Linouw dan Titik Nol Asa Bermula


Kepulan asap dari dunia di bawah Linouw.

Sepanjang tiga tahun dan empat bulan di Serambi Mekkah, tidak membuat saya mampu melancong ke Titik Nol Indonesia di Sabang atau Danau Laut Tawar yang berada di Takeng​​on, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.

Namun, pada suatu masa, akhirnya ada penugasan yang membawa saya ke suatu danau. Terletak di suatu tempat yang tidak pernah terpikirkan kalau saya bisa mengunjunginya: Danau Linouw, Tomohon, Sulawesi utara.

Suatu sore, selepas kelas pelatihan penulisan berita, saya berkesempatan mengunjungi danau vulkanik itu. Kepala Seksi Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah DJP Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara Yayuk Widianingsih dan Arafah Rakhmadani Nur mengajak saya ke sana. “Danaunya berwarna-warni,” kata Yayuk yang belum setahun bertugas di kantornya.

Bagi saya tugas adalah nomor satu, kuliner dan kelana adalah nomor yang ke sekian. Namun ajakan itu tak elok ditepis. “Letak danau ini di ketinggian. Jadi pergi ke sana seperti pergi ke Puncak,” kata Yayuk.

Yayuk benar. Jarak antara kota Manado dan Danau Linouw adalah sekitar 33 kilometer. Kami harus melalui jalan berkelak-kelok menuju ke sana.  “Bapak tidak mabokan kan, Pak?” tanya Arafah.   Ha ha ha, untungnya tidak. Barangkali aku akan memuntahkan semua isi perut kalau perjalanan ini terjadi pada 35 tahun yang lampau, saat saya masih kecil.

Dalam perjalanan menuju danau itu kami melewati jalan yang menuju makam Tuanku Imam Bonjol. Pahlawan nasional dari Minangkabau ini dibuang Belanda ke Lotta, dekat Manado setelah perang sabil ditaklukkan Belanda. Tempat ini menjadi pembuangan terakhir Tuanku Imam Bonjol. Sebelumnya, ia sempat di buang di Cianjur, kemudian dipindahkan ke Ambon, dan terakhir di Lotta. Di sana, Tuanku Imam Bonjol dibuang sampai akhir hayatnya.

“Selain Tuanku Imam Bonjol, di sini juga menjadi tempat pembuangan Kyai Mojo,” kata Arafat. Kyai Mojo adalah tangan kanan Pangeran Diponegoro. Bersama puluhan pengikutnya, ia dibuang Belanda ke Tondano dua tahun sebelum Perang Jawa usai. Letaknya belasan kilometer sebelah timur kota Tomohon.

Saya jadi teringat dengan buku yang belum selesai saya baca: Legiun Mangkunegara. Legiun pribumi yang mendampingi Belanda memadamkan Perang Jawa dan mengalahkan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Setelah lebih dari 60 menit, kami sampai di Tomohon. Kota perbukitan ini menjadi tempat penyelenggaraan festival bunga tahunan: Tomohon International Flower Festival (TIFF). Pada Agustus 2019 lalu, Direktorat Jenderal Pajak ikut berpartisipasi sebagai peserta karnaval festival berskala internasional ini.

Tomohon juga dikenal dengan pasar ekstrimnya yakni Pasar Beriman Tomohon yang menjual daging-daging dari berbagai binatang seperti kelelawar, tikus, anjing, babi, kucing, dan ular. Kami tidak ke sana. Kami memang fokus menuju Danau Linouw. Lagian sudah sore juga.

Kami masih harus ke selatan Tomohon untuk tiba di Danau Linouw. Tepatnya ke sebuah resor yang berada di pinggiran tasik. Sebelum masuk kami diadang portal. Ada penjaga yang memberhentikan mobil kami dan menghitung uang yang harus kami bayarkan untuk masuk ke dalam pelataran luas resor.

Dua bangunan besar layaknya istana seperti mengintimidasi setiap pengunjung yang datang. Kami tidak memasukinya. Kami langsung ke tepian danau. Di sana ada semacam kantin yang berbatasan persis dengan tubir danau. Beberapa meja sudah terisi dengan para pengunjung. Salah satu dari meja itu, ada tamu yang berbincang-bincang dalam bahasa Sunda. Ada juga pelancong jauh dari Jawa Barat rupanya yang mampir ke sini, pikir saya.

Pada saat itu, air permukaan danau berwarna hijau. Selain warna itu biasanya warna merah atau biru gelap, tergantung komposisi kimiawinya.

Di bibir danau itu kami memesan kudapan yang akan menemani kami mengisi waktu sore yang sebentar lagi tumpas. Bau belerang menguar ke mana-mana. Ini seperti versi kecil Tangkuban Perahu.

Bersama kopi susu sasetan, Goroho terhidang di meja. Sepiring keripik pisang dengan sambal khas Manado, sambal roa. Tentu saya tak terbiasa mencocol keripik pisang dengan sambal itu. Saya teringat dengan keripik singkong balado yang biasa menjadi kawan nasi di Aceh sana.

Dua bangunan besar resor.
Goroho dan sambal roa.
Sudah saatnya pulang. Gelap.

Di kejauhan, di sisi seberang tempat kami kongko-kongko, asap putih mengepul keluar dari lubang hidrotermal seperti kepulan asap yang keluar berdesak-desakan dari dandang yang tengah menanak nasi.

Sebentar kami mengobrol, hari sudah gelap. Bahkan kami menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan meja.

Kami segera meninggalkan danau yang sudah mulai gulita. Kami menuju kota Tomohon untuk mencari masjid. Malam menjadi penghalang kami mencarinya dengan mudah. Beberapa kali kami harus memelankan mobil untuk memastikan bahwa bangunan yang kami tuju adalah benar-benar masjid. Maklum saja keberadaan masjid Almujahidin ini tidak persis di pinggir jalan, melainkan sedikit masuk ke dalam dan bergabung dengan bangunan sekolah Islam.

Selepas salat Magrib kami tidak langsung pulang. Kami menunggu azan Isya berkumandang. Sekaligus menunaikan salat terakhir di pengujung hari itu. Barulah setelahnya, kami meninggalkan Tomohon untuk kembali ke Manado.

Juga meninggalkan Linouw jauh di belakang. Dalam bahasa Minahasa, Linouw berarti tempat berkumpulnya tirta. Dalam bahasa saya, engkau adalah tempat berkumpulnya cita.

Tempat titik nol asa bermula.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
17 Oktober 2019

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Linouw dan Titik Nol Asa Bermula

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.