Pecinta Kata-kata


pecinta kata-kata

[Purnama menggantung di langit Jakarta, menemaniku susuri jalan menuju pulang. Tiba-tiba aku rindu pada purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana? Dan gerimispun menjelma]

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka pada sebuah artikel baru yang ditulis oleh seorang penulis muda, seorang kontributor eramuslim.com, seorang teman, seorang sahabat dari terkasih Qaulan Syadiida, yang berjudul Dunia Kata-kata.
Sebelumnya kalimat itu terlebih dahulu mampir di sudut handphone di suatu malam, darinya. Tak sempat terjawab segera. Namun esoknya terbalas dengan:

[Jauh di barat daya. Purnama mengejutkanku saat shubuh. Adanya
tertusuk ranting cemara. Hingga tersadar tak boleh ada gerimis duka
di hati. Karena IA satu-satunya pelipur]

Setelah itu ia mengirim sebuah email tentang kepedulian dan kecintaannya pada kata-kata, hingga ia berkata: aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata. (Tak lebih).
Bagi para pecinta kata-kata, ketika menerima kata-kata indah, tergeraklah hati untuk segera membuat kata-kata berbalas yang lebih indah terasa di hati. Maukah kau tahu indahnya kata-kata di atas?
Siapa yang menyangkal indahnya purnama? Maka teman tadi membuat sebuah metafora purnama sebagai hiasan dan teman pulangnya. Ada sentakan keindahan lagi saat membaca kalimat berikutnya: “…purnama di sudut jiwa. Masihkah ia bersemayam di sana?”. Purnama di sudut jiwa, diksi yang cantik. Siapakah ia? Tanyakan saja padanya. “Gerimispun menjelma”, lagi-lagi pilihan kata yang indah menggantikan awal mula turunnya hujan.
Sedangkan saya benar-benar mengalami keterkejutan saat keluar dari masjid karena terpampang dengan indahnya purnama subuh yang membulat penuh di lihat mata. “Oh…saya tak menyangka, malam lalu adalah malam purnama,” pikir saya. Hingga saya terpesona beberapa saat. Sampai pada kesadaran bahwa saya harus mensyukuri atas kesejukan plus keindahan subuh yang tiada tara. Maka tak boleh ada gerimis duka, air mata yang menganak sungai di pipi, dan gulana yang meresahkan jiwa karena sarat beban. Sudah sepatutnya semuanya kita sandarkan pada-Nya, pemilik segala jiwa, mahapelipur segala lara.
Tak semua orang bisa menikmati kata-kata. Tak semua orang bisa mengerti tentang indahnya kata-kata. Tak semua orang bisa memahami cantiknya kata-kata. Hingga seorang pecinta kata-kata terkadang mencari, mencari, dan mencari seorang pecinta kata-kata untuk berbagi kata, berbagi keindahannya, berbagi cantiknya diksi, berbagi rasa dan imaji.
Namun ada yang harusnya tidak terlewati, pertanyaan tentang kepada siapakah kata-kata itu ditujukan? Karena jikalau ia tahu maka ada hati yang akan tersakiti. Bukan karena kata-katanya tapi karena kata-kata itu diurai kepada yang telah memiliki hati. Khusus untuk yang satu ini, maka tiga hal yang perlu dilakukan: hentikan segera, hentikan segera, dan hentikan segera. Jika tidak, ada sepasang hati yang akan membiru dan berdarah-darah tiada halalnya, atau ada satu hati yang merana karenanya.
Atau kau suarakan pada dunia dengan sekeras-kerasnya, tidak berbisik, tidak pada media yang amat-amat pribadi. Maka berikanlah kata-kata indahmu pada hati yang telah halal untukmu.
Seperti yang Qaulan Syadiida kirimkan kata-kata indahnya pada saya:

[Bunga mawarku mungkin hanya satu dari jutaan mawar di dunia. Tapi mawarku istimewa, unik dan sangat berharga bagiku. Karena aku telah menghabiskan waktu bersamanya, melakukan banyak hal untuknya maka aku mencintainya, meski durinya kadang menyakitiku. Jika cinta dan luka adalah dua sisi yang berkelindan dari keping yang sama mungkin aku harus belajar lapang dada agar duri mawarku tak mengenai permata hatiku, cukup aku. Meski aku tak tahu bila durinya kembali menyakitiku.]

