Setelah melepas Bu Hanna, saya segera berganti pakaian. Sebentar lagi masuk waktu salat Jumat. Saya tidak perlu jauh-jauh mencari masjid karena ada masjid di belakang kantor. Namanya Masjid Shalahuddin. Masjid ini dibangun di masa kepemimpinan kepala kantor sebelumnya, yaitu Pak Haris FM.
Dari cerita teman-teman di sini, pendirian masjid dilatarbelakangi adanya pegawai yang sewaktu mau salat Subuh di luar sempat mengalami pemukulan. Akhirnya daripada keluar jauh-jauh cari masjid, Pak Haris FM berinisiatif mendirikan masjid di dalam kompleks perkantoran KPP Pratama Jayapura.
Pada saat pembangunannya, atap masjid juga sempat dilempari oleh orang tidak dikenal. Namun, pembangunannya tetap jalan terus. Sampai sekarang, keberadaannya membantu muslim sekitar untuk bisa beribadah secara reguler.
Benar rupanya, tidak semua masjid lahir dari rencana besar. Ada yang lahir dari rasa takut, dari langkah kaki Subuh yang terlalu jauh, dan dari keinginan sederhana untuk pulang dengan selamat setelah sujud.
Ketika azan Jumat pertama berkumandang, saya segera ke masjid. Biasanya kalau di Jawa, ketika azan dikumandangkan, saf-saf pertama sudah penuh. Saya terkejut, kali ini masjidnya diisi hanya segelintir orang. Saya melihat masih banyak yang belum masuk ke dalam masjid. Dan kemudian saya menyadari kalau kali ini saya sedang berdiri di tanah Papua.
Ini adalah ritual Jumat (13 Maret 2026) pertama yang saya laksanakan dalam penugasan kali ini. Ada khutbah Jumat yang nasihatnya saya camkan dalam-dalam. Khatib mengingatkan tentang Ramadan yang sudah memasuki 10 hari terakhir dan sebentar lagi usai.
Setelah salat Jumat, saya segera melapor kepada Kepala Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku (Kanwil DJP Papabarama), Pak Sekti. Kantornya tak jauh dari KPP Pratama Jayapura. Hanya 2,1 km saja. Kalau jalan kaki ke sana butuh waktu 29 menit saja.
Jadi, KPP Pratama Jayapura dan Kanwil DJP Papabarama ini terletak di Distrik Abepura, Kota Jayapura. Distrik itu setingkat kecamatan. Dua kantor ini tidak terletak di Gedung Keuangan Negara (GKN), tempat kantor Kementerian Keuangan berkumpul. Sedangkan GKN letaknya di Distrik Jayapura Utara, pusat pemerintahan Kota Jayapura sekaligus Provinsi Papua.
Saya akhirnya bertemu dengan Pak Sekti yang kemudian mengajak saya untuk room tour Kanwil DJP Papabarama. Pada saat saya melihat ruangan-ruangan itu, saya jadi teringat ketika saya mengunjungi tempat ini pada 2019 lalu. Ingat tipis-tipis saja. Saya juga bertemu dengan para kepala bidang yang dengan surat keputusan kemarin itu dimutasi, seperti Bu Reni, Pak Ariyo, dan Pak Seno. Mereka bergeser ke barat Indonesia. Saya juga menjumpai kawan-kawan yang saya kenal, salah satunya dengan Bu Evi, Account representative KPP Badan dan orang Asing, yang kini promosi menjadi kepala seksi di kanwil ini.
Pak Sekti mengajak saya ke rooftop Kanwil. Terlihat rapi dan tertata. Seperti tempat yang sengaja dibuat untuk dipotret dan dibagikan. Dan saya memang berfoto bersama dengan Pak Sekti. Di sanalah kemudian saya menyadari bahwa pemandangan Abepura dari ketinggian ternyata tidak butuh filter.
Di ketinggian itu, saya melihat Abepura seperti sebuah kota yang sedang tumbuh pelan-pelan. Tidak tergesa. Tidak riuh seperti kota besar di Jawa, tetapi ia tetaplah hidup. Konturnya hampir mirip dengan Tapaktuan, ada hamparan bukit hijau membentang. Yang membedakan, Tapaktuan terasa sangat sepi. Tapaktuan seperti kota yang beristirahat terlalu lama. Abepura tidak. Ia terasa menggeliat. Bergerak.
Di rooftop ini juga ada rumah adat Papua berbentuk kerucut berdiri megah di tengah. Bentuknya sangat mencolok bahkan bisa terlihat oleh siapa pun dari tepi jalan.
“Di sana ada tempat ngopi enak,” kata Pak Sekti menunjuk ke jalan sebelah kiri. Saya langsung berpikir apakah yang disebut oleh beliau adalah Tana Papua Coffee and Roastery. Ini yang kopinya sempat saya nikmati beberapa bulan lalu. Kopi pemberian dari seorang teman.
Saya belum tahu apakah dalam waktu dekat ini saya sempat ke sana atau tidak. Namun, di kota baru, bisa jadi yang pertama kali kita cari bukan kantor, bukan rumah dinas, melainkan tempat duduk yang tenang dan secangkir kopi yang membantu kita merasa sedikit lebih pulang.
Bukankah pada akhirnya kita semua hanyalah para pejalan yang sedang menuju satu tempat pulang yang sama?
***
Riza Almanfaluthi
29 Maret 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi
