Blog Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.

Posts Tagged ‘ambeyen

SETAN JINGKRAKAN SAMBIL NYANYI GENJER-GENJER

with one comment


SETAN JINGKRAKAN SAMBIL NYANYI GENJER-GENJER

Apa yang paling banyak diklik di blog saya sejak blog itu eksis sampai tulisan ini dibuat? Ini dia statistiknya:

Setengah dari kapasitas full stadion Gelora Bung Karno Senayan pernah mengklik artikel mengenai ambeien ini. Ini kisah yang saya tulis ulang tentang bagaimana cara teman saya mengatasi ambeien parahnya dengan hanya menggunakan obat-obatan tradisional. Untuk mau jelasnya baca yang ini.

Kalau kata ‘”ambeien” diketikkan di Google, artikel itu menduduki peringkat kedua, walaupun sudah ditulis sedari Maret 2008. Diprediksi lebih dari 50.000 orang Indonesia pernah punya gejala sakit ini. Pertanda banyak yang belum mampu untuk mengatur pola makannya yang sehat.

Santai saja Saudara, ambeien ini tidak mematikan, tapi hanya mengurangi kuantitas kualitas hidup saja. Jangan malu, karena Anda tidak sendiri, minimal 50.000 orang adalah teman Anda. Dan jumlah ini akan bertambah seiring dengan waktu selama blog ini masih hidup. Argonya jalan terus. Saya turut senang menyebarkan cara hebat atasi sakit ini. Insya Allah banyak orang yang terbantu dengan metode ini. Minimal sebagai antisipasi kalau-kalau saya juga kena penyakit ini.

Nah, kalau homepage kita abaikan saja yah. Selanjutnya adalah artikel mengenai akikah. Hebat euyyy, minimal lebih dari 33.000 orang mulai melaksanakan sunnah ini. Artinya setidaknya mereka sudah mulai memahami syariat Islam. Artikel ini tentang contoh kata-kata yang biasanya ditulis di kertas lalu ditaruh di besek makanan selamatan/akikahan. Mau baca artikelnya di sini.

Yang menarik lagi adalah ternyata blog saya ini sering jadi referensi untuk mendapatkan ilmu kebal. Padahal yang saya tulis bukan kebal di fisik tapi kebal di ruhaninya. Buktikan saja dengan bertanya sama Kakak Google, gunakan clue: ilmu kebal. Baca artikelnya di mari aja.

Ini sebuah pembuktian kalau di jaman buah-buahan yang serba canggih seperti Blackberry dan Apple ini masih saja orang suka percayaan yang kayak gituan. Ditembak sama peluru pun, batok kepalanya juga akan pecah berantakan. Mati kagak enak, akidah tergadai, setan jingkrakan sambil nyanyi genjer-genjer, punya teman abadi di neraka. Kita semua berlindung kepada Allah dari semua itu.

Itu saja Saudara, statistik di atas sudah menggambarkan semuanya. Tak perlu berpanjang kata.

Wassalam.

***

Salam buat teman-teman yang ada dan pernah di Seksi Pengawasan dan Konsultasi II KPP PMA Empat: bang Torang Sitanggang, mas Herpranoto, mbak Vera Dameria, Ari Purwanti, Ihsan Tukang Parabola, Mbak Yusrinah, Mas Maman, mas Suyanto di Pontianak—semoga cepat kembali, mas Erfan—semoga cepat kembali juga, mas Oktana yang ada di Jepang—semoga cepat lulus, Ayub Laksono di BKF, mas Harsoyo yang ada di Negeri Madura, bang Erwinsyah Marpaung—semoga cepat berkumpul kembali dengan keluarga, Ibu Linda Napitupulu yang ada di Pengadilan Pajak, mbak Nana Ardiana, dan Ibu Mona Junita Nasution.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.57 24 Januari 2010

 

Tags: genjer-genjer, akikah, akikoh, aqiqah, aqiqoh, kata ucapan aqiqoh, kata-kata akikah, kata-kata aqiqah, kata-kata untuk kelahiran bayi, kelahiran bayi, selamatan, selamatan kelahiran bayi, ucapan akikah, ucapan akikoh, ucapan aqiqah, ucapan aqiqah anak, ucapan aqiqoh, ucapan dalam berkat, ucapan dalam besek, ucapan syukuran kelahiran bayi, ucapan untuk kelahiran bayi, a hun wasir, ambeien, ambeyen, obat ambeien, obat ambeien tradisional, obat ambeiyen, obat ambeyen, obat ambeyen tradisional, obat herbal, obat herbal ambeien, obat herbal ambeyen, obat manjur, obat manjur ambeien, obat manjur ambeyen, Obat Tradisional, obat tradisional ambeien, obat tradisional ambeyen, obat tradisional wasir, obat wasir, wasir

OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN PARAH

with 580 comments


SEBARKAN OBAT TRADISIONAL INI Kawan, ini bukanlah cerita bohongan sebagaimana teman-teman saya bilang tentang sebuah cerita fiksi. Karena apa yang akan aku ceritakan kepada kamu semua adalah cerita bukan fiksi, cerita nyata tentang apa yang dialami oleh sahabat saya. Dia adalah benar-benar sahabat saya sekaligus guru kehidupan saya. Tak perlu kamu tahu nama dia yang sebenarnya. Cukup panggil saja dia A Hun.

A Hun, teman saya ini, berpesan kepada saya untuk menceritakan apa yang dialaminya agar dapat bermanfaat buat orang lain. Karena apa yang dia alami benar-benar di luar perkiraannya. Ya, A Hun menderita ambeien parah, tak perlu juga saya sebutkan proses keparahannya itu karena saya khawatir kamu yang sedang makan dan membaca tulisan ini jadi tidak bisa makan lagi, karena kamu terlalu serius dan fokus untuk membayangkannya. Ah, masalah ini cukup Dibaca dan didengar saja. Selesaikan saja makan kamu lalu barulah mencoba membayangkannya, tetapi tak perlu mengutarakannya lagi pada saya. Karena saya sudah terlalu banyak menelan segala cerita tentang itu.

Ohya, kembali kepada A Hun—ingat yah dia itu teman saya—karena parahnya itu,  berobat ke dokter umum sampai dua kali pun belum bisa membuat pendarahannya berhenti (tak perlu membayangkan lebih dalam lagi). Sampai harus di rujuk ke rumah sakit dan dokter di sana sudah bersedia untuk melakukan operasi kecil pada hari yang telah ditentukan.

Karena sudah trauma dengan selang yang pernah masuk dari alat vitalnya (maaf) waktu dia di opname karena sakit ginjal, maka ia  sangat ketakutan sekali mendengar kata operasi ini. Ia pun berdoa agar penyakitnya segera sembuh. Untuk itu ia berusaha pula untuk mencari obat-obatan alternatif atau tradisonal. Dan ia mendapatkan sesuatu yang berharga untuk proses penyembuhannya. Di tengah pencarian itu ia ditelepon dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. A Hun—dia itu teman saya–menolak untuk datang dan ia meminta pihak rumah sakit untuk mengundurkan jadwal operasi itu di keesokan harinya saja. Ia bilang ia belum siap mental.

Ya ada sebuah obat tradisonal yang dianjurkan oleh saudaranya untuk mengatasi penyakit ini. Dan alhamdulillah sembuh. Apalagi proses penyembuhannya cepat sekali. Pagi itu sebagaimana dianjurkan oleh saudaranya, A Hun pun membuat obat tradisional tersebut. Apa obat tradisional itu? Dan bagaimana cara membuatnya? Berikut rinciannya:

1. Siapkan 1 butir kelapa tua;

2. Siapkan 1 butir tomat merah;

3. Siapkan gelas;

4. Siapkan sendok.

Itu saja persiapannya. Lalu selanjutnya apa yang harus dilakukan? Berikut ikhtiarnya:

1.                              Kelapa diparut, diperas, dan santannya dimasak. Lama kelamaan dari hasil pemanasan ini akan muncul minyaknya. Bila selesai masak minyaknya disisihkan di tempat yang telah disediakan.

2.                              Lalu masukkan 1 butir tomat ke dalam gelas dan masukkan pula satu sendok makan minyak kelapa yang kita buat. Dan tumbuk secukupnya tomat tersebut dengan memakai sendok tersebut. Tidak perlu sampai halus. Yang terpenting bisa ditelan oleh mulut kita dan dimamah dengan baik dalam pencernaan kita.

3.                              Setelah itu makan hasil olahan sederhana itu. Kamu buat obat itu dua kali sehari, pagi dan malam. Ingat!, baca basmallah terlebih dahulu sebelum menelannya.

4.                              Senantiasa berdoa.

Apa yang terjadi kawan-kawan di saat A Hun–dia teman saya loh yah–memakan obat tradisonal itu? Yup, alhamdulillah paginya di saat ia memenuhi panggilan alam seperti biasa, buang air besarnya itu sama sekali tidak ada pendarahan, tidak ada rasa sakit  yang selama ini membayanginya. Benar-benar luar biasa. Subhanallah. Walhasil ia membatalkan operasi itu. Selama beberapa hari selanjutnya ia tetap meneruskan pengobatan tradisional mandirinya itu. Dan diceritakanlah kesuksesan itu kepada saya dan menyuruh saya untuk menceritakannya kepada orang lain agar asas kemanfaatan ini bisa dirasakan banyak orang.

A Hun, dia itu teman saya, telah berdoa dan berupaya untuk kesembuhan penyakitnya lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Syukurnya Allah mengabulkan doanya dan menerima ikhtiarnya itu. Lalu agar ia mendapatkan pahala kebaikan lebih, ia memberikan petunjuk atau cara bagus ke arah kebaikan ini kepada orang lain agar orang lain pun  merasakan hal yang sama tentang manfaat obat ini. Kata qudwah kita Rasulullah saw: Addaalu ‘alal khoiri kafaa’ilihi 1). Barangsiapa yang menunjuki jalan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. Luar biasa bukan?

Juga karena A Hun tidak mau dicap sebagai kufur nikmat maka ia mau menyebarkan kebaikan yang ia peroleh itu kepada yang lain. Bukankah Jenderal Besar, teladan kita,  Muhammad Saw itu juga pernah bilang: “barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” 2)

Jadi, kepada kawan-kawan yang mempraktikkan pengobatan tradisional ini lalu sembuh, alhamdulillah, maka dianjurkan untuk menyebarkan informasi ini seluas mungkin agar pula dapat pahala kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Cukup sekian dari saya untuk kamu-kamu, kawan-kawan saya dari teman saya yang bernama A Hun–dia itu teman saya loh. 

*

1. HR Bukhori.

2.  HR. Ath-Thabrani  

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.03 18 Maret 2008