‘Sapiens’ Yuval antara Perang, Eropa, dan Vitamin C


Photo by GEORGE DESIPRIS on Pexels.com

Kekuatan Eropa pada 1750 hanya cebol. Di tahun-tahun itu, membayangkan Eropa setara dengan Osmani, Mughal, atau Qing adalah khayalan. Sepuluh dekade kemudian waktu membaliknya.

Buku ini memang meneruskan cara berpikir Carl Sagan, evolusionis, dan tak memercayai teori penciptaan.

Buku berjudul Sapiens karangan Yuval Noah Harari ini pun menguji Rukun Iman yang enam itu, percaya kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab Allah, nabi dan rasul, hari kiamat, serta qada dan kadar.

Saya tidak akan membahas sampai ke sana karena ada tiga hal yang lebih menarik dari apa yang dikemukakan Harari dalam bukunya itu.

Menjawab Satu Pertanyaan

Buku Harari menjawab satu pertanyaan yang selama ini saya rawat: mengapa pada saat sekarang invasi suatu negara ke negara lain tidak menjadi model dari hubungan antarnegara sebagaimana sering terjadi dari masa dulu sampai perang dunia kedua?

Jawabannya adalah pada masa sekarang betapa manusia telah menghargai perdamaian. Ongkos perang lebih besar daripada keuntungan yang didapat. Perdamaian jauh lebih menguntungkan.

Ghanimah (pampasan perang) yang lebih berharga tidak lagi berupa fisik seperti emas, budak sapi, tetapi sudah menjadi kepandaian atau akal budi yang ada di otak para cendekiawan atau orang kreatif. Ini sulit untuk dikuasai dengan mudah. Saat menang perang yang didapat cuma kehancuran, bisa jadi modal utama pembangunan kembali reruntuhan perang seperti manusia tidak ada, entah tewas atau telah mengungsi ke negeri aman.

Hitung-hitungan ini sudah ada di benak para kapitalis yang hidup dari hubungannya dengan para penguasa. Hubungan yang menunjukkan keuntungan tiada banding sejak mereka ikut terlibat menentukan damai dan perang di negara-negara Eropa pada abad kebangkitannya.

Dulu, para raja Eropa akan menjual obligasi untuk modal perang. Imbal baliknya selain pengembalian kapital adalah perlindungan usaha. Bahkan bisa menekan raja untuk berperang jika kepentingan modal mereka terancam di suatu negara.

Pada saat ini, kampanye penaklukan seperti pada zaman Romawi, Mongol, Osmani sudah tidak ada lagi, perang tidak lagi jadi norma. Dulu ada hukum besi internasional yang menyatakan, “Untuk setiap dua negara yang berdekatan, ada skenario masuk akal yang akan menyebabkan keduanya saling berperang dalam setahun.”

Sekarang tidak ada skenario masuk akal yang mengarah kepada konflik dengan skala penuh untuk setahun ke depan. Kalaupun ada konflik ataupun aneksasi setelah perang dunia kedua itu hanyalah pengecualian yang membuktikan adanya aturan yang memang sudah mapan.

Bermula pada 1850

Pusat peradaban dunia mulai beralih ke Eropa pada masa antara tahun 1750 sampai 1850 dengan serangkaian kemenangan perang.

Pada 1770 orang-orang Eropa tak punya keunggulan teknologi, politik, dan militer, atau ekonomi yang signifikan atas Muslim, India, dan Cina. Di tahun-tahun itu kesetaraan eropa untuk menyamai Muslim, India, dan Cina hanya khayalan.

Tahun 1850 menjadi titik landas kebangkitan Eropa meninggalkan para adidaya saat itu. Tahun 1850 itu menjadi ambang batasnya. Muslim, India, dan Cina tidak bisa mengejar lagi.

Jadi mengapa bisa Eropa yang sejak 1500 sampai 1850 itu bukanlah apa-apa kemudian menjadi tiada banding? Padahal pun tiga bangsa itu bisa dengan mudah meniru teknologi Eropa dengan mudah.

Jawabannya adalah tiga bangsa itu tak punya nilai-nilai, mitos-mitos, perangkat yudisial, dan struktur sosiopolitik yang telah terbentuk dan matang selama berabad-abad serta tidak bisa diinternalisasi secara cepat. Mereka tidak bisa mengejar karena mereka memandang dan mengorganisasi masyarakat secara berbeda.

Eropa memandang dan mengorganisasi masyarakatnya dengan kelindan antara imperium, sains modern, dan kapitalisme. “Kalaupun bukan karena para pengusaha yang ingin menghasilkan uang, Columbus tidak akan mencapai Amerika, James Cook tidak akan mencapai Australia, dan Neil Armstrong tidak akan pernah meninggalkan jejak kecil kakinya di permukaan Bulan,” tulis Harari.

Sebenarnya kalau ditilik ke belakang lagi adalah karena Eropa sudah mengumpulkan modal lebih banyak lagi sejak 1490-an dengan adanya penemuan benua baru Amerika.  Setelah mengadali imperium Aztek dan Inka, benua baru itu dikavling-kavling oleh para penemu dan penakluk dengan sebuah deklarasi: “Saya mengeklaim semua teritori ini untuk raja saya!”

