Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Bismillaahirrahmaanirraahiim.

Ikhwah fillah rahimaakumullah.

Sesungguhnya saya sudah mempersembahkan apa yang saya miliki untuk dunia saya berupa konsultasi pajak secara gratis di blog saya ini. Tetapi kemudian saya berpikir apa yang saya persembahkan untuk akhirat saya? Maka saya putuskan untuk membuat halaman ini untuk Anda yang semuanya berkisar tentang dunia tarbiyah, liqo, dan dunia dakwah lainnya.

Ini bukanlah ajang untuk sok-sokan, tentu karena saya takut amal ini menjadi debu nanti di akhirat sana. Jikalau ada permasalahan tentang dunia itu bisalah kita berbagi. Tentu juga peran saya di sini bukanlah peran sebagai seorang kyai, murabbi, atau habaib mumpuni yang bisa menjawab segala permasalahan itu dengan taktis dan penuh manfaat. Tetapi saya berusaha untuk sharing dengan pengalaman dan pengetahuan yang  ada pada diri saya.

Maaf tiada terkira bahwa di sini bukanlah ajang untuk berbantah-bantahan. Sungguh saya menjauhinya, Insya Allah dan saya  hanya akan menjelaskan secukupnya saja, bila diperlukan.

Mari kita berbagi tentang dunia dakwah ini.

Oh ya ada sebuah artikel menarik yang saya kutip dari blog: embuntarbiyah yang dikutip pula dari masalah izzat. Semoga bermanfaat.

Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan.

Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.


Pentingnya Tarbiyah

Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.

Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi pada da’I Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya ‘begitu indah’. Rabbaniyah, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu tadaruj atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu dalam Tarbiyah juga berlaku tawazun alias seimbang . Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamiin –‘memanusiakan’ manusia. Terakhir dalam tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut life education alias Tarbiyah madal hayah


Proses Tarbiyah

Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operacional.

Pendekatan idealis adalah jalan bagi pada da’i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki tiga karakter mendasar.

Pertama, sulit tapi hasilnya berkualitas.Proses tarbiyah ibarat menanam pohon jati, senantiasa harus dijaga dan diperlihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencangn. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan. Kedua, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, Asholah-nya tetap terjaga dan hammasah tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi telah yang teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak kekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Ketiga, lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan ’staying power untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. Watak perjalanan dakwah yang lamabat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (okum da’i), karena perangai yang lambar adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.

Setelah ketiga faktor idealis di atas terelisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetaka langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.

Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang paling penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader serta untuk menghindari terjadinya ”lost generation”, perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru.

Penutup

Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA., di sepertiga jazirah Arab yang selamat kader dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader batu yangkebanyakan adalah tawanan perang Riddah terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran:146)

sumber: majalah Al Izzah September 2002

Ikhwatifillah, jazaakallaah telah berbagi.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

56 thoughts on “MENGAPA HARUS TARBIYAH?

  1. Assalamualaikum akhi..
    blognya sangat mencerahkan..saya yang sempat vakum tarbiyah sangat merasakan kehampaan yang luar biasa..
    Alhamdulillah berkat teman2 setia..bisa kembali lagi ke komunitas tarbiyah..

    Like

  2. Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh
    Memang tarbiyah sangatlah penting. Bagaimana ia akan beramal dengan benar kalau tanpa proses tarbiyah. Namun bukan berarti harus masuk di kelompok Tarbiyah. Ingat beda lho antara tertarbiyah dengan Tarbiyah!

    allahu a’lam

    Like

  3. Ass,
    luv ur topic…..saya sebenarnya dah cukup lama tarbiyah, tapi ya namanya juga manusia masih banyak dosa dll. Doakan saja ya smoga saya tetap istiqomah.
    BTW saat saya mau isi alamat email saya tuk meninggalkan comment, ada email address lain yang tracknya bisa terbaca. Takutnya kalo ada orang iseng dan liat alamat2 email tsb akan disalahgunakan. Jadi kalo bisa dihilangkan saja. Soal bagaimana caranya? hooo hooo jangan tanya saya.

    WASS.

    Like

  4. ass wr wb
    dear riza almanfaluthi,

    salam kenal next saya bisa sharing di komunitas ini,dalam rangka ukhuwah islamiyah

    Jazakumullah khairan katsiran ilal liqo

    wass
    suryanto

    Like

  5. kemaren saya baru RESMI mendengar statement dalam sebuah dauroh bahwasanya JAMAAH adalah PARTAI, dan PARTAI adalah JAMAAH. konsekuensinya, setiap orang yang ikut dalam jama’ah, dia harus ikut pula dalam partai dan bertanggung jawab atau memikul amanah untuk kemenangan partai juga.

    lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana seandainya ada orang yang ikut dalam jama’ah, tapi dia belum bisa menerima PARTAI? apakah dia akan dikeluarkan dari jama’ah, ataukah dia akan mengeluarkan diri ??? mohon bantuan untuk menjawabnya.

    jazakumullah

    Like

  6. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh
    Mbak Qolbi yang semoga dimulyakan Allah. Terimakasih atas pertanyaannya.
    Satu hal saja Mbak Qolbi, karena Mbak hadir di acara tersebut seharusnya Mbak Qolbi bertanya langsung kepada pembawa materi tentang apa maksud sebenarnya dari pernyataan tersebut. Karena dari informasi pihak pertamalah kiranya kita dapat mengetahui secara valid jawaban tersebut. Tapi saya yakin karena ada sesuatu hal secara pikilogislah yang membuat Mbak tidak bertanya langsung kepadanya.
    baiklah saya kemukakan apa yagn saya ketahui.
    Bahwa intinya, partai adalah cuma sekadar sarana atau wasilah dalam berdakwah, ia bukanlah tujuan tapi sekali lagi cuma sekadar alat dakwah. Yang bisa diganti bila alat itu ternyata tidak mendukung dakwah. Sehingga kita selalu mendengar jargon seperti ini, jikalau partai ini ternyata membawa kmudharatan dakwah yang amat besar maka detik ini juga diminta untuk membubarkan partai maka kita akan bubarkan partai ini. jadipartai bukanlah sebuh tujuan.
    Seorang ulama syariah online pernah berkata memandang bahwa peluang untuk berdakwah bisa dilakukan dimana saja, termasuk politik. Sehingga bila kondisi memungkinkan, kita tidak segan untuk membuat partai politik dan memperjuangkan syariat Islam melalui parlemen. Meski tujuan kita bukan semata-mata kekuasaan.
    Hal itu tercermin dari peristiwa di Mesir ketika Ihkwan memberikan suara mereka kepada partai Wafd dengan syarat bila menang Wafd harus menegakkan syariat Islam. Sayangnya, Wafd ingkar janji dan oleh karena itu dukungan ikhwan kepada mereka dicabut.
    Jadi ketika para qiyadah sudah berijtihad untuk memakai parpol sebagai alat berdakwah maka sudah sepatutnya para jundi dari jama’ah ini untuk menaatinya. Karena perintah itu buknlah perintah untuk bermaksyiat kepada Allah. Maka ketaatan itulah syarat untuk menjaga keutuhan sebuah jama’ah. Sehingga setiap kader dakwah tetap harus bersemagnat untuk memikul amanah dakwah tersebut.
    yang saya tanyakan apakah selama ini partai mengajak kepada Qolbi untuk bermaksiat kepada Allah? Saya yakin jawabannya tidak. Maka jikalau demikian apa pula yang membebani kita untuk tidak tsiqoh dan taat kepada para qiyadah ini.Di lain pihak ada banyak orang dalam 24 jam mengajak kaumnya untuk berbuat maksiat dan tak pernah malu-malu untuk melakukan itu, kenapa kita harus malu bergabung dalam suatu jamah ketika jamaah ini menyerukan amar makruf nahi mungkar yang sudah jelas balasannya apa bagi orang-orang para penegak amar makruf nahi munkar itu. Lain soal kalau jamah ini mengajak kepada kesesatan. itu baru ditolak mentah-mentah.
    Dan pertanyaan lain apakah mendukung partai itu harus dengan ikut kampanyenya dan ikut kegiatannya? tentu tidak selalu, banyak para kader jamaah atau partai ini yang dari PNS , mereka dengan segala keterbatasan aturan yang ada tetap bisa membantu jamah ini dengan bantuan materi misalnya karena bila ikut secara langsung dengan menjadi anggota partainya, tidak diperbolehkan oleh Undang-undang. Ia tetap mendukung semua kegiatan jamaah atau partai tersebut dengan dukungan doa dan material, yang walaupun sedcara fisik atau teragn-terangan ia tidak bisa. Tetapi itu sudah cukup. karena mereka paham betul:
    SUNGGUH BEDA BALASAN YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA ORANG YANG DUDUK-DUDUK DENGAN ORANG YANG BERGERAK MEMBINA UMAT. SUNGGUH BEDA BALASAN YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENJAGA DUA MASJID SUCI DENGAN ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH.
    Beda…tentu beda…
    jadi jawaban dari pertanyaan qolbi bahwa haruskah ia ikut jamah tetapi ia tidak ikut partai? Saya jawab TIDAK HARUS secara formal. (dengan dibuktikan adanya kartu anggota) Tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menegakkan kebenaran melalui parlemen maka wasilah partai adalah pada saat ini masih dibenarkan sesuai dengan ijtihad ulama, maka membantu jamaah/partai dengan mendoakan kebaikan buat jamah, membantu dana perjuangan untuk bakti sosial, atau santunan, atau kegiatan-kegiatan lainnya maka itu semua adalah sebuah bentuk pengabdian kita pada Islam ini. DUKUNGAN SECARA INFORMAIL dari qolbi tetap diperlukan.

    Jadi tidak ada masalah (terminologi) dengan keluar atau tidaknya kita dari jamaah. Dia belum bisa menerima partai, silakan saja untuk tetap bergabung dengan jamaah dengan memberikan yang terbaik kepada jamaah dengan senantiasa hadir dalam liqo tepat waktu, menghidupkan liqa, menyolidkan anggota liqa, senantiasa membina dan dibina, Insya Allah ini adalah sebuah bentuk kontribusi nyata kepada jamaah dan Islam.

    Mengeluarkan diri dari jamaah? lebih baik tidak, karena ibaratnya kalau seekor kambing itu sendirian tidak berkumpul dengan kelompok besarnya, maka kemungkinan besar dimakan srigala lebih besar.

    Ada sebuah jawaban yang kurang lebih sama dengan saya dari seorang penulis buku Bapak Satrio Hadi Lubis tentang hal ini:
    Al hizb huwal jama’ah berarti partai adalah jama’ah. Al jama’ah huwal hizb berarti jama’ah adalah partai. Sebetulnya istilah hizb sebagai jama’ah diambil dari Al Qur’an surat Al Ma’idah (5) ayat 56, surat Al Mujaadilah (58) ayat 22, dan ayat lainnya. Hizb adalah partai, golongan atau pengikut. Dengan kata lain, istilah jama’ah sebetulnya identik dengan istilah hizb.
    Namun “hizb” dalam istilah al hizb huwal jama’ah atau al jama’ah huwal hizb bisa juga diartikan bahwa partai politik (parpol) adalah jama’ah dan jama’ah adalah partai politik (parpol). Pertanyaan adalah bisakah jama’ah yang tadinya bukan berbentuk parpol berubah menjadi berbentuk parpol? Jawabannya, tentu saja bisa. Hal ini tergantung dari ijtihad para pemimpin jama’ah tersebut. Masalah ini tak diatur secara qoth’i (pasti) dalam syar’i, sehingga ada ruang untuk berijtihad. Dalam masalah strategi dakwah yang tak diatur secara qoth’i menurut syari’at, pemimpin jama’ah berhak berijtihad (sesuai dengan kemampuannya) untuk menjadikan jama’ah berbentuk parpol, ormas (organisasi kemasyarakatan), atau OTB (Organisasi Tanpa Bentuk). Asalkan organisasi tersebut tetap komitmen kepada tujuan dan manhaj Islam.
    Para aktivis dakwah tak perlu merasa “resah” jika jama’ahnya berubah menjadi parpol, karena hal itu hanyalah wasilah (sarana) yang dirasa paling tepat oleh para pemimpin jama’ah pada saat tertentu untuk berdakwah. Mungkin saja pada saat yang lain, para pemimpin jama’ah merubah ijtihadnya dari parpol menjadi organisasi yang berbeda.
    Sebagai anggota (kader) dari sebuah jama’ah, kita perlu tsiqoh (percaya) kepada keputusan pemimpin jama’ah. Sebab jika kita tidak tsiqoh akan terjadi perpecahan dalam tubuh jama’ah yang hanya menguntungkan pihak yang tidak senang dengan soliditas jama’ah. Jikapun kita merasa keputusan merubah jama’ah menjadi parpol kurang tepat, maka keberadaan kita sebagai a’dho (anggota) jama’ah mengharuskan kita taat pada keputusan tersebut. Jikapun ternyata suatu ketika keputusan itu salah, maka kita sebagai a’dho tetap mendapatkan pahala karena taat kepada pemimpin. Pemimpinpun akan belajar dari kesalahan, sehingga lain kali keputusannya akan semakin bijaksana. Ujung-ujungnya semua pihak akan memperoleh manfaat dari pengambilan keputusan tersebut.