Maka saya pun membalasnya dengan kata-kata:
[Aku merinduimu layaknya api merindui air. Aku merniduimu layaknya layar merindui angin. Aku merinduimu layaknya tanah kering merindui hujan. Maka kemarilah wahai pelipur lara untuk tuntaskan kerinduan].

dan menambahnya dengan:
[Aku mencintai kata-kata dan para pecinta kata-kata , ujar seorang teman pujangga. Maka deraskanlah kata-katamu hanya untukku bak badai yang tak temukan habisnya].

Tapi ingatlah wahai Qaulan Syadiida, sesungguhnya tiada sebaik-baik kata-kata kecuali kalimat pengesaan-Nya. Tiada sebaik-baik syair kecuali firman-Nya. Maka cintailah dengan utama kata-kataNya. Deraskanlah ia di bibir dua puluh sisi setiap harinya. Sejak itu kau akan rasakan indahnya, nikmatnya. Maka bolehlah aku dan kau disebut sebagai pecinta kata-kata.

dedaunan di ranting cemara
di antara penat yang tiada lelah mencabikku
00:46 05 Agustus 2005

Semakin Menghijau


04.08.2005 – semakin menghijau

Sore semakin membulat dengan cahaya yang semakin pudar terangnya, namun ada yang terpenuhi dahaga padanya.Ya, setelah berkutat lagi dengan html editor amatiran seperti frontpage, akhirnya kembali saya dapat sesuatu berharga yakni filosofi pewarnaan font dan pergantian halaman. Template yang dulunya tiada Last and Next Page, kini sudah tampil dengan manisnya, juga filosofi tentang jumlah halaman.
Kini tempat dedaunan bertengger semakin menghijau. Sila lihat saja bagi Anda semua penikmat gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Mungkin saja Anda menemukan sesuatu yang berharga di sana, atau sekadar melepas lelah dari terik mentari dan gundah gulana yang menyesakkan dada. Tapi saya cuma mengingatkan saja, jikalau Anda merasakan yang terakhir itu maka cukup dengan Sholat dan Sabar yang menjadi penolong Anda, tiada yang lain, karena ia menyejukkan.
Maka akhiri saja hari ini dengan selalu mengingat-Nya. Pastilah segenggam hati akan tenang terasa.
Maaf tiada terkira.
dedaunan di ranting cemara
di antara halaman frontpage
16:31 04 08 2005
ps. bagi kawan yang lagi belajar frontpage, yakini ia sangat mudah

Sepenggalah Suluh Untuk Kawan


04.08.2005 – sepenggalah suluh untuk kawan

Pagi ini masih saja aku menjadi bagian dari kemalangan yang menimpa ruh ruh kebaikan manusia di dunia. Sampai saat kubaca paragraf-paragraf indah tentang sebuah cinta dan kerinduan. Dan sampai detik itu pula aku tersadar waktu akan meninggalkan dhuha. Seperti dhuha-dhuha lama di Lido, Cibatok, Cilember atau di sudut kamar kost sempit kita dulu.

Semuanya penuh cinta, kawan, penuh hamasah, penuh ruhul jadid yang menggelora di dada yang dekat dengan mushaf di saku. Semuanya penuh robithoh, penuh qiyamullail, penuh shaum di setiap senin dan kamis. Semuanya penuh dengan peluh dan telapak kaki yang menebal karena susuri jalan-jalan sempit di antara sela-sela perkampungan padat rumah-rumah kost, atau karena tiada yang rindang di sepanjang jalan menuju masjid tercinta.

Itu semua karena kita masih tersadar betapa jalan dakwah begitu terjal dan sepi jauh dari keramaian yang akan membuat kita lupa dan terserang virus riya. Sering kali kita beristighfar sadari setiap kelalaian, sadari niat yang melenceng dari relnya semula.

Oh ya, ghodhul bashor pun tak lupa menjadi keseharian kita. Karena sesungguhnya mata adalah pintu dari panah-panah syaitan yang akan merobek-robek jaring-jaring iman kita.

