Rezeki Itu Bisa Datang dari Mana Saja


Setiap pagi, ketika melewati kemacetan di daerah Rawa Bambu, Pasar Minggu karena adanya pembangunan jalan layang yang belum selesai saya selalu mengambil jalur paling kiri dekat trotoar.

Bukan tiada maksud. Ini karena saya akan melewati ritual pagi yang selalu ada di depan warung padang Duta Salero: bakar ayam.  Asapnya mengepul ke mana-mana, menyelusup masuk ke dalam helm dan lubang penciuman saya. Harum nian. Selalu saya hirup meningkahi bau asap knalpot yang mengiringi. Rezeki.

Seperti pagi hari ini, saya masih melakukan hal yang sama seperti hari-hari kemarin, menghirup asap pembakaran ayam itu sambil kepala dipenuhi sejumput pertanyaan. Apa yang membuat harum? Apakah bumbunya itu atau batok kelapa yang dipakai sebagai arang pembakaran?

Dan siang hari ini saya memberikan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini kepada Doktor Heru Narwanta, di Lantai 20 Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta (Rabu, 07/10/2020).

Beberapa hari sebelumnya, saat saya bertemu dengannya di Masjid Salahuddin Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Pak Heru bertanya di mana ia bisa membeli buku saya itu. Duh, saya lupa melulu untuk menyisihkan buku itu buat Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada pada 2012 ini.

Akhirnya saya berkesempatan membawa buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini dari rumah dan memberikannya kepada Pak Heru di ruang kerjanya. Kami saling bertukar buku. Ia menyerahkan buku yang ditulisnya pada 2012 berjudul Berpikir Layaknya Ekonomi, Buku Bacaan Masyarakat Umum, Berkawan dengan Konsep-konsep Ekonomi untuk Hidup yang Lebih Baik.

Bentuk dan warna bukunya mirip dengan buku saya. Warna putih mendominasi sampul buku dengan warna merah di tengah yang ada pada sebuah gelas sebagai ilustrasi. Kertas buku juga memakai bookpaper.

Saya tidak lama di ruangannya karena takut mengganggu kesibukannya. Kami sempat berfoto bersama. “Baca buku ini dan kasih komentar yah,” kata Pak Heru. Sebuah pesan dan amanat yang sampai kepada saya.

Tentunya saya belum bisa memberikan pendapat apapun tentang buku ini. Endorsemen di sampul depan dari Difansa Rahmani, pembaca kolom estateconomics majalah HousingEstate setidaknya memberikan jaminan saya tak akan mengerutkan kening saat membaca buku Pak Heru, “…sangat menarik, …isinya ringan namun tetap berbobot.”

Terima kasih banyak Pak Heru. Sudah benar sekali, silaturahmi itu memperpanjang umur dan menambah rezeki. Buku Pak Heru menjadi rezeki yang berlanjut sejak pagi tadi dan saya terima siang ini. Berharga sekali.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Untuk pemesanan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini Cetakan Keenam silakan mengeklik tautan berikut di sini.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.