RUBRIK BAHASA: Khatib dan Muazin


Setiap hari Jumat, laki-laki muslim wajib menunaikan salat Jumat di masjid. Sebelum waktu salat itu tiba, pengurus masjid akan mengumumkan beberapa pengumuman. Biasanya terkait siapa yang akan berkhotbah (khatib), siapa yang akan mengumandangkan azan (muazin), kapan waktu salat tiba, dan jumlah saldo kas masjid pekan itu.

Sayangnya, seringkali kita mendengar, pengurus masjid yang bertugas mengumumkan pengumuman itu kepleset lidah (sebut saja demikian). Kita mendengar kalimat seperti ini:
Baca Lebih Lanjut

Rubrik Bahasa: Berkelindan


Kalau malam ini Anda sedang menonton film Penumpasan Pengkhinatan G 30 S PKI maka Anda akan melihat Aidit sebagai tokoh sentral di sana.

Kalau Anda tahu, tokoh Aidit ini diperankan oleh Syu’bah Asa, wartawan majalah Tempo.

Sebagaimana kebiasaan majalah Tempo yang sering berkreasi dalam menggunakan kata-kata baru di selingkungnya, pada 1970-an, Syu’bah Asa menggunakan kata baru “berkelindan” sebagai padanan kata “saling mempengaruhi” atau “saling membelit”.

Demikian. Sebersit info.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
30 September 2019

Rubrik Bahasa: Ibukota atau Ibu Kota?


Sejak narasi pemindahan ibu kota negara marak dan diikuti pula wacana pemindahan Aparatur Sipil Negara, saya tertarik untuk mencermati berbagai siaran (broadcast) pesan yang menyebar di aplikasi percakapan.

Ada yang menggunakan kata ibukota. Kata ibu dan kota digabung menjadi satu sehingga menjadi satu kata. Ada juga yang menuliskannya secara terpisah ibu kota. Nah, yang betul bagaimana?

Baca Lebih Lanjut

Rubrik Bahasa: Progress atau Progres atau Apa?


Progress berasal dari bahasa Inggris yang memiliki makna kemajuan atau berkembang. Kamus Besar Bahasa Indonesia sebenarnya sudah menyerapnya dengan kata “progres” yang berarti kemajuan. Artinya ketika mendapatkan dan memilih kata progress  untuk pembentukan suatu kalimat maka kita lebih memilih progres tanpa perlu kata itu dimiringkan sebagai tanda istilah asing yang belum diserap oleh bahasa Indonesia.

Namun jika kita mengingat pesan dari Badan Bahasa tentang slogan berikut: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing, tentu kita selayaknya memilih kata “kemajuan” daripada “progres”.

Mengutip Ahmad Sahidah di Majalah Tempo, 10 Januari 2011: “Kegagalan menggunakan kata Indonesia dan lebih memilih menggunakan serapan kata-kata bahasa Inggris hakikatnya mencerminkan kekhawatiran banyak orang bahwa bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu dipandang tidak memadai untuk dijadikan bahasa pengetahuan.”

Kita tidak ingin, bukan?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
12 Agustus 2019