***** Dhuha telah meninggalkanku, sedangkan aku masih berusaha mengingat memori yang kian hilang ditelan kesibukan dunia. Tapi yang pasti aku kembali ingat tentang semuanya itu kawan, tentang cinta itu, tentang foto-foto dalam album tua itu yang masih tersimpan di tumpukan paling bawah dalam lemari bukuku. Padahal tadi malam aku masih tidak ingat tentang cinta itu kawan…
dedaunan di ranting cemara
Sepenggalah suluh di antara dedaunan untuk: Faisal Alami, Ujang Sobari, Suprayitno, Ramli, Amran, Anwar, Abas, LBH, Si Kembar Madiun, yang di Sukabumi, dll. dari atoz

Sumber: renungan di medio 1997

Dua Hari Tanpa Listrik


Dua Hari Tanpa Listrik (Kasus KPP PMA Tiga)

Terbukti sudah betapa manusia di zaman moderen ini sangat menggantungkan roda kehidupannya pada teknologi agar tetap bisa berputar. Maka apa yang terjadi ketika listrik “byar pet” dan benar-benar padam selama dua hari di KPP PMA Tiga?
Ruangan gelap dan tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan, sampai-sampai Wajib Pajak terheran-heran dan langsung bertanya kepada saya, “Pak, KPP PMA Tiga pindah yah?”
Bagaimana mau mengerjakan sesuatu sedangkan semuanya ada di dalam komputer yang tidak bisa dihidupkan itu, merekam, menjawab konfirmasi, memasukkan kasus ke dalam case management, melayani Wajib Pajak melalui email dan lain sebagainya. Semua itu tidak dapat dilakukan tanpa ada benda yang di tahun 1967 bentuknya seperti dua lemari besar.
Coba hitung sendiri betapa banyak kerugian yang diderita negara atau kita sendiri, selain membayar gaji pegawai yang tidak produktif, peralatan elektronik yang rusak karena aliran listrik yang tidak stabil, hilangnya kesempatan untuk berkreativitas, hingga berdebarnya jantung karena pekerjaan yang nyaris jatuh tempo.
Maka dapat dikatakan ketergantungan manusia pada teknologi—dalam hal ini komputer—adalah sebesar 98%. Sisanya untuk pekerjaan klerikal yang benar-benar membutuhkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Tapi terus terang saya tidak menikmati hal ini, karena bagi saya listrik mati atau hidup, pekerjaan sudah jelas menumpuk di depan mata. Alhamdulillah, sebelum pulang saya sempatkan diri untuk melihat-lihat kembali semua pekerjaan itu. Saya susun ulang. Saya beri post-it warna kuning. Saya beri catatan penting. Dan saya rapihkan dengan harapan Senin esok, saya dapat mengerjakan semua itu. Itu pun kalau Senin nanti aliran listrik sudah seperti sedia kala.
By the way, semua orang di sini kok pada tahu kalau pekerjaan perbaikan aliran listrik bawah tanah belum selesai sampai hari Senin nanti. Wah…wah…wah… siap-siap saja kembali tiada pekerjaan, tiada postingan ke Cicadas Blog, dan satu terakhir dan yang paling penting, gajian akan tertundakah? Semoga saja tidak. 

dedaunan di ranting cemara
di antara Jum’at yang meluruh kata-kata kerinduan
20:02 29 Juli 2005

Terpukul Telak


28.07.2005 – HARI INI AKU TERPUKUL TELAK (doakan saya….)

Hari ini adalah hari terberat yang pernah saya alami dalam tahun ini. Entah, bisakah saya menempuhi itu semua dengan elegan, kepala masih terdongak ke atas, dan dada membusung? Atau saya akan jatuh, limbung, hancur, dan pecah berantakan tiada berbentuk lagi? Dan semua ini belum selesai setelah beberapa hari ini berdiskusi panjang. Saya kira Ahad kemarin telah berbentuk solusi ternyata tidak. Puncaknya adalah hari ini.
Sebuah telunjuk mengarah dengan penuh kebencian kepada saya yang telah terkulai tiada berkata apa-apa lagi. Karena saya anggap semua itu adalah masa lalu yang tak boleh terungkit oleh siapapun. Bahkan saya telah melupakan semua itu. Lama, dulu sekali. Tapi Allah berkehendak lain. Dia membukanya. Ya, hari ini adalah hari terberat.
Sesungguhnya saya yakin semua ada solusi dan penyelesaian. Saya yakin pula Allah tiada memberikan suatu beban yang tak sanggup dipikul oleh hambanya, karena itu adalah doa yang selalu saya panjatkan dalam setiap pertemuan dengan-Nya. Tinggal bola itu ada di tangan saya, apakah ikhlas, sabar menerimanya dengan lapang dada atau sebaliknya emosi dan kemarahan yang membuat rahmat-Nya bahkan menjauh dari saya.
Maka sore atau malam ini harus ada penyelesaian. Entah–saya tak tahu–apakah penyelesaian yang baik atau buruk. Saya tidak berharap yang terakhir. Hanya kepada Allah-lah saya menaruh nasib ini. Hasbunallahu wani’malwakil. Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
dengan dada yang berdebar
dengan masalah yang–maaf–tak bisa diutarakan di sini

Hanya Sebuah Buku Tamu


27.07. 2005 – hanya sebuah: BUKU TAMU

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Setelah mengutak-atik dengan frontpage dan memahami filosofi pembuatan web, akhirnya ada dua hasil yang saya dapat pada hari ini. Pertama saya dapat membuat menu kategori, yang selama ini dengan “memanage”nya, tidak muncul-muncul juga di right side.
Dan yang kedua, pada akhirnya saya dapat pula membuat sebuah buku tamu walaupun masih ala kadarnya.
Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar dapat berkenalan dengan semua penghuni ciblog ini, juga sebagai ajang untuk mengembangkan kegiatan tulis menulis. Menulis apapun. Menulis diari, paper, essay, cerita pendek, novel, renungan, atau yang hanya sekadar gerutuan, dan gundah gulana.
Walaupun Decrates pernah mengatakan “kita berpikir karena kita ada” maka mengutip seorang bloger: “kita menulis karena kita ada”. Maka ayo kita menulis. Tiada hari tanpa menulis. Satu atau dua kalimatkah. Satu atau dua paragrafkah. Tidak masalah.
Jadi Selamat buat Anda yang masih bisa menulis hari ini.
wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di dhuhur yang menggelayut pundak
12:27 27 Juli 2005
ps.
terimakasih kepada tosers dan goengs yang telah menggugah saya untuk membuat kategori, pula dengan kang asep dengan both sides perspective

Both Sides Perspective


both sides perspective
(kasus lupa absen)

