Mata Kamera Penonton Meneropong Sudut-sudut Oktagon


Sketsa Submission.

Ada yang unik dan mencengangkan dari kejadian kaos seusai pergulatan Ultimate Fighting Championship (UFC 229) antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor di T-Mobile Arena, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Ahad (7/10).

Ini bukan soal orang tua, agama, dan negerinya Khabib, petarung dari Dagestan, Rusia. Dan bukan soal perilaku intimidatif Conor McGregor dalam mendegradasi mental lawan pada saat konferensi pers karena kelakuannya memang seperti itu.


Mulut petarung dari Irlandia yang kotor dan kelakuannya yang sembrono ini memang bikin warganet tak simpatik.

Bulan April 2018 lalu McGregor membuat kekacauan di Brooklyn, New York, Amerika Serikat dengan merusak bus yang tengah ditumpangi petarung UFC. Ia tidak terima gelarnya dicopot karena tak mau bertanding mempertahankan gelar.

McGregor diborgol, ditangkap, dan disidang dengan dakwaan penyerangan dan tindakan kriminal.Ia diperbolehkan pulang ke Irlandia setelah paspornya dikembalikan oleh pihak berwajib.

Sekarang, inilah soal ketika “citizen journalism” menjadi mata kedua setelah kamera yang tersambung ke saluran televisi.

Seluruh dunia menjadi tahu detil dari apa yang terjadi di seputar pergulatan itu. Melalui apa? Jawabannya: telepon genggam dan media sosial. Saya akan terangkan dengan lebih detil begini.

Jadi selama pertarungan di arena UFC yang disebut oktagon itu, semua direkam oleh banyak kamera. Saya tak tahu persis jumlah kamera yang merekam pertandingan dari berbagai sudut dan jarak: dekat, jauh, atas, dan bawah.

Gambar kemudian disalurkan via satelit menuju stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung ke rumah-rumah. Ini real time dan sungguh canggih. Tetapi tetap saja ada keterbatasan karena ada sudut-sudut yang luput dipantau. Tak semua bisa dilihat oleh lensa kamera.

Satu pukulan Khabib menghantam telak wajah McGregor. Bonyok.
Lima belas pukulan mendarat di wajah McGregor.
Detik-detik saat McGregor akan menyerah karena dipiting oleh Khabib.
McGregor menyerah. dan lelah.

Terbukti pada saat kaos itu terjadi kamera resmi UFC tak bisa merekam berbagai angle (sudut) detil kejadian di dalam dan luar oktagon. Ini disebabkan beberapa hal antara lain kamera sedang fokus pada titik tertentu, terhalang kerumunan orang, atau tak pada posisi yang tepat.

Tetapi semua keterbatasan itu dimusnahkan dengan kamera yang ada di telepon ganggam pintar yang dimiliki ribuan penonton yang memenuhi T-Mobile Arena. Keunggulannya adalah mereka berada di sudutnya masing-masing.

Ribuan penonton yang berada di tribun jauh atau dekat oktagon merekam kejadian itu. dari berbagai sudut sampai 360 derajat. Lalu setelah itu mereka mengunggahnya melalui akun media sosialnya masing-masing. Kali ini rekaman satu menit Instagram menjadi media sosial paling efektif dalam penyebarannya.

Maka kita akan melihat dengan detil bagaimana Khabib melompat pagar oktagon dan menerjang Dillon Danis, anggota tim ofisial McGregor. Ini direkam dari sudut bawah yang tidak mampu terekam oleh kamera resmi UFC.

Menurut saksi mata, selama pertandingan tersebut, Dillon Danis memang meneriaki Khabib dengan teriakan rasis.

Kamera lainnya merekam saat McGregor hendak keluar dari oktagon lalu dihalangi panitia pertandingan. Saat itu juga Islam Ramazanovich Makhachev salah satu anggota tim ofisial Khabib, berada di atas pagar oktagon hendak melompat keluar, namun McGregor langsung memukulnya.

Inilah awal keributan di dalam oktagon. Islam lalu turun dari pagar hendak membalas, tetapi sudah dihalangi petugas. Keributan di dalam oktagon memancing tim ofisial Khabib yang lain untuk masuk ke dalam oktagon.

Kita juga melihat dengan detil dari kamera telepon genggam penonton saat Abubakar Nurmagomedov, sepupu Khabib, masuk juga ke dalam oktagon dan hendak memukul McGregor namun meleset dan malah kena pukul balik membuat bagian bawah mata kanannya lebam.

Zubaira Tugukhov yang berkaos merah masuk terakhir ke dalam oktagon untuk langsung memukul McGregor dari belakang. Tak bisa ditepis. Beberapa pukulan masuk.

Panitia langsung melerai dan menjauhkan McGregor dari kerumunan, namun lupa dengan Islam yang sempat dikawal sehingga ia lepas dari pengawasan dan langsung menerjang McGregor.

Sudut-sudut itu semua diambil dari kamera para penonton. Saya yakin masih banyak rekaman dari banyak sudut yang belum terlihat karena keterbatasan untuk menjangkaunya melalui “tag” yang lebih spesifik atau karena memang tak diunggah ke media sosial.

Ini saat Islam lepas dari pengawasan dan menghantam McGregor.

Bahkan, sebelum saya menulis catatan ini saya mendapatkan sudut baru yang belum pernah terlihat sebelumnya di hari pertama dan kedua. Sudut ini baru muncul di hari ketiga. Rekaman ini menunjukkan secara jelas bagaimana pukulan-pukulan Zuba melesak mengenai McGregor.

Dari semua itu, sudah jelas, di era sekarang, penonton bisa menjadi kamerawan, produser, sekaligus publisis. Penonton, dalam hal ini masyarakat, menyajikan fakta yang tak bisa ditangkap atau sengaja ditutupi oleh media arus utama.

Uniknya media arus utama pun menjadikan video-video rekaman amatir itu sebagai sumber referensi berita. Contohnya, seusai pertandingan itu perkelahian berlanjut di luar gelanggang UFC antara fan dari Rusia dan Irlandia. Satu orang Irlandia yang memprovokasi fan Rusia dengan jari tengah terjungkal KO hanya dengan satu pukulan.

Saya ingat dengan buku yang ditulis pada 2004 oleh Dan Gillmor berjudul Grassroots Journalism by the People, for the people. Menurutnya begini: “Humans have always told each other stories, and eachnew era of progress has led to an expansion of storytelling.”

“Ini juga merupakan kisah revolusi modern, namun, karena teknologi telah memberi kita alat komunikasi yang memungkinkan siapa pun menjadi jurnalis dengan biaya kecil dan dengan jangkauan global,“ tambah Dan Gillmor. Tentunya dengan media sosial sebagai pelantang yang memekakkan telinga.

Pernah dulu seorang wartawan ditanya peserta pelatihan jurnalistik, “Mengapa sempat-sempatnya pewarta itu memfoto kecelakaan bus penuh penumpang yang terbakar daripada segera ikut menolongnya?”

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, di setiap kejadian, orang akan menekan tombol merah video terlebih dulu ketimbang menolong.

Setiap orang punya peluang yang sama. Dari sudut mana pun.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di pagar oktagon 😀
10 Oktober 2018
Foto-foto istimewa di atas diambil dari Instagram.

Advertisements

One thought on “Mata Kamera Penonton Meneropong Sudut-sudut Oktagon

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.