Antara Kothen, Citayem, dan Perihal yang Tak Pernah Dibayangkan


Ayyasy, berdiri di belakang, kedua dari kiri, bersama dengan teman-temannya di Kothen, Jerman.

Lebaran ini kami tidak mudik dan hanya berempat saja. Mengulang tahun sebelumnya karena kondisi buana yang masih dipenuhi pandemi. Eh, tahun lalu beda kok. Masih ada Ayyasy.

Sekarang Ayyasy ada di Kothen, Jerman. Suasana di sana juga sama masih ada pandemi begitu. Kota kecil ini masih buka tutup menerapkan karantina wilayah.

Selisih waktu Kothen dengan Citayam sampai lima jam. Sebelum puasa malah enam jam. Saya tak tahu mengapa bisa berubah-ubah begitu. Pelajaran Geografi SMP saya tidak “nyandak”.

Puasa di Kothen sampai makan waktu tujuh belas jam. Buka puasa malam banget sekitar pukul 21. Sahurnya sudah harus dimulai pada pukul dua pagi karena sebentar lagi Subuh. Yang pasti di Kothen enggak ada takbiran pakai pelantang suara seperti di Citayem atau Indonesia.

Sewaktu kami makan opor setelah salat id, saya menelepon Ayyasy. Di sana masih Subuh. Kata Ayyasy, akan ada salat idulfitri yang terbagi dalam dua kloter untuk mengantisipasi penularan Covid-19. Sekitar pukul tujuh dan delapan pagi waktu setempat.

Lebaran di negeri orang tanpa berkumpul dengan keluarga itu memang membuat sedih. Saya pernah merasakan hal yang demikian sewaktu masih di Tapaktuan beberapa tahun lampau. Namun, apa mau dikata kondisi memang tidak memungkinkan.

Yang menghibur atau setidaknya bisa mengurangi kesedihan adalah teknologi zaman sekarang. Ini yang membedakan dengan zaman dahulu kala sewaktu saya masih kecil.

Saat ini menelepon itu mudah, murah nyaris gratis, lama, kapan saja, dan bisa melihat orangnya melalui fitur panggilan video. Seriusan…Tak pernah dibayangkan oleh orang-orang di masa itu.

Dulu, masyaallah. Sewaktu telepon genggam belum ada, yang ada hanya telepon rumah di rumah orang-orang kaya atau wartel. Wartel ini merupakan singkatan dari warung telepon atau warung telekomunikasi. Saya perlu menjelaskan ini karena anak zaman sekarang sudah pada kagak ngarti yang kayak gituan. Ada juga telepon umum pakai koin atau pakai kartu magnetik.

Pakai telepon begituan itu mahal. Makanya ngobrol juga yang penting-penting saja. Kalau menelepon ke lain daerah, tarif telepon bisa kena roaming. Apalagi telepon ke luar negeri, jelas mahal. Untuk mengantisipasi itu, biasanya yang dari luar negeri menelepon ke Indonesia. Menelepon tetangga, meminta tolong untuk memanggil kerabat si penelepon. Telepon ditutup dulu, lalu lima menit kemudian menelepon lagi.

Karena itu jelas merepotkan tetangga, usaha seperti itu tentu tidak bisa sering-sering juga. Jelas sekali, modal utama harus punya hubungan yang baik dengan tetangga pemilik barang mewah ini.

Sekarang semuanya berubah. Telepon sudah bisa dimiliki orang. Coba bayangkan, dari data per Januari 2021 saja orang Indonesia yang memiliki telepon genggam itu 345,3 juta. Ini setara 125,6% dari populasi penduduk Indonesia sendiri. Artinya banyak juga penduduk Indonesia yang memiliki lebih dari satu perangkat telepon. Ngacung, siapa yang punya dua hp?

Selain itu teknologi perangkat keras dan lunak mendukung, jaringan pita lebar terpasang di mana-mana, dan kuota lumayan terjangkau. Wartel, dan warnet (warung internet) pun gulung tikar.

Waktu juga menggulung kebiasaan mengirim kartu lebaran atau ucapan melalui pesan pendek. Di masa lebaran dulu, kantor pos panen pengiriman kartu lebaran. Kartu ini berisi ucapan selamat berlebaran dan permohonan maaf lahir dan batin.

Kartunya dibuat dengan kertas bagus dan didesain cantik bahkan sampai ada yang wangi. Selain di toko buku, kartu itu dijual di mal juga. Ribuan kartu ditaruh di atas keranjang besar. Pembeli tinggal memilih kartunya di sana.

Senang rasanya menerima kartu lebaran. Sensasinya terasa seperti menerima paket.  Kalau tidak salah, saya terakhir menerima kartu lebaran dari kepala kantor di era 2000-an.

Kartu lebaran diganti dengan SMS yang kemudian hilang juga dengan adanya aplikasi percakapan. Aplikasi itu menjadi kanal terkini mengirimkan pesan lebaran.

Waktu kiranya memang sanggup untuk mengubah teknologi dan kanal penyaluran pesan, tetapi belum sanggup mengubah tradisi berkirim pesan tersebut. Pesan elok berisi permohonan maaf lahir dan batin.

Dalam satu generasi saya, tradisi ini masih bertahan. Sampai kapan? Insya Allah akan bertahan lama. Kalau pun hilang, asalkan hati penuh kasih, upaya maaf memaafkan saudara-saudaranya yang lain masih tetap akan ada selamanya sebagai hasil Ramadan yang dijalankan.

Terpenting juga adalah doa. Ini cara terakhir menghubungkan jiwa kepada semua yang dicinta. Betul, bukan?

Terakhir, sudahkah kamu mengirim kartu eh pesan lebaran kepada teman-temanmu?

Ingat saja, setiap pesan lebaran yang terkirim kepadamu, itu tanda ia peduli kepadamu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
14 Mei 2021

 

5 thoughts on “Antara Kothen, Citayem, dan Perihal yang Tak Pernah Dibayangkan

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon Maaf Lahir & Batin.

    Ayyasy semoga selalu sehat dan lancar dalam setiap aktifitasnya di Jerman.

    Ijin share tulisannya Bapak..

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.