PORQUE TU ERES NEGRO


PORQUE TU ERES NEGRO

Waktu hari minggu kemarin (1/1), saya lihat berita di televisi tentang kerusuhan yang terjadi di Nigeria. Perang antaretnis dan agama yang dipicu oleh perebutan lahan pertanian. Dalam tayangan tersebut Presiden Nigeria berkunjung ke salah satu lokasi kerusuhan. Banyak orang yang mengerumuninya. Melihat wajah orang-orang Nigeria itu saya jadi kebayang mereka. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri.

Tak jauh-jauh memang cerita ini tentang pengalaman saya dengan mereka waktu di Tanah Suci. Orang Indonesia sering menyebut mereka orang Negro. Tapi saya enggak tega menyebut mereka seperti itu. Karena berasa SARA banget. Berasa rasis. Berasa jadi Luis Suarez yang bilang pada Patrice Evra dalam bahasa Spanyol : Porque tu eres negro (Itu karena elo negro). Untung bilangnya tidak di Bronx, New York, kalau enggak, habis itu Suarez. Jadi saya cukup menyebut mereka orang Afrika. Walau di Afrika banyak Negara yang warga mayoritasnya tak berkulit hitam seperti Mesir, Aljazair, Libya, Maroko, dan Tunisia.

Jumlah jamaah haji orang Afrika ini dominan setelah orang Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan India. Dan mukanya sama semua. Seperti saya terkadang tak bisa bedain mana orang India yang satu dengan yang lain. Mana si anak, mana si paman. Kok lagi-lagi ketemu sama orang itu. Dia lagi. Dia lagi. Padahal mereka juga kalau ngeliat kita juga sama. Elo lagi. Elo lagi. Muka lo sama bae.

Jama’ah haji dari orang kulit hitam ini juga yang saya tahu biasanya berasal dari Nigeria, Mali, Burkina Faso, Gambia, Ghana, Guinea-Bissau, Cote d’Ivoire, Sudan, Chad, dan lain-lain. Membedakan mereka dari pakaiannya yang warna-warni dan biasa ada tulisan nama negaranya. Sedangkan jangan salah kalau ada tulisan Kaduna State, Bauchi State, Gombe State, Kano State. Itu bukan nama salah satu negara di Afrika tetapi itu adalah nama negara bagian Nigeria.

Tapi terus terang saja, saya kagum kalau ngeliat orang Afrika. Apalagi kalau pas lagi make kain ihram. Bener-bener kontras. Putih dan hitamnya kelihatan mencolok. Indah dipandang mata. Lebih Surrealis daripada lukisannya Dali, lebih naturalis daripada punyanya William Blis Baker, dan lebih realis daripada gambar yang dihasilkan seorang Karl Briullov (opo meneh? kaya iya-iyao). Saya cuma bilang Subhanallah.

Yang saya lihat dari mereka adalah kesederhanaan. Mereka itu kalau pergi ke Masjidil Haram ya cuma bawa diri aja. Paling banter bawa sajadah. Sandal dan baju panjang selutut sudah pasti. Itu pun kadang enggak pake kaos dalam.

Beda banget sama orang Indonesia, termasuk saya, yang kalau mau pergi ke Haram bawaannya banyak dan ribet. Tas kecil di depan dada, tas ransel atau tas tenteng isi sajadah, minuman, jaket, biskuit, Alqur’an—padahal di Haram juga banyak. Dan juga bawa istri. Ini sudah pasti. Makanya kita sering kalah gesit sama mereka. Kita enggak mobil (baca mobail). Kita ketinggalan dari mereka, mereka ambil selangkah seperti kita ambil dua langkah. Ya iyalah secara mereka badannya gede-gede dan tinggi-tinggi.

Ngomongin anatomi mereka saya pikir ini adalah kemahaadilan Allah. Mereka dikarunia kulit item—yang kebanyakan orang pasti udah mandang enggak enak aja, jadi ngeliat-liat kulit item saya—tetapi juga diberikan kelebihan dalam bentuk yang lain. Bukannya jari mereka 14, atau kaki mereka empat. Bukan. Tetapi tubuh mereka yang, gede, tinggi, dan atletis. Kebanyakan dari mereka otot bisep dan trisepnya nongol membentuk. Kalau diliatin mungkin ada dua telor di lengannya. Perutnya mungkin juga kayak perut superhero komik Marvel, kotak-kotak—perkecualian Hulk.

