A Comme Amour


25.5.2005 – A Comme Amour

Tanggal merah memang menyenangkan. Di sana adalah saat untuk melepas penat setelah hari-hari melelahkan. Di sana pula lah saatnya merasakan kembali hangatnya selimut dan empuknya ranjang orang-orang metropolis sebagai pengganti kasur dulu.
Namun bagi sebagian orang, tanggal itu adalah kesempatan untuk merenda hari-harinya dengan mengajak orang-orang dan tetangga-tetangganya menuju kebaikan. Dengan mengisi majelis-majelis dan pertemuan-pertemuan yang membuat para malaikat merubung di atasnya. Namun ada pula tanggal merah adalah saatnya melanjutkan kerusakan-kerusakan di muka bumi-Nya, na’udzubillah.
Bagi saya, hari libur kemarin adalah saatnya untuk meneruskan kembali pekerjaan rumah yang terbengkalai kemarin. Mengecat pagar rumah. Yah…, pagar rumah saya yang sudah lama termakan karat, akhirnya bisa juga dicat kembali. Dengan mengecatnya maka terasa seperti baru. Ada yang indah di depan mata. Walaupun masih amatiran.
Ohya bentuk pagar saya tanpa ada mata pisaunya di atasnya loh. Menurut saya, pagar bermata tombak seperti itu, menandakan penghuninya merasa “paranoya gitju loh…”. Seperti terpenjara, sehingga perlu diamankan oleh benda semacam itu. Bahkan menurut saya, sepertinya mata tombak itu berteriak dengan nada mengancam kepada setiap orang luar. Iya sih, dulu ada rasa trauma juga dengan adanya mata tombak di setiap ujung pagar. Pernah di kampung saya ada pencuri buah Jambu Merah jatuh terpeleset dari atas pohon dan langsung tertancap di pagar itu. Tubuhnya tertusuk mata tombak. Jadi bagi saya, nggak usahlah pakai pagar dengan motif seperti itu.
Hari libur, juga saatnya untuk memperbaiki speaker masjid, yang bunyinya kurang kencang. Kini setelah diperbaiki, suaranya menggelegar tak kalah dengan speaker mushola kampung sebelah. Kini tidak ada alasan bagi saya dan tetangga-tetangga sekitar Masjid Al-Ikhwan untuk tidak sholat berjama’ah terutama sholat shubuh di Masjid.
Kumandang adzan ashar begitu syahdu kudengar. Saya lihat sebuah keluarga kecil dengan dua anak mengendarai sepeda motor berhenti di depan masjid ketika adzan terdengar. Dan mereka berlalu ketika usai. Setidaknya saya terharu kepada mereka, saya saja terkadang masih cuek beybeh, sedangkan mereka masih sempat menghentikan perjalanan mereka untuk mendengarkan adzan, walaupun mereka tidak ikut sholat berjama’ah. Tapi menurut saya, perbuatan itu tergolong langka, yang sering kita dengar adalah orang berhenti melakukan aktivitas dan melakukan penghormatan ketika Bendera Merah Putih dikibarkan. Yah, setidaknya perbuatan mereka menjadi ibroh kesekian kalinya bagi saya.
Saat kutulis ini, bulan purnama menghias malam tapi tanpa bintang terlihat mata. Itu pun terangnya tak seterang malam kemarin. Namun cukuplah itu sebagai pelezat pandangan, untuk menjadi bekal yang indah terbawa mimpi. A Comme Amour…
Jadi ingat sebuah puisi yang saya tulis lama sekali… ketika dihadapan saya tergeletak kertas putih kosong dengan pena hitam di atasnya.
entah,
kan kutulis apa
hamparan hati yang tak berbatas ini
yang adanya hanya denyut
itu – itu saja
entah,
kan kutulis apa
lembaran waktu yang tak berujung ini
yang adanya hanya detak
itu – itu saja
sedangkan,
hati itu akan berkarat
dan…
waktu itu akan habis
malunya diri
tak membuat segera berbenah
entahlah…
kan kutulis apa lagi
putihnya kertas
untukmu ini…
………………………
………………………
Lalu tiba-tiba saya kembali mengulang memori dulu tentang sebuah malam:
malam taburkan bintang
di atas sekat-sekat bilik saung
tunggu…!
terdengar hanya
suara jangkerik, katak
sesekali tingkah burung hantu
tak lupa gemericik air
meramaikan sepinya malam
jatuh dari bilah bambu tertancap di tebing
dan aku hanyalah
desiran angin
senantiasa lewat
menjadi saksi
menyelinap disela-selanya,
tapi malam tetaplah malam
yang aku kan kembali setiap saat
lewati saung itu
lewati sela-selanya…
………………………………………………………….
Pffh…sudah saatnya saya akhiri saja tulisan ini. Saatnya kembali kubuat rencana untuk esok pagi. Hingga tiada yang tak bermakna. Karena shubuh nanti saya kembali segar untuk merengkuh hari-hari yang akan menjadi milikku. Dengan penuh mimpi…dengan mengenang segala kebaikan sahabat-sahabat tercinta.
Allohua’lam.
dedicated to:
1. Ibu Kunto Wulandari, jadi ingat waktu di pantai dulu;
2. Mbak Titi disepanjang ingatan antara Kelapa Dua dan Kalibata;
3. Pak Mubari, jazzy banget gitu loh…
4. Boss Binanto, kreditur pc saya;
5. Kang Asep, semoga tak mengingat lagi down payment lalu;
6. Pak Uha Indiba, kapan jadi kakap Jakartanya pak…
7. Ananda di antara rajah cintanya…
8. Ibu Nina, kapan yah saya bisa berkunjung ke tempat Ibu
9. Littlebee dan Asa, kita disini menantikan kalian berkumpul menjadi satu, tak ada yang dapat memisahkan, entah jarak atau waktu;
10. dan semua teman-teman tercinta yang tak sempat lagi kuingat ribuan kebaikannya kepada saya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik lagi.

