Cerita Mudik: Kapan Kita Pulang?


“Jadi kapan kita pulang?” tanya istri di hari ke-28 Ramadan 1443 H.

“Kalau nanti malam pulang sayang banget. Malam ganjil soalnya,” kata saya. “Besok pagi saja. Sehabis iktikaf. Bakda Subuh langsung gas. Enggak usah buru-buru. Kalau ngantuk, tidur di jalan.

Akhirnya setelah berkemas di malam hari dan tidak tidur setelah Subuh, pada pukul enam pagi kami berangkat dari Citayam menuju Semarang. Niatnya satu: untuk silaturahmi. Tidak ada yang lain. Bismillah.

“Sebelum berangkat kita isi bensin full dulu,” kata saya kepada Mas Haqi yang menjadi sopir dengan memakai topi pet merah kesayangannya. Bertahun-tahun ia sudah mampu menggantikan saya berada di belakang kemudi saat mudik. Dompet digital sudah diisi secukupnya semalam. Di zaman kiwari, uang maya dibutuhkan sekali untuk mengakses layanan dan tempat.

Di Cibinong kami mengisi tangki bensin. Sayangnya kios isi nitrogen tutup. Kondisi ban belum terisi angin secara optimal.

Saya melihat Google Maps. Ada jarak terbentang sepanjang 470 km sampai Semarang. Semua biru. Ada ruas berwarna merah dan kuning di dua titik saja.

Di persimpangan ruas tol Cikunir menuju Cikampek kami memilih jalan tol bawah daripada jalan tol layang Mohammed Bin Zayed. Kami ingin berhenti di Rest Area KM-19 untuk berkemih.

Di KM-50 mulai ada kemacetan. Namun, ini masih dibilang lancar karena mobil masih tetap bergerak. Sumbernya ternyata Rest Area KM-57. Setelah itu perjalanan lancar kembali. Tinggal satu titik kemacetan lagi di Tol Cipali, selepas Tol Cikampek.

Perjalanan ini terbantu dengan siaran langsung CCTV yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga di laman webnya. Saya sering mengecek laman itu untuk mengetahui kondisi jalanan.

Ya, betul. Memasuki KM-80, perjalanan mulai tersendat. Bahkan mobil kami sampai berhenti lama. Di saat menunggu itu, tiba-tiba melesat mobil-mobil berkecepatan tinggi di jalan tol sisi sebelah yang mengarah ke Jakarta.

Ternyata one way telah dibuka. Kami tidak tahu di kilometer berapa rekayasa arus mudik itu dimulai. Tentu saja kami gigit jari melihatnya. Di saat kami berhenti, ada yang dengan mudahnya melaju menuju timur Jawa.

Saya bergumam, “Kelak di yaumilhisab (hari perhitungan) akan ada kejadian seperti ini. Ada satu golongan lama mengantre untuk dihitung segala amal perbuatannya, sedangkan ada satu golongan lainnya bergerak cepat tanpa mengantre menuju surga-Nya Allah.”

Mobil kami pun bergerak maju, perlahan, tersendat-sendat sampai di ujung kemacetan yang ternyata penyebabnya adalah antrean mobil yang berpindah menuju sisi kanan jalan tol untuk mengikuti arus one way.

Karena mobil kami berada di sebelah kiri, kami tidak bisa masuk ke kanan. Ada petugas yang berjaga-jaga di sana. Akhirnya kami terus melaju di sisi kiri. Entah di kilometer berapa ada celah terbuka ke kanan, kami pun pindah jalur. Akhirnya kami merasakan one way juga.

Kami memasuki rest area di antara Cirebon dan Brebes untuk mengisi ban dengan nitrogen sekaligus menggantikan posisi Mas Haqi. Ia mengantuk. Sudah saatnya saya berada di balik kemudi.