2011-11-19 06.20.16

*Sedang khusyu’

Pernah saya lihat waktu thawaf, ada orang Afrika gedenya minta ampun. Sudah tinggi dua meter, gede lagi. Jadi tontonan dah dia. So, dengan kelebihan bentuk fisik mereka itu, pantas mereka hebat kalau dalam urusan mencium hajar aswad, rebutan naik bis, dan menerobos keluar lingkaran thawaf. Sampai orang-orang di sekitar kepental semua padahal cumma kesenggol dikit. Wajar, mereka berani menerobos berlawanan arah soalnya mereka kayak kereta api Argo Bromo Anggrek di waktu malam. Cool, calm, confident. Mereka tak sendirian tetapi minimal berempat sambil teriak Thariq! Thariq! Thariq! So, daripada mental lebih baik kita yang nyingkir ngasih jalan. Mangga…

Syukurnya pihak Kerajaan Arab Saudi ngerti dah sama kesulitan orang Melayu ngadepin mereka. Makanya di Mina, kita enggak digabung waktu ngelempar jumroh. Tak bisa dibayangin waktu tahun 90-an yang tempat lempar jumrahnya tak seperti sekarang yang sudah bertingkat-tingkat. Tiangnya cuma kecil, satu lantai, dan dua arah. Makanya sering kejadian tubrukan. Merekalah yang jadi pemenangnya.

Mencium hajar aswad itu susah, tapi bagi mereka gampang. Kalau dipikir-pikir dan dialami, yang susah dalam proses mencium hajar aswad adalah pada saat mau keluar setelah menciumnya. Ke kiri ada dorongan yang ngantri dari multazam. Ke kanan ada dorongan dari yang ngantri sejak di rukun Yamani. Ke belakang susah juga. Eh, ini orang Afrika gampang aja keluarnya dengan memanfaatkan gedenya tubuh mereka, atau kalau enggak gede ya mereka naik ke pundak orang di belakangnya dan berenang di atas kepala orang-orang—seperti kayak di festival rock di amrik sana—lalu lompat jumpalitan. Bebas dah.

Kebersahajaan mereka juga bisa dilihat waktu di hotel atau di Masjidil Haram. Mereka itu sepertinya enggak suka kalau siang hari ngendon di kamar. Pengennya ngumpul di luar hotel, kongkow-kongkow bersama kawan-kawannya. Ada yang tiduran sambil telentang atau tiduran dengan kepalanya ditaruh di atas satu tangan, cukur rambut dan kumis, dan makan-makan.

Memang di depan hotel mereka—kebetulan pondokan kami bersebelahan—biasanya juga banyak wanita penjual makanan khas mereka. Ada nasi putih panjang yang lembek, dicampur kuah kari, daging rendang, ayam goreng yang gede-gede, dan masih banyak yang lainnya. Yang saya suka dan doyan adalah kentang goreng dan telor dadarnya dengan membayar 5 real saja. Tetapi kalau lainnya saya enggak tega makannya. Apalagi ada yang sejenis sagu atau tepung bulat-bulat hitam dipencet-pencet sampai lunak pakai sendok sop ditambah susu di atas mangkok alumunium besar. Kayaknya kalau mereka yang makan seperti sedapnya minta ampun.

Mereka itu kalau makan gampang saja. Duduk di atas trotoar lalu makan dengan tangan. Enggak jijik enggak apa walau tempatnya kotor dan di sebelahnya ada tempat sampah yang lalatnya cuma satu tapi temannya banyak itu.

Kalau di Masjidil Haram mereka bisa tidur di mana saja. Tempat panas, tempat dingin, di jalanan, atau di pinggir toko. Kayaknya mereka addict sama yang namanya tegel keramik. Di negaranya kali enggak ada keramik, alas rumahnya tanah atau pasir merah semua. Ini bukan merendahkan tetapi bisa dicek di Google kalau tak percaya. Mereka tuh bisa tahan lama-lama di tempat yang banyak kipas anginnya atau ada AC-nya yang biasa orang Melayu sudah pada masuk angin. Mereka sudah kebal kali.