    Lagi pula dengan berubahnya jama’ah menjadi parpol, maka akan diperoleh berbagai keuntungan berikut :
    1. Jama’ah semakin mudah dikenal oleh masyarakat, sehingga akses dakwah bisa mengalami akselarasi (percepatan).
    2. Terhindarnya jama’ah dari fitnah karena bergerak secara syiriyah (rahasia). Dalam masa tertentu, bergerak secara rahasia dapat menimbulkan fitnah yang mempersulit jama’ah untuk mempertahankan eksistensinya.
    3. Adanya percepatan mobilitas vertikal dari yang tadinya sulit mempengaruhi lembaga-lembaga formal pemerintahan dan negara menjadi lebih mudah mempengaruhi lembaga-lembaga tersebut.
    4. Terbukanya berbagai peluang (dana, sarana, personal, dan lain-lain), yang tadinya sulit didapatkan kalau bergerak secara syiriyah.
    5. Memudahkan kerjasama dengan organisasi Islam lainnya, karena mereka mudah mengetahui siapa pemimpin jama’ah tersebut dan bagaimana cara menghubunginya.
    Adapun dampak negatif dari kemunculan jama’ah menjadi parpol juga ada, yakni sulitnya jama’ah untuk mengakses orang atau institusi tertentu yang phobi dengan parpol. Sebab parpol dalam pandangan sebagian masyarakat memiliki stigma negatif, yakni sebagai sarana memperoleh kekuasan dengan menghalalkan segala cara.
    Stigma negatif itu harus “dilawan” oleh para aktivis dakwah dengan cara membuktikan secara serius kepada masyarakat bahwa parpol (jama’ah) mereka berbeda dengan parpol-parpol lainnya. Aktivis dakwah harus membangun citra yang khas tentang parpolnya. Bahwa parpol mereka adalah parpol yang Islami, elegan, dan peduli dengan rakyat.
    Jangan malah stigma negatif masyarakat itu “menular” kepada para aktivis, sehingga mereka menjadi phobi juga dengan jama’ah karena berbentuk parpol. Hal ini berarti para aktivis dakwah tak lagi menjadi agent of change (agen perubah) yang seharusnya membentuk opini masyarakat, tapi malah mereka menjadi orang yang “termakan” oleh opini masyarakat.
    Masa depan dakwah akan suram jika para aktivis dakwah tak lagi mampu membentuk opini masyarakat. Membentuk jama’ah menjadi parpol di tengah stigma negatif masyarakat terhadap parpol dapat dijadikan sarana belajar bagi para aktivis untuk membentuk opini masyarakat. Suatu ketika, jika Allah mengijinkan jama’ah memperoleh kekuasaan lebih besar, maka para aktivis tak lagi canggung untuk membentuk opini masyarakat karena mereka sudah banyak belajar sebelumnya.

    [Selama jama’ah tetap konsisten memperjuangkan Islam, kita perlu mendukungnya. Tak peduli dengan nama apa ia bergerak]

    Ada pula link bagus untuk menambah wawasan kita.

    DEMIKIAN qolbi jawaban dari saya semoga ini bermanfaat. Untuk pula menghilangkan sebuah keraguan dari dada-dada kita.
    Allohua’lam.
    hanya Allah yang benar.
    🙂
    Wassalaamu’alaikum wr.wb.

    Like

  7. terimakasih dan jazakumullah khoiron katsiir atas jawabannya, pak riza.
    terus terang, salah satu kejelekan saya adalah malas untuk membaca buku.
    banyak teman yang menyarankan untuk membaca menuju jamaatul muslimin, risalah pergerakan, tsawabit dalam manhaj gerakan ikhwan, pilar-pilar kebangkitan ummat, dansebagainya.
    tapi lagi-lagi, belum selesai satu bahasan, sudah bnayk pertanyaan dikepala. saya cenderung lebih suka berdiskusi. bertanya…. tapi kadangkala orang2 disekeliling saya memberikan jawaban yg kurang memuaskan. pada acara tersebut, saya sudah berusaha utk menanyakan, dan jawabannya adalah : bacalah buku….
    terimakasih banyak, bapak telah membantu saYA.
    sekali lagi, syukron katsiir

    Like

  8. aq mw blg makasih ma kmu, dedaunan…
    hatiq gerimis smp nangis^_^
    hidup adl suatu proses yg luar biasa dan dakwah menjadikan hidup demikian indah
    daun,
    blogmu mbwtq kembali bersyukur mengenal tarbiyah
    dan …
    (ah malu bilang)
    semangat membina ‘n dibina
    makasih…

    Like

  9. aslm..ya saya se7 dengan pentingnya tarbiyah/ngaji. kadang berfikir, mengapa sulitnya sih menyisakan waktu mungkin hanya 2jam man per minggu untuk mengkaji sebagian kecil dari islam, bila dibandingkan dengan waktu yang kita miliki??. kita seharusnya meluangkan waktu untuk negeri yang abadi, bukan kok waktu luang kita gunakan(bs jadi kalau tidak luang malah tidak tarbiyah.red)
    , Saya ada pertanyaan, saya masih bingung, bagaimana dengan sistem pemilu yang kita lakukan selama ini?sesuai dengan salafusholih?. Karena kalau ngomong ttg pemilu akan tidak terlepas dari demokrasi, yang para ulama menganggap itu syirik.
    demikian dari saya, atas jawabannya terimakasih, Wasslm…

    Like

  10. MAS ATAU MBAK KEMBANG SAYA BERUSAHA MENGUTIP DARI ORANG YANG LEBIH BERILMU DARIAPDA SAYA UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN Mas/mbak, semoga ini mencukupi:

    Demokrasi Dalam Pandangan Syariat

    Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

    Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

    Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam.

    Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro.

    Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon.

    Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa.

    Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat.
    Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

    Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT.

    Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

    Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

    Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zali dan memubunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

    Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

    Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.

    Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

    Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

    Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

    Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam. Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku �Ad-Dimokratiyah fil Islam�. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

    Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

    Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk �mengislamisasi� wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai harus ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

    Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri

    Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa. Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam.

    Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.
    Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah :
    Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan Sunnah.

    Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

    Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

    Itu saja. Saya kutip dari syariah online.

    Like

  11. Menurut pendapat ulama yang perlu dilakukan orang islam sekarang adalah bukan hanya tarbiyah tapi tazkiyah juga. Apa artinya didiik dengan benar jika dia tidak keluar dari apa-apa yang harus di nafikan. Itu realisasi dari kalimat thoyibah yakni apa yang harus di nafi’kan dan apa yang harus ditetapkan (itsbat). Wallahu’alam.

    Like

  12. Untuk Mas Abdul Malik betul sekali apa yang Anda katakan. Apa artinya dididik dengan benar jika dia tidak keluar dari apa-apa yang harus dinafikan. Pada dasarnya tazkiyah itu adalah tahapan-tahapan dalam tarbiyah itu sendiri. Tidak hanya itu, di sana adapula tilawah Alqur’an dan Ta’liimul Minhaaj. Bila tiga tahapan tersebut dilakukan maka ia nantinya akan mendapatkan kenikmatan besar yang diberikan Allah yaitu: ilmu, izzah, alquwwah, dan alwihdah. Keempat anugerah itulah yang akan dimiliki umat Islam sebagai umat yang terbaik.
    Insya Allah demikian.
    🙂

    Like

  13. Assalamu’alaikum…
    Alhamdulillah saya menemukan blog ini. Semoga bisa menjadi awal tambahnya keberkahan untuk kita semua. Saya berterimakasih kepada Antum yang telah membuat blog ini dan memberikan banyak ilmu.
    Wassalamu’alaikum …

    Like

  14. assalamualaikum wr.wb.
    akh, kenapa saya selalu merasa butuh, namun takut untuk memulai.
    berulang kali ikut tarbiyah, tetapi selalu merasa tidak cocok dengan konsep tarbiyah itu sendiri.
    saya selalu mencoba bertanya kepada hati, apakah hati ini telah bebal untuk menerima??
    hati ini beralasan, saya tidak suka dengan yang tersurat, saya butuh yang tersirat.
    saya tidak suka ditunjukkan harus begini harus begitu,
    tetapi saya ingin dibimbing, tanpa perlu dtunjukkan.
    saya ingin diingatkan bila telah melenceng, bukan dikekang.
    wallahu ‘alam.
    mungkin kebebalan saya akh.
    jawabannya di email aja ya akh,
    semoga Allah swt membalas kebaikan akh riza.

