Alex Honnold berhasil menaklukkan gedung pencakar langit Taipei 101 setinggi 508 meter dengan mendakinya tanpa tali pengaman pada Ahad, 25 Januari 2026. Pendaki asal Amerika Serikat itu menuntaskannya selama 90 menit dan Netflix menyiarkan peristiwa tersebut secara langsung.
Honnold berdiri di puncak dan berswafoto di sana tanpa rasa takut. Potongan video pendakiannya berseliweran di media sosial. Honnold yang mendaki, warganet yang merasa kakinya gemetar. Saya yang turut melihat video tersebut juga merasakan hal yang sama, seolah saya berada di ketinggian tersebut.
Pendakian itu merupakan prestasi kesekian kali Honnold. Pada 2017, ia menaklukkan El Capitan (Yosemite), tebing granit setinggi kurang lebih 900 meter tanpa tali pengaman juga. Perjalanan Honnold ini dibuat menjadi film dokumenter berjudul Free Solo dan berhasil memenangkan Oscar Best Documentary Feature (2019).
Pertanyaannya adalah apakah Honnold tidak mengenal rasa takut berdiri di atas ketinggian yang membuat orang kebanyakan bisa mengalami pusing, mual, dan jantung berdebar?
Seorang ahli saraf bernama Jane E Joseph pernah meneliti otak Honnold dengan mengeceknya melalui tabung MRI pada Maret 2016. Hasilnya, amigdala—pusat rasa takut—di otak Honnold memiliki aktivitas jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan orang ketika dihadapkan pada rangsangan ekstrem.
Sebenarnya, selain amigdalanya yang berbeda daripada orang lain, Honnold adalah orang yang sangat teliti, sangat fokus, sangat sabar, dan menyelesaikan sesuatu sampai tuntas. Artinya ketidaktakutannya itu bukan keberanian yang sembarangan dan tidak logis. Ketidaktakutannya bukanlah ketidaksadaran akan bahaya, tetapi kemampuan mengelola rasa takut secara rasional. Ia tahu api itu panas, tetapi mendekat dengan perhitungan, bukan dengan nekat. Ia tahu, mendaki tanpa tali itu rawan celaka, tetapi Honnold memperhitungkan semuanya. Ia riset dan menghafal rute pendakian sebelum benar-benar aksi.
SM dan Williams Syndrome
Selain Honnold, ada perempuan yang tidak mengenal rasa takut juga. Nama perempuan ini disamarkan untuk melindungi dirinya. Peneliti menyebutnya sebagai SM Patient. SM tidak mengenal kengerian kalau masuk rumah hantu, memegang ular berbisa, ditodong orang, ataupun naik roller coaster.
Berbeda dengan Honnold, ketidaktakutan SM terjadi karena kerusakan amigdala yang disebabkan penyakit Urbach Wiethe. Penyakit ini membuat otak mengeras, menyusut, dan secara bertahap menghancurkan amigdala sepenuhnya. Namun, IQ-nya tetap normal, ingatannya bagus, kemampuan berbahasa, dan persepsinya juga normal.
Efek dari kerusakan permanen amigdalanya itu, SM tidak memiliki kemampuan mendeteksi bahaya. SM juga tidak memiliki kewaspadaan ketika bertemu dengan orang asing. Kalau kita ilustrasikan, berbeda dengan Honnold, jika SM berdiri di atas gedung tinggi, SM bisa ceroboh dan jatuh dari ketinggian. Ini karena SM tidak takut sekaligus tidak tahu cara mengantisipasinya.
Hampir mirip dengan SM—pada aspek hilangnya rasa ketidaknyamanan—adalah mereka para penderita Williams Syndrome. Eric Barker dalam buku terbarunya berjudul Mengapa Kita Sering Salah Paham? menyebut para penderita Williams Syndrome ini sangat mencintai orang lain dan rasa percayanya hampir tanpa batas, tanpa kecemasan sosial sama sekali.
Sederhananya, penderita kelainan genetik ini memiliki kemampuan super dalam kebaikan, empati, dan bersosialisasi. Tidak punya rasa curiga sosial atau husnuzannya sangat kebangetan. Kalau kita sudah curiga duluan dengan orang asing, mereka hanya menganggap orang asing itu adalah teman yang belum pernah mereka temui.
Barker juga menulis, Profesor Stanford School of Medicine Robert Sapolsky menyebut para penderita Williams Syndrome ini sebagai antitesisnya sosiopat. Sosiopat memiliki akal yang baik, tetapi mereka sama sekali tidak punya kepedulian. Williams sebaliknya, kepeduliannya sangat besar, tetapi kompetensinya rendah.
Menjadi Biasa Itu Anugerah
Sosok-sosok di atas itu jika berada dalam semesta Marvel adalah mereka yang disebut sebagai X-Men. Namun, kisah ketiganya sebenarnya bukan cerita ekstrem. Mereka hanya membesarkan apa yang sehari-hari kita alami.
Versi Honnold dalam keseharian kita adalah orang yang pindah kerja setelah menghitung dana darurat, peluang, atau kemampuannya; orang yang menikah setelah mengenal pasangannya dengan jujur, bukan karena cinta buta atau nekat cinta; atau seperti orang yang berbicara di depan umum dengan tenang karena latihan, bukan karena dia kebal gugup. Jadi mereka tampak tenang bukan karena tak punya amigdala, tetapi karena takutnya telah dijinakkan, sudah diproses lebih dulu.
Sedangkan SM mengingatkan kita pada tipe orang yang mudah percaya, memasuki situasi berbahaya tanpa firasat, dan tidak janggal ketika seharusnya waspada. Ini mirip dengan orang yang menyerahkan data pribadinya kepada siapa saja, mudah dimanipulasi secara emosional, dan masuk hubungan toksik karena semua orang dianggapnya pasti baik. Jadi ketika kita menjadi manusia biasa yang mengalami rasa takut, maka takut itu sejatinya bukan musuh, tetapi alarm. Tanda yang mencegah kita jatuh dari tepi jurang.
Terakhir, terlalu baik juga berbahaya. Di dunia nyata, versi ringan dari penderita Williams Syndrome adalah mereka yang sulit menolak, yang selalu bilang iya, percaya semua orang punya niat baik, dan merasa bersalah jika menjaga jarak. Padahal, kebaikan tanpa kewaspadaan adalah kerentanan. Di titik ini ujaran Sapolsky tepat: Williams Syndrome adalah kebalikan dari sosiopat dan kita sadari keduanya sama-sama tidak ideal.
Lalu sampailah kita di titik sehat manusia. Kita bukanlah ketiganya. Kita adalah manusia biasa, yang merasa takut lalu berpikir; memiliki kecurigaan, tetapi tidak sinis; empatik, tetapi punya batas; dan berani, tetapi tidak ceroboh. Kalau kita bungkus berarti berani secukupnya, percaya secukupnya, dan takut secukupnya. Meletakkan ketiganya dalam ruang waktu yang tepat.
Kita bukan manusia super, bukan pula X-Men, kita manusia biasa yang selalu bertanya: “Apakah kita sudah berpikir sebelum melangkah atau baru menyesal setelah jatuh?”
***
Riza Almanfaluthi
1 Februari 2026
Foto milik Netflix
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi
