”MENEMBAK” ANAK TETANGGA


”MENEMBAK” ANAK TETANGGA
(I LOVE YOU)

Melihatnya dan mendengar curahan hatinya seperti melihat diri saya sendiri berumur belasan tahun. Kegundahan hati anak yang baru menginjak kelas satu SMP ini—sebut saja Alex—terasa sekali dari setiap gerakan matanya. Bahkan sangat mencolok dengan hembusan nafas yang ia perdengarkan ke sekeliling untuk meneguhkan hatinya yang tumbang karena penolakan.
Ya, anak tetangga saya satu RT ini baru saja ‘menembak’ Bunga—remaja perempuan yang umurnya pun baru belasan tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia pun anak dari tetangga saya yang lain. Hasil dari tembakannya bisa ditebak karena selain tidak memenuhi kriteria menurut pandangan kapitalisme yaitu tinggi, putih, dan macho juga tentunya si Alex umurnya jauh di bawah Bunga. Walaupun sempat terucap dari Bunga: ”itulah namanya cinta”, saat ditanya oleh si Alex ”bolehkah saya mencintaimu walau engkau kakak kelas saya.”
Luar biasa filosofisnya perjalanan kehidupan anak-anak zaman sekarang. Filosofi yang dikarbit untuk mengejar waktu yang membuat mereka lebih cepat dewasa dari yang sebenarnya. Dengan bahan karbit berupa tayangan sinetron remaja penuh hedonisme di setiap malamnya dan pesan-pesan singkat yang bersileweran via telepon genggam yang sudah menjadi aksesoris primer.
”Bi, saya sempat berpikir apakah ia jodoh saya atau bukan?” Saya sampai tertawa—tapi tentunya di dalam hati—mendengar pemikiran setengah pertanyaan tersebut.
”Saya sakit hati, Bi.”
”Saya menangis dalam sholat, Bi.”
”Bunga sepertinya memberikan harapan.”
”Saya tidak bisa tidur.”
”Saya tidak bisa melupakannya.”
”Saya sampai sakit dan disuruh pulang sama Bu Guru.”
”Saya cuma ingin dia tidak bergaul dengan anak-anak nakal.”
”Pacaran dosa enggak sih, Bi?”
”Kalau pacaran tidak pegang-pegang gimana tuh, Bi?
Masih banyak penjelasan dan pertanyaan yang ia berikan menemani curhatnya kepada saya sebagai ”guru sipritual”nya. Curhat yang membuat saya harus berdiam terlebih dahulu untuk mendengar semua apa yang ia ingin katakan. Saya paham sekali yang ia butuhkan adalah tempat untuk membuang segala keresahannya. Dan menurutnya saya adalah tempat yang tepat sekali. Dan saya paham sekali bagaimana sih wujud metamorfosis dari cinta monyet yang gagal itu, karena saya tentunya adalah mantan remaja.
Tapi satu yang pasti adalah ah, ternyata mungkin beginilah tingkah saya dulu saat mengejar cinta. Beginilah apa yang dirasakan oleh orang dewasa dulu saat mendengar curhatan saya. Pertama, tertawa yang pasti. Kedua, segalanya mudah ditebak. Ketiga, berpikir bahwa zaman yang kau tempuh masih panjang, Dik.
Lalu setelah lama ia berbicara, giliran sayalah yang beraksi. Dalam hati, inginnya saya bagaimana ia bisa tetap eksis untuk mendapatkan cinta Bunga. Tapi jelas hal ini melenceng jauh dan bertolak belakang dari misi yang saya bawa setiap harinya. Saya bukan konsultan gelap untuk itu. Dan sungguh bukanlah waktunya untuk menerapkan trik syar’i mendapatkan Bunga dengan jalan perjodohan sebagaimana biasa yang ditempuh para mahasiswa era kampus saya dulu.
Pastinya banyak nasehat klasik yang meluncur dari mulut saya dan dengan hati tentunya. Nasehat yang sudah biasa dibuat oleh para orang tua yang selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk giat belajar dan tidak berpacaran atau menikah dulu saat menempuh ilmu.
Sedikit membosankan memang tapi itu suatu kepastian yang dituntut dari seorang pelajar dan hamba Allah yang senantiasa waktunya digunakan untuk mengingat Allah. Tapi saya tidak melupakan janji Penguasa Jagat Raya kepadanya. Sesungguhnya pemuda calon penghuni surga adalah pemuda yang mampu menghindar dari nikmatnya maksyiat saat ia sanggup untuk melahapnya di depan mata.
Tidak hanya nasehat tentunya agar ia bisa menghilangkan kesahnya. Saya menyuruhnya melakukan apa yang biasa saya lakukan pada saat menenggak keresahan, yaitu menulis apa yang ia rasakan pada secarik kertas dan memberikannya kepada saya. Mungkin terapi ini bisa membantu.
Pun saya memberikan solusi yang bisa mengalihkan perhatiannya. Saya ajak ia untuk ikut acara mabit di masjid kampung tetangga malam ahad besok. Supaya tidak sepi di malam panjang yang menggoda itu, saya menyuruhnya untuk mengajak semua teman-temannya ikut acara itu. Sekalian mengasah kepekaan hati bermunajat di rakaat-rakaat panjang sepertiga malam terakhir. ”Lex, pintalah apa yang kau mau padanya, saat itu.”
Untuk Sang Bunga, saya cuma bisa menyerahkan kepada sang istri—tempat di mana Bunga mengulang hafalannya—untuk menasehatinya agar senantiasa menjaga aurat, sekeping hati, dan ribuan asanya.
Ah, adik-adikku, anak-anak tetanggaku, masih jauh senja di pandang mata, masih jauh waktu yang akan kau tempuh, bersemailah, bermekaranlah menjadi pemuda-pemudi tangguh untuk masa depanmu. Kelak kau akan merasakan nikmatnya iman pada diri-diri yang shalih, keluarga yang shalih, dan masyarakat yang shalih. Tidak hanya engkau berdua saja.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:32 05 September 2006

Advertisements

One thought on “”MENEMBAK” ANAK TETANGGA

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s