    Like

  15. Assalamu’alaikum

    “Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam.”

    Alhamdulillah, mas Riza sudah menyadur perkataan yang jujur bahwa demokrasi itu lahir di barat = bukan produk Islam (produk Islam = apa saja yang berasal dari Allah subhanahu wata’ala, disampaikan oleh Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, baik lisan, tindakan atau sikap; dan dipahami oleh para shahabat nya).
    Jika voting yang dimaksud dilakukan oleh para shahabat, berarti info saduran mas Riza kurang lengkap . Padahal voting yang dilakukan adalah hanya oleh beberapa orang yang ber-‘ilmu atau beberapa orang yang ditunjuk (seperti pada kekuasaan Umar ibn Khaththab, ketika menunjuk 6 orang untuk merumuskan pengganti beliau, karena beliau sakit parah akibat ditikam ketika menjadi imam sholat.)
    Nah, kalo voting a la barat khan satu wilayah (negara, kabupaten, kotamadya hingga RT) memilih semua. Berarti memang benar kata di saduran nya mas Riza tersebut, bahwa demokrasi bukan produk Islam.
    Kalo begitu kemana kita akan mencari pemimpin kita. Jawabannya : lihat saja bagaimana para shahabat Rasulullah dalam berkempemimpinan. cukup khan ?

    Like

  16. wa’alaikum salam. Sudah barang tentu yang kita inginkan adalah sesuai dengan apa yang telah disyarikatnnya. Yang jadi masalah ternyata kebanyakan orang etrmasuk kita-kita ini selalu menjadikan masalah ini termasuk dalam masalah yang ijtihadiyah atau bukan. Selama gerak dakwah itu menjadi panglimanya maka Insya Allah semuanya sudah melalui mekanisme terukur dari ijtihadiyah tersebut. Maka dalam Islam bila benar ijtihadiyah tersebut ia dapat dua pahala kebaikan dan bila salah maka dapat satu kebaikan. Lalu terkadang ketika ijtihadiyah itu dilakukan maka banyak dari gerak dakwah yang lain mencela dan berusaha memusuhinya. Itulah yang ternyata masih banyak dari umat islam yang tidak mau berlapang dada. Semoga bisa dimengerti.

    Like

  17. saya suka sedih kalo ada orang yang kecewa terhadap tarbiyah lalu mengundurkan diri dari tarbiyah. saya jadi teringat kisah seorang sufi, kurang lebih ceritanya begini suatu hari seorang sufi sedang berjalan di tengah hutan, lalu dia tiba-tiba mlihat seorang kakek buta dituntun seorang anak kecil. lalu di kaget dan berkata pada Allah….,hmm…redaksinya lupa, intinya dia mempertanyakan kok bisa ada kakek tua buta dituntun anak kecil di tengah hutan, intinya dia gak tega gitu, dan Allah menjawab (entah lewat apa) intinya mah di cerita ini Allah menjawab “karena itulah kau ada di sini”. hikmahnya adalahjika ada suatu masalah dan kita menyadarinya, untuk itulah kita ada untuk menjadi orangyang mengatasi masalah itu.

    Terkait dengan tarbiyah, bila kita menyadari bahwa tarbiyah kita kering or membosankan, itu adalah lahan amal kita untuk mengubahnya. kalo kita keluar, tidak akan mengubah apa2. tapi kalo kita beruaha menjadiorang yg tampil untuk kritis, berikhtiar dengan terbuka dengan murobbi dll mungkin akan ada erubahan besar, takhanya untuk hlaqoh tapi untuk dakwah secara keseluruhan

    itninya daripada keluar mending menjadi solusi ntuk masalah yang ada pada tarbiyah agar masalh itu tidak terjadi pada orang lain…

    Like

  18. Klo saya pribadi, tarbiyah sungguh mencerahkan…Ibarat HP yang low batt, terus di caz.. kemudian full kembali.. kadang ada alasan untuk tidak menghadiri liqo.. Namun ketika sekali ga liqo-an sungguh kegersangan begitu terasa dalam dada. Dan ternyata sungguh pertemuan dengan teman2 satu liqoan aja sudah bisa untuk menyiram ruh yang gersang, karena didalamnya suasana kebersamaan dan saling mengingatkan begitu terasa…ditambah dengan pembicaraan tentang ummat dan akherat.. membuat saya bisa berdiri tegak kembali.. Doakan agar saya tetap istiqomah…Insya Alloh

