Disebut Begini Manusia yang Tidak Tahu Berterima Kasih


Semuanya kehendak Allah. Mengapa kami mengalami dua kejadian ini dalam waktu kurang dari 24 jam saja? Kami adalah manusia yang tidak mengetahui masa depan. Mengetahui satu detik di depan pun kami tidak bisa.

Jadi, pada Selasa, 10 Mei 2022 itu kami berangkat dari Semarang menuju Jakarta. Tepatnya pukul 12.00. Kami berangkat siang karena di pagi harinya kami harus menuntaskan urusan soal visa Ayyasy yang saat itu sedang dalam proses pengurusan tinggal di tahun keduanya di Berlin, Jerman.

Kami rencananya singgah dulu di Pemalang untuk mengantarkan kakak ipar menuju tempat kerjanya. Lalu mampir di Segeran, Indramayu untuk menginap di rumah Bi Idah, adik almarhumah ibu saya.

Kami tiba di Cirebon setelah Magrib. Kami makan malam dulu di Warung Nasi Jamblang Ibu Nur di Kota Cirebon. Setelah itu menuju Segeran melalui jalur sepi Cirebon—Karangampel. Sebelum ada jalan tol Cipali, Palikanci, dan Kanci sampai Semarang, jalur itu jalur favorit kami saat mudik karena sepi pemudik dan jalannya lebar.

Saya berada di belakang kemudi. Saya tidak mengebut karena tidak ada yang dikejar. Saya berusaha menjaga kecepatan mobil. Entah di daerah mana, sepertinya di daerah Kapatekan, saya sudah berada di belakang rombongan truk. Ada lima truk besar di depan saya.

Saya mencoba menyusul mereka karena memang tidak enak kalau pandangan berkendara kita terhalang sesuatu. Saya coba memperhitungkan kecepatan dan keramaian kendaraan lain. Terutama motor, becak, dan pejalan kaki yang berada di sisi kiri.

Truk pertama aman saya lewati, truk kedua juga begitu, truk ketiga dan keempat juga sama. Tidak ada masalah. Barulah ketika saya menyusul truk terakhir yang di depannya ada satu pengendara motor dan jembatan, saya menginjak pedal gas untuk meningkatkan kecepatan, dan tiba-tiba saya merasakan mobil melindas sesuatu.

Lalu ada bunyi yang aneh dan terus-menerus. Mas Haqi membuka kaca jendela sebelah kiri dan melongokkan kepalanya. “Seperti ada masalah di ban kiri belakang,” katanya.

Segera saya mencari tempat yang aman untuk menepikan mobil. Truk-truk yang sudah saya susul itu melaju dengan santai di depan kami. “Beuuuuh,” lenguh saya.

Mas Haqi turun dari mobil dan mengecek ban belakang sebelah kiri. Ya, di sana ada potongan benda yang menancap di ban dan terus-menerus mengeluarkan nitrogen dari ban. Sebentar lagi ban itu akan kempis.

Mas Haqi mengeluarkan dongkrak dan saya mengambil alat-alat dongkrak standar bawaan mobil di bawah jok. Ban serep juga ada. Alhamdulillah, lengkap. Jadi kami tidak kelabakan kalau hal ini terjadi.

Kami membuka ban serep dulu dengan kunci roda ban ukuran 21. Terus terang saja, saya sebelum mudik ini memang lupa tentang ban serep. Belum saya cek. Entah kapan saya mengisi anginnya. Sudah hitungan tahun barangkali. Saya mengecek kondisi ban serep, syukurnya masih ada anginnya.

Membuka baut ban serep itu memerlukan tenaga lebih apalagi kalau menggunakan kunci roda ban standar bawaan mobil yang bentuknya L itu. Terlalu banyak putaran. Membuka ban yang bocor juga memerlukan tenaga lebih dengan menggunakan kunci roda ban.

Bapak-bapak pengendara motor mendatangi kami. Tangan kanannya memegang kemudi motor, tangan kirinya sedang memegang anak kecil. Di belakang punggungnya ada anak kecil lainnya. “Kepriben, Mas. Bisa tah?” tanyanya dengan logat Cirebon yang kental.

