TANGIS ‘ID


TANGIS ‘ID

Ba’da magrib malam ‘id. Saya terpekur di hadapan jama’ah masjid Al-Ikhwan, setelah shalat maghrib yang baru saja saya pimpin. Saya kumandangkan takbir dengan lambat-lambat. Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar. Walillaahil hamd. Suara saya bergetar menahan tangis yang sebisa mungkin saya tahan. Dan ternyata memang tak bisa. Air mata pun menetes. Syahdu sekali suasana saat itu.

    Allah Rabbi, semoga ramadhan itu menjadi ramadhan terindah. Ramadhan yang membuat saya meraih kemuliaan malam lailatul qadr. Ramadhan yang membuat saya sadar bahwa saya adalah manusia biasa, seorang riza (dengan huruf r kecil) yang tak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Ramadhan yang membuat saya menihilkan nafsu syahwat saya.

Alhamdulillah di ramadhan ini ada banyak kesan yang saya dapatkan. Yang mungkin saja berbeda dengan ramadhan tahun lalu. Di ramadhan ini, Insya Allah saya jalani puasa dengan penuh ketenangan, tarawihnya pula. Suasana Masjid Al-Ikhwan yang penuh kegiatan bisa jadi yang membuatnya demikian. Ceramah setiap hari yang saya dengarkan di sana, tadarusannya, ukhuwahnya apatah lagi i’tikafnya sungguh teramat menenangkan sekali.

Dan saya mencetak rekor di bulan ramadhan kali ini yaitu puasa dengan menjalani sahur di setiap harinya. Tidak ada puasa yang dilewati tanpa sahur. Anak-anakpun demikian. Mereka ikut sahur dan berpuasa. Walaupun saya sempat memergoki Haqi sedang membuka kulkas dan memegang botol berisi air dingin yang memang menggiurkan baginya di pagi itu setelah ia berlari-larian dan bermain dengan teman-temannya.

    Masjid Al-Ikhwan Insya Allah menjadi masjid satu-satunya di Pabuaran yang mengadakan progam i’tikaf. Dan memang para pengurusnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang mulai terlupakan oleh masyarakat itu. Dua tahun lalu hanya diikuti oleh remaja saja, tapi Subhanallah pada tahun ini diikuti oleh jama’ah dari luar komplek atau desa kami. Bahkan yang amat mengharukan adalah keikutsertaan dari bapak-bapak sekitar masjid yang di ramadhan tahun –tahun sebelumnya tak pernah ikut i’tikaf. Dan praktis sahur yang kami adakan dan kami sediakan seringnya dikuti minimal 25 orang atau lebih dari empat puluh jika jatuh pada malam ganjil.

    Proses pengumpulan dan pembagian zakat yang kami adalan di sana pun Insya Allah berjalan lancar walaupun masih banyak kekurangannya. Dan agar kekurangan itu tidak terjadi lagi di tahun depan, saya sudah membuat evaluasinya. Semoga lembaran evaluasinya itu bisa dipahami dengan seksama untuk panitia zakat nanti.

    Yang paling membuat nelangsa adalah dua hari menjelang lebaran. Saya yang tidak mudik merasakan kesepian sekali. Jama’ah masjid pun sudah mulai sedikit. Tapi program tarawih di malam terakhir tetap kami lakukan walaupun diiringi dengan hujan yang teramat lebat. Pun program I’tikafnya tetap kami jalankan walaupun dengan sedikit peserta—ada belasan orang sih. Qiyamullail-nya hanya diikuti enam orang. Tapi tak mengapa, show must go on.

    Ta’jil yang kami adakan pun diikuti dengan sedikit orang pula, kebanyakan anak-anak. Tapi tidak mengapa juga, malah membuat doa yang saya panjatkan saat berbuka puasa dapat lebih khusyu lagi insya Allah. Itu adalah buka puasa terakhir di ramadhan ini. Jadi karena khawatir saya tidak berjumpa ramadhan tahun depan saya berusaha memohon pada Allah di saat mustajab itu. Memohon segalanya.

    Malam takbiran, kami pun bertakbiran di masjid. Saya menuliskan di atas kertas teks takbiran yang panjang dengan huruf latin tidak dengan huruf arab. Alasannya belum sempat karena ada jama’ah masjid yang meminta segera. Insya Allah nanti akan kutuliskan dalam huruf arab, dan akan saya laminating agar bisa awet. Dengan kertas itu akhirnya para jama’ah yang dulu tidak tahu teks takbir panjang akhirnya menjadi tahu dan mempraktikannya langsung. Memang ilmu itu harus dibagi bukan untuk diri sendiri. Selain saya memang ada yang bisa melantunkan takbir dengan teks panjang itu. Tapi bapak-bapak mungkin nyamannya dengan saya sehingga meminta saya untuk menuliskannya di atas kertas. Tak mengapa.

    Pagi ‘Id. Tanpa baju baru, hanya baju koko tahun-tahun sebelumnya yang dilapis dengan jas hitam bekas akad nikah 9 tahun lalu saya bersimpuh di Masjid Al-Ikhwan untuk mengikuti pelaksanaan Sholat ‘id. Kembali, takbiran itu membuat saya meneteskan air mata. Teringat dosa-dosa, teringat almarhumah ibu, teringat bapak yang untuk tahun ini berlebaran di Padang dengan adik saya, teringat ramadhan yang sudah meninggalkan saya, dan teringat segalanya.

    Yah…akhirnya saya banyak berharap sekali pada ramadhan ini. Semoga mengembalikan saya pada titik nol lagi. Lalu menanjak ke arah yang positif tidak anjlok lagi turun ke negatif. Ya Allah, ya Rabb pertemukan aku kembali dengan ramadhan yang akan datang.

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:59, 06 Oktober 2008

 

 

    

    

Advertisements

One thought on “TANGIS ‘ID

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s