Matanya Bukan Mata Medusa


 

Satu-satunya kesedihanku ialah
bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu,
ketika kau memandangku.

Panggilan telepon di malam hari itu masuk ke telepon genggam saya. Dari sebuah nomor yang tak dikenal. Tapi saya masih bersedia mengangkatnya. Commuter line yang saya naiki sebentar lagi masuk Stasiun Citayam.

Ternyata masih urusan kantor. Dari seorang sejawat di direktorat lain. Suara dari pelantang menyentak saya bahwa kereta rel listrik akan segera tiba di Stasiun Citayam. Bergegas saya mengambil tas warna hitam dari atas rak. Kemudian ketika pintu commuter line terbuka, saya pun turun.

Saya tak segera menuju pintu keluar stasiun. Saya menuju bangku peron dan membuka aplikasi percakapan. Saya harus menyampaikan hal panggilan telepon itu kepada atasan saya di grup kantor.

Setelah menyampaikan semua kepadanya saya baru sadar kalau telepon genggam ini hampir kehabisan daya. Saya membuka tas untuk mengambil catu daya. Saat membuka tas, saya heran kok ada kaos putih di dalamnya. Ah, ini pasti ulah teman saya yang menitip kaos tak bilang-bilang.

Tapi tunggu dulu, lebih dalam saya korek lagi kedalaman tas itu, saya terperanjat, ini bukan tas saya. “Nyuuuut.” Keterkejutan yang bikin jantung saya hampir lepas dari engselnya. Seperti keterkejutan Yudistira kehilangan Drupadi karena dadu yang dilempar Sengkuni. Saya salah mengambil tas. Tas ini milik orang lain. Terbayang juga dompet, kacamata, hard disk, dan flash disk yang berisi dokumen-dokumen penting saya.

Saya segera menuju ruang informasi untuk mengabarkan ini. Petugasnya langsung membantu dengan mengontak petugas keamanan di stasiun-stasiun berikutnya. Sembari itu, saya membuka-buka isi tas, barangkali bisa menemukan nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Isi tasnya pun hampir sama dengan isi tas saya. Ada beberapa botol air minum dan dokumen-dokumen penting seperti kartu keluarga, akta kelahiran, KTP, paspor, dan banyak lagi yang lainnya. Dengan dibantu petugas saya mencari-cari nomor telepon. Tak lama, petugas itu menemukan slip penyetoran bank dan di sana tercantum nama serta nomor telepon.

Saya segera menelepon. Panggilan diterima oleh gawai di ujung sana. “Ayo cepat, cepat, diangkat,” seru saya tak sabar. Alhamdulillah, suara lelaki terdengar.

“Tasnya tertukar ya, Pak?” tanyanya langsung.

“Iya. Bapak ada di mana?”

“Ini sudah mau masuk Stasiun Bogor.”

“Ya sudah Pak, saya ke Stasiun Bogor. Bapak tunggu di sana.”

“Iya. Barangnya masih aman kok, Pak.”

“Tunggu di ruang informasi ya Pak. Terima kasih.”

Saya menghela nafas lega seperti kelegaan mereka yang hadir di balairung Hastinapura setelah mendengar ucapan Widura yang menyatakan pertaruhan Drupadi oleh Yudistira adalah tak sah. Setidaknya tas saya masih ada dan aman.

Setelah itu saya naik kereta rel listrik yang baru tiba dari Jakarta. Penunjuk waktu surgawi sudah berada di angka 21.30. Di antara Stasiun Citayam dan Bogor ini masih ada dua stasiun lagi yaitu Bojonggede dan Cilebut. Butuh waktu lebih dari 15 menit. Baterai telepon genggam saya tinggal 6%. Gawat kalau mati. Untuk menghemat tenaga, saya posisikan telepon genggam dalam mode “flight”.

Saya berjalan dari gerbong ke gerbong yang tak penuh ini untuk mencari kira-kira ada tidak penumpang yang bisa meminjamkan catu dayanya. Saya duduk di sebelah pemuda yang asyik dengan gawainya. Saya menyapa dan mengutarakan maksud, tetapi sayang ia tak punya alat kecil itu.

Saya melirik ke bapak-bapak yang berada di sebelah kiri saya dan meminta tolong kepadanya. Alhamdulillah dia punya. Dia menyodorkan ujung kabel dari dalam tas dan memberikannya kepada saya. Akhirnya saya bisa memperpanjang nyawa kehidupan alat ini. Tak perlu lama, cukup untuk sekadar menelepon. Semoga engkau masuk surga, Bapak. Doa saya buat kebaikannya.

Commuter line tiba di Stasiun Bogor. Saya bertanya kepada petugas keamanan di mana letak ruang informasi. Segera saya menuju ke arah yang ditunjuknya. Dari kejauhan, di luar ruang informasi, saya melihat ada seorang lelaki yang sedang duduk dengan tas hitam berada di depannya.

Tas yang memang mirip. Sebelah kiri adalah tas saya.

Akhirnya kami bertemu dan saling menjejerkan tas. Betul, tas kami mirip dengan lambang dan jenama yang sama. Pantas saja saya tak merasa itu bukan tas saya. Dan perasaan saya sewaktu menaruh tas pertama kali, tas saya berada di posisi paling atas. Jadi wajar kalau saya mengambil tas yang paling atas, tanpa saya sadari sebelumnya ada tas dengan warna yang sama menumpuki tas saya.

Permintaan maaf karena terjadi peristiwa ini saya ajukan. Setelah itu kami pun langsung berpamitan. Tak ada pengecekan tas karena masing-masing sudah percaya bahwa tidak ada yang kurang di dalam tasnya. Saya lebih percaya lagi kepadanya karena di dalam tas miliknya ada satu mushaf Alquran. Sorot matanya pun bukan sorot mata Medusa.

Kemudian saya masuk ke dalam toko roti untuk mengganjal perut yang baru terasa perihnya setelah semua itu usai. Sayang sekali, di toko itu, segala perihal tentang minuman, termasuk di dalamnya adalah kepahitan kopi, sudah di-close, sudah tidak dijual lagi di malam yang mulai gigil.

Dalam sobekan roti yang saya kunyah perlahan, pikiran saya mikraj. Ini kejadian ketiga kalinya tas hilang. Syukurnya masih dapat ditemukan lagi. Termasuk di dalamnya peristiwa ketinggalan tas kecil di rak atas commuter line, dulu, dulu sekali. Kok bisa berulang kali hal ihwal semacam ini?

Aih, betapa banyak Allah mengganjar saya dengan pertolongannya pada situasi malam ini. Begitu banyak variabel, yang kalau meleset sedikit, tas itu akan tak mudah untuk ditemukan kembali.

Pertama, saya langsung mengetahui ada yang salah dengan tas yang saya bawa selepas keluar dari kereta. Kedua, ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Ketiga, telepon genggam pemilik tas tidak ada di tas itu, ini berarti telepon genggam itu sedang ada di tangannya. Keempat, telepon genggam pemilik tas yang saya ambil dalam keadaan hidup. Kelima, panggilan telepon langsung diangkatnya walau berasal dari nomor yang tak dikenal.

Barangkali ini seperti variabel kemungkinan menang yang tak dimiliki Yudistira. Hingga pada akhirnya ia kembali kalah dan menjalani pembuangan di hutan rimba bersama keempat saudaranya dan Drupadi. Ah…

Malam semakin pendiam, tapi ada jantung yang tak pernah diam berdetak dan bersyukur atas semua yang ada. Bersyukur atas malam yang tak berujung pada sebuah kehilangan. Dan inilah kebahagiaan yang semestinya disyukuri banyak-banyak.

Di Stasiun Citayam, pintu kereta membuka, saya melangkahkan kaki keluar. Sampai di sini saya teringat satu fragmen Monolog Karna, ketika Karna keluar dari tendanya sambil mengusap busur panah. Itu adalah malam terakhirnya di Padang Kurusetra.

Karna baru saja menulis surat untuk istrinya Surtikanti. Beberapa baitnya adalah seperti ini: “Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Malam gagal menjadi resah.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citayam, 1 Oktober 2017
Gambar dari wallup.net

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s