2011-11-18 15.01.58

*Tidur di mana saja

Satu kelebihan mereka juga adalah kemana-mana selalu dengan rombongan sejenisnya. Maksudnya laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Jarang campur laki-laki dan perempuan. Enggak ada tuh, atau jarang sekali terlihat, mereka gandengan tangan dengan perempuan. Enggak seperti jama’ah haji Indonesia kemana-mana runtungan (gandengan) terus, termasuk saya.

Wanita Afrika biasanya berpakaian dengan jilbab warna-warni yang panjang-panjang. Kalau shalat kakinya enggak ditutup pakai kaos kaki. Wajar demikian karena kebanyakan mazhab yang dipakai di Afrika adalah Mazhab Imam Malik. Makanya di Mekkah dan Madinah peziarah haji yang paling rapat menutup aurat adalah wanita Indonesia, karena umumnya bermazhab Imam Syafi’i yang menganggap aurat semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Suatu ketika istri saya ngobrol dengan wanita Afrika di Masjid Nabawi. Enggak tahu pakai bahasa Tarzan atau pakai bahasa Inggris. Kayaknya Inggris deh. Sampai suatu titik si wanita Afrika itu nunjuk-nunjuk mukena putih yang dipakai istri. Dia bilang tertarik dan ngebet banget sama itu mukena yang dipakai sama orang Indonesia dan Malaysia. … Di negaranya enggak ada “jilbab” seperti itu. Padahal di Tanah Abang—tempat saudara-saudaranya mangkal di Indonesia—banyak dijual mukena dengan beraneka jenis. Besoknya janjian di tempat yang sama, Istri kasih itu mukena yang satu lagi untuk dia. Senangnya…Dia suka sekali dengan warna putih kayaknya. So, surealis, naturalis, dan realis.

Mereka, laki dan perempuannya, sudah terbiasa wudhu cukup dengan seukuran satu botol air mineral, mulai dari cuci tangan sampai kaki. Makanya mereka gampang saja saat wudhu memakai air zam-zam di Masjidil Haram. Beda dengan orang Indonesia, yang negerinya berlimpah dengan air, wudhu kalau enggak dengan air banyak kayaknya kurang afdhal. Makanya kalau wudhu bikin becek saja.

Pernah suatu ketika saya melihat wanita Afrika yang berdoa dekat Maqam Ibrahim berdoa dengan suara keras, sambil berdiri, dan tangan diangkat. Tangannya digerakkan naik turun. Enggak orang Afrika enggak orang Indonesia kalau punya hajat sama Allah ya kayak gitu. Sepertinya ingin memastikan kalau dengan tangan yang digerakkan naik turun itu mereka telah doa dengan sungguh-sungguh.

Di pelataran luar Masjidil Haram kayak gitu juga. Waktu dhuha saya ketemu mereka, wanita Afrika, yang sama-sama lagi berdoa. Dengan barisan yang tidak teratur. Ada yang menghadap ke barat, timur, atau ke arah manapun. Tua muda berdoa. Yang kedengaran di telinga saya mereka bilang: abreh…abreh..abreh….Amin.

2011-11-22 08.44.30

*Mereka bukan sedang ngobrol, tapi lagi do’a. Dhuha tanggal 22 November 2011.

Suatu ketika kami sedang lihat-lihat parfum di sebuah toko. Datang lima pria Afrika. Saya sok kenal dan sok dekat langsung mengisyaratkan jempol padanya untuk satu botol parfum yang dia pegang. Terus dia tanya pada saya sambil menunjuk istri saya, “Is she your wife?” saya jawab, “Yes.” Serentak mereka tertawa ngakak. Kami juga ikut tertawa. Apalagi ada yang nyeletuk orang Indonesia yang kebetulan ada di sana kepada orang-orang Afrika itu, “Hai, Gods must be crazy. Gods must be crazy.” Kami tambah kencang ketawanya karena ingat wajah mereka seperti wajah pemeran film itu, Nixau. Mereka tertawa kami tertawa. Entah apa yang ditertawakan. Sama-sama tak tahu. Yang penting tertawa.

