Never Too Old Too Learn


Malam Ahad, 25 Juni 2005

Citizen-ku masih menunjukkan kurang dari jam dua belas malam. Hasratku untuk terlelap di kasur empuk masih menggantang di atap. Belum dapat menelanku menuju mimpi-mimpi indah atau bahkan sebaliknya?
Hari ini cukup melelahkan. Masih sempat kuikuti seminar tentang debt, foreign exchange, and international financial stability oleh Peter Dirou—Lead Advisor to DG Treasury, Ministry of Finance—dengan terkantuk-kantuk. Menarik namun segera terhapus dengan kecemasan bahwa aku perlu belajar untuk ujian metodologi penelitian, senin besok.
Malam ini, setelah beberapa lembaran catatan kuliah kubuka, aku coba untuk surfing di internet. Secara tak sengaja (atau sengaja?) aku kembali temukan catatannya. Catatan seorang Azimah Rahayu tentang we are never too old to learn, tentang we are never too late to start. Sempat terpana dengan apa yang ia tulis. Lancar, mengalir, dan tentu enak dibaca.
Semuanya diawali tentang keterpanaannya pada sosok-sosok yang ia kenal sejak di Jurangmangu. Yang kini—menurutnya—telah membuatnya iri. Mereka pada usia matang-matangnya menuju kedewasaan, telah menjadi visioner dan mempunyai orientasi hidup terang sekali seterang matahari. Mereka merajut hidup dengan meniti karir dan mengayuh biduk rumah tangga, sejak dini. Sedangkan dirinya stagnan di suatu titik. Masih mencari identitas diri. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkecamuk di benaknya.
Hai, ke mana saja kamu selama ini? Apa saja yang telah kamu lakukan dalam hidupmu? Bisa apa kamu saat seusia mereka? Apa saja yang kamu mengerti dan telah kamu jalani saat berusia belasan dan dua puluhan? Prinsip apa yang telah kamu pegang dengan kokoh saat usia awal dua puluhan?
Sampai suatu ketika, di saat ia nyaris putus asa di awal dua puluh limanya, seorang teman memberikan kalimat yang menghunjam dan dalam padanya: we are never too old to learn, we are never too late to start.
Sejak saat itu, ia terpacu untuk berubah. Tidak ada kata tua untuk belajar, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Ia ikuti kursus-kursus yang akan membuatnya berubah. Ia melatih dirinya untuk dapat berpindah kuadran kehidupan. Dari sosok yang masih mencari jati diri hingga sampai suatu titik keniscayaan bahwa ia telah berubah.
Lima tahun sudah dari pergolakan batin itu adalah kini ia sudah menjadi sosok terkenal di dunia sastra Indonesia. Ia kini tergabung di komunitas penulis muda Islam: Forum Lingkar Pena.
Jelang usianya yang ketigapuluh, masih dalam kesendiriannya, yang kukenal darinya adalah tidak ada lagi cerpennya yang tidak mengalir seperti di kampus dulu. Funky tapi masih syar’i coy…Supervisor di berbagai kegiatan kerelawanan. Dan masih menjadi salah satu masinis untuk menarik gerbong besar panjang bernama dakwah.
Ia berubah. Kita pun bisa berubah. Perubahan terkadang perlu cara revolusioner tetapi measurable. Kedisiplinan adalah salah satu kuncinya pula. Itu yang pernah aku rasakan dulu, lama sekali. Satu-satunya pengalaman berharga yang membuatku memahami bahwa tiada yang sulit di dunia ini jika kita berpikir positif dan mempunyai azzam (tekad) kuat.
Bagaimana tidak, ketika aku baru memasuki SMU, aku adalah termasuk orang yang anti dengan matematika. Namun apa yang terjadi, ketika memasuki kelas dua, aku tertinggal dengan teman-teman yang lain.
Akhirnya timbul suatu niat untuk memulai perubahan. Siang-malam kuhabiskan dengan matematika, matematika, dan matematika. Disiplin dan latihan terus menerus. Apa yang bisa kupetik adalah saat pembagian nilai matematikadi ujian akhir: aku mendapat nilai excellent.
So, kita semua bisa berubah. Sekali lagi dengan revolusioner dan measurable. Napoleon saat mendaki sebuah tebing yang sulit di Pegunungan Alpen bersama pasukannya, pernah berkata: tidak mungkin adalah kata-kata yang hanya ada dalam kamus orang-orang bodoh.
Tapi mungkin anda punya cara lain untuk berubah. Berubah apa saja. Tentu ke arah yang membuat diri kita bernilai di hadapan manusia, utamanya adalah di hadapan-Nya. Sekali lagi ke arah yang lebih baik.
Saat kita tak punya rasa cinta pada sesama maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa takut dengan dunia maka berubahlah.
Saat kita tak punya rasa percaya diri maka berubahlah.
Saat kita merasa sendiri maka berubahlah.
Dan masih jutaan saat-saat lainnya yang membuat kita mandeg dalam menghitung sisa-sisa hari kita. Maka berubahlah, pindahlah saya dan Anda ke kuadran kehidupan yang lebih baik. Insya Allah kita bisa.
Ups…tiba-tiba hasrat memeluk mimpi-mimpi itu menekanku pada titik yang aku tak sanggup untuk menahannya beberapa menit lagi. Tak dapat memberikan kesempatan pada jemariku menari di atas tuts sesaat saja. Untuk akhiri fragmen kehidupan pada hari ini.
Terimakasih Azimah, malam ini Anda adalah sosok yang kesekian, selain mereka—Ayyasy, Haqi, Ria (adek kelasmu)—yang membantuku untuk berubah. Aku tak sabar menunggu esok, untuk mengirimmu SMS. Sekadar ucapkan: terimakasih. Itu saja.