    Like

  19. assalamualikum….
    kebahagian yang tak terlukiskan dalam diri ini ketika diberi kesempatan oleh allah SWT untuk dapat mengikuti terbiyah, dalam proses melengkapi hijrah..subhanallah…rasa bahagia itu tetap ada sampai sekarang….indah…menentramkan..kerinduan pada MR…ana…sanagt sayang sekali ketika kita membiyarkan kesempatan untuk bertarbiyah begitu saja…LIQO’ BUKAN SAGALA GALANYA, TAPI SEGALA GALANYA BERAWAL DARI LIQO’….selamat menikmati indahnya TARBIYAH

    Like

  20. sallam

    menanggapi tentang kecewa tarbiyah saya mengakuinya karena dalam tarbiyah di luar institusi tentu arahnya hanya untuk bimbingan jangka pendek dan isinya skematik yang justru hanya berisi tentang syari’at saja hingga saya berpikir untuk apa gunanya Qur’an yang nyata-nyata berisikan hakekat dalam tujuan penciptaan manusia ,saya berpikir betapa bodohnya muslim yang tiap hari membaca Qur’an tp tidak mengerti isinya terlebih tidak mau belajar dari para nabinya terdahulu ,baik dari penciptaan,mencari dan pengakuan kepada Rabbnya yang disembah,hingga mengerti apa yang yang diperintah dan dilarang sampai tuntunan kita untuk kembali kepada Rabbnya.Dan betapa bodohnya muslim yang hanya ikut-ikutan yang penuh dengan kemunafikan diri ,mengharap pahala,apalagi sorga yang sudah jelas Allah akan membalasnya di hari pembalasan,eeee………. lah kok melakukan ibadah mengharap sesuatu, terus dimana ikhlas/islamnya ,makanya kepada pegajar/pendakwah/guru jangan sok tahu apa lagi melebih-lebihkan tentang apa yang akan Allah berikan tentang balasan-balasan di hari akhir,hanya Allah yang MahaTahu dan sudah diwahyukan dalam Qur’an yang nyata ,ajarkan saja bagaimana mereka menemukan keimanan kepada Rabbnya dan Rosulnya dan ajarkan bagaimana menyembah Rabbnya dan mengikuti petunjuk Rabbnya dengan cara menterjemahkan Qur’an sehingga tidak sia-sia dan mereka akan mengerti dengan jelas apa tujuan diciptakan beserta alam semesta ini .Ingat beruntunglah bagi kaum yang berpikir sehingga dapat mensyukuri nikmat dunia dan tidak mengingkari hari akhir ,nikmat mana lagi yang akan kalian dustakan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Like

  21. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Kabar gembira untuk Ikhwan dan Akhwat serta para Penuntut Ilmu .
    Telah ditemukan Metode baru untuk menerjemah Alquran, hanya dalam waktu 8 jam insya Allah bisa ..!
    Metode Granada sistim 4 langkah yang ditemukan oleh Ust.Solihin Bunyamin ,Lc . Mudah dipelajari praktis dan sistematis .
    Mari kita tingkatkan kemampuan dan penguasaan bahasa Alquran khususnya , Bahasa arab Umumnya .Kunjungi kami di ,

    http://www.kamus-alquran.com

    Mohlison ( 021-60621771 / 08129194349 )

    Like

  22. Assalamu’alaikum ustad..saya ibu rumah tangga biasa yg mengurus 2 anak balita..saya ingin sekali ikut liqo…dulu sblm menikah pernah ikut slma 6 buln, dikota kelahiran saya( padang)..stlh menikah saya ikut suami kekota medan, suami pernah ikut liqo..saya tdk tau mau gabung dmn..saya menikah 2008 sampai sekarang blm ikut lagi..saya mohon bantuanya…

    Like

  23. Saya salah satu yang sempat vakum dalam tarbiyah, nah saya kendalanya oleh teman” yg sangat sibuk sekali dalam hal kerjaan. jadi itulah yang saya rasakn sekarang. saya juga terkadang merasa hati ini sepi dengan tarbiyah yg sebelumnya saya lakukan

    Liked by 1 person

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s