JABAT TANGAN YANG DIPERSOALKAN


JABAT TANGAN YANG DIPERSOALKAN

Pemberitaan media saat ini terhadap jabat tangan Tiffatul Sembiring dengan Michelle Obama, Selasa (9/10/2010), menurut saya sudah lebay. Memang sangat menarik untuk menteri kita yang satu ini. Apapun yang dilakukan dan dikatakannya sering menjadi perhatian publik. Apalagi beliau sangat intens dalam pergaulan di dunia maya melalui twitternya. Resikonya memang dipuji dan dihujat orang.

Salah satunya hari-hari ini. Hujatan dan celaan mampir kepada dirinya. Bagi orang yang beriman tentunya tidak ada masalah karena setiap hujatan dan makian—kalau tidak betul—maka akan membuahkan pahala buat orang yang dihujat dan dimaki itu.

Kasus salamannya dia, bagi saya wajar-wajar saja. Saya—Insya Allah—yang tetap belajar untuk berkomitmen tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Dikhususkan untuk nenek-nenek tua, saya sering bersalaman dengan mereka dan mencium tangan mereka sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Dalam kondisi tertentu saya terkadang tidak bisa menolak jabat tangan itu, ketika saya sudah menangkupkan kedua tangan di depan dada namun tetap “dikejar” dan disentuh oleh tangan tamu yang bukan mahram tersebut. It’s oke, bagi saya tidak masalah. Itu diluar kekuasaan saya. Dan bagi saya tentunya tidak bersalamannya saya dengan yang bukan mahram tersebut adalah bentuk penghormatan saya kepada mereka.

Berkenaan dengan agresifitas menyambut salaman—ini yang dijadikan senjata menghujat Tifatul Sembiring oleh sebagian orang—saya juga sering melakukannya. Contoh, bila ada wanita tamu wajib pajak datang, saya bangkit berdiri dari kursi, langsung menyodorkan kedua tangan lalu menurunkannya kembali dengan cepat. Tidak bersentuhan tangan. Selesai.

Banyak persepsi yang berkembang dengan masalah Tifatul, entah dengan melihat foto dan videonya. Silakan pada pendapatnya. Bagi saya cukup dengan apa yang diungkapkan atau dikatakannya. Bisa dilihat di twitternya langsung. Masalah niat beda itukan urusan dengan Yang Di Atas Sana. Lalu kenapa kita ikut-ikutan menghujat. Nyape-nyapein. Memangnya tidak ada kerjaan lain?

Ada perspektif saya yang mengemuka, yaitu bisa saja Michelle Obama menyodorkan tangan dan memaksa untuk diterima, nah kalau begitu itu namanya pemaksaan terhadap suatu keyakinan. Bertentangan dengan demokrasi dan HAM yang didewa-dewakan oleh Amerika, negaranya sendiri.

Media Indonesia hari ini, Kamis (11/11/2010), mengutip harian Chicago Tribune, sebagai berikut: ” Chicago Tribune yang mengutip pernyataan penulis How to Be a Perfect Stranger, Stuart Matlins, memberikan tips kepada Tifatul cara menolak bersalaman dengan orang yang tidak diinginkan. Jika memang tidak ingin menyambut uluran tangan Michelle, seharusnya kedua tangan Tifatul tetap berada di kedua sisi tubuh.”

Bagi saya tips Stuart Matlins adalah orang yang tidak memahami kearifan dan budaya lokal. Dengan tidak mengangkat tangan dan tetap berada di kedua sisi tubuh itu malah tidak sopan dan tidak menghargai orangnya. Ini bermakna kita ingin bersalaman dengan orang tersebut tapi ada aturan lain yang tidak membolehkannya. Itu saja.

Yang lebay lagi Metro TV, ini ditulis oleh teman saya: ” tendensiusnya Metro TV semalam semakin telanjang waktu Suara Anda menayangkan “Dusta Tifatul” yang semestinya hanya satu penelepon, kemarin ada dua penelpon, padahal untuk berita yg lain hanya satu penelepon. Penelepon yang pertama tidak berhasil digiring untuk menghujat Pak Tif, malah mengapresiasi Pak Tif dengan mengatakan beliau berjiwa besar. Kalau tidak salah peneleponnya dari Pontianak. Eh belum tuntas diputus ada penelepon kedua yang namanya William—kalo tidak salah—mencaci Pak Tif sekaligus mencaci PKS….ketahuan deh belangnya Metro TV, hanya mau menggiring opini….”

Kalau saya perhatikan, entah itu Metro TV atau Media Indonesia, memang seringnya berpandangan negatif terhadap tokoh-tokoh dari partai itu.