The Black Heroes


THE BLACK HEROES: Malam sabtu kemarin, saya kembali menemukan suatu—menurut saya—tayangan bagus di salah satu stasiun swasta. Yakni tentang sebuah film yang menceritakan tentang kepahlawanan orang Afro Amerika. Film itu dibintangi oleh Denzel Washington.
Film berkisah nyata ini mengisahkan tentang seorang petinju terkenal saat itu di tahun 60’an—saat Amerika penuh hawa rasialisme, dituduh dan difitnah seorang polisi kulit putih rasialis, telah membunuh tiga orang. Dan dengan tuduhan tanpa bukti itu ia harus mendekam selama 20 tahun untuk suatu perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Dalam penjara ia menulis sebuah buku otobiografinya dengan judul: The 16th Round: From No. 1 to No. 45472.
Kemudian buku tersebut menginspirasikan suatu keluarga untuk membantunya. Dan pada akhirnya dengan upaya keras luar biasa dari keluarga tersebut, Rubin “Hurricane” Carter dapat menghirup kebebasan yang selalu diimpi-impikannya.
Terus terang saja film itu sedikit banyak memberikan suatu paradigma lain tentang kepahlawanan kulit hitam. Seorang Spike Lee (sutradara hitam) sampai mengatakan bahwa untuk membuat tentang kepahlawanan orang hitam harus dibuat oleh orang hitam. Ia berkata demikian ketika Norman Jewinson seorang kulit putih ingin menyutradarai Denzel Washington dalam film Malcom X (1992). Di sini Washington mendapat nominasi Oscar Aktor Terbaik Namun tujuh tahun kemudian Jewinson mendapat kesempatan untuk menyutradarai Washington dalam film pahlawan kulit hitam: Rubin “Hurricane” Carter. Dengan peran ini Washington memperoleh Golden Globe.
Seringkali bagi saya, kalau melihat tontonan Hollywood, selalu yang saya cari adalah bintang utama yang diperankan oleh seorang kulit hitam. Sepertinya itu memuaskan hasrat saya tentang ketidakadilan yang menimpa mereka selama berabad-abad melalui jalur perbudakan di Afrika Barat seperti Mali, Senegal, sampai ke Sungai Mississippi Alabama.
Seperti juga dalam film yang dibintangi oleh Samuel Jackson, yang diadaptasi dari sebuah novel terkenal (judul film dan buku tersebut saya lupa). Ia memerankan seorang ayah yang harus berhadapan dengan hukuman mati karena telah membunuh ketiga orang kulit putih yang dibebaskan dari pengadilan, dimana tiga orang itu telah memperkosa dan menyiksa anaknya yang masih kecil. Kalau tidak salah Jackson juga memperoleh nominasi Oscar.
Ada lagi film televisi dan ini pun kisah nyata, tentang serombongan kulit hitam dari Afrika yang menumpang secara gelap sebuah kapal kargo Eropa, pada akhirnya mereka ditemukan, dibantai habis dan mayat-mayat mereka dibuang ke laut. Satu dari mereka lolos dan dikejar di dalam kapal tersebut. Dengan segala upaya untuk mempertahankan hidup ia berjuang dengan keras sampai polisi pelabuhan Perancis menemukannya. Sayangnya lagi-lagi saya lupa judul filmnya. Sampai saat ini orangnya masih hidup.
Ada lagi tentang pahlawan hitam berlatar belakang pembantaian di Rwanda judulnya HOTEL RWANDA. Film yang dibintangi oleh Don Cheadle dan Sophie Okonedo mulanya saya anggap biasa saja namun dengan segumpal pertanyaan tentang hebatnya film ini—karena sempat menjadi nominator pemeran terbaik dalam Academy Award 2005. Sebuah kisah aksi heroik yang berbuah seabreg penghargaan, termasuk menjadi nomine Academy Awards 2005.
Don Cheadle, pemeran Resesabagina dinominasikan untuk menjadi aktor terbaik. Ia harus bersaing dengan Jamie Foxx (dalam film Ray), Johnny Depp (Finding Neverland), Leonardo DiCaprio (The Aviator), dan Clint Eastwood (Million Dollar Baby). Sementara itu, lawan mainnya, Sophie Okonedo, diunggulkan untuk kategori aktris pemeran pembantu terbaik.
Tak hanya itu, Terry George dan Keir Pearson dinominasikan untuk meraih penghargaan sebagai penulis naskah orisinal terbaik. Sayang, George tak lolos untuk kategori sutradara terbaik.
Setelah usai, akhirnya saya mengakui tentang kehebatan cerita dari film itu. Sampai saya masih tak percaya film ini sudah usai dan tak segera beranjak untuk meninggalkan televisi karena hanya ingin membaca subtitle di akhir film, sambil menikmati iringan musiknya.