**********************************************************************01.15, 26 Juli 2005

Tercerabut dari Akarnya


24.6.2005 – tercerabut dari akarnya

Aku masih menyempatkan diri untuk menulis di sini. Walaupun timbunan pekerjaan menumpuk di meja dan membauiku. Sudah hampir sembilan bulan lamanya, aku tak pernah lagi melihat dan mengeksplor ditrikpa dan DSH Net.
Waktu itu dua minggu menjelang ramadhan, seluruh komputer di kantor ini tak bisa mengakses dua situs itu.
Aku yang biasanya mendownload banyak file dari rikpa files, saling berkirim email dengan rikpa mail, dan berdiskusi di DSH Net, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi itu langsung down dan hilfil.
Berhari-hari saya mencari solusinya mengapa ini terjadi dan akhirnya aku memahami bahwa semua ini yah memang harus terjadi. Pada saat itu aku seperti pepohonan yang tinggi menjulang dengan akar yang menghunjam jauh ke dalam tanah, dan tiba-tiba tercerabut dari akar-akarnya.
Baru kemudian di bulan Desember tahun lalu, semua pegawai di kantorku mendapat fasilitas email dari pajak.go.id. Dan aku ikuti beberapa milis yang sangat informatif. Sehingga aku dapat melupakan rikpa dan dsh net. Aku pun ber asyik masyuk dengannya.
Namun tiba-tiba, setelah dunia mendapat serangan virus mematikan di bulan April kemarin, kembali aku dapat musibah sejak bulan Mei 2005, aku tidak dapat mengikuti milis, walaupun aku masih dapat ber-imel ria di sana.
Kembali aku merasa tercerabut dari akarnya. Aku merasa terputus dari dunia luar. Aku merasa eksistensiku hilang begitu saja di tiup angin di setiap waktunya.Tiada lagi dunia interaktif bagiku.
Tapi Mungkin di sini aku kembali menemukannya. Aku harap demikian. Semoga.
Wah, bau pekerjaan yang menumpuk kembali menyengatku. Saatnya aku kembali ke duniaku, supaya jangan jadi orang-orang yang tertinggal.
Allohua’lam.

Trial by The Press


Putusan bebas Nurdin Halid dalam kasus dugaan korupsi dana Bulog oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disikapi Kompas, (Jumat, 17 Juni 2005)—yang menurut saya—berlebihan dan tidak fair, terlepas dari bobroknya sistem peradilan kita.
Bagaimana tidak, media massa sebagai salah satu pilar dari bangunan demokrasi tidak mempercayai jalannya pengadilan . Padahal pilar lain dari demokrasi adalah tegaknya hukum. Disini terjadi suatu ambivalen dari sikap penegakan demokrasi itu sendiri. Di mana mereka berkeinginan tegaknnya demokrasi namun di sisi lain meruntuhkannya dengan jalan tidak memerikan kepercayaan penuh pada pengadilan tiu sendiri.
Maka yang terjadi adalah pengadilan oleh media massa, yakni penghakiman oleh pers bahwa seseorang itu telah bersalah. Terjadi penanaman stigma, mau menang dan benar sendiri di sini. Padahal tentu Majelis Hakim yang terhormat telah mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi keputusan mereka.
Tentu bagi kita, sangat mengharapkan negeri ini bebas dari koruptor, namun hendaknya kita pun wajib menghormati putusan pengadilan tersebut, Kita masih punya jalan lain di mana, Jaksa masih berkempatan mengajukan kasasi ke tingkat peradilan yang lebih tinggi lagi.
Masalah bahwa system peradilan kita yang buruk, itu yang harus sama-sama kita perbaiki. Usaha pemerintah dengan pembetukan Komisi Judisial adalah alangkah yang patut di hargai. Sehingga ke depan dunia kehakiman mempunyai pengawas yang melihat apa-apap yang diperbuat oleh para hakim.
Terpenting di sini adalah tidak terjadi lagi trial by the press, yang benar dan salah adalah menurut media. Apabila ini dibiarkan maka yang terjadi adalah tirani minoritas.
Jika pers mau bersikap adil, maka selauknya pers juga bersikap sama kepada nasib Abu Bakar Ba’asyir. Karena seharusnya ia sudah harus dibebaskan dari tahanan ketika masa tahanan tersebut sudah habis. Namun apa yang terjadi, pers hanya bungkam, tak ada pembelaan sama sekali, Kalapun ada beritanya, itu pn tidak sebagai berita utama. Juga tak ada pemberian stigma kepada sisitem peradilan kita bahwa telah terjadi ketidakadilan terhadap seorang kakek tua yang tak berdaya itu.
Maka dapat dilihat, ada apa dengan pers kita, seharusnya pula apa pun yang mengusik rasa keadilan, pers pun mengangkatnya dan menyorotnya, tidak memandang siapa orangnya.
Akhirnya, kembali sikap dewasa kita dalam berdemokrasi perlu dipupuk. Sikap penghormatan kita terhadap peradilan perlu kita tegakkan. Fungsi kontrol dari pers memang wajib dijalnakn namun tentu dibarengi dengan upaya penegakkan kode etik jurnalistik.
Saya harap ini bukan upaya balas dendam terhadap PN Jakarta Selatan yang telah banyak menjebloskan para pemimpin redaksi ke terali besi dalam berbagai kasus pencemara nama baik oleh pers.
Allohua’lam.

Ghanimah


16.6.2005 – ruqyah kemarin, ghanimah, akhirat itu kekal.

hmm…alhamdulillah pagi ini saya nggak kehujanan, setelah sebelumnya sempat waswas karena ada rintik-rintik hujan.
Oh ya kemarin ruqyahnya seru juga. Waktu ruqyah masal ada satu laki-laki kena, sedangkan di bagian akhwatnya banyak teriakan lagi.
Nah pas waktu dipersilahkan untuk maju ke depan oleh ustadznya bagi yang merasa kesemutan atau merasa ada hal yang aneh ketika di ruqyah masal. Saat itu ustadz langsung mengumandangkan adzan dan doa-doa syar’i di telinga pasien, ternyata banyak juga yang kena.
Alhamdulillah, Insya Allah bisa diusir tuh yang namanya jin.
Berat juga bantuin teman-teman panitia, soalnya kuat banget berontaknya pasien waktu di ruqyah.
Saya sempat gemetar juga sih dengerin bacaan ayat-ayat syar’i para ustadz itu, merinding gitu loh. Bikin mata jadi berkaca. Sudah lama tidak merasakan getaran dan nuansa seperti itu.
Satu lagi: kayaknya berat banget supaya jadi orang ikhlas. Ada aja godaannya Makanya Allah kasih penghargaan khusus terhadap mukhlisin kelak. Yah, tapi saya berusaha ajalah supaya ikhlas dalam setiap perbuatan. Jadi ingat cerita tentang para sahabat nabi yang awal dari kalangan muhajirin dan anshar. Saat selesai berperang dan tiba waktu pembagian ghanimah. ternyata yang mendapatkan banyak ghanimah adalah orang-orang yang dulunya memusuhi Rosulullah dan baru-baru saja masuk Islam. Sedangkan para sahabatnya banyak yang tidak kebagian apa-apa. Sampai-sampai terdengar oleh Rosululloh keluhan dari para sahabat.
Akhirnya Rosululloh mengingatkan kepada para sahabatnya, yang intinya cukuplah Allah dan Rosululloh bagi mereka. Mendengar ucapan itu para sahabat langsung tersadar dan menangis.
Sadari ternyata kehidupan dunia tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak ketika mereka mengikuti Allah dan Rosululloh.
Allohua’lam.
Semoga kita menajdi orang-orang yang cepat menyadari kekeliruan kita dan tak akan mengulangi lagi setiap kesalahan itu. Itulah sebaik-baiknya manusia.

Ustadz Rahmat Abdullah dan Ruqyah


15.6.2005 – seminggu lebih…nb: Ust. Rahmat Abdullah, dan Ruqyah

Akhirnya aku bisa kembali mengisi lembaran-lembaran di blog ini setelah sekian lama disibuki dengan ebgitu banyak laporan. Sebenarnya 28 laporan PKP jatahku itu sudah selesai aku buat, namun musibah menimpa salah seorang temanku. So, aku ditunjuk jadi pjs-nya, apa boleh buat 28 laporan harus saya buat segera sebelum jatuh tempo kamis besok. Dengan dibantu teman saya akhirnya 18 laporan selesai dibuat hari ini. Bertepatan dengan teman saya masuk kembali, sehingga dia cuma menyelesaikan sisanya kurang lebih 10 laporan lagi.
Ba’da isya kemarin, saya dapat kabar bahwa masyaikh al-ustadz. Rahmat Abdullah wafat. Innalillahiroji’un, semoga Allah memberika tempat terbaik kepada sang perintis dakwah ini. Sang awal di masanya.Niatnya pagi ini aku ingin melayat, namun kondisiku kecapean setelah pagi ini menempuh 40 km-an di atas mega pro. Akhirnya aku tidak jadi ikut temen yang naik motor ke Pondok Gede sana. Kalau naik mobil, mungkin aku akan ikut, supaya bisa tidur untuk menghilagnkan rasa lelah ini.
Semoga Allah, menjadikannya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Ohya siang nanti di masjid Sholahuddin, kalibata ini ada ruqyah oleh tim jakarta ruqyah centre (majalah ghoib), aku mau lihat, sekalian disuruh bantuin teman-teman panitia di sana. Entahlah aku ada jinnya enggak yah, ;-). Bukannya ngebantuin malah ngerepotin nantinya…
Allohua’lam.
Aku mau makan siang dulu sebelum pergi ke masjid.
Ayo siapa yang mau ikutan….

Melatiku di Sabtu Malam


30.5.2005 – Melatiku di Sabtu Malam

Hai…bertemu kembali denganku, dalam keceriaan Sabtu Malam. Dengarkan Melati di Jayagiri dan Aryati di sepanjang ku menulisnya. Teringat suasana alam perjuangan para pendahulu kita melawan para penjajah dulu. Dengan setelan baju dan celana pendek warna coklat toska kumuh, topi miring dengan senapan ala kadarnya atau paling canggih senapan mesin penembak pesawat udara.
Bergerilya susuri lembah dan gunung, sampai berjalan mengendap-endap di jalanan Kota Cirebon. Lewati rumah-rumah Cina bergaya tempo doeloe. Wuih, melankolis nian daku tinggalkan sebongkah hati di belakang dengan senapan di pundak. Mula Bekasi, Tanjung Pura, Cilamaya, Cikampek, Pamanukan, Subang, Bandung, Sumedang, Cirebon, sampai ke Yogya.
Ah, sudahlah lupakan memori tentang perang kemerdekaan dulu, lupakan bertempur dengan Kolonel “Jantje” Meijer di Sekitar Gunung Slamet. Lupakan semuanya dulu hingga kau kembali teringat akan Aryati, kembali lagi kau bisa susuri ingatan dulu.
Sudah berapa tahun sih kita Merdeka Ternyata kita jelang 60 tahun usia republik ini. Tapi mengapa kalau aku berbicara dengan teman seperjalanan selalu berisi keprihatinan-keprihatinan dengan nasib bangsa ini Keprihatinan tentang nasib anak-anak jalanan, orang miskin, pengangguran, sistem pendidikan, mutu sumber daya manusia, sistem peradilan, para penegak hukum, nasib pulau-pulau di perbatasan, nelayan-nelayan miskin, para petani, sistem keuangan dan moneter, ketidakberdayaan bangsa ini di dunia internasional sungguh tiada izzah, korupsi yang berurat dan berakar, dan masih banyak ribuan permasalahan lainnya yang tak dapat ditulis satu persatu dan tak bisa di bahas dengan ribuan seminar pun.
Sedangkan di negeri ini sungguh banyak orang pintar, konon kata dosenku Indonesia ini mempunyai doktor terbanyak di dunia. Tapi kok yah..jadi begini nasib bangsa ini. So, ternyata kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa tidak berbanding lurus dengan banyaknya orang pintar an-sich. Dibutuhkan juga mereka yang memiliki moral hazard, dan nilai-nilai kebaikan.
By the way, tiba-tiba aku jadi malas nerusin tulisan ini, mood saya kembali hilfil (hilang feeling ). Ya sudah, cukuplah di sini saya pikirkan bangsa ini. Berarti kemampuan saya cuma segininya. Urusan itu biarlah para petinggi kita yang memikirkannya. Terpenting, bagaimana sih kemajuan bangsa ini dimulai dari tindakan kebaikan kecil yang kita lakukan untuk kemaslahatan bangsa ini Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil.
Terakhir, jangan terlena dengan Melati di Jayagiri yah…coz, it was…

A Comme Amour


25.5.2005 – A Comme Amour

Tanggal merah memang menyenangkan. Di sana adalah saat untuk melepas penat setelah hari-hari melelahkan. Di sana pula lah saatnya merasakan kembali hangatnya selimut dan empuknya ranjang orang-orang metropolis sebagai pengganti kasur dulu.
Namun bagi sebagian orang, tanggal itu adalah kesempatan untuk merenda hari-harinya dengan mengajak orang-orang dan tetangga-tetangganya menuju kebaikan. Dengan mengisi majelis-majelis dan pertemuan-pertemuan yang membuat para malaikat merubung di atasnya. Namun ada pula tanggal merah adalah saatnya melanjutkan kerusakan-kerusakan di muka bumi-Nya, na’udzubillah.
Bagi saya, hari libur kemarin adalah saatnya untuk meneruskan kembali pekerjaan rumah yang terbengkalai kemarin. Mengecat pagar rumah. Yah…, pagar rumah saya yang sudah lama termakan karat, akhirnya bisa juga dicat kembali. Dengan mengecatnya maka terasa seperti baru. Ada yang indah di depan mata. Walaupun masih amatiran.
Ohya bentuk pagar saya tanpa ada mata pisaunya di atasnya loh. Menurut saya, pagar bermata tombak seperti itu, menandakan penghuninya merasa “paranoya gitju loh…”. Seperti terpenjara, sehingga perlu diamankan oleh benda semacam itu. Bahkan menurut saya, sepertinya mata tombak itu berteriak dengan nada mengancam kepada setiap orang luar. Iya sih, dulu ada rasa trauma juga dengan adanya mata tombak di setiap ujung pagar. Pernah di kampung saya ada pencuri buah Jambu Merah jatuh terpeleset dari atas pohon dan langsung tertancap di pagar itu. Tubuhnya tertusuk mata tombak. Jadi bagi saya, nggak usahlah pakai pagar dengan motif seperti itu.
Hari libur, juga saatnya untuk memperbaiki speaker masjid, yang bunyinya kurang kencang. Kini setelah diperbaiki, suaranya menggelegar tak kalah dengan speaker mushola kampung sebelah. Kini tidak ada alasan bagi saya dan tetangga-tetangga sekitar Masjid Al-Ikhwan untuk tidak sholat berjama’ah terutama sholat shubuh di Masjid.
Kumandang adzan ashar begitu syahdu kudengar. Saya lihat sebuah keluarga kecil dengan dua anak mengendarai sepeda motor berhenti di depan masjid ketika adzan terdengar. Dan mereka berlalu ketika usai. Setidaknya saya terharu kepada mereka, saya saja terkadang masih cuek beybeh, sedangkan mereka masih sempat menghentikan perjalanan mereka untuk mendengarkan adzan, walaupun mereka tidak ikut sholat berjama’ah. Tapi menurut saya, perbuatan itu tergolong langka, yang sering kita dengar adalah orang berhenti melakukan aktivitas dan melakukan penghormatan ketika Bendera Merah Putih dikibarkan. Yah, setidaknya perbuatan mereka menjadi ibroh kesekian kalinya bagi saya.
Saat kutulis ini, bulan purnama menghias malam tapi tanpa bintang terlihat mata. Itu pun terangnya tak seterang malam kemarin. Namun cukuplah itu sebagai pelezat pandangan, untuk menjadi bekal yang indah terbawa mimpi. A Comme Amour…
Jadi ingat sebuah puisi yang saya tulis lama sekali… ketika dihadapan saya tergeletak kertas putih kosong dengan pena hitam di atasnya.
entah,
kan kutulis apa
hamparan hati yang tak berbatas ini
yang adanya hanya denyut
itu – itu saja
entah,
kan kutulis apa
lembaran waktu yang tak berujung ini
yang adanya hanya detak
itu – itu saja
sedangkan,
hati itu akan berkarat
dan…
waktu itu akan habis
malunya diri
tak membuat segera berbenah
entahlah…
kan kutulis apa lagi
putihnya kertas
untukmu ini…
………………………
………………………
Lalu tiba-tiba saya kembali mengulang memori dulu tentang sebuah malam:
malam taburkan bintang
di atas sekat-sekat bilik saung
tunggu…!
terdengar hanya
suara jangkerik, katak
sesekali tingkah burung hantu
tak lupa gemericik air
meramaikan sepinya malam
jatuh dari bilah bambu tertancap di tebing
dan aku hanyalah
desiran angin
senantiasa lewat
menjadi saksi
menyelinap disela-selanya,
tapi malam tetaplah malam
yang aku kan kembali setiap saat
lewati saung itu
lewati sela-selanya…
………………………………………………………….
Pffh…sudah saatnya saya akhiri saja tulisan ini. Saatnya kembali kubuat rencana untuk esok pagi. Hingga tiada yang tak bermakna. Karena shubuh nanti saya kembali segar untuk merengkuh hari-hari yang akan menjadi milikku. Dengan penuh mimpi…dengan mengenang segala kebaikan sahabat-sahabat tercinta.
Allohua’lam.
dedicated to:
1. Ibu Kunto Wulandari, jadi ingat waktu di pantai dulu;
2. Mbak Titi disepanjang ingatan antara Kelapa Dua dan Kalibata;
3. Pak Mubari, jazzy banget gitu loh…
4. Boss Binanto, kreditur pc saya;
5. Kang Asep, semoga tak mengingat lagi down payment lalu;
6. Pak Uha Indiba, kapan jadi kakap Jakartanya pak…
7. Ananda di antara rajah cintanya…
8. Ibu Nina, kapan yah saya bisa berkunjung ke tempat Ibu
9. Littlebee dan Asa, kita disini menantikan kalian berkumpul menjadi satu, tak ada yang dapat memisahkan, entah jarak atau waktu;
10. dan semua teman-teman tercinta yang tak sempat lagi kuingat ribuan kebaikannya kepada saya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik lagi.

Preambule


Blog saya di Blogspot tidak tahu mengapa tidak dapat diakses oleh saya sendiri.

Ketika saya mencarinya melalu enjin google maka yang tampak adalah blog saya

tidak dikenal. Terpaksa saya  deh saya mengubur impian saya untuk berlama-

lama di blogpsot. Saya akhirnya pindah ke wordpress. Semoga bermanfaat saja.

Dan inilah preambule saya.

Sebuah kesempatan langka untuk bisa berkecimpung disini,
yang pasti setiap waktu yang kita gunakan hendaknya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya.
mungkin bagi kita yang terhalang masalah finansial dalam pembuatan webblog di internet, disinilah kita mulai belajar membuat, menata, dan gratis lagi.
semoga usaha kecil kita disini–dengan menulis dan menulis–menjadi sebuah energi besar bagi suatu upaya perbaikan diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, bahkan negara kita. Allohua’lam