Hari Ketika Saya Tidak Tahu Apa yang Sedang Terjadi


Pesawat Batik Air terbang meninggalkan landasan Bandara Soekarno Hatta pada dini hari pukul 00.45, tepatnya pada Jumat 13 Maret 2026. Pesawat ini hanya diisi sekitar tiga puluhan orang. Kursi penumpang banyak yang kosong. Dua kursi di samping saya juga kosong. Sebelum terbang, pramugari meminta kesediaan saya pindah ke kursi darurat.

Saya membawa roti dan air minum yang saya siapkan untuk sahur. Saya sempat bertanya kepada pramugari apakah pilot atau awak kabin akan mengumumkan waktu sahur dan salat Subuh. Ia mengiyakan. Sampai di sini saya sudah cukup tenang.

Saya memakai jaket tebal merah untuk mengusir dingin. Saya sudah punya pengalaman banyak saat bertugas di Tapaktuan, Aceh Selatan. Jaket sudah menjadi keharusan kalau hendak terbang malam. Namun, kali ini ada yang tidak bisa saya antisipasi. Walau sudah memakai kaus kaki, hawa dingin begitu erat membalut kaki. Tak mau terlepas. Seperti ingatan saya dalam dua—tiga hari belakangan ini.

Senin malam (9 Maret 2026) itu berbeda dengan malam Ramadan lainnya. Saya merasa lelah dan ingin cepat tidur. Ponsel sudah tidak punya daya dan saya mencolokkannya ke dalam pengisi daya. Ketika merasa cukup, saya bangun bertepatan dengan waktu sahur, salat Subuh di Masjid, mandi, dan langsung menyalakan mesin mobil. Saat saya mengambil ponsel, barulah saya tahu kalau pengisi daya itu tidak terpasang dengan benar. Ponsel itu tetap mati. Saya mencoba mengisi daya di dalam mobil. Saya berangkat ke kantor pukul 05:30.

Ketika sampai di lampu merah pertigaan Kalibata, listrik sudah memberikan tenaga. Ponsel telah mampu menyala. Saya membuka WhatsApp. Ada pesan masuk dari seorang teman pada pukul 04:04: “Assalamu’alaikum. Dapat undangan pelantikan?”

Saya membatin. Pelantikan? Pelantikan apa? Saya langsung membalas pesan itu: “Wa’alaikumussalam wr. wb. Enggak Ustadz.” Wah sepertinya akan ada pelantikan pejabat eselon di Kementerian Keuangan. Saya kemudian melanjutkan hidup dan tidak berusaha mencari informasi apa pun.

Mobil sudah sampai di parkiran Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asing pukul 06:20. Saat memasuki ruang Helpdesk yang ciamik dipandang mata, saya tiba-tiba ingin memvideokannya. Saya keluar pintu lagi, menyalakan kamera, dan merekam ruang Helpdesk sampai ke ruangan saya.

Saya membuka tas, mengeluarkan laptop, memasang kabel-kabel, dan menyusun daftar pekerjaan yang akan saya kerjakan seharian ini. Pak Usup, anggota tim saya, kemudian datang. Tidak biasanya dia lebih lambat tiba ke kantor daripada saya. Ia mendatangi ruangan saya. ”Pak, sepertinya Pak Nat pindah,” katanya. Pak Nat itu adalah panggilan akrab kepala kantor kami, Pak Natalius.

”Ada mutasi ya?” tanya saya.

“Ada, Pak,” jawabnya.

Saya membuka ponsel dan langsung membuka aplikasi WhatsApp. Ada seseorang menandai saya di grup Seksi Pelayanan. Ternyata Mbak Idah Nuraidah. ”Selamat Pak Riza Almanfaluthi semoga semakin sukses di tempat baru,” tulisnya. Ia melampirkan tangkapan layar daftar nama dan ada nama saya di dalamnya. Allahukariim …. Mak deg. Saya baru tahu. Saya membuka pesan lainnya dan memang sudah banyak pesan ucapan selamat masuk sebelum azan Subuh berkumandang. Saya benar-benar tidak tahu.

Pak Usup mengirimkan daftar nama secara lengkap dan saya baru tahu kalau saya harus mengikuti pelantikan pejabat eselon Kementerian Keuangan pada pukul 14.00 secara daring. Saya tidak membawa baju batik. Karena hari ini adalah hari Selasa, saya memakai pakaian bebas. Saya menghubungi Mas Kevin, administrator sistem kami, yang tinggal di dekat kantor. “Assalamu’alaikum, Mas. Mas ada baju batik yang bisa saya pinjam, Mas?” Ini kali kedua saya meminjam baju kepadanya. “Baik, Pak. Saya bawakan batik, Pak,” ujarnya.

Tidak lama teman-teman datang ke ruangan. Mereka memberikan ucapan selamat kepada saya atas promosi ini. Sampai detik itu saya tidak tahu saya akan ditempatkan di mana. Pak Nat datang ke ruangan Seksi Pelayanan. Ia tidak sendirian. Ada beberapa fungsional pemeriksa pajak madya yang berdasarkan pengumuman di atas ikut mutasi dari KPP Badan dan Orang Asing. Ada Pak Khasan, Bu Evi, Bu Iwink, dan Mas Fathur. Pak Nat menyalami satu per satu para pelaksana Seksi Pelayanan. Sekalian berpamitan. Ada sembilan bulan ia memimpin KPP Badan dan Orang Asing. Kini, ia akan memimpin kantor pajak lainnya.

Saya mengikuti rombongan Pak Nat menyusuri lantai demi lantai gedung KPP Badan dan Orang Asing untuk bersalam-salaman. Setelah selesai, saya kembali ke ruangan. Baru saja duduk ada telepon masuk. Bukan telepon melalui WhatsApp. Biasanya telepon seperti itu tidak saya indahkan. Saya pikir dering telepon itu dari para pemasar kartu kredit atau pinjaman. Kali ini saya mengangkatnya. Enggak tahu kenapa. Ternyata telepon bukan sembarang telepon. Telepon ini berasal dari Bagian Mutasi dan Kepangkatan, Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Jenderal Pajak. Ia menanyakan apakah saya sudah mengetahui bahwa pada pukul 14:00 nanti akan ada pelantikan yang harus saya ikuti. Saya menjawab iya.

Saya juga kembali mengecek WhatsApp dan barulah saya menyadari bahwa pada pukul 22:28, Senin malam itu, ada pesan masuk dari Bagian Mutasi dan Kepangkatan. Pesan itu menginformasikan kalau saya menjadi salah satu pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang akan dilantik secara daring. Sebuah pesan yang terlewatkan dan baru saya balas pada pukul 09:38 keesokan harinya.

’Saya akan ditempatkan di mana?’ Adalah pertanyaan yang banyak diajukan oleh teman-teman. Saya memberikan isyarat dengan gelengan kepala. Saya juga tidak tahu. Tidak ada pembisik. Tidak ada yang menelepon. Semua gelap. Seolah-olah semua sudah ditentukan, tanpa saya perlu tahu lebih dulu. Saya hanya menunggu.

Sampai kemudian, saat saya diambil baiatnya oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Bapak Heru Pambudi, kabar itu masuk. Saya ditempatkan di ….

J A Y A P U R A.

 

***
Riza Almanfaluthi
30 Ramadan 1447 H
Ini saya tulis lebih sebagai catatan pribadi atas kejadian yang tidak saya sangka sama sekali.
Foto sekadar ilustrasi buatan akal imitasi.

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
👉 https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.