“Alhamdulillah, suwun, Pak. Saged, Pak,” jawab saya dengan logat Dermayon yang lebih kental maning jeh. Ia pergi. Saya bersyukur masih ada orang baik yang datang menghampiri kami.

Keringat saya mengucur deras. Tangan juga kotor. Hitam. Namun, alhamdulillah, tenaga dua orang laki-laki dewasa ini bisa dengan segera membuka dan mengganti ban.

Saya membayangkan dua kejadian sebelum ini. Pertama, ketika di Magelang ada kakek nenek yang mengganti ban di pinggir jalan. Terbayang susahnya sang kakek. Waktu itu saya belum bisa membantu mereka. Yang kedua, di siang hari tadi, di bahu jalan tol, ada pasangan muda dengan anak-anak kecil di dalam mobil. Hanya satu lelaki dewasa yang mengganti mobil. Lagi-lagi terbayang susahnya mereka. Saya juga masih belum bisa membantu mereka waktu itu.

Ban serep sudah terpasang. Ban yang kempis kami masukkan ke dalam mobil bagian belakang bercampur dengan krupuk antor khas Kota Tegal. Kami tidak memasukkannya di tempatnya di bawah mobil karena kami akan menambalnya di SPBU terdekat.

Bismillah, kami melanjutkan perjalanan lagi.

SPBU pertama yang berada di sisi kanan jalan kami lewati karena kios nitrogennya tutup. Setelah itu ada SPBU kedua yang lebih besar. Jaraknya jauh sekali dari SPBU pertama. Di SPBU kedua ternyata tidak ada kios nitrogen. Barulah ketika kami memasuki Karangampel kami menjumpai SPBU yang lebih ramai daripada SPBU sebelumnya. Ada kios nitrogennya juga.

“Wah tambalannya dobel nih, Pak. Lubangnya besar,” kata petugas kios nitrogen. Saya iyakan saja. Mau dobel atau berapa yang penting bisa ditambal. Kami sudah bersyukur bisa menemukan kios ini di waktu-waktu kritis kios nitrogen langka dan sudah banyak yang tutup.

Saya mengamati sesuatu yang dicabut dari ban itu. Ternyata bukan pecahan keramik seperti yang disampaikan Mas Haqi. Itu benar-benar potongan plat besi tebal yang di salah satu sisinya runcing dan jelas kalau dilindas pasti potongan itu menancap di ban.

Potongan plat besi tebal yang menancap di ban dan perbandingannya dengan benda lain.

Saya meminta kepada petugas untuk mengisi lima ban mobil kami dengan nitrogen yang pas termasuk ban serep mobil ini. Tidak memakan waktu lama ban sudah ditambal. Namun, ada yang unik di sini.

“Pak, tangan saya habis patah. Jadi saya enggak bisa memasangnya,” katanya.

What?!”

Ya, sudah. Jelas tidak mungkin memintanya memasang ban itu di roda dan ban serep di tempatnya. Syukurnya, kami terbantu dengan alat-alat milik kios yang teramat praktis, sangkil, dan mangkus: dongkrak buaya kapasitas besar dan kunci baut roda silang.

Dua alat itu membuat penggantian ban dan pemasangan ban serep jadi mudah dan singkat. Dongkrak buaya itu enteng banget mengangkat mobil kami, sedangkan kunci baut silang berputar dengan cepat mengunci baut.

Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas kios nitrogen itu dengan ucapan terima kasih yang tulus dan sedalam-dalamnya lubuk hati.

Kata Kanjeng Nabi Muhammad saw., “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” Ya, Nabi Muhammad sampai menyebut begitu. 

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 21.00. Kami sudah menghela napas lega, soal ban sudah beres. Rumah Bi Idah masih 10 km lagi. Alhamdulillah.

Namun, kami tidak mengetahui bahwa setelah ini kami mengalami sesuatu kejadian. Sungguh Allah yang maha berkehendak atas segala sesuatu.

(bersambung)

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
13 Mei 2022

One thought on “Disebut Begini Manusia yang Tidak Tahu Berterima Kasih

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.