Bagaimana tidak jengkel ketika menyadari bahwa saya yang seharusnya tidak pernah terlambat dan tidak pernah pulang cepat di bulan Juli dinyatakan satu kali tb dan satu kali pc. Dan ini hanya gara-gara saya benar-benar lupa menaruh jari saya di atas scanner absen. What the…
Apalagi belum ada solusi tuntas yang diberikan oleh teman penanggung jawab absen untuk mengatasi permasalahan ini. Berarti siap-siap saja ada pengurangan nilai dari take home pay yang di dapat. Masalahnya bukan pula nilai yang akan kita dapat—tapi sesungguhnya dalam setiap nilai itu berharga karena tidak ada nilai yang besar kalau tidak diawali oleh nilai yang kecil—tapi adalah hak saya yang dirampas oleh sebuah sistem yang tidak mengakomodir sekecil apapun kekhilafan dan kealpaan manusia dan secara sewenang-wenang merebut hak-hak saya sebagai manusia. Ingat saya juga manusia (mengutip lirik seurieus).
Maka apa yang terjadi, perasaan tertindas dan ego saya muncul—alhamdulillah tidak ada makian dan umpatan yang keluar dari mulut ini, karena saya sadari semua itu tidak baik, menyakiti diri sendiri, juga tetap tidak solutif. Dan puluhan rencana segera siap dijadikan meriam untuk ditembakkan dalam perang, seperti protes kepada pemimpin Subbagian juga kepada pimpinan tertinggi, sampai jika saja rencana itu tetap gagal, maka saya pasrah dan akan saya tuntut saja hak tersebut di akhirat, karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pengadilan-Nya adalah pengadilan yang seadil-adilnya. Sekali lagi ini karena masalah hak yang tidak semestinya diberikan kepada saya, sedangkan saya telah melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan dan Insya Allah telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Sampai suatu ketika, ada sekelebat titik kesadaran bahwa ini perlu didiskusikan dengan teman, sehingga awalnya diharapkan ada sokongan moral untuk mendukung upaya yang akan saya lakukan.
Akhirnya bukan hanya dukungan namun ada sebuah ide yang membuat saya harus merubah paradigma berpikir saya selama ini. Apa yang teman saya bilang, “cobalah kita berpikir dengan both sides perspective.” Wah, makhluk macam apa pula ini?
Ternyata hal inilah yang dari dulu saya berusaha lakukan, namun jarang sekali saya pakai untuk setiap permasalahan yang melibatkan dua pemikiran manusia. Kadang saya pakai dan kadang tidak. Dan untuk kasus kali ini saya tidak terpikir sekejap pun untuk memakai cara pandang dengan dua sisi itu. Sisi kita dan sisi mereka. Sisi pelaku dan objek penderita.
Saya dan teman, satu persatu mengurai kasus ini dengan menggunakan cara berpikir pada sisi mereka—yakni teman-teman di Bagian Umum. Artinya kita berusaha memahami mengapa hal ini terjadi dengan kita berperan sebagai mereka. Hasilnya sungguh mengejutkan bahwa ternyata ada sisi empati yang harus saya timbulkan dan berikan untuk mereka karena mereka telah banyak melakukan yang terbaik untuk saya, mengurus kepegawaian saya, berusaha membayar gaji saya dengan tepat waktu—walaupun terkadang ada saja kendala yang mengakibatkan keterlambatan tersebut, melayani saya dan seksi dalam masalah penyediaan alat-alat tulis kantor sehingga pekerjaan kantor bisa terselesaikan dengan cepat, dan masih banyak lagi lainnya. Jadi mengapa saya harus merusak kebaikan mereka dan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini dengan ego dan marah saya yang tiada berujung dan sekali lagi tiada solutif.
Pada suatu titik pula, dengan berpikir dua sisi itu, sedikit demi sedikit kerelaan mulai tumbuh di hati, pemikiran saya mulai jernih, dan tidak emosional untuk mengambil langkah yang dapat memuaskan dua pihak. Sehingga muncul pemikiran cemerlang yakni untuk mendiskusikannya dengan pimpinan Subbagian. Kiranya itu yang belum saya lakukan, yakni upaya tabayyun, memperoleh informasi yang benar dan langsung dari pihak yang mempunyai otoritas penuh.
“Fleksibel saja,” kata terakhir yang terucap darinya. Ya, akhirnya ada solusi yang didapat. Dan pembicaraan itu berakhir tidak seseram yang saya bayangkan. Dua pihak terpuaskan.
Kita tak pernah rugi untuk berpikir both sides perspective. Terutama untuk menghindari dzan-dzan atau prasangka-prasangka buruk yang akan mematikan kejernihan akal kita.
Kepada teman-teman di Subbagian Umum, saya seribu kali menjura dengan kata maaf selalu terlontar dari mulut yang masih belum serasi dengan hati. Insya Allah, saya akan belajar untuk memakai both sides perspective itu dalam setiap pemikiran saya.
Sekali lagi, pakailah ia, karena ia akan menjernihkan.

dedaunan di ranting cemara
di shubuh yang menjelang
dengan kantuk yang tiada terkira
04:44 27 Juli 2005

Masjid Kita


26.05.2005 – Masjid Kita

Sekitar pukul 16.30 WIB dalam perjalanan menuju stasiun Gondangdia Ahmad terlebih dahulu singgah di suatu masjid yang terletak di komplek perkantoran untuk menunaikan Sholat Ashar. Masjid Kebon Sirih namanya. Untuk menuju masjid tersebut maka harus melewati pintu gerbang utama gedung. Ahmad meminta izin untuk masuk ke komplek perkantoran tersebut kepada Satpam yang bertugas di gerbang tadi. Dengan pandangan penuh selidik dan tanda tanya, Satpam mempersilahkan Ahmad untuk masuk setelah mendapat penjelasan bahwa dirinya mau menunaikan Sholat.

