Dua hari sebelumnya saya sudah bangun pada pukul tiga pagi untuk berkumpul di Gedung Juanda I, Kementerian Keuangan. Kami akan menghadiri Pidato Kenegaraan Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung MPR DPR RI pada Jumat, 15 Agustus 2025.
Kali ini, pada 17 Agustus 2025, saya juga harus bangun lebih dini karena saya diundang untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Kementerian Keuangan. Upacara itu akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati.
Saya diundang mengikuti dua kegiatan di atas dalam kapasitas sebagai peraih penghargaan Menteri Keuangan. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 247 Tahun 2025 tentang Penetapan Penerima Penghargaan bagi Pejabat, Pegawai, Tim Kerja, dan Unit Kerja di Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2024, tertanggal 8 Agustus 2025, saya mendapatkan penghargaan Nagara Dana Ksatria Inspirasi Tahun 2025. Penghargaan itu akan diserahkan langsung oleh Ibu Sri Mulyani Indrawati dalam upacara Hut ke-80 RI.
Mas Haqi mengantarkan saya ke Lapangan Banteng. Kami berangkat sebelum Subuh dari Citayam dan salat berjamaah di Masjid Jami’ Al-Munawwar Pancoran.
Tak lama kemudian, kami sampai di depan Witte Huis, Gedong Putih, gedung bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Saya sudah meminta Mas Haqi tidak perlu menunggu. Saya akan naik KRL saja setelah upacara selesai.
Upacara diselenggarakan di lapangan depan Gedung Daendels itu yang sekarang dinamakan Gedung A.A. Maramis. Alexander Andries Maramis adalah Menteri Keuangan di era kemerdekaan dan tanda tangannya tercantum dalam Oeang Republik Indonesia.
Sebelumnya saya pernah mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI di tempat yang sama. Sebagai peserta upacara biasa dengan memakai seragam Kementerian Keuangan. Hari ini saya memakai kostum yang berbeda daripada biasanya. Panitia meminta saya untuk memakai pakaian Wastra Nusantara. Wastra Nusantara ini baju adat dalam versi ringan. Kalau baju adat itu adalah pakaian lengkap tradisional sebuah daerah, sedangkan wastra merujuk pada kain tradisional nusantara. Wastra sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta, vastra, yang berarti kain, pakaian, lembaran tekstil.
Hari ini, saya memilih kostum yang simpel saja: baju lengan panjang hitam, celana panjang hitam, kain sarung dan penutup kepala kuning khas melayu. Sudah itu saja. Sebelumnya saya sempat bingung mau memakai wastra seperti apa, tetapi istri mengingatkan kalau saya pernah memakai wastra dalam sebuah rapat koordinasi Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus. Ia langsung mencarinya dan ketemu.
Sebagai penerima penghargaan, kami diminta panitia berbaris di bagian depan, tepatnya di belakang podium upacara. Barisan kami diapit barisan para eselon 1 dan eselon 2 Kementerian Keuangan. Di bawah bayang-bayang Witte Huis ini. Wuih, baru kali ini saya merasakan upacara tidak kepanasan.
Saya pikir, upacara HUT RI ini akan memakan waktu lama dan ada pidato dari Bu Menteri. Ternyata tidak. Praktis sekali. Mulai dari pengibaran bendera merah putih, mengheningkan cipta, pembacaan teks proklamasi, penyerahan piagam penghargaan, hingga doa bersama.
Pada saat penyerahan piagam penghargaan itu, Ibu Menteri menyalami satu per satu penerima penghargaan sambil memberikan pesan. Waktu itu pesan Ibu Menteri kurang lebihnya begini: “Selamat yah atas penghargaan ini. Terima kasih telah memberikan kinerja terbaiknya untuk Kementerian Keuangan.” Kalimat sederhana yang terasa hangat dan berkesan.
Ingatan saya terbang pada Desember 2022 pada saat peluncuran buku Kisah di Balik Presidensi G20 Indonesia: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Para penulis buku itu dipanggil untuk naik ke atas panggung bersama Ibu Menteri Keuangan dan kami mendapatkan apresiasi darinya. Rasanya mirip: hangat dan penuh penghargaan.
Singkat cerita, setelah upacara, berfoto bersama Ibu Menteri, Pak Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan Pak Suryo Utomo, dan Staf Ahli Kementerian Keuangan Bidang Pengawasan Pajak Pak Nufransa Wirasakti, dan sarapan bersama di gedung kuno itu, saya pulang ke Citayam.
Saya diantar oleh Pak Tommy Yulianto ke Stasiun Cikini. Pak Tommy ini menerima penghargaan karena kantornya, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palu, menjadi Unit Pelayanan Publik Terbaik berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi penyediaan sarana dan prasarana ramah kelompok rentan Tahun 2023 oleh Kemenpan-RB.

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib saya dan menghendaki saya untuk mendapatkan penghargaan ini. Terima kasih kepada institusi saya, Direktorat Jenderal Pajak, yang telah mengusulkan saya dalam proses seleksi di sepanjang tahun 2024. Saya dianggap berhasil meraih penghargaan di bidang kehumasan secara pribadi maupun organisasi seperti Fellowship Program Public Relation (PR) Indonesia 2023, Bronze Winner The 1st Indonesia Government PR Awards 2023, dan Bronze Winner Insan PR Indonesia 2022, serta aktif berbagi ilmu dan pengalaman menulis, menulis berbagai buku secara individu dan antologi sejak tahun 2007.
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Saya bertambah sadar, fokuslah pada apa yang kita bisa, jangan melihat pencapaian orang, dan teruslah memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya buat yang lain. Usai berbuat kebaikan, lupakan. Berbuat salah, ingatlah terus, dan jadikan evaluasi. “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,” demikianlah penggalan ayat 105 dalam Surat At-Taubah.
Saya baru menulis peristiwa ini setelah lewat 3,5 bulan. Sekadar merekam momen bersejarah saya untuk generasi mendatang. Semoga Allah selalu memberikan jalan, petunjuk, dan taufik-Nya kepada kita semua.
***
Riza Almanfaluthi
30 November 2025
Sebagian besar foto milik Kementerian Keuangan
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
👉 https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi





