
Ketika kembang api meledak di langit malam, mata saya masih belum terpejam. Masih menulis, masih membaca buku di dalam kamar. Selamat datang 2026.
Saya meninggalkan 2025 dengan penuh rasa syukur karena begitu banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada saya. Ada rezeki yang mengalir, pekerjaan yang lancar, target yang tercapai, tubuh yang sehat, dan penghargaan yang diterima. Sedih dan duka mesti saja ada, tetapi kadarnya tak bisa mengalahkan sukacita itu. Tentunya tak perlu diceritakan di sini. Biar yang senang dan bahagia saja.
Ketika mata benar-benar mengantuk, saya menyempatkan diri untuk mengambil air wudu dan salat witir satu rakaat. Tahun ini saya akan ke mana? Akan mendapatkan apa? Tidak ada yang tahu. Saya hanya berharap semoga Allah memberikan banyak kebaikan. Masih ada buku yang bisa saya tulis, investasi yang bertumbuh, sedekah tanpa pikir panjang, silaturahmi ke mana-mana, dan kesehatan yang prima.
Tentang buku. Saya masih belum ada ide. Namun, karena sudah berganti tahun, saya harus benar-benar serius untuk memikirkan dan merealisasikannya. Kalau di tahun 2025 selalu ada pemikiran, ‘Ah, nanti saja tahun depan’, ternyata tahun 2026 tiba secepat cahaya.
Berapa banyak buku yang dibaca? Ini juga yang pelan-pelan saya realisasikan. Membaca sepuluh halaman setiap harinya di tengah banyak godaan. Kita seringkali terdistrak dengan keriuhan media sosial dan tontonan video. Sepertinya baru sebentar memegang ponsel, eh tahunya sudah memakan waktu belasan dan puluhan menit.
Laporan Statista.com yang dipublikasikan pada 4 Februari 2025 mengonfirmasi hal ini. Rata-rata masyarakat Indonesia berselancar di internet sekitar 7 jam 22 menit. Ini didorong penggunaan ponsel untuk aktivitas bermedia sosial, melihat video streaming, berkomunikasi, dan berbelanja daring.
Supaya mudah membaca, ke mana-mana saya selalu membawa buku di dalam tas, walaupun seringnya malah tidak tersentuh. Namun, tidaklah mengapa, yang penting saya sudah menunjukkan niat untuk berdekat-dekatan dengan buku. Jadi, buat kalian yang pada saat ini berjuang untuk terus membaca buku, saya acungi jempol: “Kalian hebat.”
Bukankah kita juga sering membaca pada saat menggunakan ponsel dan berselancar di internet itu? Saya jawab iya, tetapi baru sebatas aktivitas permukaan, dangkal. Kita belum menuju ke kedalaman. Membaca buku memastikan berada di kedalaman itu. Memahami secara utuh konteksnya.
Namun, bukankah di ponsel juga kita bisa membaca buku? Saya percaya. Itu bisa. Namun lagi-lagi, daya tahan kita membaca itu seringkali teralihkan kepada hal lain yang mengganggu. Ini karena kita bisa beralih ke mode lain hanya dengan mengusap jari di layar ponsel. Kalau sudah berpindah layar, saya yakin kita tak mudah untuk kembali membaca. Kita bisa saja bertahan tanpa ponsel, cuma beberapa jam saja. Kita tidak benar-benar berpisah, tetapi sekadar berpura-pura tidak lagi saling menunggu.
Nah, saya baru ingat. Ada satu kebiasaan baru yang saya kembangkan selama di tahun 2025 lalu. Sekarang saya sedang menikmati jalan kaki. Sepekan bisa sampai tiga kali. Kalau waktunya pas, saya tetap berlari di Ahad pagi. Kenapa tidak berlari? Jawabannya akan selalu tampak sekadar mencari alasan, alih-alih disiplin dengan komitmen berlari yang sudah terbangun sejak 2014 lalu. Ternyata menyerah atau berhenti pun adalah salah satu cara kita untuk bertahan hidup. Perspektif ini ada pembenarannya dari buku yang saya baca di tahun lalu.
Ketika kita hidup di zaman glorifikasi kemenangan, tidak menyerah, pantang mundur, kegigihan, buku-buku selfhelp, keriuhan kalimat “kau pasti bisa!” membuat berhenti itu kelemahan dan milik pecundang. Padahal berbeda dengan manusia, makhluk-makhluk lain tidak terbebani dengan konsep-konsep di atas. Ketika suatu perilaku dianggap tidak bermanfaat—atau ketika terbukti mengancam eksistensi—mereka pun berhenti. Ya, berhenti. Benar-benar berhenti. Tidak ada drama. Saya mengutipnya dari buku Julia Keller, Ph.D. yang menulis buku Tak Apa-Apa Jika Harus Berhenti.
Julia ini bukan cuma omon-omon. Julia adalah penyintas situasi yang membuatnya cemas dan depresi. Saat ia kelelahan dan membenci perkuliahannya, suasana kampus di West Virginia University, apartemen, bahkan dirinya sendiri.
Di suatu titik ia tak bisa menerima itu lalu di suatu malam ia menelepon ayahnya dan mengatakan sambil terisak: “Saya tak sanggup lagi.” Ayahnya yang menjadi dosen matematika killer berkata dengan lembut: “Cuma berjarak tiga jam. Aku akan sampai ke sana dalam waktu tiga jam.”
Singkat cerita, setelah pulang ke kampung halamannya, Julia membaik, menulis, bekerja sebagai jurnalis investigasi di sebuah media, dan memenangkan penghargaan Pulitzer.
Maka, saya menutup malam itu dengan sebuah keyakinan sederhana, selama masih bisa membaca, menulis, dan memilih berhenti di saat perlu, hidup belum kehilangan arahnya. Sebab ada hal-hal yang tak perlu disebut, tetapi terus hidup dalam doa dan ingatan.
***
Riza Almanfaluthi
10 Januari 2026
Sumber gambar: images.stockcake.com
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi