RIHLAH RIZA #51: Surya Tenggelam



Surya tenggelam, ditelan kabut kelam

Senja nan muram, di hati remuk redam

Chrisye-Kala Sang Surya Tenggelam

Saya berangkat ke kantor jam tujuh pagi lalu mampir ke warung depan mes untuk membeli nasi bungkus ditambah krupuk gendar. Lalu dibawa ke kantor. Tidak di makan di sana. Sepertinya memang dari dulu saya kurang suka kalau makan di tempat.

Apa lauk nasi itu? Macam-macam. Setiap hari ganti lauk. Sehingga kita tak pernah tahu isi lauknya untuk hari itu seperti apa. Kita bisa ber-H2C. Berharap-harap cemas semoga lauknya menggugah selera. Tapi selama saya beli nasi bungkus di sana selalu tidak mengecewakan. Dan saya bisa jamin, hanya nasi bungkus yang dijual di warung depan itu yang paling enak daripada nasi bungkus lainnya se-Tapaktuan.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #50: Mural-Mural Giran


“Betul, cuma kasih sayanglah yang bisa mempersatukan manusia,”

Nyi Londe.

Di suatu Ahad, jam enam lebih tiga puluh menit, Tapaktuan masih belum bangun. Dingin sisa malam masih terasa. Hawa hutan dan laut menyeruak menusuk indera penciuman. Sedikit orang berlalu-lalang di jalanan sepi. Beberapa tukang becak motor lewat dengan kencang mengantarkan orang menuju pasar dekat terminal.

Saya melangkahkan kaki menuju sebuah tempat satu-satunya deretan mural yang ada di Tapaktuan ini tergambar. Dekat Simpang Terapung. Di sebuah dinding beton yang berfungsi menahan dinding bukit agar tidak longsor dan sekaligus menjadi kanvas bagi gambar-gambar besar itu. Belum didapat informasi kapan dan oleh siapa mural ini dibangun.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #48: Kita Sama-Sama Gigit Jari


Entah sampai kapan rihlah ini menemukan tempat perhentiannya. Mungkin sampai ia menemukan tempat yang pas untuk berkalang tanah? Wallahua’lam bishawab. Hanya kepada-Nyalah kembali semua urusan. Bukan manusia. Bukan juga kamu.

~~~R. Almanfaluthi

Setelah acara forum itu usai, kami berempat—para fiskus yang ditempatkan di Aceh—menyempatkan diri pergi ke Senggigi. Pantai yang konon indah dan menawan. Belumlah dikatakan pergi ke Lombok kalau tidak pergi ke pantai itu. Begitulah kata para pujangga pelancong.

Suatu malam dahulu kala, saya sempat menonton sebuah film televisi. Lokasi sutingnya di pantai Senggigi itu. Ada adegan dua tokoh pemeran utama film itu menyusuri tebing dan pantai. Saya terpukau. Pemandangannya luar biasa indah. Sejak saat itu saya setidaknya berkeinginan pergi ke sana. Tapi itu jauh sebelum penempatan saya di Tapaktuan.

Baca Lebih Lanjut.

[HALO NUSANTARA] Jinayat dan Ganja


Gerak rampak para santri dalam zikir maulid (Foto Riza Almanfaluthi)

Jinayat

Hari Jumat, ratusan orang berkumpul di pelataran Masjid Raya Tapaktuan, Istiqamah. Bukan untuk apa-apa, melainkan mereka akan melihat prosesi pencambukan orang-orang yang melanggar Qanun. Biasanya karena perbuatan maisir (perjudian) dan khalwat (mesum).

Sebelumnya aparat Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan berkeliling kota memberitahu masyarakat melalui pengeras suara. Usai salat Jumat pencambukan dilaksanakan. Tidak banyak cambuk itu mendera di punggung para pelanggar qanun. Bisa lima sampai sembilan pukulan saja.

Algojo bertopeng dari Polisi Syariah (Wilayatul Hisbah) yang akan melakukannya. Aparat Kejaksaan Negeri sebagai yang punya gawe harus bisa memastikan acara tersebut berjalan dengan lancar.

Baca Lebih Lanjut.

[HALO NUSANTARA] Antara Legenda dan Takdir: Ini yang Menarik di Tapaktuan


Surfing di suatu senja (Foto Syukrunaddawami-Pegawai KPP Pratama Tapaktuan.)

Tapaktuan, tempat eksotis berjuluk Kota Naga ini terletak 440 km arah selatan Banda Aceh. Ibu kota Kabupaten Aceh Selatan ini bisa ditempuh dengan menggunakan perjalanan darat dari Kota Banda Aceh ataupun Kota Medan selama kurang lebih 8 sampai 9 jam.

Anda disarankan untuk menempuhnya di siang hari agar mata bisa termanjakan dengan pantai nan memukau di sepanjang jalan lintas barat Provinsi Aceh. Sekalian merenungi asar-asar tsunami tahun 2004 yang masih tampak. Atau menikmati keteduhan Berastagi dan hutan Pegunungan Leuseur yang berkelok-kelok jika Anda memula kembara dari Kota Medan.

Sesampainya di kota pala ini siapkan kamera agar semua ciptaan luar biasa Yang Maha Kuasa ini terabadikan dan bisa terceritakan ke anak cucu. Ya, karena Anda telah pernah menjejakkan diri ke sebuah situs luar biasa yang menjadi landmark tak pernah tergantikan: Jejak Kaki Raksasa Tuan Tapa.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #46: Ketika Tiba di Permukaan Tanah



Ilustrasi via lunar.thegamez.net

Empat tahun lalu, Luis Urzua adalah penambang terakhir yang diselamatkan dari kedalaman 700 meter di bawah permukaan laut. Bersama 32 temannya ia menjadi korban kecelakaan runtuhnya terowongan tambang dan terkubur hidup-hidup selama 69 hari. Setelah keluar dari kapsul penyelamat yang membawanya naik ke atas, Urzua memeluk Presiden Chili, Miguel Juan Sebastián Piñera Echenique. Kepada Sang Presiden, Urzua mengatakan, “Kami memiliki kekuatan dan iman untuk berjuang mempertahankan hidup kami.”

**

Baca Lebih Lanjut.

101214_1312_RIHLAHRIZA413.jpg

RIHLAH RIZA #45: Ekspedisi Gua Kalam, Amazing Saudara-saudara!!!


Yang penting bukan seberapa keras Anda terbentur, tapi seberapa kuat tekad Anda untuk tetap maju walau terbentur, seberapa banyak Anda dapat menarik pelajaran dan bergerak merangsek ke depan.

(Rocky Balboa)

Hari ini Tapaktuan hangat dan cerah. Matahari memancarkan sinarnya ke lautan biru Samudera Hindia. Ombak putih menjadi zikir harian kota kecil ini. Sedangkan di atas, langit biru sedang bercengkerama dengan sedikit awan putih.

Mereka sepertinya bersepakat menemani rencana perjalanan kami kali ini. Bukan ekspedisi mencari batu, melainkan eskpedisi menyusuri salah satu tempat eksotis di Aceh Selatan: Gua Kalam.

Menurut legenda yang beredar di masyarakat Aceh Selatan, Gua Kalam ini tempat bertapanya Tuan Tapa dan tempat Putri Naga tinggal setelah diselamatkan Tuan Tapa dari cengkeraman sepasang naga yang menculik putri itu.

Baca Lebih Lanjut.