Dari kejauhan arsitektur masjid itu sungguh indah dan menawan, ruang utama masjid berada di lantai dua. Lantai bawah adalah untuk ruangan pertemuan atau ruangan apapun namanya. Untuk menuju ruangan utama Ahmad harus menaiki anak tangga ke atas. Tapi sebelumnya, persis di depan tangga berjaga pula seorang Satpam dengan membawa HT. Ahmad pun meminta izin pula untuk shalat. Lalu Ahmad menaiki tangga dan mencari tempat wudhu, dan ternyata Satpam pun mengikuti Ahmad ke atas dan duduk menunggu di teras masjid yang berhalaman luas tersebut. Ahmad pun sholat. Setelah sholat sebenarnya Ahmad masih ingin beristirahat sejenak, mengagumi ornamen masjid yang begitu indah, mengamati pemandangan di sekitar gedung masjid, dan membaca mading yang tertempel di papan pengumuman, namun dirinya merasa tidak enak dengan adanya pengawasan dari Satpam tersebut, sehingga ia buru-buru untuk segera meninggalkan masjid. Ahmad ber-khusnudzon saja, soalnya hari itu adalah hari keempat lebaran, yang tentu saja Jakarta masih sepi dari hiruk pikuk kegiatan manusia. Apalagi pada malam natal lalu guncangan bom meledakkan banyak gereja dan memakan banyak korban, tentu Satpam harus dapat meningkatkan kewaspadaannya.
Pengalaman lainnya di alami oleh Hakim yang berniat untuk melaksanakan sholat Dhuha di masjid di bilangan Pondok Aren. Tapi apa lacur, niatnya untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan kandas karena fasilitas untuk berwudhu dan pintu masjid terkunci dengan rapat. Padahal di dalamnya ada sang marbot yang melihatnya sedang berusaha membuka pintu yang terkunci, namun sang marbot bergeming untuk tetap membiarkan Hakim berada di luar. Fenomena apa pula ini?
Itulah masjid kita. Banyak masjid didirikan namun tak banyak pula yang dapat diramaikan oleh beragam aktivitas. Pendirian masjid yang susah payah—sampai-sampai dengan mengumpulkan dana di jalan-jalan, setelah berdiri megah dan indah namun sunyi senyap. Kegiatan baru tampak ketika sholat Magrib dan Isya plus shubuh, itu kalau masjid yang berada di perkampungan, bila yang ada di perkantoran hanya ramai pada saat sholat Dhuhur dan Ashar saja, sedang waktu-waktu lainnya jangan ditanya, padahal disekitar perkantoran tersebut terdapat perkampungan penduduk.
Apa yang dialami oleh Hakim dialami oleh banyak musafir yang ingin memenuhi hajatnya, fasilitas MCK yang tidak memadai dan terkunci. Padahal masjid adalah tempat yang pertama kali dicari oleh musafir yang berniat istirahat. Alasan apa yang paling kita dengar adalah supaya masjid dan segala fasilitas yang ada tidak kotor dan barang-barang aman, jadi silahkan saja sholat di luar masjid. Tapi Masjid adalah milik umat, bukan milik suatu RT, kelompok, atau komunitas masyarakat di sekitarnya, tapi tetap yang berkewajiban menjaga dan merawatnya sudah tentu mereka. Akankah masjid kita akan selamanya begini? Think about it.
dedaunan di ranting cemara
tiga yang lampau, dengan perbaikan kini
10:22 23 Juli 2005

