Yth. Bro and Sist…


 

Yth. Bro and sist semua

di manapun berada.

 

Bro and Sist…apa kabar pagi ini? Saya harap bro and sist semua baik-baik saja. Sehat semuanya. Jasmani dan ruhaninya. Bangun tidur tadi pagi dengan penuh semangat dan keceriaan. Walaupun pahitnya hidup masih dirasa di pelupuk mata, tapi anggaplah itu sebagai pelangi agar hidup kita terasa lebih berwarna. Yang tak punya problema hidup berat, bersyukurlah ternyata Tuhan masih banyak memberikan kepada kita nikmat yang lebih daripada yang masih tidur di kolong-kolong jembatan itu.

Bro and sist…saya mau cerita nih. Saya harap cerita ini bermanfaat buat kita semua. Cerita ini teramat menggugah saya. Dikisahkan dari teman baru saya yang berasal dari Sidoarjo sana. Kurang lebihnya begini ceritanya bro and sist.

Ada tiga orang terpidana mati. Mereka akan dihukum mati malam ini. Caranya? Mereka akan dimasukkan ke dalam kotak sempit dan gelap. Dari celah sempit yang sengaja dibuat di kotak itu terjulur ke luar selang seukuran jempol manusia.

Sebelum mereka dimasukkan, algojo membisikkan sesuatu kepada mereka, “kamu akan dijebloskan ke dalam kotak itu dan saya akan alirkan gas beracun itu pelan-pelan ke dalamnya, lalu kamu akan mati perlahan-lahan.”

Apa yang terjadi bro and sist dengan ketiga terpidana mati itu? Keesokan paginya, saat kotak itu dibuka, dua orang mati sedangkan satu lainnya sekarat. Padahal, bro and sist, tidak ada sedikitpun gas beracun yang dialirkan ke dalam kotak itu. Lalu mengapa mereka mati? Pikiran mereka yang menyakiti dan membunuh mereka sendiri.

Begitulah bro and sist, di saat pikiran kita telah tertanam sesuatu yang negatif maka pikiran dalam otak yang ada di batok kepala kita itu mengirimkan sinyal-sinyal negatif dan mematikan kepada seluruh anggota tubuh.

Otak dengan sinyal-sinyal elektriknya akan memerintahkan kaki untuk tidak bergerak, darah untuk berhenti mengalir, jantung untuk stop berdenyut, dan seluruh tubuh untuk menjadi pecundang. Mati. Maka matilah ia.

Bro and sist, yang dibutuhkan seorang karateka, petinju, pesepak bola, pegolf, pesilat, pedayung, petenis meja, atau olahragawan lainnya selain dari keahlian teknis yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan maka kekuatan mental juara harus dimiliki oleh mereka. Pantang menyerah sebelum bertanding. Pantang ada kata “kalah” dalam pikirannya.

Karena jika “kalah” itu sudah menjadi penguasa dalam pikirannya maka otak akan memerintahkan kaki, tangan, siku, lutut, dan organ tubuh lainnya untuk diam, kalah, takluk, ambau, tumbang, dan tunduk. Ia menjadi pecundang.

Bro and sist, itulah yang namanya kekuatan berpikir. Dan betullah apa yang telah dikatakan teladan kita, Muhammad saw, kalau Tuhan itu tergantung dari prasangka hamba-Nya. Kalau hambanya ketika bangun tidur sudah pesimis duluan dalam menghadapi hidup maka ia seharian itu seakan mempunyai dunia yang seolah neraka. Tak memberinya kebahagian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kepedihan.

Kalau hamba-Nya di saat berdoa tak mempunyai keyakinan untuk dikabulkan doanya, ya sudah Tuhan juga tak perlu untuk mengabulkan doa hamba-Nya itu. Begitupula sebaliknya.

Pun, kalimat yang terlontar dari lidahnya pada saat menjenguk orang yang sakit adalah kalimat-kalimat positif yang mengandung kekuatan luar biasa. Laa ba’tsa, thohurun, Insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

Bro and sist…membaca cerita itu saya jadi malu kepada diri sendiri. Terlalu banyak nikmat yang diberikan kepada saya tetapi saya begini-begini bae. Maksudnya kalau dilihat dari grafik naik atau turunnya iman, kayaknya degradasinya terlalu tajam. Bro and sist bagaimana? Saya harap tidak lah yah…

Bro and sist… orang yang terbaik di antara kita bukanlah orang yang selalu benar, tetapi yang terbaik adalah orang yang ketika ia salah ia lalu menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Itulah yang terbaik di antara kita. Dan tentunya ada sebuah asa dari saya kalau bro and sist lebih baik daripada saya.

Bro and sist…kembali kepada masalah kekuatan berpikir itu, maka kita hendaknya selalu bertekad untuk memenuhi hidup kita dengan sebuah keyakinan yang positif, positif, dan positif. Yah…minimal ketika bangun dari tidur kita berpikir seperti ini:

Kalau ada hutang yang menumpuk, ah…yakin suatu saat pasti terbayar. Insya Allah.

Jika ada sakit yang menyeri tak tertahankan, ah…yakin hari ini juga akan sembuh. Insya Allah.

Andaikata ada beban pekerjaan yang teramat sulit, ah…yakin hari ini dimudahkan. Insya Allah.

Jikalau ada cinta yang tertolak, ah…yakin hari ini cinta itu baru, datang, dan kembali. Insya Allah.

Andaikan ada hati yang tersakiti, ah…yakin pintu maaf itu akan terbuka lebar darinya. Insya Allah.

Kalau-kalau ada rezeki yang tak kunjung datang, seperti IPK (imbalan prestasi kerja) misalnya, ah…yakin rezeki itu tak akan lari ke mana. Insya Allah.

Semampang ada penyejuk mata yang tak kunjung hadir untuk menghibur kita, ah…yakin purnama depan ada bulan yang terlambat datang menjemput kita atau pasangan kita. Insya Allah.

Semisal jabatan tak kunjung naik, ah…yakin ada yang lebih baik daripada sekadar itu. Insya Allah.

Senyampang kita tak kunjung berkumpul dengan keluarga karena bertugas nun jauh di sana, ah…yakin kita bisa berhimpun dengan mereka besok. Insya Allah.

Seumpama ada hasil ujian yang mengecewakan, ah…yakinlah tahun depan kita lulus dan masuk menjadi peserta yang terbaik. Insya Allah.

Sekiranya ada begitu banyak cita yang belum terwujud sedemikian rupa, ah yakinlah semua itu akan terjadi untuk kita semua besok. Insya Allah.

Ihwalnya adalah sudahkah kita meminta semua itu kepada Tuhan? Sudahkah dengan sebuah keyakinan yang teramat positif?

Bila dua pertanyaan itu terjawab dengan satu kata lima huruf “sudah”, yakinlah semua itu tinggal menunggu waktu.

Dengan izin Allah, Bro and Sist…

***

Artikel ini khusus saya persembahkan buat teman-teman milis dedaunan (pajak.go.id). Tidak saya unggah di manapun sebelum bro and sist menikmatinya terlebih dahulu.

Herlin Sulismiyarti ; HARTYASTUTI ; Harsoyo ; GANUNG HARNAWA ; Fee ; Euis Purnama Sari ; Erwinsyah ; Erwan ; Ervan.Budianto ; Erni Nurdiana ; ERIN FADILASARI ; Erfan ; ENI SUSILOWATI ; EMMA KATANINGRUM ; ELDES GINA KENCANAWATI MARBUN SS ; Dina LestariDian Rahmawati ; DEWI DAMAYANTI ; DEWI ANDRIANI ; DESIANA WITIANINGTYAS ; DESI PURBI MULYANI ; CUCU SRI RAHAYU BOTUTIHE ; Binanto Suryono ; Ayu Diah Rahmayati ; Awik Setyaningsih ; Ardiana ; ANTON RUKMANA ; ANIK NOERDIANINGSIH ; ANANG ANGGARJITO ; AMRAN ; ALIYAH ; AL MUKMIN ; Agus Budihardjo ; Agung.Susanto ; Ade Hasan Pahru Roji ; Abdul Manan L. L. M. ; 060089104-MOHAMMAD SUROTO ; BUDI UTOMO

ZAKKI ASYHARI ; UJANG SOBARI ; UHA INDIBA DRS ; TUJANAWATI ; TRI SATYA HADI ; Tosirin ; Tjandra Risnandar ; Titik Minarti ; Tintan Dewiyana ; SULISTIYOWATI ; SITI NURAINI ; Setyo.Harini ; RULI KUSHENDRAYU ; ROOS.YULINAPATRIANINGSIH; RINA FEBRIANA SITEPU ; RIMON DOMIYAN ; Ratna Marlina ; Nugroho Putu Warsito ; NANA DIANA ; NADY SAPUTRA ; LISTYA RINDRAWARDHANI ; LIA YULIANI ; LAYLI SULISTIORINI ; Larisman Gaja ; KHURIAH NUR AZIZAH ; Khadijah ; Ita Dyah Nursanti ; IRMA HANDAYANI ; INDRIA SARI ; IMAMUDDIN HAKIM ; Ikaring Tyas Aseaningrum ; Ibu Leli Listianawati ; Ibu Mona Junita Nasution; HERRI RAKHMAT SE.AK ; HERPRANOTO ; ROSVITA WARDHANI

 

 

Tags: muhammad, ipk, imbalan prestasi kerja, hukuman mati, terpidana mati

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.59 16 Desember 2010

 

 

 

Advertisements

One thought on “Yth. Bro and Sist…

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s