KARENA SA’D BERDOA


Suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqqash, berkata pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, doakan saya agar saya menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah.” Lalu Rasulullah berkata: “Wahai Sa’d, Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.”
Dan Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW. Sepeninggal Rasulullah, saat Sa’d menjadi Gubernur Kufah di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab ia diadukan oleh warganya kepada Khalifah yang berada di Madinah. Dengan sebuah pengaduan bahwa ia tidak beres saat menjadi imam sholat mereka.
Sahabat Umar tidak serta merta mempercayai pengaduan itu, karena ia tahu benar tentang kemuliaan akhlak Sa’d. Ia mengutus beberapa sahabat terpercayanya untuk mengecek kebenaran laporan tersebut. Berangkatlah beberapa sahabat dari Madinah menuju Kufah. Sampai di sana mereka langsung bekerja melakukan investigasi dengan mendatangi masjid-masjid yang ada di Kufah.
Para ahlul masjid saat ditanya tentang Sa’d maka mereka menjawab bahwa Sa’d adalah orang yang adil dan mereka senantiasa mendoakan kebaikan untuk Sa’d. Hampir semua masjid di kota Kufah berpendapat yang sama tentang Sa’d. Terkecuali satu masjid yang berbeda dan salah satu jama’ahnya berdiri dan berkata:
“Tentang Sa’d, Wallahi, dia adalah orang yang tidak adil, tidak merata dalam pembagian ghanimah, dan tidak pernah pergi bersama pasukannya.”
Mendengar perkataan orang tersebut, Sa’d langsung berdiri dan berkata: “Ya Allah, jikalau orang ini berbicara secara dusta, riya’ dan ingin pamer, maka panjangkanlah umurnya, kekalkanlah kefakirannya, dan tetapkanlah atas dia fitnah.”
Seorang perawi meriwayatkan ia melihat orang yang didoakan oleh Sa’d itu betapa panjang umurnya. Alisnya menjulur hingga menutupi kedua matanya karena tua rentanya. Pekerjaan orang itu hanya menghadang para gadis di jalan-jalan kota Kufah, seraya menggoda mereka, dan berucap: “aku adalah orang yang tidak tahu diri karena do’a Sa’d.”
Subhanallah, Sa’d menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Karena ia makan dari makanan yang halal. Maka salah satu syarat agar doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah adalah demikian.
Pernah merasa betapa banyak doa yang kita panjatkan tetapi tak satu pun jua yang terkabul? Ini bisa menjadi sarana muhasabah bagi kita sendiri, bahwa ternyata: “makanan yang halal—baik dzat dan cara memperolehnya—menjadi tolok ukur diterimanya doa dan seluruh ibadah kita”, kata Imam Ibnu Katsir. Begitu pula sebaliknya.
Sebuah perenungan memerangkap kesenyapan dan menjadikannya lebih senyap karena saya sedang berfikir: “Akankah saya seperti Sa’d? Semoga apa yang selalu Allah kabulkan kepada saya bukanlah sebuah pembiaran. Ampunilah aku ya Allah.”
***
“Seorang laki-laki yang telah berkelana jauh dengan rambutnya yang kusut masai dan pakaian yang penuh debu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdo’a; ‘Ya Allah, ya Allah’, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dibesarkan dengan makanan haram, bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya itu”. (HR Muslim).
“Janganlah salah seorang dari kamu mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetap hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR. Abu Dawud).

Maraji:
1. Cambuk Hati, ‘Aidh Al Qorni
2. Makanan Haram, Ummu Fathin, Republika, 19 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:35 02 Oktober 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s