HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?


HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?

 

Tidak terlalu lama setelah menghitung betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya dan betapa bedanya saya dengan manusia mulia yang bernama Ayub itu, Allah benar-benar memberikan rasa sakit itu kepada saya.

    Senin malam saya merasakan sesuatu yang kembali sering mendera beberapa bulan terakhir ini. Ada yang bergolak di lambung. Seperti sayatan pisau yang menghunjam di dinding-dindingnya. Saya paksakan untuk tidur berharap agar di pagi harinya rasa sakit itu hilang.

    Ternyata tidak. Tetapi saya memaksakan untuk tetap berangkat ke kantor. Nanti sampai di sana, sebelum berangkat ke Pengadilan Pajak, saya pergi dulu ke klinik untuk memeriksakannya ke dokter jaga dan meminta obat.

    Tetapi obat itu masih belum mampu untuk segera menghilangkan rasa sakit yang semakin menggila. Saya angkat tangan. Saya minta izin untuk pulang. Perjalanan dari stasiun Gambir sampai Citayam benar-benar sebuah perjalanan yang terasa lama sekali. Berdiri setengah limbung dengan mual dan rasa ingin muntah yang menghebat. Tapi saya bertahan agar tidak ada cairan yang keluar yang akan menghebohkan satu gerbong kereta itu.

    Sampai di rumah terbuanglah segalanya dan setelah itu meringkuk dengan merapatkan lutut ke dada menjadi salah satu cara untuk dapat meringankan rasa sakit, walaupun ternyata tak berefek sama sekali. Otomatis selasa siang itu sampai pagi rabu menjadi hari dan malam yang tidak bisa membuat mata terpejam.

    Rabu siang saya tidak tahan. Saya pergi ke dokter yang saya pernah kunjungi dua bulan sebelumnya dan Alhamdulillah obatnya mampu menghilangkan sakit itu. Tetapi ternyata dia angkat tangan juga kali ini. “Ini sudah tidak bisa ditangani lagi. Jangan sampai menunggu sore atau malam, segera pergi ke rumah sakit,” katanya. Saya terperanjat. Seumur hidup saya tidak pernah sakit dan dirawat di rumah sakit. Apakah ini sudah saatnya?

    Sorenya saat istri pulang cepat mendengar berita ini, kami segera pergi ke rumah sakit yang dulu pernah merawat bapak. Ternyata selama hampir satu jam, saya tidak ditangani segera di UGD karena kamar yang penuh dan biaya administrasi yang harus dipenuhi sebesar belasan juta dalam waktu sesegera mungkin. Apalagi sudah divonis operasi karena perut yang sudah tegang. Saya putuskan pindah penanganan ke rumah sakit yang lain.

    RSUD Pasar Rebo menjadi pilihan. Jam setengah delapan malam kami tiba di sana. Dan tanpa basa-basi langsung ditangani. Dicek tensi, diajak dialog oleh dokter muda untuk didiagnosa penyakitnya, diambil darahnya, diberi obat melalui (maaf) dubur, diberikan cairan infus, dimasukkan selang ke lambung (NGT), dirontgen abdomen, dan kesimpulannya adalah suspect ileus. Penyumbatan usus.

    Besoknya, hari kamis, saya diambil darahnya kembali, di USG, dan dirontgen pada bagian dada. Diagnosa terakhir dari dokter adalah saya mengalami dispepsia tetapi tidak perlu dioperasi. Pengertian dispepsia lebih tepatnya bisa dicari di google. Tapi dalam bahasa awamnya adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan rasa sakit di sekitar perut, mual, kembung, bersendawa, tidak bisa buang air besar, atau buang angin.

    Saya harus puasa. Cairan yang keluar dari lambung awalnya berwarna oranye, setelahnya hijau bercampur warna hitam, dan pada jum’at pagi sudah berwarna putih. Ini berarti lambung sudah mulai beranjak membaik walau kerja usus masih belum terlihat karena tidak adanya bising usus. Tetapi saya sudah diperbolehkan minum dan makan.

Benar-benar dah. Sejak rabu sore sampai jum’at pagi, saya tidak diperbolehkan makan dan minum. Itu membuat saya merasakan betapa nikmatnya kalau saya bisa minum satu gelas air putih dan memasukkan satu suap nasi ke dalam mulut.