Dari perjalanan ini saya baru tahu maksud salah satu notifikasi suara Google Maps. Di ponsel saya notifikasi itu diatur dalam bahasa Inggris. Salah satu kata dari kalimat notifikasi yang terdengar adalah “camera”, tetapi saya tidak memahami arti keseluruhannya. Barulah kemudian saya tahu, setiap notifikasi itu terdengar, beberapa saat kemudian kami akan melewati tiang dengan CCTV terpasang. Tiang itu berdiri di tengah, di pembatas jalan tol sisi kiri dan kanan. Oh, ini toh maksudnya. Akhirnya saya jadi paham. Jadi, setiap akan ada tiang itu, saya mengurangi kecepatan mobil sesuai batas yang telah ditentukan.

Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak ada gangguan sama sekali. Sampai kemudian ketika kami mendekati pintu keluar Pekalongan, dari kejauhan, dua orang polisi telah berdiri di tengah jalan mengarahkan kendaraan di sisi kanan untuk berpindah jalur ke sisi sebelah kiri. Ujung one way cukup sampai di sini saja ternyata, tidak sampai Gerbang Tol Kalikangkung. Oke, tidak mengapa. Ratusan kilometer jarak tempuh dilalui di sisi kanan sudah cukup membantu mengurangi waktu tempuh.

Lima puluh kilometer menjelang Gerbang Tol Kalikangkung, mata saya sudah memberat. Kemudi beralih lagi ke Mas Haqi sekarang. Saya pindah ke kursi tengah dan tertidur. Di saat saya terbangun, mobil telah berada di Jalan Tol Kalikangkung-Gayamsari. Alhamdulillah sudah sampai Semarang.

Saya melihat jam di ponsel. Sudah menunjukkan pukul 13.25. Perjalanan mudik hanya ditempuh selama 7,5 jam. Wah rekor nih. Puluhan kali mudik di saat lebaran, baru kali ini bisa selancar ini. Saya membayangkan mudik pada 2016. Waktu itu, kami sah telah menjadi alumni Brexit. Soal Brexit ini silakan lihat di Google bagaimana kemacetan parah terjadi.

Sedangkan pada tahun 2007, pada H-1 lebaran, di saat pertama kali kami memiliki mobil sendiri dan belum ada Jalan Tol Cipali, perjalanan masih ditempuh selama 12 jam melalui Pantura. Kami sampai di Jalan Tol Gayamsari pada saat petang dengan takbir dan kembang api telah bertaburan memenuhi langit.

Kali ini, mengingat azan Magrib masih lama terdengar, kami singgah untuk salat di Masjid Agung Jawa Tengah. Tahu kan masjid ini? Masjid ini sudah menjadi ikon Semarang karena memiliki payung besar di pelatarannya. Ini mengingatkan para jemaah kepada Masjid Nabawi di Madinah dengan payung-payung elektriknya.

Kami menyengaja tidak segera datang ke rumah. Oleh karena itu, ketika azan Magrib berkumandang, sebagai tanda 1 Syawal 1443 H, kami sudah berada di tempat makan di Semarang untuk berbuka puasa. 

Esok paginya kami datang ke masjid tempat biasa kami melaksanakan salat Idulfitri. Kami tiba pas sekali dengan ajakan bilal untuk salat Id: “Asshalaatu jaamiah!!!” Kami hampir saja terlambat. Jemaah yang hadir di masjid ini tidak sepenuh salat id pada 2019.

Khatib menyampaikan khotbah kemenangan. Salah satu petuahnya yang mengena, “Sesungguhnya Idulfitri hanyalah milik orang-orang yang taatnya bertambah.” Masyaallah. Pertanyaan yang kemudian memenuhi benak adalah: “Sudah layakkah saya merayakan Idulfitri?”

Saya berharap bisa bertemu Ramadan kembali untuk memantaskan diri sebagai orang-orang yang layak itu. Semoga.

Untukmu juga. Ya, kan?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
5 Mei 2022

2 thoughts on “Cerita Mudik: Kapan Kita Pulang?

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.