Panggilan yang Datang Terlalu Cepat


Selesai dilantik pada Selasa (10 Maret 2026) itu, pertanyaan berikutnya adalah mulai kapan saya akan bertugas di sana? Saya belum memedulikan itu, saya masih berfokus pada penyelesaian pekerjaan di Coretax dan meneliti berkas-berkas.

Ketika saya sampai di rumah pukul 17:00, Ummi Kinan sedang duduk di teras rumah.

”Loh kok belum masuk?” tanya saya.

“Kinan tidur, dibangunkan susah. Kunci masih menggantung di pintu,” katanya.

Istri sudah menunggu hampir satu jam. Saya memencet bel berulang kali. Tidak ada respons dari dalam.

“Kita berbuka puasa di luar saja,” kata istri karena sampai menjelang azan Magrib itu Kinan tak kunjung keluar dari kamar belakang.

Kami tak perlu jauh-jauh mencari tempat berbuka puasa. Di depan kompleks perumahan begitu banyak pilihan.

Tak lama kemudian saat berbuka itu tiba dan ketika saya membuka WhatsApp ada nota dinas Sekretaris Direktorat Jenderal masuk. Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal KPP Badan dan Orang Asing, Ibu Ulfah, membaginya. Saya hanya sekilas membaca dan mendapatkan Rabu, 25 Oktober 2026 sebagai hari dan tanggal saya harus sudah berada di Jayapura. Masih lama tentunya. Saya masih bisa mudik ke Jawa.

Usai tarawih, Ummi Kinan meminta saya membaca dengan saksama nota dinas tersebut karena ada suami temannya yang juga dilantik menjadi kepala kantor sudah siap-siap akan berangkat besok.

Saya membuka nota dinas itu dan membacanya pelan-pelan. Akhirnya terkuaklah sudah. Nota dinas itu menyebutkan, Pejabat Administrator yang dilantik mendapatkan penugasan Fleksibilitas Tempat Bekerja (FTB). Mereka harus hadir secara fisik di tempat kerja baru pada Rabu, 25 Maret 2026.

Namun, ada yang dikecualikan. Pejabat Administrator yang tidak mendapatkan penugasan FTB harus hadir secara fisik pada Kamis, 12 Maret 2026. Dari 70 kantor pajak dalam daftar itu, KPP Pratama Jayapura termasuk di dalamnya. Saya sudah harus berada di Jayapura pada Kamis besok. Saya terkejut. Rabu besok saya masih harus ke kantor. Lusa saya harus sudah berada di Jayapura. Sungguh, Allah mengetahui, sedang aku tidak mengetahui apa yang ada di balik semua ini.

Benar, ketika saya sampai di kantor esok harinya (Rabu, 11 Maret 2026), masih ada berkas yang bertumpuk di meja saya. Saya segera meneliti dan menyelesaikannya. Setelah itu, saya meminta kardus kepada Pak Usup sebagai tempat barang-barang yang akan saya bawa pulang ke rumah. Barang-barang kecil milik kantor saya tinggalkan seperti pulpen, kalkulator, dan kartu e-money berisi Rp34 ribu kepunyaan pendahulu saya.

Ruangan Kepala Seksi Pelayanan ini nyaman sekali sebenarnya. Pada November 2025 lalu, ruangan Helpdesk dan Seksi Pelayanan dirombak total oleh Pak Natalius, kepala kantor kami. Ruangan saya digeser ke sebelah barat dan berdinding kaca sehingga saya leluasa memandang taman dan halaman luas.

Ruang Helpdesk dirombak bukan tanpa maksud. Pak Natalius menggarisbawahi, ini bukan sekadar wajah  KPP Badan dan Orang Asing, tetapi wajah Indonesia di mata dunia internasional. KPP Badan dan Orang Asing selama ini memang menangani wajib pajak badan usaha tetap, perwakilan negara asing, organisasi internasional, turis asing, dan para pemungut PPN PMSE seperti Google, Meta, TikTok, Netfilx, dan lain sebagainya. Hasil renovasinya enggak kaleng-kaleng. Bahkan salah satu wajib pajak sempat berkomentar bahwa Ruang Helpdesk KPP Badan dan Orang Asing kini terasa seperti ruang layanan di klinik spesialis kecantikan: bersih, rapi, dan nyaman.