Dari sana, terciptalah kolonisasi dan tentunya perbudakan. Banyak perkebunan diciptakan. Kekayaan mengalir deras dari benua baru itu menuju Eropa. Mendorong ekspansi lebih untuk menemukan jalur menuju wilayah paling timur dunia seperti Indonesia.

Osmani juga mengetahui adanya penemuan itu, tetapi mereka masih beranggapan bahwa pusat dunia itu hanyalah Afrika dan Asia saja. Tidak ada yang lain. Mereka diam dan tak ikut rebutan benua baru yang menjanjikan. Ketika Osmani sadar, semuanya sudah terlambat.

Sedangkan Cheng Ho dari Dinasti Ming yang pernah berlayar sepanjang Asia hingga Afrika Timur pada 1405 sampai 1433 dengan armada besar ratusan kapal dan tak bisa ditandingi Eropa pada saat itu tidak melakukan ekspansi atau mengolonisasi negara-negara yang dikunjunginya. Sumber daya yang mereka miliki sebenarnya sanggup untuk mencapai Amerika. Lagi, mereka benar-benar tidak tertarik.

Ketika Dinasti Ming runtuh, dinasti selanjutnya, Dinasti Qing, tidak punya gairah untuk menjadi penguasa lautan. Ketika kesadaran penguasaan lautan dan benua baru itu terbit, itu juga sudah terlambat dan memberikan keuntungan besar selama 300 tahun buat Eropa.

Eropa di akhir abad 15 itu punya semangat yang ambisius terhadap penjelajahan dan penaklukan lautan. Ini yang membedakannya.

Kita tahu, itu juga karena mereka dan tanah Eropa dibayangi-bayangi dan terancam oleh negara adidaya pada saat itu yaitu Osmani yang telah meruntuhkan Konstantinopel jauh sebelumnya pada 1453.

Jadi kalau mereka tidak sanggup melawan yang di timur (Osmani), maka mestinya kepala mereka diarahkan ke barat untuk menemukan benua baru atau mencari jalan yang jauh ke ujung selatan Afrika untuk mendapatkan tanah yang wangi karena rempah-rempah di tempat matahari terbit.

Vitamin C

Cerita tentang penemuan vitamin C sebagai obat mujarab dalam pelayaran sebagaimana yang saya tulis di buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini ternyata di buku Harari ini ada.

Jadi perkawinan antara imperium dan sains di Eropa direalisasikan dalam berbagai bentuk. Salah satunya dengan membawa ilmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang ilmu untuk penjelajahan yang mereka lakukan.  Salah satunya pada ekspedisi James Cook.

Adalah sesuatu yang lazim jika lebih dari setengah awak kapal akan mati dalam perjalanan. Bukan karena apa-apa melainkan karena sebuah penyakit yang bernama skorbut. Pelaut yang terjangkiti penyakit itu akan mendapatkan gigi mereka rontok, luka melepuh, demam, sakit kuning, dan kehilangan kendali tubuh. Tidak ada yang tahu mengapa itu terjadi.

Sampai kemudian seorang dokter Inggris bernama James Lind mengadakan percobaan dengan memberikan buah jeruk dan memastikan penyebabnya pada 1747. Ternyata lantaran asupan yang dimakan pelaut tidak seimbang. Sepanjang pelayaran yang lama mereka biasa makan biskuit dan dendeng, tanpa ada sayur dan buah. Mereka kekurangan vitamin C.

Royal Navy, Angkatan laut Inggris tidak yakin, tetapi James Cook percaya. James Cook memenuhi kapalnya dengan acar kol dalam jumlah besar dan meminta para pelautnya untuk memakan buah dan sayur kapan pun ekspedisi itu merapat ke darat.

James Cook tidak kehilangan satu pelaut pun karena skorbut itu. Sejak saat itu semua angkatan laut dunia mencontoh diet yang dilakukan James Cook. Nyawa pelaut dan penumpang banyak yang terselamatkan.

Ini membuat hegemoni pelayaran dan ekspedisi Inggris menjadi semakin kuat dan jauh untuk menemukan lahan-lahan subur di Australia, Tasmania, dan New Zealand.

Akhirnya sama saja. Baik penjelajahan ke barat melalui Samudra Atlantik ataupun ke timur melalui Samudra Hindia sampai bertemu Samudra Pasifik mengakibatkan pemusnahan massal penduduk asli yang mengerikan. Sejarah telah mencatatnya sampai sekarang.

Pada akhirnya di halaman-halaman terakhir buku itu, masih banyak pertanyaan yang Harari ajukan sendiri soal keberadaan Sapiens di masa depan. Sebuah pertanyaan yang sudah selesai dijawab oleh agama di ribuan tahun lampau walaupun itu selalu dipertanyakan terus menerus oleh Harari yang mendelegitimasi agama.

Kalau kematian itu bukan soal akhir yang tak terelakkan, tetapi hanya soal teknis belaka. Jadi kalau di masa depan ada yang bisa memperbaiki, contohnya, kegagalan jantung (yang hanya soal teknis belaka) itu melalui sains, manusia akan menjadi panjang umur, tak mati-mati.

Jawabnya, ingatlah, setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

5 April 2021

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.