Inilah yang membuat sejarah. Apa? Karena pada hari jum’at (15/6) siang saya merasakan ternyata buah melon itu enak sekali. Saya memang tidak suka semua buah sedari kecil.Saya selalu merasa jijik kalau melihat buah. Terkecuali apel yang mulai belajar memakannya sejak tahun 1997. Itu pun makannya harus di rumah karena kebersihannya terjamin. Enaknya melon yang selama ini dirasa hanya melalui ekstraknya dalam minuman, sekarang bisa dinikmati langsung oleh mulut saya. Sorenya saya diberi pepaya. Dan syukurnya pula saya dapat menelan buah itu.

Memang disadari hal terbesar yang mendorong saya untuk memakan sesuatu yang tidak saya suka dalam hidup saya itu dikarenakan lapar dan keinginan agar bisa buang air besar dengan lancar. Dan untuk saat ini cukup tiga jenis buah dulu itu yang bisa masuk dalam pencernaan saya tanpa saya harus memuntahkannya kembali. Dengan berharap di suatu masa akan bertambah pula perbendaharaan jenis buah yang bisa saya makan. Untuk kesehatan. Semata-mata. Tetapi pertanyaan yang mengganjal adalah apakah harus sakit dulu agar bisa makan buah? Tentu tidak ah.

Selasa di pekan selanjutnya, saya minta pulang kepada dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksa saya walau masih ada sedikit rasa sakit dan kembung, tetapi bising ususnya sudah terdengar. Dokter mengizinkan.

Enam hari sudah saya berada di rumah sakit. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Yang paling utama adalah sakit membuat ibadah tidak bisa optimal. Tidak bisa kerja. Tidak bisa berbuat apa-apa. Pantesan banyak ustadz bilang kalau nikmat sehat itu nikmat Allah yang berharga sekali.

Hal lainnya adalah saya harus mengubah pola hidup terutama pola makan. Pedas-pedas adalah hal pertama yang harus disingkirkan. Karena selama ini kalau makan tanpa sambal pedas itu seperti makan sayur tanpa garam.

Dan saya ingat betul, kalau maag saya sedang mampir, maka dapat dipastikan kalau selama satu minggu ke belakang itu saya tidak bisa menjaga apa yang dimakan. Pedasnya gila-gilaan, makan bebek pedas, pecel lele pedas, mi rebus dengan saus pedas, gorengan dan plus sambal kacang pedas, dan lain-lainnya. Sekarang semua itu harus ditinggalkan. Bisakah saya bertahan? Insya Allah.

Dan yang kedua saya kudu bisa menjaga jadwal dan ritme makan saya agar tidak telat makan. Kata dokter sih bilang kalau makan jangan banyak-banyak melainkan sedikit-sedikit tetapi sering.

Sekarang saya juga harus pilih-pilih makanan. Pertanyaannya sederhana, “baikkah ini buat lambung saya?” Pokoknya bahan makanan yang mengandung gas dan asam juga perlu dijauhi seperti brokoli, kol, sawi, permen karet, gorengan, cokelat, lemak, susu full cream, masakan dengan bumbu yang menyengat, durian dan nangka (ini mah memang dari dulu enggak doyan), minuman yang bersoda, kopi, saus pempek dan martabak.

Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga nikmat makan yang Allah cabut dari saya. Sedih juga. Tapi tak apa-apalah. Yang terpenting Allah ganti dengan nikmat yang lain dan jangan sampai nikmat rasa kasih sayang, rahmat, dan keberkahan Allah yang dicabut dari saya. Dunia dan akhirat. Semoga tidak.

Terima kasih kepada teman dan saudara yang telah menjenguk atau mendoakan kesembuhan buat saya. Semoga Allah memberikan banyak keberkahan kepada Anda semua.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

04.42 30 Juni 2012

Gambar dari sini.

Tags: rsud pasar rebo, ngt, makanan yang dijauhi saat maag, lambung, maag, dispepsia,

    
 

    

    

SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU


SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU

 

Islamedia Jum’at, pada sebuah khutbah yang membuat air mata jatuh. Paradok dengan sengatan matahari yang menggigit karena saya kebagian tempat di bagian luar masjid. Terkisahkan kembali cerita yang menjadi abadi dan teramat sangat bagus untuk dibagi kepada semua. Cerita itu sudah saya dengar sejak dari kecil tapi seperti baru ketika disampaikan sang khothib.

Ada seorang manusia yang kaya raya, hidupnya bahagia dan tenteram, dengan anak-anak dan istrinya yang taat kepada Tuhannya. Sudah tajir sholeh lagi. Dan Allah mengujinya satu persatu dengan berbagai musibah, akankah ia tetap taat dalam keimanannya?