Dan kepenasaran saya dengan film ini membuat saya segera meraih ensiklopedia dan surfing internet untuk mengetahui tentang Rwanda dan apa yang telah terjadi disana persis 11 tahun lampau pada tanggal 6 April 1994.
Di situs Kompas yakni Kompas Cyber Media (22 Februari 2005) diulas tentang film ini. Berikut Kisah sosok heroik yang selalu saja menarik untuk disimak. Inilah cerita yang diangkat berdasarkan kisah hidup Paul Resesabagina, seorang manajer hotel yang berhasil melindungi ratusan pengungsi dari ancaman pembantaian.
Upaya Resesabagina menyelamatkan para pengungsi kelompok etnis Tutsi mendapat perhatian luas. Dalam film itu dikisahkan pada sebuah siang yang cerah, suasana normal di Kota Rwanda berubah jadi penuh ketegangan, ketika kelompok etnis Hutu melakukan aksi turun ke jalan. Mereka meneriakkan yel-yel kebencian terhadap kelompok etnis Tutsi, yang mereka nilai telah menjadi antek kaum penjajah.
Sebagai seorang Hutu, Paul taklah terlalu risau. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sang istri, Tatiana (Sophie Okonedo), yang seorang Tutsi. Pun halnya dengan keluarga istrinya, yang kebanyakan adalah orang-orang Tutsi.
Siang berganti malam, aksi kaum Hutu semakin menjadi. Sikap anti-Tutsi pun kian hari kian bergolak, terlebih ketika ajakan kebencian itu disuarakan lewat radio-radio prorasisme.
Pada sebuah malam, suara gaduh di depan rumah mengundang keingintahuan Paul. Ternyata, perang terhadap kaum Tutsi telah dikobarkan. Razia terhadap mereka yang dituding sebagai orang-orang Tutsi mulai dilakukan. Mereka dikumpulkan. Jika ada yang ketahuan, orang itu akan dihajar bahkan, tak tanggung-tanggung, diculik lalu dihabisi.
Pemandangan tersebut benar-benar membuat Paul tak berdaya. Desakan Tatiana agar berbuat sesuatu tak digubrisnya. Maklum, para pembantai itu datang bergerombol dan menenteng senjata. Paul malah meminta istrinya untuk masuk ke dalam agar tak jadi sasaran aksi pembersihan.
Gerakan razia terhadap orang-orang Tutsi menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Ratusan orang mencari perlindungan di kawasan yang dianggap aman.
Pembersihan kelompok etnis tertentu, yang dipicu oleh rasa kecemburuan sosial, tersebut kian menggila. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Paul selepas meninggalkan tempat kerjanya sebagai manajer di sebuah hotel.
Awalnya, tak pernah ia berniat menyelamatkan orang-orang lain. Yang terpikir dalam benaknya, bagaimana istrinya bisa selamat dari incaran kaum milisi Hutu. Tapi, pikiran itu berubah ketika, setibanya ia di rumah, ia mendapati banyak tetangganya yang berasal dari kelompok etnis Tutsi menjadikan kediamannya tempat persembunyian yang aman.
Apa yang ditakutinya akhirnya datang. Sekelompok pasukan bersenjata merazia rumahnya. Paul mula-mula tak bisa berbuat banyak, ketika di rumahnya didapati banyak orang Tutsi.
Paul akhirnya putar otak. Uang sogokan menjadi jalan keluar. Keluarga dan tetangganya berhasil diselamatkannya. Mereka berhasil diungsikan ke lokasi aman, yaitu hotel tempat Paul bekerja. Hotel itu aman karena di sana menginap sejumlah turis asing yang dilindungi oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kepahlawanan Paul mulai disodorkan di bagian ini. Ia datang bak superhero, meski ia bukan Superman atau Spider-Man. Apa yang dilakukannya tak kalah hebat dengan tokoh-tokoh penyelamat rekaan itu. Namun, hal tersebut tentunya tidak selalu berjalan mulus. Ia nyaris putus asa ketika pasukan PBB malah meninggalkannya bersama orang-orang Tutsi tanpa perlindungan.
Ini sebuah kisah yang mengharu biru. Karena itulah, film bertajuk Hotel Rwanda, garapan sutradara kelahiran Belfast, Irlandia Utara, ini berhasil meraih simpati penonton, termasuk menyabet penghargaan favorit penonton di Festival Film Toronto beberapa waktu lalu.
Cerita ini memang menghadirkan simpati yang luar biasa. Resesabagina disebut-sebut telah menyelamatkan sekitar 1.000 orang penduduk Rwanda dari aksi pembantaian etnis di wilayah tersebut. Resesabagina perlu ditiru. Tak harus menunggu kejaiban menjadi Superman atau Spider-Man terlebih dahulu.