Kersem dan Monyet


Satu-satunya pohon yang berhasil saya tanam di depan rumah adalah Pohon Kersem —orang Indramayu atau Cirebon menyebutnya demikian, tapi entah mengapa Orang Citayam atau bahkan Jakarta menyebutnya Pohon Ceri (keren amat). Buahnya kecil-kecil, berwarna merah, dan rasanya manis.
Bibit pohon itu memang asli saya bawa dari Indramayu di tahun 2002, saat berkunjung ke rumah orang tua yang memaksa saya untuk membawanya. Saya enggan membawanya karena selain repot diperjalanan juga tidak sekeren pohon mangga kalau di tanam. Di daerah saya, pohon itu cocok untuk tempat bermain monyet dan sudah tentu buahnya adalah makanan favorit mereka. Akhirnya dengan membawa tiga bibit yang diambil dari selokan sebelah rumah saya kembali ke Jakarta dengan diiringi tatapan menelisik para penumpang kereta Cirebon Express kearah bawaan saya yang memang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.
Pohon itu saya tanam di bantaran kali depan rumah. Depan rumah adalah Kali Pesanggrahan—kalau terlihat deras dan tinggi permukaannya, maka Cipulir sudah pasti kebanjiran. Jalan selebar empat meter adalah sebagai pembatas rumah dengan bantaran kali.
Dengan pupuk organik pemberian tetangga sebelah, saya menanamnya. Menemani pohon pisang raja, kelapa, rambutan, jambu, dan mangga. Satu bibit lainnya saya tanam persis di halaman rumah. Sedangkan satu lagi ditanam di belakang rumah. Pagi dan sore menjadi waktu untuk memberikan air sebagai penerus kehidupannya. Tidak sampai enam bulan, pohon yang berada di bantaran kali itu telah menjulang, menganopi, dan berbuah. Meninggalkan yang lainnya, yang masih tidak juga berbuah bahkan mati, entah kenapa.
Sejak saat itu depan rumah menjadi tempat bermain baru bagi anak-anak RT. Mereka berebutan untuk naik sampai puncaknya, tinggal saya yang tak henti-hentinya meneriaki mereka untuk turun. Bukan karena tidak mau buahnya diambil, tapi takut mereka jatuh.
Pula tempat itu kini menjadi persinggahan bagi banyak orang yang setelah berjalan di bawah panas terik matahari, seperti tukang bakso, pemulung, penjual barang kelontongan, bahkan pengendara motor yang kelelahan karena tak bisa menghidupkan mesinnya.
Satu lagi, kini setiap paginya ada yang terasa indah didengar. Senandung merdu burung-burung kecil. Ya, kesegaran pagi semakin bertambah diiringi tingkah polah mereka dalam mencari makan. Apalagi ketika matahari mulai menyinari semesta, hangatnya mulai terasa dan bertambah ramai pulalah fragmen kehidupan di sekitar pohon itu.
Dari semut–semut hitam yang menggantikan kelelawar malam, lebah-lebah yang mencari sari bunga, hingga kupu-kupu, atau kucing jantan yang menandai daerah kekuasaannya dengan air seninya di bawah pohon. Oh…satu kebaikan yang kita tanam ternyata banyak membawa manfaat bagi makhluk lain. Jadi ingat kata-kata bijak itu: tanamlah pohon kebaikan walaupun esok akan kiamat. Karena sesungguhnya kebaikan—seberapapun kecilnya, pasti akan membawa manfaat untuk siapapun. Pertanyaannya adalah akankah kita menjadi pohon-pohon itu? Yang berbuah dan meneduhi. Bahkan kita takkan pernah terlambat untuk menjadi pohon kebaikan itu, selama ruh belum sampai ke tenggorokan, pun andai besok akan kiamat. Pagi ini saya mendapat banyak pelajaran.
“Bang, ke depan bang!” seruan dari seorang ibu tua membawa sarat beban menyadarkan lamunan saya yang sedang duduk di atas motor.
“Eh, iya…iya bu,” tanpa basa-basi saya antar ia ke depan komplek.
“Terima kasih ya bang,” sambil menyodorkan tiga lembar ribuan kumal.
“Maaf bu, saya bukan tukang ojek,” sambil tersenyum dan segera memacu gas meninggalkan dia yang masih terpana.
Sekali lagi pagi ini saya mendapat satu pelajaran di bawah pohon Kersem. Jangan duduk melamun di atas motor di bawah pohon kersem, apalagi kalau Anda belum mandi, karena orang akan menyangka engkau adalah tukang ojek.Hmmm, tak mengapa.

dedaunan di ranting cemara
di pagi yang berselimut tebal kesegaran
citayam,11:17, 23 Juli 2005.

