Dari Tanzania ke Tapaktuan: Penulis Buku Misuh-Misuh


Suatu ketika saya pernah buka-buka marketplace. Yang saya cari biasanya buku-buku. Kebetulan juga saya sedang ngebet sama nama seorang penulis buku fiksi. Pokoknya novel yang ditulisnya saya babat habis untuk saya baca.

Di marketplace itu, ternyata ada paket bukunya, murah lagi. Di luar harga wajar. Senang dong saya melihat ada buku buruan saya dengan harga yang terjangkau begitu. Langsung saya pesan. Satu minggu kemudian buku itu sampai. Betul, buku itu murah dan kualitas fisiknya mengecewakan. Ini jelas buku bajakan.

Awalnya, suer, saya enggak tahu kalau itu buku bajakan. Saya pikir karena memang ada yang menekan harga ingin menjual dengan harga terjangkau dan semua buku yang dijual di marketplace itu asli semua. Ternyata tidak.

Bukunya sudah saya baca sampai habis, tetapi saya kapok untuk membeli buku bajakan itu. Kasihan. Dulu, ada penulis buku yang misuh-misuh soal pajak karena kena pajak gede sekaligus kena bajak juga. Setiap buku yang dikeluarkannya selalu kena bajak. Sudah enggak kehitung berapa jumlah eksemplar buku bajakannya yang terjual. Tentu dia enggak mendapatkan bagian apa-apa.

Di sisi lain mencerdaskan kehidupan bangsa dengan buku itu penting, di sisi lain penghargaan terhadap penulis buku mesti layak untuk mendorong mereka tetap berkarya dan berkreasi dengan buku-buku yang ditulisnya.

Dua-duanya ini akan mendorong tingkat literasi masyarakat Indonesia bisa naik ke peringkat yang lebih tinggi. Sudah tahu, kan, kalau berdasarkan survei yang dilakukan oleh PISA pada 2015 lalu, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, di atas Botswana, tepatnya peringkat ke-60, dalam literasi dunia.

Ini memang nyata. Tingkat literasi sedemikian itu berefek banyak buat kehidupan bangsa, dunia perbukuan, penerbit, dan tentunya penulis itu sendiri. Saya tidak akan menuliskannya di sini, kalau ketemu saja yah kita mendiskusikannya lebih lanjut. Lumayan juga ada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

Apalagi setelah saya ikut menjadi bagian dari dunia perbukuan Indonesia, walaupun belum lama, saya jadi tambah paham lagi. Ditambah pandemi. Semua patut disyukuri.

Di tengah suasana itu, dengan niat yang saya coba saya kuatkan untuk senantiasa lurus dan hasil penjualan buku ini untuk kebaikan yang lebih-lebih, saya kembali meluncurkan buku, buku ketiga, berjudul:

Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari.

Buku ini berisi cerita lari saya yang dimulai saat baru memulai perubahan drastis dalam hidup saya di Tapaktuan, Aceh Selatan sampai di masa pandemi Corona Virus Disease 2019. Dari mulai tidak bisa lari sampai sanggup mengikuti Full Marathon dengan berlari sejauh 42,195 km tanpa henti. Berlari dari race yang satu ke race yang lainnya sebagai bentuk perjuangan mengalahkan dirinya sendiri.

Salah satunya cerita lari waktu melewati kawanan monyet dengan aman di pegunungan Tapaktuan. Namun, sewaktu latihan lari menjelang Bandung Marathon, belasan anjing datang mengadang dan mengintimidasinya dengan salakan. Bagaimana saya mengatasi kawanan binatang itu? Cukup dengan berjongkok atau bagaimana?

Saya dulu memiliki berat badan 78 kg sampai kemudian menyentuh angka 62 kg hanya dalam 15 minggu dengan Freeletics dan lari ini, menuliskan pengalaman lari ini yang semoga bisa menginspirasi buat siapa saja yang ingin melakukan perubahan dan hidup sehat.

Keduanya membutuhkan tekad, konsistensi, dan hanya satu alasan. Nah, buku ini juga memberikan tip-tip bermanfaat buat teman-teman yang ingin memulai dan konsisten berlari.

Insya Allah buku ini akan mulai beredar di pekan yang akan datang, tepatnya mulai 4 November 2020. Buat yang hendak memesan, silakan japri saja atau menulis di formulir ini: https://forms.gle/6PTKdTL7ht3ikZtJ7. Bebas.

Semoga buku ini menjadi berkah buat semuanya, saya bisa membayar pajak, dan bukunya tidak dibajak. Siapa lagi saya, yah?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Oktober 2020

 

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.