Jamu Jun Yanti, Pengudar Kahanan Rindu


Semangkuk jamu jun yang mampu menghangatkan malam.

Setelah beranjangsana lama di rumah saudara, kami pun pulang. Di tengah perjalanan sambil mencari warung kopi, di malam yang hampir larut, istri saya mendadak memberhentikan mobil. “Stop, berhenti di sini. Kita minum jamu jun dulu,” katanya.

Saya turun dari mobil dan menemaninya. Kami menghampiri warung seadanya yang berada di atas pembatas jalan di sebuah kompleks perumahan. Pembatas jalan ini memiliki lebar kurang dari dua meter dan banyak pedagang berjualan di atasnya.

Warung jamu memiliki satu meja dan dua kursi buat pengunjung. Di atas meja ada banyak mangkuk, sendok, tisu, botol plastik berisi santan, merica, dan toples berisi bulatan beras ketan yang dicampur dengan jahe. Dua lampu neon berwatt besar di atas tempat kami duduk menghilangkan kesuraman. Selain itu ada sebuah tempayan besar berwarna kuning emas dengan leher sempit yang disebut dengan jun. Saya baru tahu itu namanya jun.

“Kayak Jin dan Jun dong,” celetuk saya. Saya teringat sinetron tahun 90-an yang berjudul Jin dan Jun.  Kalau di sinetron itu Jun adalah sebutan nama orang. Di benak saya, jin memang identik dengan tempat bersemayamnya yang khas seperti kendi, tempayan, gentong, dan semacamnya.

Istri saya memesan semangkuk jun. “Mau?” tawarnya. Saya menggelengkan kepala. Saya tidak tahu minuman seperti apa jamu jun. Mendengar namanya saja baru kali ini. Di Indramayu tidak ada.  “Sudah 30 tahun saya enggak minum ini,” ucapnya dengan mata berbinar.

Yanti adalah nama penjual jamu jun ini. Yanti tidak memakai aksesoris seperti penjual jamu gendong zaman dulu. Yanti tidak memakai kain batik dan kebaya atau dengan rambut disanggul. Ia memakai kerudung dan baju terusan panjang dengan warna merah muda senada.

Yanti mengambil mangkuk di meja dan piring kecil sebagai tatakan. Ia memungut beberapa bulatan beras ketan jahe dari toples dan menaruhnya di mangkuk. Yanti membuka tutup termos nasi besar berukuran 30 liter. Kepulan asap keluar menentang gravitasi. Perempuan itu menciduk cairan dari termos nasi dengan centong lalu menumpahkannya ke mangkuk.

Cairan kental itu berwarna coklat. “Ini terbuat dari beras ketan dicampur jahe, gula merah, dan bermacam-macam rempah,” kata Yanti. Yanti kemudian menaburkan bubuk lada di atas jamu. Sebelum Yanti menyemprotkan cairan seputih susu dari botol plastik ke dalam isi mangkuk, Yanti bertanya, “Santan mau?” Istri saya mengangguk. Yanti menyerahkan semangkuk jamu itu kepadanya.

Istri saya menerima semangkuk jamu jun ini seperti orang yang baru keluar dari gua setelah terperangkap di dalamnya selama dua minggu. Saya ikut mencicipi. Tekstur jamunya seperti sup jagung kental dengan rasa jahe. Kekenyalan butiran beras ketan yang berada di mangkuk itu pun seperti butiran sagu yang ada di wedang ronde.

Ternyata tidak hanya sekali sendok saya ikut merasakan jamu itu. Lebih dari lima kali suapan jamu itu masuk ke dalam mulut. Enak juga, pikir saya. “Bagus buat tubuh. Apalagi buat yang sering kembung,” kata Yanti. “Kalau saya minum itu, bangun tidur tubuh jadi enak,” tambah Yanti yang tak pernah menanggalkan senyum dari wajahnya saat melayani kami.

Jamu jun memang minuman khas Semarang. Sekarang menjadi minuman yang jarang dijual. Generasi milenial, Y, dan Z sebagian besarnya belum pernah merasakan minuman ini. Dulu dijual oleh pedagang keliling. Jamunya ditaruh di dalam jun itu. Penjualnya berkeliling kampung sambil berteriak: Jamu juuuuuuun!!!

Sekarang jun yang ada di meja Yanti hanya sekadar pajangan. Cairan jamunya diletakkan di dalam termos nasi besar yang mampu menjaga panas di dalamnya dalam waktu lama. Jun tak mampu berbuat seperti itu.

Jamu jun perempuan asal Kebumen ini punya merek Jamu Jun Ibu Ngatemi. Menurut Yanti, Ibu Ngatemi punya dua kedai di Semarang. Termasuk warung Yanti yang berada di Tlogosari, Pedurungan ini.

Setiap hari Yanti mulai membuka kedainya pada pukul 16.00. Selain melayani para pengunjung yang datang ke warungnya, Yanti meladeni pengunjung yang ingin membawa pulang jamunya. Jamu ditaruh di dalam tempat terbuat dari plastik berukuran kecil. Yanti menyebutnya “cup”.

Yanti menutup warungnya pada pukul 22.00. “Kadang habis dan kadang juga tidak. Jamu yang tidak habis itu sekitar tiga sampai lima cup,” kata Yanti. Kalau tidak habis, jamunya ia berikan kepada tetangga Yanti.

Di awal-awal merebaknya wabah, Yanti mendapatkan berkah. Dagangannya sudah habis pada pukul 19.00 Bahkan, katanya, dagangannya pernah ludes di waktu magrib. Pada saat itu, masyarakat masih antusias mengonsumsi jamu-jamuan untuk menambah daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang Covid-19.

Di tengah pandemi yang tidak tahu kapan akan berakhir, Yanti tetap berjualan walaupun tidak cepat laris seperti dulu. Ia adalah satu dari 64,2 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada Maret 2021.

Kalau digolongkan lebih spesifik lagi usaha Yanti termasuk usaha mikro karena menurut kementerian di atas definisi usaha mikro adalah usaha yang memiliki aset (tidak termasuk tanah dan bangunan) kurang dari Rp50 juta dengan penjualan tahunan kurang dari Rp300 juta. Dari laporan Bank Dunia 2016 yang mengutip data Kementerian Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada 2013, jumlah pelaku usaha mikro ini mencapai 99% dari seluruh usaha yang ada di Indonesia.

UMKM memang terbukti mampu bertahan di tengah krisis yang pernah tercatat melanda Indonesia. Tidak terkecuali di masa pagebluk yang membuat banyak UMKM terpukul karena adanya kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat di berbagai daerah.

“Berapa, Mbak?” tanya istri saat melihat saya mengambil suapan terakhir dari mangkuk jamu jun.

“Lima ribu,” kata Yanti. Puluhan tahun lampau, semangkuk jun yang dijual oleh penjual jamu jun keliling hanya seharga 25 perak.

Kami melanjutkan rihlah. Jamu Jun Yanti sudah mengudar kahanan rindu istri saya kepada minuman masa kecilnya. Berikutnya ini yang penting: mampu mematikan hasrat saya meminum kahwa yang harganya lima sampai 10 kali lipat dari semangkuk minuman herbal Yanti.

Warung Jamu Jun Yanti.
Nomor kontak yang bisa dihubungi jika ingin memesan Jamu Jun Ibu Ngatemi

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
27 November 2021

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.