Ayam Aduan


Hujan tidak berhenti-berhenti di Citayam semenjak petang.

Usai perjalanan pulang dari kantor selama tiga jam karena banyak berhenti di pelbagai tempat, saya akhirnya bisa merebahkan diri di lantai rumah yang dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 22.40.

“Ada ayam di depan rumah,” kata Ayyasy.

“Ayam siapa?” tanya saya penasaran.

“Enggak tahu. Sudah dari sore. Sekarang kehujanan, berteduh di bawah tanaman.”

“Ya sudah. Ambil saja dulu. Taruh masuk ke teras rumah. Nanti ada yang nyolong,” kata saya. “Kita selametin dulu. Besok terserah dia mau pergi ke mana.”

Ayyasy enggak bergerak. Ia sibuk dengan paket yang baru saja datang. Saya keluar rumah, membuka pintu gerbang, dan bergerak ke luar. Saya mengamati sosok kecil di bawah kegelapan malam. Ternyata mudah menangkap satoan ini. Iya lah, kalau malam ayam kan rabun. Kalau siang, susah ditangkap. Sekujur tubuhnya kuyup.

Saya bawa ayam jago itu masuk teras rumah dan melepaskannya begitu saja. “Yam, kalau mau pergi juga silakan,” pikir saya. “Bebas.”

Subuh datang, ayam itu nongkrong di atas pagar rumah. Kukuruyuknya terdengar kerap. Merdu juga. Benar-benar seperti suasana di kampung. Berulang kali ia bersuara kencang.

Enyak, perempuan tua Betawi Asli yang setiap hari membantu membersihkan rumah, datang. “Ini ayam yang dicari-cari sama orang. Kemarin lepas. Lalu orang itu minta sama Enyak, kalau nemu ayam itu bilang-bilang.”

Ayam itu ternyata ayam aduan. Enyak memastikan itu. Kepala ayam itu banyak lukanya. Tali jerat masih menjuntai di salah satu kakinya.

Kokokan ayam itu masih juga nyaring walau sudah siang. Saya baru ingat, saya belum memberinya makan. Saya lempar butiran nasi kepadanya. Ia makan dengan lahap. Saya pun menyediakan air minum buatnya.

Pertanyaan yang masih menggelayut di kepala adalah, “Mengapa itu ayam tidak mau pergi-pergi? Mengapa ia memilih rumah kami?” Padahal saya bukan tuannya. Ia pun tidak saya kandangin. Ia bebas pergi kapan saja. Tinggal lompat ke jalanan. Bebas cari makan di mana saja. Enggak. Dia malah anteng di teras rumah. Enggak turun ke jalan-jalan (bukan demo kali). Kalau ada yang mau mengaku-ngaku juga silakan.

Beginilah rasanya kalau kita menyadari ketiadapemilikan. Ikhlas dan plong. Mau diambil atau apa terserah saja. Harusnya untuk semua apa yang ada dalam hidup kita. Semua yang ada pada diri kita, bukan milik kita. Hanya milik-Nya. Kita cuma dititipi. Ish… benar sekali kata Ustad Kampung Begitusih.

Saat menulis ini pun suara ayam itu masih berkumandang. Kalau tetangga sebelah ada bunyi dara merdu, sekarang ada kukuruyuk pongah.

Enggak tahu sampai kapan ia ada di depan rumah. Menurutmu sampai kapan?

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
3 Februari 2021

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.