Ruangan itu akan saya tinggalkan segera. Namun, masih ada agenda yang masih harus saya jalani. Saya mengunduh seluruh dokumen saya dari komputer meja dan laptop, mengembalikan laptop kepada Mas Bheni di Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, dan paling utama lagi mengembalikan mobil dinas Seksi Pelayanan. Sebelumnya saya sudah meminta Mas Deny, office boy kantor kami, untuk membawa mobil ini ke tempat cuci mobil.

Saya juga mengikuti townhall meeting secara online. Ribuan pegawai pajak mengikuti acara itu. Ada arahan secara langsung dari Direktur Jenderal Pajak dan Sekretaris Direktorat Jenderal.  Salah satu arahannya menekankan keberadaan secara fisik para Pejabat Administrator itu pada 12 Maret 2026.

Siangnya, saya mengikuti acara serah terima jabatan secara daring yang diadakan oleh Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku (Kanwil DJP Papabarama). Saya juga bertemu dengan para pengurus masjid Salahuddin Kalibata untuk berpamitan. Satu jam berikutnya saya mengikuti rapat daring bersama Kepala Kanwil DJP Papabarama, Pak Sekti Widihartanto, dengan para Pejabat Administrator yang baru dilantik. Rapat itu selesai menjelang waktu bubar kantor.

Ketika saya ke luar ruangan, teman-teman Seksi Pelayanan sudah menunggu. Saya meminta maaf kepada mereka karena rencana buka puasa bersama jadi batal. Dinamika pelantikan kemarin ini menggeser banyak rencana yang sudah kami susun. Saya juga meminta pemakluman mereka atas apa yang terjadi pada hari ini. Saya sebenarnya ingin berbicara lebih lama dan leluasa, tetapi banyak sekali yang harus saya selesaikan.

Taksi daring tiba di depan lobi KPP Badan dan Orang Asing. Saya menyalami satu per satu para PPNPN (Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri) dan Petugas Satuan Pengamanan. Doa-doa mereka saya aminkan. Seperti begitu banyak doa yang tersampaikan melalui pesan WhatsApp. Doa-doa yang belum sempat saya respons satu per satu. Doa-doa yang begitu berharga. Doa-doa yang saya tak mengetahui dari siapa Allah akan mengabulkannya.

Pengandar mobil daring itu salah jalan. Dia melewati jalanan Pejaten-Warung Buncit-Ragunan yang begitu padat. Biasanya saya tidak melewati jalan itu. Enggak apa-apalah. Saya tidak mengarahkannya karena saya langsung memasang mode tidur ketika masuk mobil.

Azan Magrib berkumandang pada saat mobil masih berada di Jalan Simatupang. Mobil masih belum masuk jalan tol JORR. Alhamdulillah, puasa hari ke-21 berhasil dijalankan. Saya membuka kantong takjil yang sempat saya bawa dari kantor. Saya mengambil air minum berpemanis dan menyerahkan segala makanannya kepada Pak Sopir.

”Loh kok diberikan semuanya kepada saya, Pak?” tanya Pak Sopir.

”Enggak apa-apa, Pak. Saya minum saja,” kata saya. Kami mengobrol apa saja.

Saat mobil akhirnya masuk ke jalan tol JORR dan langit Jakarta mulai gelap sepenuhnya, saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi penting: sering kali kita tidak diberi waktu untuk benar-benar siap sebelum berangkat. Kita hanya diberi kesempatan untuk berangkat.

Hari itu saya meninggalkan sebuah ruangan berkaca yang nyaman, rekan-rekan kerja yang hangat, dan rutinitas yang sudah akrab. Besoknya saya harus berdiri di tempat baru, di kota yang jauh, dengan tanggung jawab yang berbeda.

Barangkali beginilah cara Allah mengajarkan bahwa tugas tidak selalu menunggu kesiapan kita. Justru kitalah yang harus belajar siap ketika tugas itu datang.

Dan pada azan Magrib di Jalan Simatupang sore itu, saya memahami satu hal: perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat kerja. Ini adalah panggilan untuk melangkah lebih jauh dari yang pernah saya rencanakan sendiri.

Dulu saya pernah di ujung barat Indonesia, kali ini saya di ujung timur Indonesia. Benar-benar kafah.

 

***
Riza Almanfaluthi
23 Maret 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan.
Foto sekadar ilustrasi buatan akal imitasi.
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.