Bahasa Adolf Hitler dan Bunuh Diri yang Tak Jadi


Buku yang ditulis oleh keturunan Yahudi ini berada di rak sepatu sebuah pesantren di perbatasan Bogor dan Sukabumi. Sejak itu, judulnya melekat di kepala untuk segera dicari dan dibaca.

 

Seorang perempuan Amerika mendatangi Viktor E. Frankl dan bertanya kepadanya, “Bagaimana mungkin Anda masih bisa menulis buku-buku Anda di dalam Bahasa Jerman, bahasanya Adolf Hitler?”

Viktor E. Frankl adalah keturunan Yahudi yang menyintas dari kamp Auschwitz, Dachau dan kamp konsentrasi lainnya selama tiga tahun. Ia seorang neurolog dan psikiater terkenal di Eropa sekaligus penemu teori logoterapi.

Mendengar pertanyaan sang wanita, Frankl bertanya kepada wanita itu apakah ia memiliki pisau di dapurnya. Sang wanita tentu mengiyakan. Frankl merespons dengan seolah-olah heran dan terkejut. Frankl lalu bertanya, “Bagaimana mungkin Anda masih menggunakan pisau yang sudah digunakan oleh banyak pembunuh untuk menusuk dan membunuh korban mereka?”

Wanita itu paham dan tidak lagi keberatan kalau Frankl menulis buku dalam Bahasa Jerman. Frankl memberikan dua garis bawah pada kalimat ini: konsep rasa bersalah kolektif itu salah. Tidak adil menuduh seseorang bertanggung jawab atas perbuatan satu atau sejumlah orang.

Viktor E. Frankl menulis cerita itu dalam buku yang berjudul Man’s Search for Meaning. Buku yang sudah terjual lebih dari 16 juta eksemplar di seluruh dunia, dalam 49 bahasa dan 190 edisi. Kalau Anda berharap bahwa buku ini menceritakan secara detail bagaimana kehidupannya di kamp konsentrasi selama Perang Dunia Kedua, Anda berharap terlalu banyak.

Buku ini sebagiannya menuliskan bagaimana caranya dia—dengan sumber-sumber kekuatannya—untuk bisa bertahan hidup di kamp konsentrasi. Peluang hidup di sana tidak lebih dari satu berbanding dua puluh delapan.

Sebagian lainnya tentang logoterapi, sebuah metode terapi kejiwaan yang lebih memusatkan pada upaya manusia mencari makna hidup. Di sana, Frankl menegaskan, manusia tidak perlu berharap sesuatu dari hidup dan biarkan hidup mengharapkan sesuatu dari diri manusia.

Frankl menerapkan logoterapi ini pada saat di kamp ketika ada dua orang yang hendak bunuh diri. Dua orang ini memiliki alasan yang sama untuk mengakhiri hidup: tidak bisa lagi mengharapkan apa pun dari hidup.

Frankl mencegah mereka untuk bunuh diri dengan memberi keyakinan bahwa ada hidup yang mengharapkan mereka. Bukan sebaliknya.

Setelah ditanya-tanya, akhirnya orang pertama yang mau bunuh diri itu mengatakan bahwa ia masih memiliki anak yang sangat disayangi dan sedang menunggu di suatu negara. Tawanan kedua mengatakan, ia ilmuwan yang masih menulis beberapa buku yang mesti diselesaikan dan tak ada orang lain yang bisa menggantikannya menulis buku. Inilah makna itu.

Dua orang itu tidak jadi bunuh diri. Frankl sendiri masih memiliki keyakinan, ada istrinya—yang juga dipenjara di kamp lain—masih tetap menanti dan berusaha untuk tetap hidup. Sebuah keyakinan yang menyelamatkan Frankl dari kamp itu.

Keyakinan yang juga tumbuh pada hal berikut. Bahwa jangan menjadikan kesuksesan sebagai tujuan. Semakin Anda menjadikan kesuksesan sebagai tujuan dan target utama, semakin Anda menjauh dari kesuksesan. Sebab kesuksesan, sebagaimana kebahagiaan, tidak dapat dikejar, ia niscaya akan terjadi, dan hanya terjadi sebagai efek samping dari pengabdian pada tujuan yang lebih besar.

Kesuksesan dan kebahagiaan itu adalah hasil samping dari pelayanan seseorang pada yang selain dirinya.  Kebahagiaan pastilah terjadi dan hal ini juga berlaku pada kesuksesan. Anda harus membiarkannya terjadi dengan tidak usah memedulikannya. Ini membenarkan perkataan Muhammad saw., sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat buat orang lain.

Frankl menerapkan logoterapi di dalam dan di luar kamp selepas pembebasan itu. Frankl kembali ke Wina pada Agustus 1945. Sendiri saja karena orang tua, istri, dan calon bayi yang dikandung tidak ada yang selamat di kamp. Di Wina, Frankl melanjutkan pofesinya sebagai psikiater.

Ia menerapkan logoterapi pada banyak orang. Contohnya pada wanita yang mengalami traumatis di masa lalu sehingga tidak mampu merasakan puncak kenikmatan seksual atau pada pria yang berhubungan seksual sekadar menunjukkan potensi purbanya.

Dengan logoterapi, pemikiran mereka diubah, seharusnya bukan orgasme yang menjadi keinginan dan perhatian. Kesenangan harus selalu dan tetap merupakan efek samping. Kesenangan itu akan hancur atau rusak dengan sendirinya jika dijadikan tujuan. Lalu tujuan apa yang tepat? Adalah dedikasi, penyerahan spontan dan total kepada pasangan.

**

Beberapa penjaga kamp berempati terhadap penderitaan penghuni kamp. Saat perang berakhir, ketika pasukan Amerika Serikat dari arah barat Eropa datang sebagai pembebas, tiga pemuda Yahudi penghuni kamp kemudian menemui komandan pasukan Amerika Serikat yang sangat ingin sekali menangkap komandan SS. SS adalah Schutzstaffel, organisasi keamanan dan militer milik Partai Nazi Jerman.

Para pemuda itu dapat memberikan informasi tempat persembunyian komandan SS asal komandan pasukan Amerika Serikat ini memenuhi syarat yang mereka ajukan, yakni berjanji tidak akan menyakiti komandan SS. Tiga pemuda yahudi ini memang sengaja menyembunyikan sang komandan di hutan Bavaria.

Perwira Amerika Serikat itu akhirnya berjanji untuk tidak menyakiti komandan SS. Janji itu terpenuhi bahkan mendudukkan kembali komandan SS itu pada kepemimpinannya semula. Komandan SS diberikan tugas untuk mengumpulkan dan mendistribusikan pakaian dari desa-desa untuk dibagikan kepada para tawanan kamp yang dibebaskan dan dalam kondisi tinggal tulang berbalut kulit.

Komandan SS itu menjadi bagian dari orang-orang baik yang berada di kamp. Frankl menyebut—sebagaimana tidak ada kesalahan kolektif di atas—bahwa kebaikan manusia bisa ditemukan pada setiap kelompok.

Frankl lebih percaya rekonsiliasi daripada balas dendam. Yang sayangnya, tak lama setelah holocaust, kaumnya sendiri mereproduksi dendam itu di tanah dan kepada bangsa lain: Palestina.

 

***
Riza  Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
18 Juli 2020

Judul: Man’s Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerjemah: Haris Priyatna
Penerbit: Noura Books
Cetakan ke-7, Februari 2020
Foto dari ericrobertnolan.com

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.