Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan


Setelah bertemu dengan Pak Sekti di kanwil, hari belumlah selesai. Sehabis salat Asar saya langsung mengumpulkan anggota tim Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jayapura. Saya ingin berkenalan dan menyamakan visi dengan mereka.

Waktu berjalan dengan cepat. “Nanti kita buka puasa bareng di luar, Pak,” kata Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, KPP Pratama Jayapura.

Ketika mobil ini menuju tempat makan, di menit-menit menjelang berbuka puasa, mobil melewati jembatan merah yang ikonik itu: Jembatan Youtefa-Holtekamp. Jembatan ini pernah saya kunjungi pada November 2019 silam.

Yang membuat pikiran saya terbang ke masa lalu adalah daerah setelah jembatan itu. Jalanannya membentang dekat pantai, dengan saung-saung kecil tempat orang duduk memandang laut. Ombak-ombak besar datang bergulung lalu pecah di hamparan pasir, memercikkan buih putih yang berkilau sesaat sebelum lenyap kembali.

Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu akrab, seperti membuka kembali pintu kenangan di waktu yang lain, di tempat yang berbeda: Tapaktuan. Namun, kali ini tidak dengan cahaya senja yang samar, melainkan kelabu Magrib yang sebentar lagi datang. Seringkali perjalanan membuat kita terdiam, menjadi seorang perenung, lalu lama-kelamaan menjadikan kita seorang pencerita.

Akhirnya kami sampai di Rindu Alam Papua Resto. Nama resto ini mengingatkan saya pada nama restoran di Puncak. Restoran kali ini tidak berada di ketinggian, tetapi dekat dengan pantai. Suasana resto ramai dipenuhi pengunjung. Suasananya terasa tidak seperti di Papua, seperti masih di Jakarta.

Musik khas Ramadan masa kini mengalun pelan. Di masa sekarang, saya tidak mendengar lagi lagu Ramadan khas Bimbo seperti Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Puasa, atau Sajadah Panjang. Zaman memang berganti. Pepatah Arab menyebutkan: likulli zamanin daulah wa rijaal. Setiap zaman memiliki orang-orangnya.

Ketika azan Magrib berkumandang, saya meneguk air putih sebagai pembatal puasa, sebagai buka puasa pertama dalam penugasan kali ini. Entah akan berapa Ramadan lagi dilalui di sini. Sewaktu di Tapaktuan ada tiga kali Ramadan saya lalui. Jadi ingat dulu saya sering berburu air tebu bersama Mas Sigit Indarupa di dekat Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan.

Setelah salat Magrib, saya diminta mencoba makanan khas Papua dan Maluku: papeda kuah kuning. Papeda ini terbuat dari sagu, bentuknya seperti bubur kental, transparan, dan lengket. Bagi sebagian masyarakat Papua dan Maluku, papeda menjadi sumber karbohidrat utama, posisinya setara dengan nasi di Jawa atau jagung di NTT.

Papeda terhidang di mangkuk besar dengan kuah kuning berisi potongan daging ikan tersaji di mangkuk lainnya. “Piringnya diisi kuah dulu, Pak. Baru nanti papedanya dicemplungin ke dalam kuah,” kata Mas Dhino, sopir kantor kami. Jadi kalau kita isi piringnya dengan papeda dulu, pasti papedanya akan lengket di dasar piring.

Cara mengambil papedanya juga tidak sembarangan. Sendok dan garpu harus disatukan, lalu diputar perlahan di dalam mangkuk papeda. Dari situ papeda akan ikut tergulung, melilit di antara keduanya. Setelah cukup terkumpul, barulah papeda diangkat, memanjang dan kenyal, lalu dicemplungkan ke dalam kuah di piring.

Inilah pengalaman pertama kali saya makan papeda. Papeda ini tidak ada rasanya. Kuah kuninglah yang menjadi pengaya rasa. Masyaallah. Alhamdulillahi bini‘matihi tatimmuṣ ṣaaliḥaat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan.

Nikmat sederhana itu terasa lengkap, ketika usai jamuan sederhana itu, kami kembali ke kantor untuk melaksanakan salat tarawih. Dalam perjalanan singkat menuju masjid belakang kantor, saya tersadar: ini tarawih pertama saya di Papua, di malam ke-24 Ramadan, jauh dari keluarga, tetapi tetap dalam suasana Ramadan yang sama syahdunya. Sesyahdu bacaan imam tarawih kami, tidak perlu panjang-panjang, pendek-pendek saja bacaan salatnya, tetapi sudah menyadarkan kalau saya ini sekadar budak-Nya yang tak punya daya dan kuasa.

Usai tarawih, saya kembali ke ruangan Kepala KPP Pratama Jayapura. Letaknya di lantai dua bangunan berlantai empat ini. Di sana ada kamar berukuran enam meter persegi yang di dalamnya berisi dipan, lemari baju, dan rak kecil. Malam ini saya putuskan bermalam di sini. Akan di mana tidur di malam-malam berikutnya, dipikirkan besok saja.

Dua puluh empat jam yang lalu saya masih di Jakarta, sekarang fisik saya berada di sini. Penuh aktivitas. Kini saatnya beristirahat. Besok akan ada hari baru dan harapan baru. Harapan yang tak boleh pupus.

Malam pertama di Jayapura akhirnya tiba juga. Saya memadamkan lampu, berusaha memejamkan mata, sementara sebuah kehidupan yang baru pelan-pelan mulai terbuka di hadapan saya: menjadi pemeram rindu, seperti di Tapaktuan dulu.

***

Riza Almanfaluthi
6 April 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/


Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.