Ada beberapa kemungkinan untuk mereka yang berlebay-lebay seperti ini. Jika hati sudah hasad dan benci, penjelasan dengan mulut berbusa-busa pun tidak akan diterima. Pun bangsa ini lagi sakit, ada anak bangsanya mau menegakkan aturan agamanya dicemooh sedemikian rupa. Ini seperti orang yang ingin berbuat baik dilarang dan agar orang yang berniat baik itu tingkah lakunya sama dengan mereka yang tidak berbuat baik itu. Atau dengan kata lain mereka mencela apa yang sebenarnya mereka lakukan sehari-hari.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa orang yang punya prinsip dituntut integritasnya untuk membuktikan seberapa teguh ia memegang prinsipnya. Ya betul sangat tepat sekali. Dan perlu satu tambahan lagi. Jika ia melanggar, jika ia tersalah, dengarkan kenapa ia melakukannya, karena sesungguhnya setiap manusia bisa lalai dan lupa. Jika ia memang mengakui kesalahannya maka ia adalah orang yang memiliki jiwa besar yang tidak ada pada jiwa-jiwa pecundang.

Semoga kita bisa menghargai sesama dan pemilik sejati jiwa-jiwa besar.

Allohua’lam bishshowab.

Berikut kultwit Tifatul Sembiring:

Soal insiden salaman dg bu Michele obama sy tegaskan sbb:1. Sy tetap pada pendirian/sikap utk tidak bersalaman dg wanita yg bukan muhrim.

tifsembiring

2. Ini pandangan fikih Islam yg sy fahami. Sy juga tahu ada tokoh2 besar muslim yg tetap bersalaman dg wanita bukan muhrim, itu urusan ybs.

tifsembiring

3. Namun kadang2 ada situasi terdadak (tiba2) atau bertemu dg org2 yg tidak tahu sikap saya ini.

tifsembiring

4. Biasanya dalam situasi acr kenegaraan atau kadang2 selepas mengisi pengajian di majelis taklim, ada bbrp ibu2 yg berebut mau bersalaman.

tifsembiring

5. Dalam keadaan begitu, sentuhan dan bersalaman tdk bisa saya hindari. Saya memaklumi situasinya, hal ini tdk merubah pendapat sy semula.

tifsembiring

6. Inilah yg terjadi ketika bertemu bu Michele Obama, beliau tamu negara, sy agk menahan tangan Obama saat bersalaman, lalu sampaikan pesan.

tifsembiring

7. Menyusul dg Bu Michele, ini yg saya sebut dg situasi terdadak. Saya majukan 2 tangan, spt cara org Sunda bersalaman.

tifsembiring

8.Dan terjadilah insiden salaman itu. Setelah kembali ke kantor, sy baca di twitter ada mention dari

tifsembiring

9. Kok Tifatul bersalaman dg bu Michele, tapi kalau dg kita2 perempuan tidak mau bersalaman.

tifsembiring

10. Saya jawab di TL sy: Sdh ditahan 2 tangan, eh bu michele nya nyodorin tangannya maju banget…kena deh.

tifsembiring

11. Saya merasa heran juga hal ini kemudian dikembangkan dan menjadi berita internasional.

tifsembiring

12. Fadjroel menuduh sy bohong, ini orang tdk pernah saya layani lagi, sy block, sebab selalu berpandangan negatif thd apapun yg sy lakukan.

tifsembiring

13. Lalu Metro TV mengulasnya, menurut saya agak berlebihan dg membuat judul “Dusta Tifatul”. TIDAK ada dusta disitu, itu prinsip saya.

tifsembiring

14. Dlm situasi tertentu ada hal2 yg saya tolerir dan hal tsb dalam Islam tdk termasuk Kabair (dosa2 besar). Mudah2an teman2 memakluminya.

Tag: muhashofah, jabat tangan, tifatul sembiring, michelle obama, barrack Hussein obama, chicago tribune, How to Be a Perfect Stranger, Stuart Matlins, Metro TV, Media Indonesia, suara anda, dusta tifatul, fadjroel rahman, salaman, bukan mahram, mahram, pks, partai keadilan sejahtera

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

06:50 11 November 2010

 

Advertisements

7 thoughts on “JABAT TANGAN YANG DIPERSOALKAN

  1. akibat berdakwah dengan cara baru, bilangnya dakwah politik, jihad politik dll y,, itulah hizbiyah.

    Riza: saya sih aneh saja. Saya yakin Anda adalah yang termasuk yang berkomitmen untuk tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Tapi sayangnya Anda malah tak berempati dengan orang yang berusaha untuk berkomitmen sama dengan Anda. Berkomentar tapi tak memberi solusi. Malah menghujat ijtihadnya. Ya saya khawatir, saya dan Anda juga adalah orang-orang yang sakit. Senang melihat orang susah. Dan susah melihat orang yang senang. Yuk kita sama-sama istighfar.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s