Kamar-kamar Hatimu


kamar-kamar hatimu

Suatu malam ba’da tarawih yang hangat, saat aku merasa butuh banyak informasi maka tersambunglah aku segera dengan dunia maya. Ada yang terbersit cepat di benak tentang azimah rahayu, jadi kusapa paman google dan kutanya padanya, hasilnya sungguh mengejutkan, mungkin beratus halaman web tentang dirinya (tak sempat kuhitung, hemat pulsa).
Sampai kutertarik pada sebuah halaman website pribadi Unisah Raniyah. Kuklik saja. Oh… ia membicarakan tentang sebuah kamar hati. Ia teringat tulisan azimah rahayu, begini ceritanya:
…terhadap mereka , saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk.
Sedang Uni punya pendapat sendiri tentang kamar hatinya:
Bukan kamu yang memutuskan untuk meninggalkan kita yang dulu, bukan pula aku. Ternyata masing-masing kamar di hati kita mempunyai pintu yang cuma kita yang tahu kombinasi angkanya. Dan di dalam ruangan itu ternyata masih tersimpan rapat lukisan-lukisan kenangan berpigura emosi , perasaan hati, dan curahan jiwa yang cuma kita paham tinggi nilainya. Cieee…..
Ada lagi tentang kamar hati dari seorang sahabat yang mengirimku via email tentang renjana hatinya. Kali ini ia menyekat hatinya menjadi sebuah ruang. Mau tahu apa yang ia ungkapkan, ini dia:
Maha Suci Allah yang telah Menciptakan HATI, meskipun hanya sekeping tetapi dia adalah raja. Dalam hati Fahima terdapat ruang-ruang. Salah satu ruang itu adalah ruang yang istimewa. Tapi bukan yang teristimewa. Tapi Fahima senang dengan ruang itu. Ruang itu dipenuhinya dengan bunga-bunga yang diharapkan dapat memperindah dan menyejukkan jika Fahima lagi masuk kesana. Fahima mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak. Ruang itu dibuka awalnya kurang lebih dua tahun yang lalu. Penghuni pertamanya adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Penghuni keduanya adalah seorang laki-laki.
Pada awal tahun ini, ruangan itu ternyata bertambah penghuninya. Seorang laki-laki dan keluarganya. Sebenarnya Fahima sudah menyiapkan ruangan khusus untuk sang laki-laki itu. Meskipun ruangan itu belum dibuka, sekadar dipersiapkan. Tapi ternyata dia telah menjadi penghuni hati-hati yang lain yang tentu juga menyayanginya. Yah ruangan khusus itu gak jadi dibuka deh. Tapi insya Alloh akan terbuka dan Wallohu A’lam siapa nanti yang akan menghuninya.
Subhanalloh, aku terkagum-kagum pada metafora mereka tentang sebuah hati yang mereka miliki dan kenali lebih dalam seluk beluknya, serambinya, atau selasarnya. Ketika aku membaca pertama kali kamar hatinya azimah rahayu, terasa lebih familiar, terasa aku pernah mengenal kamar itu. Akhirnya kuteringat tentang kamar hati Fahima. (sekarang ia sudah memastikan penghuni hatinya, insya Allah untuk yang terakhir katanya).
Dan aku hampir memastikan bahwa kamar-kamar hati mereka penuh dengan bunga-bunga cinta. Betul tidak…..?
Kata Unisah: “cinta bisa menjadi api saat kau kedinginan, menjadi sepoi saat kau kegerahan, menjadi penegak disaat kau kelelahan, menjadi penuntun disaat kau kebutaan.” Sedang Fahima bilang: “Jika kamu mencintai, maka sembunyikan, jaga, dan pelihara cinta itu”.
Kalau azimah sendiri bilang apa? Waduh, sampai saat ini saya belum banyak membaca karyanya, jadi belum kutemukan definisinya. Tapi aku kira apa yang ia tulis semua karena cinta. Itulah definisinya. Dalam kesendirian kadang mempunyai kekuatan yang bisa menghasilkan karya cinta luar biasa.
Satu keyakinan utuh tentang kamar-kamar hati mereka tak semata-mata berisi cinta pure tanpa mengerti hakekatnya itu sendiri. Karena mereka pasti tahu siapa sih yang memberikan mereka cinta. Tentu Sang Maha Pemberi Cinta. Jadi semua cinta mereka itu adalah dalam rangka menaiki tahapan-tahapan cinta menuju puncak ketinggian dari cinta yakni tatayyum. Semata-mata karena-Nya. Semua untuk-Nya. Betul tidak…?(lagi-lagi AA Gym bertanya). Hingga Fahima pun mengharapkan ruangan itu kelak bisa menolongnya di akhirat kelak.Coba setinggi itukah harapan kita?
Oh ya dari tadi aku melihat kamar-kamar hati mereka dari perspektif gender. Aku jadi lupa untuk memperkenalkan isi kamar hatiku, yang kutahu hatiku ber-evolusi hanya sampai menjadi sebuah relung pada sebuah rajah cinta yang kutulis untuknya (lady semarang):

masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya

namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam

sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia

tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?

yang pasti
di sini aku masih termangu
dengan angin malam yang menjilati
relung-relung kalbuku
sedang engkau, entahlah…
(13 Mei 2003).

Coba, hanya sampai di situ saja, hanya beberapa bait, sedang Unisah sambil mengutip Sakti Wibowo sampai bilang: Lukislah Cinta.
Ah, cukuplah sampai di sini aku menerawang kamar-kamar hati. Aku bukan Pecinta (ah, masa?), maksudku aku belum bisa menggali kedalaman cinta hingga batas tertentu selayaknya mereka (azimah, unisah, fahima) gali. Tak apalah aku jadi kenek, ajun, asisten, atau apanya mereka. Tapi maaf, aku bukan pengemis cinta (maaf kang Johny, aku kutip lagi nih…).
So, two thumbs for them, for their chambers of heart.
Allohua’lam.