Bagaimana Allah uji manusia baik dan selalu bersyukur itu? Pertama, Allah cabut kekayaannya. Kalau zaman sekarang mah mulai harta berupa hp, mobil, emas, rumah mewah, kebun sawit, peternakan kuda, dan saham-sahamnya ludes enggak karuan. Bangkrut semua bisnisnya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kedua, Allah uji iman manusia itu dengan mengambil jiwa semua anak yang dicintainya. Coba bayangkan satu anak kita yang sedang lucu-lucunya, yang sedang tumbuh-tumbuhnya diambil kembali oleh Allah. Kita sudah sedih bukan main rasanya. Tapi manusia ini diuji imannya dengan diambil seluruh anak-anaknya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Ketiga, tidak berhenti sampai di situ Allah uji kembali manusia itu dengan mengambil kesehatannya. Tiada yang sehat seluruh anggota tubuhnya melainkan hati dan lisannya. Sampai-sampai semua keluarganya menjauh karena takut tertulari. Bahkan istrinya yang sehat pun dikucilkan pula. Lengkap sudah penderitaan manusia ini. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Jiwanya tidak terguncang. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kekayaannya dicabut, dimiskinkan permanen. Anak-anaknya dimatikan. Dan tubuhnya disakitkan selama 18 tahun. Kalau saja manusia itu adalah saya, tak tahulah apa yang terjadi. Tapi sungguh cerita ini menjadi keteladanan bagi umat manusia yang beriman. Dan manusia itu adalah Ayub As.

Sabtu, pada suatu dhuha yang hangat, dengan mengendarai mobil menyusuri jalanan lengang komplek Pemda Cibinong, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya saya mencoba menghitung kembali nikmat yang saya rasakan. Alhamdulillah sehat, alhamdulillah dengan istri dan anak-anak yang masih lengkap, alhamdulillah juga masih bisa ibadah walau sedikit, alhamdulillah masih diberikan ketenangan. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Ahad, pada suatu petang, handphone itu tak ada di saku. Saya panik dan segera mencarinya. Jantung berdegup kencang tak seperti genderang perang. Saya segera mengingat-ingat tempat yang baru dilewati. Di tempat parkir barusan? Di musholla? Di sepanjang koridor menuju ruang utama? Di tempat makan? Atau di mana?

Alamaak!! Hp yang satunya ketiadaan pulsa. Niatnya untuk ngebel hp yang hilang itu dan ini berarti saya harus pinjam hp teman. Sedangkan teman-teman pada jam menjelang isya ini kebanyakan sudah kumpul di ruangan utama. Bergegas saya ke sana. Menemui teman dan meminjam hpnya. Belum juga dering kedua berbunyi mata saya tertumbuk pada sebuah meja makan. Dan benda warna hitam itu masih anteng di sana. Pfffhtt…

Hp saya itu hp China. Jadul. Masih pakai tombol untuk pencet nomornya. Tidak touchscreen. Sudah bulukan. Itu pun dikasih sama teman. Enggak tahu apa masih laku kalau dijual. Nomornya pun bukan nomor cantik atau yang sudah diketahui banyak teman. Tapi itu saja sudah membuat saya seperti kehilangan sesuatu yang paling berarti, seperti kehilangan seluruh harta benda. Seperti enggak ikhlas. Ck…ck…ck… Ini tanda-tanda apa yah? Cinta dunia? Bisa jadi. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Dua tahun yang lalu di awal Juni, api membakar dan menghancurkan bagian atas rumah saya. Mengingat itu saya teringat perkataan Ishaq yang dikutip Aidh Al Qarni, “Barangkali Allah akan menguji seorang hamba dengan suatu malapetaka, tetapi kemudian menyelamatkannya dari kehancuran. Oleh sebab itu, sebenarnya malapetaka bisa menjadi karunia.” Insya Allah waktu itu saya mampu untuk tegar.

Saya memang bukan Ayub tapi berusaha untuk menjadi Ayub yang mampu menghadapi semua perusak kenikmatan dunia itu. Petaka lalu setidaknya memberikan banyak pelajaran kalau harta yang hampir hilang sebatas hp itu seharusnya tak membuat perhatian teralihkan dari mengingat Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong untuk segala urusan. Kali ini saya tak setegar waktu itu, Yaa Rabb…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Twitter: @rizaalmanfaluth

dedaunan di ranting cemara

03 Juni 2012

Sumber gambar: diambil dari Islamedia

Tags: ayub, pemda cibinong