2011-11-22 08.35.02

*Khusyu’ berdo’a.

Sore itu, saat pulang dari melempar jumrah di hari kedua atau tanggal 12 Djulhijjah 1432 H. Rombongan kami foto-foto. Kebetulan pula kami bertiga sedang difoto oleh teman kami, eh belum juga klik, ada empat wanita Afrika, masih muda-muda, sudah ada di belakang dan di samping kami, pengen ikut difoto sambil angkat dua jari. Cheeeeees… “Where do you come from?” tanya saya. “Chad!” seru mereka. Sejak itu saya baru tahu kalau Chad itu mayoritas penduduknya adalah muslim. Satu hal lagi, enggak orang Afrika enggak orang Indonesia seneng juga narsis-narsisan difoto.

Sewaktu di Madinah, kami menemukan sedikit orang Afrika. Tak ada lagi “persaingan” orang Melayu dengan mereka. Kini orang Melayu harus “berhadapan” dengan orang-orang Asia Selatan seperti Pakistan dan India itu. Kalau dibandingkan dengan orang Pakistan dan India, orang Afrika itu tawadhu-tawadhu. Enggak banyak omong. Kalau enggak kebagian tempat di shaf, mereka cari tempat lain. Beda dengan orang Pakistan atau India yang sering maksa juga sering ngatur-ngatur. Apakah mereka ini, orang Afrika, kena sindrom inferioty complex karena bekas bangsa budak? Enggak ah. Atau enggak tahu. Beda dengan orang Turki yang malah superiority complex. Tapi nanti saja bahas orang turkinya.

‘Ala kulli hal, kami semua yang ada di sana, Melayu kek, Afrika kek, Asia kek, Eropa kek, Amerika kek sama-sama datang ke Tanah Suci untuk semata-mata mencari ridhanya Allah. Mereka semua adalah saudara saya. Haram untuk disakiti. Wajib untuk dibela. Doanya cuma satu untuk kita dan mereka: “Semoga dikumpulkan semuanya di jannahnya Allah.” Maafkan saya Bro dan Sist atas segala salah.

Amin.

***

Ini cuma satu potret kecil dari sebuah landscape yang luas. Jadi tidak mencerminkan keseluruhan sehingga langsung bisa disimpulkan dan digeneralisasikan memang sudah pasti adanya begitu. Orang lain mungkin menangkap dan memandang beda terhadap mereka. Baydewey, maafkan saya jika ada kekeliruan.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14.35 3 Januari 2012

Advertisements

JANGAN SEBATAS NIAT


JANGAN SEBATAS NIAT

Hari-hari ini saya sering ditanya oleh teman-teman dengan pertanyaan seperti ini: “Kapan berangkat? Daftarnya kapan? Sejak kapan nabung? Saya jawab semuanya. Namun kali ini saya ingin menjawab sedikit tentang dua pertanyaan terakhir itu. Tentunya dengan sebuah cerita.

Semua itu berawal sejak masuk kampus STAN tahun 1994. Sejak mengenal apa itu Islam yang tak sekadar sholat dan puasa saja. Semangat berislam tumbuh dengan penuh gelora. Yang pada suatu titik timbul adanya sebuah keinginan untuk bisa pergi haji. Tak cuma sebatas keinginan tapi sebuah kerinduan. Ya benar-benar rindu. Hingga kalau ada berita-berita tentang perjalanan haji di tv selalu saya tonton dengan semangat.

Bahkan hari Jumat selalu saya tunggu karena pada hari itu—di bulan-bulan menjelang dzulhijjah atau setelahnya—koran Republika, koran langganan di kosan, selalu ada lembaran khusus liputan haji. Foto-foto bangunan hitam dan masjidil haram selalu saya pandang lekat-lekat. Membuat saya tak sanggup untuk menahan air mata. Terburu-buru masuk kamar dan menguncinya, bersandar di pintu, jatuh terduduk sambil nangis habis-habisan. Saat itu saya benar-benar mohon pada Allah agar saya termasuk dari bagian orang-orang yang dipanggil untuk menjadi tamu-Nya. Tapi kapan? Duit dari mana? Pertanyaan yang saya sendiri tak tahu jawabannya.

Setelah itu, bertahun-tahun saya tetap terharu kalau ada liputan haji atau cerita dari saudara dan teman yang sudah pernah ke sana. Tetap dengan sebuah harap dan pertanyaan sama yang menggelayut setelahnya walau saya sudah kerja di kantor pajak. Ya, saya bahkan tak berani bermimpi untuk bisa punya mobil atau pergi haji.

Tapi Allah punya rencana lain. Modernisasi berefek adanya remunerasi. Tahun 2004 kantor saya mulai berubah mengikuti reformasi birokrasi yang sudah dicanangkan. Saya mulai berani bermimpi apa saja. Punya ini punya itu. Dan terpenting adalah bisa naik haji.

Akhirnya tibalah Oktober 2006. Saat itu bulan-bulan menjelang lebaran. Bukannya uang tabungan yang ada di bank diambil untuk bekal pulang kampung tapi kami tekadkan diri uang itu untuk membuka tabungan haji. Karena saya yakin betul menabung adalah realisasi yang paling riil dari sebuah niat. Jadi tak sekadar berhenti di niat saja. Dan saya yakin betul kalau sudah menabung Allah akan memudahkan realisasi cita-cita pergi haji ini. Seringkali saya bertanya kepada orang yang berniat haji dengan pertanyaan ini, “sudah buka tabungan haji?” Ini lagi-lagi untuk memastikan bahwa jangan sekadar niat.

Ada cerita pula kalau ada orang yang memulai menabung haji dengan satu uang logaman seratus rupiah dan berhasil naik haji. Dengan demikian jangan pernah meremehkan sedikitnya uang yang ditabungan karena pergi haji itu bukan sekadar ada uang atau tidak ada uang. Namun semata-mata karena Allah telah berkehendak pada orang yang dikehendaki-Nya. Begitu banyak orang kaya namun tidak tergerak hatinya untuk pergi haji. Dan betapa banyak orang yang tidak mampu secara finansial tetapi tiba-tiba berangkat karena mendapatkan rizki yang tidak disangka-sangka.

Karenanya setiap bulan kami paksakan untuk menabung. Walau terkadang juga ada bulan yang bolong tidak menabung karena uangnya digunakan untuk keperluan yang lain. Sampai suatu ketika di bulan November 2009 kami mantapkan untuk melunasi dana setoran awal pergi haji yang waktu itu masih sebesar Rp20 juta per jamaah. Setelah menyetor dan mendaftarkan diri baru ketahuan kalau kami akan diberangkatkan di tahun 2011. Alhamdulillah tak perlu lama. Waktu dua tahun yang ada digunakan menabung lagi untuk melunasi dana biaya haji.

Tak sekadar niat dan menabung, saya dawamkan doa ini setiap habis sholat: “Allaahummaj’alna hajjan mabrura.” Ya Allah jadikan kami haji yang mabrur. Karena saya mendengar dari seorang ustadz ada yang membiasakan diri berdoa dengan doa itu dan dalam setahun doanya terkabul. Sedang saya Insya Allah dalam dua tahun. Amin.

Dengan rentang waktu hidup yang saya jalani selama ini maka kalau dikronologiskan seperti ini:
Lahir- 1994 : Hanya tahu haji sebatas bagian dari Rukun Islam.
Tahun 1994 : Mulai ada keinginan yang luar biasa. Cinta dan rindu mulai timbul.
Tahun 2006 : Mulai menabung (tepatnya Oktober 2006).
Tahun 2009 : Melunasi biaya awal dan mendaftarkan diri untuk dapat nomor porsi (tepatnya November 2009).
Tahun 2011 : Dijadwalkan berangkat Oktober 2011. Insya Allah.

Saya berdoa semoga para pembaca juga dapat dipanggil Allah menuju tanah suci Makkah Almukarromah dan Madinah Almunawarah. Nikmati pengalaman spiritual terhebat di sana. Dan semoga menjadi haji yang mabrur.

**

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.45 – 14 Oktober 2011