RIHLAH RIZA #64: Sindrom Kursi Belakang


image
Via stouttrainpitt.com

Mobil travel Kijang berangkat malam itu dari Medan menuju Tapaktuan. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Mobil diesel ini bermuatan penuh orang dan barang. Di samping supir ada seorang wanita. Di bangku tengah sepasang suami istri dan seorang laki-laki separuh baya. Dan di kursi belakang ada saya yang diapit oleh tumpukan kardus  dan seseorang perempuan berparas cantik nan rupawan.

Sebuah posisi duduk yang serta merta harus diterima karena saya telat memesan kursi untuk perjalanan jauh selama 10 jam itu. Dihimpit sedemikian rupa itu membuat saya terduduk kaku dan tak bisa bergerak sama sekali. Walau masih ada beberapa sentimeter jarak saya dengannya.

Sampai suatu ketika, di sebuah jarak tempuh, usai berhenti di tempat peristirahatan pertama, tiba-tiba saya terbangun. Gelisah memuncak. Panik melanda. Keringat mengucur. Nafas sesak. Saya merasa kesempitan yang luar biasa. Seperti terhimpit sedemikian rupa. Padahal saya secara zahir tak pernah dihimpit oleh tumpukan kardus atau tubuh perempuan itu.

Ini seperti saya dimasukkan ke dalam peti mati kemudian dikubur hidup-hidup. Seperti dipenjara dalam sebuah sel kemudian air bah melanda. Seperti berada dalam sebuah kamar kabin kapal laut kemudian kapal itu tenggelam sedangkan saya tak bisa berbuat apa-apa.

Pertanyaan saya adalah apakah saya akan mengalami hal ini sepanjang 6 jam perjalanan tersisa itu?  Kebetulan pandangan saya ke depan terhalang oleh bantal penumpang yang ada di kursi tengah. Sehingga kegelapan pun menjadi gempita dalam kepanikan itu. Inginnya teriak kepada sang supir untuk berhenti dan saya turun. Tapi itu tak pernah dilakukan saya.

Saya gemetar. Lalu berusaha menenangkan diri. Berupaya menghapus bayangan ketakutan itu. Menarik nafas panjang-panjang Dan berusaha meredam kepanikan dengan memejamkan mata. Sudah barang tentu istighfar tak luput terucap dari mulut saya.

Lama kelamaan saya pun sudah tenang kembali. Berusaha berpikir positif bahwa ini tak akan lama. Ini pengalaman paling menakutkan pertama saya ketika naik travel. Padahal saya juga sering duduk di jok belakang. Ini sindrom ruang sempit. Sindrom kursi belakang. Biasanya saya mudah tidur tapi malam tadi tidak sama sekali. Barangkali ini akan jadi yang terakhir untuk duduk di kursi belakang, di tengah-tengah, di sebelah perempuan, di sebelah lagi tumpukan kardus tinggi.

Semoga tak terulang lagi.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Tapaktuan, 16 Juni 2015

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s