Itulah para pahlawan hitam yang berjuang dari segala bentuk rasialisme, sisa dari abad-abad lampau. Yang masih belum juga terhapuskan pada saat ini. Namun sekarang rasialisme berubah bentuk yang semula pada kulit namun juga pada ideologi yang dianut. Seorang Muslim menjadi terdakwa dengan cap terorismenya oleh negara yang mengaku penjunjung tinggi hak asasi manusia.
Inilah dunia saat ini. Namun semua itu bisa dilawan dengan hanya persatuan (ukhuwah) di antara umat ini. Akankah muncul “the back heroes’ yang tidak hanya membela warna kulit mereka tapi ideologi mereka. Layaknya Bilal-Bilal masa lalu. Sang Mu’adzin. Allohua’lam.

semboerat tempo doeloe


20.5.2005 – semboerat tempo doeloe:

tiba-tiba terbersit kilatan petir di kepalaku, mencoba mengurai kata demi kata yang lama terpendam, dalam, dalam sekali di palung hatiku. Mencoba menyapa jiwa di bumi Swarnadwipa dan di muara-muara pertempuran reptil dan ikan raksasa di timur Jawadwipa. wahai pemilik hati…. sudah lama tak kudengar kicauan ’merayu’ dari sukma-sukma kesepian perindu alam sudah lama tak kusapa tembok-tembok berlumut dari penyangga ampera dan jembatan merah penyusur waktu kini harapan membuncah dengan segumpal tanda tanya kapan lagi kicauan itu terdengar merasuk denyut-denyutku kapan lagi tembok-tembok itu bisa meratap mengajakku sambil berteriak: injak aku…injak aku, bersihkan lumut-lumut ini dariku ajak dia…ajak dia, bersamamu melihat senja turun indah dengan semburatnya ………….. ………….. Batavia, 20 Mei 2005

Kingdom of Heaven


Membaca ulasan Film Kingdom of Heaven di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005, yang baru saja saya baca dengan judul tulisan “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya kiranya dapat memberikan koreksi pada tulisan berikut ini:
“….dan seperti Abu Bakar yang menakhlukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menahlukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Hal ini bisa di baca dan dicari referensinya pada buku-buku sejarah Islam. Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 penerbit: PT Ichtiar baru Van Hoeve di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi yang sudah terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal ternyata terjadi pada sebuah majalah sekaliber Tempo.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Preambule


Blog saya di Blogspot tidak tahu mengapa tidak dapat diakses oleh saya sendiri.

Ketika saya mencarinya melalu enjin google maka yang tampak adalah blog saya

tidak dikenal. Terpaksa saya  deh saya mengubur impian saya untuk berlama-

lama di blogpsot. Saya akhirnya pindah ke wordpress. Semoga bermanfaat saja.

Dan inilah preambule saya.

Sebuah kesempatan langka untuk bisa berkecimpung disini,
yang pasti setiap waktu yang kita gunakan hendaknya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya.
mungkin bagi kita yang terhalang masalah finansial dalam pembuatan webblog di internet, disinilah kita mulai belajar membuat, menata, dan gratis lagi.
semoga usaha kecil kita disini–dengan menulis dan menulis–menjadi sebuah energi besar bagi suatu upaya perbaikan diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, bahkan negara kita. Allohua’lam