KEBAKARAN ITU MEREPOTKAN TETANGGA KAMI


KEBAKARAN ITU MEREPOTKAN TETANGGA KAMI

Waktu itu malam Ahad (5/6) belumlah larut. Masih pukul 21.20 WIB. Di Masjid Al-Ikhwan kami sedang mengkaji salah satu hadits di Kitab Riyadushshalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi. Berkenaan dengan curhat teman kami yang tidak ditegur sama tetangganya selama lebih dari tiga hari.

Tiba-tiba datang anak tetangga yang berada di belakang rumah saya sambil berteriak, “Pak…rumahnya Bu Yadi kebakaran.” Saya kaget dan langsung keluar dan betul dari pintu masjid kami bisa melihat api itu sudah membesar membakar atap.

Karena terburu-buru saya tidak tahu sandal siapa yang saya ambil. Laptop dan handphone malah saya biarkan di Masjid. Saya segera turun dan berlari cepat ke rumah Bu Yadi—tetangga persis sebelah rumah saya.

Eh…di sana sudah ada istri saya yang sedang menggendong Kinan. Berteriak-teriak cemas. Dan saya baru tahu kalau yang terbakar itu bukan rumah Bu Yadi tetapi rumah saya sendiri.

Saya segera menuju lantai atas yang terbakar itu. Dan betul api sudah seperti tirai pengantin yang mengelilingi tembok kamar tempat biasa bapak saya tidur. Biasanya saya melihat api yang seperti ini di film-film. Tetapi saya diperlihatkan secara langsung kedahsyatannya pada saat itu.  Saya turun kembali untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Tetapi ketika saya turun itu saya baru teringat bapak bagaimana?

Saya kembali ke atas dan berteriak-teriak memanggil bapak. Saya benar-benar cemas dan sudah memikirkan yang tidak-tidak tentang bapak. Saya mencari-cari di tengah panasnya api dan bara yang turun satu demi satu dan memanaskan kaki saya. Tetapi kok sepertinya tidak ada onggokan tubuh di kasur.  Lalu saya mendengar teriakan istri saya kalau bapak lagi pergi ke Jakarta. Plong…saya bersyukur.

Saya kembali turun dan tidak tahu apa yang saya injak di tangga. Tetapi yang jelas sudah perih sekali terasa. Ternyata Haqi dan Ayyasy masih tidur di kamar depan. Saya minta istri saya bangunkan mereka. Saya lalu segera mengeluarkan tabung gas 12kg. kemudian mengeluarkan motor.

Istri kemudian menyelamatkan dokumen penting yang ada di kamar utama. Karena listrik sudah padam saya juga menyelamatkan sebisanya apa yang ada di laci dengan menuangkan semuanya ke dalam tas. Lalu saya pun mengeluarkan mobil dari garasi. Selesai. Saya sudah tidak memikirkan barang-barang lagi. Pasrah saja. Tapi semua itu sudah membuat badan saya capeknya luar biasa. Saya baru paham juga kalau suasana panik begitu, buka pintu atas dan regulator tabung gas yang begitu mudah saja lamanya minta ampun.

Sekarang saatnya ikut memadamkan api. Para tetangga sudah menaiki genting dan tembok sebelah. Puluhan ember yang berisi air seadanya sudah berulang kali lewat dan naik ke atas untuk mengalahkan api. Ternyata yang paling efektif adalah upaya pemadaman yang dilakukan oleh warga RT belakang. Karena posisinya lebih tinggi dari rumah kami dan dekat dengan sumber air—3 toren milik tetangga belakang. Mereka menjebol genting dan melemparkan batang-batang pohon  pisang.

Akhirnya selama 45 menit upaya pemadaman, api itu padam. Pemadam kebakaran dari Kota Depok dan Kabupaten Bogor ikut datang walaupun terlambat.  Mereka tetap menyemprotkan air untuk melakukan pendinginan dan memastikan bahwa tidak ada api sedikitpun.

Saya kemudian mengecek ke lantai atas. Habis semua barang-barang milik bapak dan adik saya. Uang, buku tabungan, KTP, surat tanah, ijazah, dan tentunya pakaian kerja kami lenyap terbakar.

Saya tidak tahu dari mana api itu berasal. Apakah dari obat nyamuk yang terbakar, ataukah dari colokan listrik, atau dari arus pendek? Tak penting sekarang. Yang saya amat syukuri dari kejadian ini adalah api tidak sampai merembet ke rumah-rumah tetangga saya yang ada di sebelah kiri, kanan, dan belakang.

Tak lama kemudian, teman-teman saya yang dari jauh pada datang. Bahkan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKS yaitu Bapak H. Dadeng Wahyudi datang  dan menyerahkan bantuan langsung berupa materi kepada saya. Saya tidak tahu siapa yang memberitahu beliau. Saya juga baru tahu wajahnya beliau pada saat itu saja.

Malam itu—tentu dalam kondisi yang berantakan—saya masih bertahan untuk tidur di rumah. Tentunya di bagian bawah yang tidak tersentuh api. Istri di rumah tetangga bersama Kinan dan Mbak.  Haqi berada di rumah Bu Putri yang ada di timur. Sedangkan Ayyasy menginap di rumah tetangga yang di barat. Terpisah-pisah.

Di ruang tamu yang becek ada tiga orang pemuda pengajian yang bersikeras untuk tidur di situ daripada di kamar yang masih bersih.

Paginya rumah kami tetap ramai. Banyak tetangga RW yang datang untuk menyatakan keprihatinan dan melihat rumah bagian atas kami yang terbakar. Dan tak lama kemudian anggota halaqah kami membawa pemuda-pemuda tanggung untuk bersama-sama membereskan puing-puing. Dua jam kemudian lantai atas yang tadinya banyak sekali dengan pecahan genting dan abu sudah bersih.

Setelah itu-tahu-tahu-datang dari tetangga kami membawa kayu reng dan atap berbahan polycarbonate untuk menutupi atap yang bolong sekitar 22m2. Untuk memastikan bahwa pada saat hujan nanti rumah bagian bawah selamat dari kebasahan. Ada juga tetangga yang berinisiatif untuk membetulkan jaringan listrik dan air rumah saya yang rusak. Dan tidak sampai tengah hari semua sudah beres.

Sore harinya ibu-ibu pengajian sudah bersiap siaga untuk membersihkan rumah bagian bawah. Sebelum maghrib semua sudah bersih dan dalam kondisi nyaman untuk ditinggali.

Alhamdulillah saya mempunyai tetangga yang baik. Sampai empat hari kejadian itu, tetangga masih berbondong-bondong untuk menyuplai makanan kepada kami. Sungguh saya tidak enak hati sebenarnya dengan kebaikan mereka.

Dan banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Namun kiranya di sini bukanlah saat yang tepat untuk menceritakannya semua. Lain kali Insya Allah.

Namun sungguh saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pihak di bawah ini:

  1. Tetangga kanan dan kiri saya yang paling utama. Pak Sis, Pak Hendro, dan Bu Yadi;
  2. Pak Yunanto, tetangga belakang saya;
  3. Halaqah Malam Mingguan;
  4. Jama’ah Masjid Al-Ikhwan;
  5. Warga RT 11 dan RT.10;
  6. Warga RT.07 dan RT.09;
  7. Bapak Ketua RT 11 dan stafnya;
  8. Bapak Ketua RW 17 dan stafnya;
  9. Warga RW 17;

10.  Dinas Pemadam Kebakaran Kota Depok;

11.  Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor;

12.  Kepala Pos Polisi Pabuaran, Bojonggede, Bogor;

13.  Bapak H. Dadeng Wahyudi Wakil Ketua Fraksi PKS Kabupaten Bogor;

14.  Ustadz Ade Dodo, Tax Manager di Asuransi Takaful;

15.  Pemuda Halaqah As-Semar;

16.  Herry Hadiyanto, Fungsional KPP PMA Empat, Warga RT.03/RW.17;

17.  Ibu-ibu Pengajian Rabu, Majelis Ta’lim Jum’at, Majelis Ta’lim Sabtu dan Ahad;

18.  Ibu-ibu PKK RW 17;

19.  Relawan dan Kepanduan PKS yang tiba-tiba datang untuk membantu;

20.  KPPN 2 Jakarta dan KPP PMA Empat  Direktorat Jenderal Pajak;

21.  Yang menelepon dan yang kirim SMS;

22.  Dan lain-lainnya yang tidak bisa kami sebut satu persatu tetapi tanpa mengurangi rasa hormat saya.

Sungguh saya hanya berharap kepada Allah swt semoga Anda semua diberikan keberkahan dan balasan kebaikan yang berlipat-lipat. Amin.

Maafkan saya yang telah merepotkan Anda semua.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:26 9 Juni 2010

Advertisements

3 thoughts on “KEBAKARAN ITU MEREPOTKAN TETANGGA KAMI

  1. Kepada saudaraku Riza Allahumayarham, afwan jiddan waktui itu ana benar-benar sudah tidur pulas, krn habis kerja/piket dr kantor, paginya ana harus antar istri ke tempat kuliah dan langsung plg jagain anak-anak di rumah. Jadi sampai saat ini ana belum sempat tandang ke rumah antum. Rasanya terenyuh juga ketika membaca tulisan di blok antum. Rasanya merinding dan matapun berkaca-kaca sambari membayang kejadian itu di depan mata. Sungguh sulit dibayangkan jika terjadi pada diri ana. Semoga kejadian ini tidak terulangi lagi, dan tetap semangat dalam menerima cobaan.

    Salam,
    M. Djaenudin

    Riza: syukran akhi…

    Like

  2. yth. pa riza,
    membaca tulisan bapak kali ini saya sedih sekali, tapi apa mau dikata semuanya telah terjadi. saya pembaca yang senang akan tulisan2 dan komentar di blog bapak. mudah2an kejadian ini tidak menyurutkan bapak memberikan pencerahan yang selama ini bapak berikan pada kami. bangkit kembali pak .
    salam saya buat keluarga bapak.

    Riza: terimakasih…

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s