasional Lhokseumawe—Bireuen lumpuh. Lhokseumawe pelan-pelan terendam, listrik padam, dan jaringan telekomunikasi lumpuh.
Di tengah hujan dan angin kencang, Firman bersama empat pegawai mengungsi ke kantor pada pagi itu. Rumah dinas dan mes mulai dimasuki air. Mereka diungsikan dengan menggunakan Triton Double Cabin. Mobil dinas yang berumur 10 tahun ini kelak menjadi alat transportasi vital dalam pemenuhan kebutuhan logistik dan proses evakuasi masyarakat selama bencana. “Untuk menuju kantor kami harus memutar karena di beberapa titik sudah tidak bisa dilewati,” kata Firman.
Firman pun memerintahkan seluruh kepala seksi untuk mendata anggota timnya dan mengevakuasi pegawai KPP terdampak banjir. Lantai 1 dan lantai 2 KPP Pratama Lhokseumawe yang berada di Jalan Merdeka No.146, Kuta Blang, Banda Sakti disulap menjadi dapur umum dan tempat pengungsian para pegawai KPP dan keluarganya. “Lantai tiga tidak bisa digunakan karena bocor di mana-mana,” terang Firman.
Walaupun Lhokseumawe sudah mulai lumpuh, layanan KPP Pratama Lhokseumawe masih tetap buka secara terbatas dengan satu konter dan satu penyuluh pajak. Di saat seperti itu, masih ada satu wajib pajak yang datang ke KPP pada pukul 09.00. Ia memasuki kantor dengan celana digulung selutut dan masih menggunakan jas hujan. “Saya mau tanya-tanya tentang pemungut pajak dan saya bisanya hari ini datang ke sini,” ujar wajib pajak itu.
Banjir tak surut dalam sekejap. Berhari-hari Lhokseumawe dipenuhi air. Pada Kamis sore, terdengar kabar ada satu pegawai Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan Lhoksukon bernama Dely Agusriandi masih berada di lantai dua tempat kosnya.
Firman memutuskan untuk mengevakuasi Dely. Tim KPP Lhokseumawe bergerak ke Lhoksukon yang jaraknya 50 km pada Jumat siang. Dalam kondisi biasa, jarak itu dapat ditempuh dalam waktu 45 menit, tetapi Tim KPP Lhokseumawe membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke sana. Titik banjir di mana-mana setinggi pinggang orang dewasa. Di tengah perjalanan, tim pun sempat membantu masyarakat. Bagian belakang Triton Double Cabin dipenuhi belasan orang yang ingin pindah ke tempat kering.
Sesampainya di tujuan, lantai satu tempat kos Dely masih tergenang banjir setinggi dada. Dely segera diangkut menuju KPP pada Jumat malam itu. Untuk memulihkan tenaga, Dely makan dulu. “Terakhir kali dia makan nasi pada Selasa malam. Selama ini Derry hanya memakan krupuk dan gorengan yang diberikan tetangga sebelah,” ujar Firman.

Banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengundang simpati banyak pihak. Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak langsung merespons dengan berbagai tindakan. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak Sigit Danang Joyo menelepon Firman. Ia meminta Firman untuk memindahkan pegawai beserta keluarganya yang rentan ke penginapan yang lebih memadai. Selain orang tua, anak-anak, ada ibu hamil yang turut menjadi pengungsi di KPP Pratama Lhokseumawe.
Firman sangat mengapresiasi dukungan penuh dari pimpinan Kantor Wilayah DJP Aceh dan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak dalam penanganan bencana ini. Dukungan tersebut benar-benar menyemangati para pegawai dan membuat mereka merasa tidak ditinggalkan. “DJP sebagai satu rumah besar pegawai menjadi riil dirasakan teman-teman di sini,” tutup Firman.

***
Riza Almanfaluthi
Ditulis untuk Majalah Elektronik DJP INTAX Edisi 6-2025.
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi