Blog Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.

Archive for the ‘Foto’ Category

PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

with 2 comments


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Baca Lebih Lanjut

Written by dirantingcemara

Friday, 18 July 2014 at 11:04 am

RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT

leave a comment »


RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT

 

“Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

(Alquran yang Mulia, Alinsaan 17)

 

Tapaktuan itu kota kecil yang mempunyai pilihan makanannya sedikit. Selain itu tidak semua makanan ataupun masakannya bisa sesuai dengan lidah Jawa akut saya ini. Seringkali lauk-pauk yang dijual di warung-warung itu terhidang “anyeb” (tidak hangat). Tentu tak akan pernah bisa menggugah selera. Makan pun jadi sekadar rutinitas wajib agar jangan sampai perut kosong. Maka kalau ada teman satu mes saya yang masak dan saya diizinkan untuk mencicipi masakannya itu adalah anugerah yang luar biasa buat saya.

Tapi saya tidak bisa masak. Saya hanya bisa masak air putih, nasi, jagung, dan mi rebus. Masak nasi pun terkadang hasilnya kering-kering sekali atau lembek-lembek sekali. Namun suasana makmeugang dan Ramadhan memberikan kesempatan besar kepada saya untuk belajar memasak. Karena apa? Selain karena alasan di atas, malas pergi keluar saat sahur menjadi alasan utama.

Untuk itu, saya sering pergi ke pasar. Beli ikan, telur, gula, minyak sayur, sayur-sayuran, dan masih banyak lagi yang lainnya. Walau seringkali yang masak itu bukan saya melainkan teman satu mes saya. Tapi saya juga berusaha mencoba. Belajar masak dari Google dengan mencari resep-resep memasak yang sederhana. Bahan-bahannya yang mudah dicari dan dengan alat masak yang umum-umum saja serta tidak aneh-aneh.

Saya membuat tempe goreng, ikan bakar, ikan goreng, telur dadar, omelet mi, tumis kangkung, nasi goreng, bubur kacang ijo, dan wedang jahe. Hasilnya ya begitulah. Kalau dinilai dapat C. Saya pernah membuat nasi goreng di sahur hari pertama dengan menggunakan bumbu instan. Hasilnya tidak habis saya makan karena nasi goreng itu berminyak. Pantas kalau saya sebut nasi goreng itu sebagai Nasi Goreng Ladang Minyak Cepu.

Tapi ada yang sungguh sukses luar biasa yaitu ketika saya berhasil membuat bubur kacang ijo sebagai menu berbuka puasa. Bahannya mudah dicari dan tidak banyak. Antara lain kacang ijo, gula merah, santan, daun pandan dan sedikit garam. Saya benar-benar ikuti apa yang diinstruksikan dalam resep dari sebuah blog masak itu. Terutama dalam hal takaran dan cara memasaknya. Saya tak mau ambil resiko dengan berimprovisasi. Supaya kalau tidak enak jangan saya yang disalahkan tetapi pembuat resepnya. He he he he…bisa saja.

Hasilnya sungguh luar biasa. Bubur kacang ijo yang saya bikin sambil bawa-bawa hp dan baca blog masakan itu jadi hidangan berbuka puasa yang pas. Saya sampai geleng-geleng kepala tiada mengira atas keberhasilan membuatnya. Teman-teman saya pun sampai berkali-kali nambah. Saya sangat berterima kasih sekali kepada pembuat resepnya. Semoga amalnya dibalas Allah dengan balasan yang banyak. Pantaslah jika bubur kacang ijo itu saya sebut sebagai Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Saya ambil nama ini dari nama makanan surga yang disia-siakan oleh Bani Israil selepas lolos dari kejaran bala tentara Fir’aun.

Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Kata Teh Windy Ariestanti Hera Supraba, kacang ijo yang tidak tenggelam itu berarti kacang ijonya gabug (Foto koleksi pribadi).

 

Lain hari, saya membuat tumis kangkung. Masaknya dengan insting saja. Tidak buka-buka hp. Wajan bekas goreng ikan sebelumnya itu tidak saya bersihkan. Biarkan apa adanya. Agar terasa kangkung itu dengan rasa ikan. Enggak tahu benar apa tidaknya cara seperti ini. Alhamdulillah jadi. Hasilnya lumayan. Buat teman yang tidak suka asin tumis kangkung saya ini sudah pas. Tapi bagi teman yang lainnya dan saya sendiri yang orang Cirebon rasa tumis kangkung itu jelas kurang pas. Wong Cerbon itu suka yang asin-asin. Karena kami berdua sama-sama sedang dalam perantauan dan jauh dari kampung maka pantaslah kalau tumis kangkung ini saya namakan Tumis Kangkung Sinbad Berkelana.

Lain waktu saya mencoba membuat wedang jahe sebagai teman menu utama buka puasa. Setelah saya googling resepnya sederhana. Semua resep yang saya baca mereferensikan daun serai sebagai salah satu bahannya. Jahe, gula merah, daun pandan, garam, dan daun serai adalah bahan utamanya. Saya pikir semuanya ada di mes kecuali gula merah dan jahenya. Maka saya pun pergi ke pasar untuk membeli kedua bahan itu.

Saya mulai membuatnya satu jam sebelum waktu berbuka. Saya cuci bersih semuanya. Iseng saya menanyakan ke teman satu mes saya yang jago masak.

“Bang, batang serai ini masih bagus, kan?” Tanya saya sambil menunjukkan benda keras dan panjang berwarna coklat kepadanya.

“Bukan. Itu kayu manis.”

“Hah…Whaaaat?”

Ternyata saya salah mengira. Yang saya kira daun serai itu ternyata kayu manis. Terpaksa saya manyun. Pergi ke pasar jam segini pasti warung sudah pada tutup. Sepertinya saya akan menunda membuat wedang jahe itu. Tapi teman saya tahu kegundahan saya. Ia bilang kalau daun serai itu tanaman yang mudah ditemukan di halaman belakang mes. Tak lama ia sudah memberikan kepada saya beberapa batang daun serai. Oooo….ini toh yang namanya daun serai. Sebenarnya sudah sering saya lihat tapi tidak tahu benar kalau itu adalah daun serai.

Subhanallah. Maghrib itu jahe hangat menjadi minuman yang sangat nikmat. Jahe atau dalam bahasa arab disebut zanzabil ini merupakan campuran minuman di surga. Benarkah? Iya betul. Di dalam Alquran surat Alinsaan ayat 17 disebutkan, “Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

Jahe di surga itu dari mana asalnya? Dari Hongkong? Dijawab pertanyaan itu di ayat selanjutnya, “(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil.”


Deu…deu…deu yang punya nama Salsabila.
Sekarang tahu bukan kalau Salsabila itu adalah nama mata air di surga. Indah nian. Cantik nian. Rima dalam akhir dua ayat itu pun juga indah: Zanzabila-Salsabila.

Saat meminumnya saya jadi teringat masa kecil saya dulu. Ibu saya sering beli jamu gendong. Biasanya yang ibu minum adalah jamu yang warnanya kuning dan terasa pahit. Untuk anak-anaknya kami diberinya segelas cairan warna coklat yang rasanya manis itu. Biasa sebagai penawar dan penghilang rasa pahit jamu. Itulah minuman jahenya. Hangat di lidah hangat di perut. Sore itu, ketika azan magrib berkumandang pantaslah kalau minuman jahe yang saya buat itu saya namakan Wedang Jahe Segoro Ning Ilat (Wedang Jahe Samudra di Lidah).

Duh maaf, puasa-puasa begini membahas hal beginian. Bagi yang sudah ahli memasak atau bagi ibu-ibu rumah tangga, pengalaman saya ini pengalaman remeh temeh. Biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tapi bagi saya ini pengalaman yang sangat luar biasa. Minimal saya bisa masak bubur kacang ijo. Insya Allah akan saya praktikkan di Citayam sana untuk bantu-bantu Ummu Haqi. Saya juga jadi tahu mana kayu manis dan mana daun serai. Itu pelajaran berharga.

Kiri Kayu Manis, Kanan Daun Serai. Jangan sampai salah. (Gambar dari berbagai sumber).

 

Kata teman, kemampuan memasak ini akan meningkat seiring dengan waktu. Para tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah pun demikian, sepulangnya dari perantauan, selain bertambahnya pengalaman, mereka pada jago masak. Semua berawal karena keterpaksaan, pada akhirnya memasak pun menjadi candu. Berhasil satu resep maka ingin mencoba resep lain. Ada teman saya yang lain sekarang kecanduan masak. Postingan Facebooknya penuh hasil olahannya.

Saya mungkin belum bisa seperti mereka yang jago masak itu. Saya hanya sekadar memenuhi sebatas kebutuhan perut saja. Cukup yang sederhana-sederhana saja. Yang penting saya bersyukur masih bisa makan. Apalagi di tengah keprihatinan karena masih banyak saudara-saudara kita, entah di Indonesia, di Somalia, atau pun di Jalur Gaza, yang pada susah makan. Entah karena kemiskinan, konflik, ataupun penjajahan.

Semoga Allah memberikan keberkahan atas apa yang kita makan. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamarraahimiin.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juli 2014

 

 

 

Written by dirantingcemara

Friday, 11 July 2014 at 3:28 pm

Posted in Foto, Rihlah Riza

RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG

leave a comment »


RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG

 

Ada tradisi yang dipegang begitu kuat oleh masyarakat Aceh, salah satunya adalah tradisi meugang atau makmeugang. Tradisi meugang adalah tradisi berkumpul dengan keluarga sembari makan-makan di hari terakhir bulan Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadhan. Enggak afdal kalau tidak berkumpul. Oleh karenanya, seminggu atau beberapa hari sebelum hari meugang tersebut banyak para perantau kembali pulang kampung.

Selain makan-makan dengan menu khusus maka yang muda berkunjung kepada yang lebih tua dengan menyerahkan bawaan berisi lauk-pauk—termasuk di dalamnya daging kerbau atau sapi yang diolah ke dalam berbagai macam masakan. Tidak heran di berbagai daerah di Aceh banyak bermunculan lapak-lapak baru di pinggir jalan yang khusus berjualan daging kerbau atau sapi.

Dalam masyarakat Aceh tradisi ini dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu menjelang bulan Ramadhan, menjelang hari raya Idul Fitri, dan menjelang hari raya Idul Adha. Tradisi ini berlangsung ratusan tahun dan sudah turun temurun dilaksanakan.

Menurut Acehpedia, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut. Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan meugang.

Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang. Tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, tulis Acehpedia, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Penjual daging di salah satu pasar di Aceh (gambar dari acehmail.com)

 

Di Tapaktuan, tradisi ini berimbas buat saya. Warung nasi tidak ada yang buka. Sebenarnya pemilik warung memahami urgensi keberadaan mereka buat para pekerja rantauan seperti saya ini. Apalagi buat yang menjomblo. Karena kepraktisan membeli makanan daripada memasak sendiri lebih jadi pilihan.

Tapi apa mau dikata, tradisi ini harus dipegang. Harus dihormati. Sebelas bulan mencari nafkah masak satu atau beberapa hari saja saja tutup tidak mau. Ada saja gunjingan ini kepada para pemilik warung yang masih buka.

Daripada saya kelaparan maka pada hari kedua sebelum Ramadhan saya pun membeli sembako sebagai persiapan antara lain lima butir telor, satu kilogram beras, dua ekor ikan, mi dan bumbu-bumbu instan. Sayang sekali tidak ada yang namanya sayur instan. Sedangkan kalau beli ikan tentu di pajak (baca pasar). Saya titip sama teman saya yang sering pergi belanja ke sana, J. Simorangkir, teman saya yang hobi banget makan ikan dan jalan-jalan pagi.

Tapaktuan ini terkenal dengan ikan segarnya. Seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Aceh, Nasir Jamil, saat dia tahu bahwa saya bekerja di Tapaktuan, langsung menyatakan kesukaannya dengan ikan-ikan di Tapaktuan yang segar, putih, dan empuk dagingnya itu. Dalam kunjungan kerjanya, ia pernah mampir di Tapaktuan.

Ya, saya sudah terbayang mau diapakan ikan ini. Dibakar dan digoreng. Ilmu cara bakar ikan dari teman satu mes saya yang jago masak: Tulus Mulyono Situmeang. Cukup dengan memberi garam dan perasan air jeruk nipis. Katanya enak. Kalau menggoreng ikan sepertinya tak perlu repot, bumbunya sudah ada, tinggal beli saja.

    Sahur pertama kali di negeri orang, sendirian, hanya dengan nasi berteman ikan bakar rasa seadanya tanpa sayur. Saya terima semuanya dengan berusaha lapang dada. Sebotol air putih sebagai penutup sahur untuk memulai hari pertama Ramadhan. Seraya memohon kepada Yang Maha Kuat agar Ia menguatkan fisik saya. Tidak hanya itu, saya meminta semua hajat pada-Nya. Bukankah waktu sahur adalah waktu teristimewa untuk kita berdoa?

    Sayyid Quthb ketika menafsirkan QS Alimran ayat 17 menggambarkan “as haar” yakni “pada waktu sahur” sebagai waktu malam menjelang fajar. Saat yang hening, menimbulkan nuansa lembut dan tenang, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran yang tertahan dalam hati. Mereka yang sabar, jujur, taat kepada Allah, suka berinfak, dan memohon ampunan kepada Allah pada waktu sahur, akan mendapatkan “keridaan Allah”. Merekalah—yang menurut Penulis Kitab Fii Dzilaalil Qur’an ini—layak mendapatkan keridaan dengan naungannya yang segar dan maknanya yang penuh kasih sayang. Ibnu Hajar mengatakan doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).

    Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan mudah. Sirine tanda berbuka puasa berbunyi nyaring dari masjid yang berada di salah satu sudut kota Tapaktuan. Selain pada waktu berbuka puasa, sirine ini berbunyi pada jam tiga dan empat pagi, serta pada waktu imsak. Saya meminum segelas air teh hangat. Sepiring nasi dan dua potong ikan goreng yang setengah jam sebelumnya saya masak. Itu saja. Tidak ada yang lain. Tapi benar-benar nikmatnya luar biasa. Benar apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad saw, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-Nya.” Semuanya jadi nikmat karena diterima dengan gembira.

    Pun, foto yang dikirimkan oleh istri saya melalui aplikasi whatsapp di waktu duha sebelumnya meneguhkan kembali kesadaran saya tentang arti banyak-banyak bersyukur terhadap hidangan berbuka puasa. Foto yang bertuliskan dengan huruf besar “Renungan Ramadhan” dan terdapat gambar seorang laki-laki berpakaian tradisional Arab sedang mengusap air matanya dengan sapu tangan. Tulisan di bawah gambar menjelaskan lebih lanjut.

Seorang mufti besar Arab Saudi menangis terisak-isak setelah menerima soalan melalui telefon dalam sebuah rancangan TV live. Panggilan tersebut datang daripada seorang saudara Islam dari Somalia dengan pertanyaan: “Adakah puasa saya (dan kami) sah dan diterima Allah SWT sedangkan saya (kami) tidak dapat bersahur atau berbuka?” Saudara kita di Somalia tiada apa-apa untuk bersahur dan berbuka sedang kita enak menjamu selera dan aman damai.

    Di Citayam, buka puasa sudah satu jam sebelumnya. Ada yang membuat haru ketika saya mendapatkan foto lain yang terkirim dari Umi Haqi. Foto yang menggambarkan Mas Haqi, Mas Ayyasy, dan Kinan duduk bersama di atas meja makan sambil menyantap dengan lahap hidangan buka puasa. Subhanallah. Insya Allah tetap afdal keberadaan kita walau dipisahkan oleh jarak dan waktu di hari meugang dan pertama ramadhan ini. Yang terpenting adalah keberadaan Allah tetap di hati kita masing-masing. Insya Allah.

    Bagaimana hari pertama Ramadhan Anda?

Mas Ayyasy dan Mas Haqi sedang menyantap hidangan berbuka puasa.

 

Kinan lagi buka puasa sebedug dan semaghrib.

 

Kinan lagi sholat. Plirak-pilirik.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

03 Juli 2014

     

Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”

leave a comment »


Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”
Sumber: Islamedia.co
Islamedia.co – Hari ini Senin(26/5), sebuah akun Facebook Jiwa Singa mengunggah sebuah foto yang menampilkan sosok bertopeng yang membakar kain putih bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah dalam huruf Arab. Bendera ini dalam literatur Islam dikenal sebagai bendera Rasulullah saat berperang dengan kafir musyrikin Mekkah. 
 
Dalam akunnya saat mengunggah foto tersebut Jiwa Singa menulis, “FYI : Teman saya yang mengirim foto ini tidak anti Islam. Tapi ketika agama atau apapun itu Ideologi, mulai memusuhi dan memaksa, dan bahkan membunuh yang lainnya yang tidak seiman, maka perlawanan tentang hal itu adalah suatu yang memang sudah seharusnya. Termasuk membakar bendera mereka.” 
Atas foto aksi pembakaran yang merupakan kontribusi foto untuk Cronos Zine edisi dua ini menimbulkan pro dan kontra. Salah seorang Facebooker Noor H Dee menyatakan pendapatnya, “Wah wah wah, kenapa begini bro? Itu bendera Islam? Bendera yang dibawa rasul. Ngajakin perang ini namanya.” 
Akun Jiwa Singa menyatakan bahwa aksi ini harus dipahami secara kontekstual bukan secara tekstual. Membaca aksi teman dan pendapat akun Jiwa Singa ini mengingatkan publik pada aksi seorang dosen yang menginjak-injak lafaz Allah. 
Menurut  Abu Faguza Abdullah, selaku pegiat dakwah: “Aksi-aksi demikian seperti unjuk keberanian di Negara yang mayoritas muslim, Pelaku pembakaran dan penyebaran foto ini bisa kena pasal UU ITE.
Link Facebook Penyebar Foto Pembakaran “Bendera Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=245519725655785&set=a.245266019014489.1073741846.100005932771686&type=1&theater
 
[im/mh]
***
Kontribusi Berita untuk Islamedia.
http://www.islamedia.co/2014/05/beredar-foto-pria-bertopeng-membakar.html

 

Written by dirantingcemara

Monday, 26 May 2014 at 2:00 pm

TAPAKTUAN STONES UNTUK DJP BERSIH

with 2 comments


TAPAKTUAN STONES UNTUK DJP BERSIH

 


Anggota Tapaktuan Stones dalam sebuah ekspedisi (Foto koleksi teman).

 

Pencanangan Gerakan DJP Bersih di Tangan Kita menjadikan dan menegaskan bahwa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memang tidak bersih di mata masyarakat. Pun, ini menyangsikan serta menyepelekan tekad dan upaya bersih yang sudah dilakukan selama ini oleh para pegawai DJP.

Inilah salah satu pernyataan yang mengemuka dari peserta sosialisasi Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-10/PJ/2014 tanggal 27 Januari 2014 tentang Pembentukan Gerakan “DJP Bersih di Tangan Kita” di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (selanjutnya disebut Keputusan) pada hari Jumat, 28 Maret di Kantor Wilayah DJP Aceh.

Pernyataan tersebut wajar diajukan namun tanggapannya juga layak didengarkan. Latar belakang pencanangan Gerakan adalah karena masih maraknya sebagian oknum pegawai DJP yang tidak mau menegakkan integritasnya. Beberapa di antaranya, di bulan April 2013 ada oknum pegawai DJP yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi di Stasiun Gambir, berselang hampir lima minggu kemudian dua oknum lainnya tertangkap oleh institusi yang sama di Bandara Soekarno-Hatta. Belum lagi dari tahun 2010 sampai dengan 2012 tercatat lima kasus oknum pegawai pajak yang terekspos besar-besaran oleh media.

Maka wajar kita yang sedang belajar bersih ini pun geram. Pencanangan Gerakan DJP Bersih di Tangan Kita pada tanggal 5 Juli 2013 menjadi awal pemahaman baru bahwa mereka yang tidak bersih itu sebenarnya sedikit sedangkan yang baik-baik ini banyak namun tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya diam saja. Oleh karena itu Gerakan ini menggugah orang-orang baik agar tidak tinggal diam. Orang-orang baik ini harus terorganisasi agar bisa mengalahkan mereka yang tidak mau berubah dan sedikit tapi terorganisasi itu.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan kalau kebatilan yang terorganisasi akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Kita pun diingatkan dengan apa yang dikatakan Muhammad Natsir suatu ketika, “Anda tahu apa yang dibutuhkan kebatilan untuk menang? Kebatilan akan menang jika pendukung kebenaran hanya diam.” Napoleon Bonaparte pernah mengatakan hal yang sama, “The world suffers a lot not because of violence of bad people but of the silence of good people.

Dan Gerakan ini sesungguhnya memfasilitasi keengganan dari orang-orang baik ini ketika tidak mau secara personal melaporkan penyimpangan yang terjadi melalui sistem yang sudah ada, seperti whistle blowing system DJP. Dengan mekanisme pelaporan yang telah ditetapkan dalam Keputusan ini, maka Gerakan mengidentifikasi, mendiskusikan, dan menyepakati secara bulat dan bersama-sama—ini yang perlu digarisbawahi—adanya dugaan praktik korupsi lalu melaporkannya kepada Direktur Jenderal Pajak.

Pada akhirnya, dengan kenyataan sebenarnya bahwa orang-orang baik ini begitu banyak di DJP maka Keputusan ini adalah sebuah negasi penyangsian dan penyepelean tekad serta upaya bersih yang telah dilakukan bersama-sama oleh kita semua. Keputusan ini benar-benar mendorong agar orang-orang baik yang mempunyai integritas dan semangat antikoruptor yang sama ini berkumpul, tidak diam saja, saling mengingatkan, saling mengawasi, dan membuat ruang untuk melakukan pelanggaran semakin tidak ada atau hilang sama sekali.

Tapaktuan Stones

Gerakan DJP Bersih di Tangan Kita dipelopori oleh peserta aktif dari Change Agent DJP, Motor Penggerak Integritas dan berbagai komunitas keagamaan seperti Dewan Kemakmuran Masjid, Oikumene, dan Pesantian. Komunitas-komunitas ini menjadi plasma gerakan sedangkan inti gerakan adalah Direktorat Kitsda dan Unit Kepatuhan Internal. Ada yang menarik ketika berbicara komunitas. Terutama pada diktum keempat dan kelima Keputusan di atas.

Diktum keempat menyatakan bahwa: “Untuk selanjutnya, Gerakan dibentuk di unit-unit DJP di seluruh Indonesia dan keanggotaannya dapat diperluas dengan komunitas lainnya yang ada di DJP atau perseorangan pegawai DJP, yang memiliki integritas dan semangat anti koruptor yang sama.”

Sedangkan diktum kelima menyatakan, “Gerakan merupakan satu kesatuan hasil leburan dari berbagai komunitas atau perseorangan pegawai DJP sebagaimana dimaksud pada Diktum Ketiga dan Keempat.

Dari dua diktum tersebut maka dapat dikatakan bahwa komunitas apa pun yang ada di DJP entah itu formal atau pun informal dapat menjadi anggota gerakan. Genjot Pajak yang merupakan komunitas Pegawai Pajak bersepeda juga bisa menjadi anggota gerakan. Begitu pula dengan DoF (DJP Own Fotobond) yaitu komunitas fotografi karyawan DJP di seluruh Indonesia. Dan tentu dengan komunitas lainnya asal punya dua parameter berikut: berintegritas dan semangat antikoruptor.

Di Tapaktuan, awal tahun 2014 ini, telah terbentuk komunitas pecinta batu pegawai Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Komunitas yang mencari batu-batu akik di seputaran Kabupaten Aceh Selatan dan menjadikan batu itu sebagai cincin. Banyak pegawai KPP Pratama Tapaktuan tergila-gila batu sekarang. Di waktu senggangnya mereka berkumpul, memamerkan cincin dan batu-batu yang mereka miliki, membicarakan tentang batu, menjadwalkan waktu mengasah batu, berburu bongkahan batu di alam liar Aceh dengan serangkaian ekspedisi, dan masih banyak agenda kegiatan lainnya.

Ciri khas yang menonjol dari Tapaktuan Stones—nama komunitas batu ini—adalah kebersamaan. Terbukti andil kebersamaan mereka mampu menjadi bagian penting dari pencapaian target e-Fin dan e-Filling KPP Pratama Tapaktuan. Bukankah pada diktum lain di keputusan itu menyatakan bahwa salah satu peran dari gerakan adalah membangun semangat kebersamaan pada setiap pegawai DJP? Maka Tapaktuan Stones dengan kebersamaan, integritas, semangat antikoruptor yang sama, mempunyai potensi besar menjadi plasma Gerakan DJP Bersih di Tangan Kita di wilayah Aceh. Semoga.

 

 

Riza Almanfaluthi, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan | 13 May 2014

Tulisan ini dimuat pertama kali di Situs Intranet Portal Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Pajak

Written by dirantingcemara

Friday, 16 May 2014 at 3:21 pm

RIHLAH RIZA #35: CINCIN WARISAN SETAN

leave a comment »


RIHLAH RIZA #35: CINCIN WARISAN SETAN

Kinan bertanya kepada Mbahnya, “Bapak pakai cincin apa?” Laki-laki tua yang sedang sakit itu sambil tertawa menjawab sekenanya, “Cincin warisan setan.” Ingatannya yang sudah mulai terbatas karena stroke mungkin hanya mampu mengaitkan benda itu dengan salah satu judul novel silat Wiro Sableng karangan Bastion Tito. Novel-novel yang pernah dijualnya sewaktu menjadi pedagang buku bekas.

Cincin dengan batu warna hijau dan ikatan besi yang disepuh dengan warna keemasan itu pemberian adik iparnya yang bekerja di Arab Saudi. Karena sakit, Bapak tak pernah memakainya lagi. Kemudian saya pakai beberapa bulan sewaktu bertugas sebagai petugas banding di Pengadilan Pajak. Teman satu tim saya protes. Menurutnya saya seperti om-om atau bapak-bapak kalau memakai cincin itu. Jadi semakin kelihatan tua. Di dalam benak mereka cincin itu hanya bisa dikaitkan pada satu sosok pelawak bernama: Tessy.

Sepertinya teman-teman saya se-Direktorat Keberatan dan Banding memang tak ada yang memakai cincin. Lalu saya tak memakainya lagi. Saya tak tahu apa nama batu yang menghiasi cincinnya. Bertahun-tahun kemudian, hari ini, saya tahu jenis batu itu. Batu pirus berwarna biru kehijau-hijauan. Sayang sekali, cincin itu hilang.

**

Entah di Tapaktuan, entah di Banda Aceh, bertubi-tubi ajakan teman-teman untuk pergi mengunjungi toko penjual batu akik atau mulia itu tidak membuatku tak bergeming. “Ngapain coba? Buang-buang waktu aja,” pikir saya. Waktu itu ada yang lebih menarik daripada sekadar melototin batu: snorkeling atau snorkelling. Mengapung dan menyelam sambil menikmati keindahan bawah laut menjadi kesenangan baru saya di Tapaktuan untuk mengisi hari-hari sepi saya. Melototin biota laut itu sesuatu.

Pembicaraan teman-teman di mes, di warung, dan di kantor kalau kumpul ya berkisar perbatuan. Bahkan mereka bikin grup facebook bernama Tapaktuan Stones. Mereka sudah melakukan ekspedisi ke sungai Trangon mencari batu-batu untuk bisa digosok. Ini benar-benar sebuah penggalian potensi (galpot). Tapi potensi batu. Menggali pakai beliung, mencungkil pakai linggis, dan memalu pakai palu bebatuan di sepanjang pinggiran sungai.

Gali potensi bebatuan. Insya Allah penerimaan pajak tercapai. Loh kok? Apa kaitannya? Ekspedisi Trangon II (Foto koleksi Dony Abdillah)

Air bening mengalir di sungai Trangon (Foto koleksi Dony Abdillah)


Hasil pencapaian 100% lebih :melet (Foto koleksi Dony Abdillah)

Aceh memang kaya dengan jenis bebatuan. Ini bisa dikarenakan struktur pembentukan pulau Sumatera di waktu dahulu kala dan keberadaan barisan Pegunungan Leuser. Salah satunya batu Giok Beutong yang menjadi primadona batu ada di Meulaboh. Dulu pernah ada perusahaan Cina yang melakukan kegiatan pertambangan. Perizinan yang mereka dapatkan hanya sebatas izin usaha pertambangan bahan galian C. Perusahaan itu membawa batu-batu sebesar gajah keluar dari Aceh dan mengekspornya ke luar negeri.

Masyarakat tak tahu apa yang perusahaan itu gali dan dapatkan di sana. Setelah sepuluh tahun berjalan, barulah masyarakat sadar batu macam mana pula yang perusahaan Cina itu incar. Ternyata batu giok yang sangat berharga. Akhirnya pemerintah daerah terkait bersama masyarakat menutup izin dan akses pertambangan itu. Entah berapa ribu ton batu giok yang hilang dan entah berapa pajak yang seharusnya dibayar lenyap karena kecurangan ini.

Teman-teman ini tak berputus asa mengajak saya. Dan tahu betul bagaimana ‘meracuni’ orang. Mereka seperti bandar narkoba—dalam arti yang positif. Kasih satu atau dua batu secara gratis lalu kalau sudah ‘nyandu’ dan ‘sakau’ tinggal beli sendiri saja. Terbukti sukses mereka jalankan operasi itu kepada saya sebagai TO (target operasi) mereka selama ini.

Enam batu yang sudah digosok disodorkan kepada saya oleh teman jurusita Seksi Penagihan bernama Rizaldy. Ia berdasarkan surat keputusan mutasi, pindah dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan ke KPP Pratama Meulaboh. Kantor barunya dekat dengan rumahnya. Sebagai hadiah perpisahan dengan saya, Pak Rizaldy meminta saya memilih dua dari enam batu itu.

Berdasarkan advokasi dan provokasi teman-teman, saya ambil dua batu yang terbaik. Jenis batu idocrase dan pancawarna. Lalu Mas Suardjono—Kepala Seksi Ekstensifikasi—memberi saya batu Giok Beutong terbaiknya. Seminggu kemudian batu idocrase yang susah saya jelaskan warnanya ini sudah saya ikatkan dengan ikatan perak. Beberapa minggu kemudian diajak sama teman ke salah satu pengrajin batu giok di Tapaktuan. Saya pun manut. Saya beli dengan sukarela tiga buah batu dan satu liontin Giok Beutong berbentuk simbol “love”.

Bang Rahmadi Kuncoro—Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi I—lalu memberi saya sebuah batu mulia aquamarine warna hijau. Lalu saya juga ikut patungan membeli batu Lumut Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Seperti diketahui daerah itu menjadi terkenal setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama memasang cincin berbatu lumut Sungai Dareh di jari manis tangan kanannya. Kemudian saya pun mau saja ikut ekspedisi kedua Grup Tapaktuan Stones ke sungai Trangon. Tidak lama setelah itu, saya pun membeli batu zamrud dengan ikatan cincin perak untuk saya pasang di jari manis tangan kiri saya.

Semuanya menjadi serta merta. Sekarang mata saya selalu otomatis memindai tangan orang. Entah di televisi atau foto atau bertemu langsung. Apakah dia memakai cincin atau tidak? Cincinnya dihiasi dengan batu atau tidak? Batunya dari jenis batu akik atau batu mulia? Kalau dari batu akik maka batu akik jenis apa? Kalau batu mulia apakah itu zamrud, rubi, safir atau seperti apa? Kalau ke teman sendiri, pemindaian itu dilakukan dengan meminta cincinnya dicopot dari jemarinya untuk saya lihat dengan teliti kecermelangan batu dan detil ikatannya.

Semuanya menjadi serta merta. Saya jadi tahu macam-macam jenis batu walaupun masih sedikit pengetahuannya. Jadi tahu bagaimana batu itu disebut indah atau tidak. Jadi bertambah perhatian—walau masih sedikit—kepada teman facebook yang memamerkan batu jualan mereka. Pun ke tempat lapak batu dan cincin untuk sekadar melihat-lihat menjadi antusiasme baru. Maka saya baru sadar atas sesuatu yang dulu saya pertanyakan. Mengapa setiap lapak batu kaki lima selalu dikerumuni banyak orang? Ternyata batu akik dan batu mulia itu mempunyai pasar dan penggemarnya sendiri.

Antusiasme baru itu hampir sama dengan berkunjung ke toko buku. Tetapi tidak harus sampai berjam-jam. Secukupnya saja. Karena saya sadar, saya jangan sampai kena “sawan batu”. Istilah yang menunjuk kepada kegilaan terhadap batu. Seseorang bisa dikatakan mengalami penyakit gila nomor ke sekian ini jika ia sudah tidak memakai logika sehatnya dengan membeli batu mahal tanpa kecermatan dan kehati-hatian. Tentunya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Dan yang paling penting, memakai cincin itu bisa diniatkan untuk ibadah. Bukankah memakai cincin itu sunnah Rasulullah saw? Niatkan memakai cincin sebagai bentuk kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah saw. Entah dengan ikatan perak atau besi. Entah di jari tangan kanan atau pun di jari tangan kiri. Entah batu dari negeri Habasyah atau bukan.

Bisa berpahala dengan beberapa prasyarat tentunya. Pertama, ikatannya bukan emas, karena laki-laki diharamkan memakai cincin emas. Kedua, tidak diniatkan untuk pamer-pamer. Ketiga, tidak menimbulkan kesombongan. “Nih, gue punya zamrud. Ente punya ape? Halah cuma akik ini.” Satu titik kesombongan di hati sudah membuat kita tidak bisa mencium bau surga dalam jarak lima ratus tahun perjalanan. Sedangkan satu hari di akhirat sana sama seperti seribu tahun di bumi.

Keempat, ini yang teramat penting, jangan sampai memakai cincin menjadi jalan tergadaikannya akidah kita. Cincin itu bukan sarang makhluk gaib atau apa pun namanya. Apalagi menganggap bahwa cincin itu menjadi jalan terkabulkannya semua hasil kerja dan keinginan kita atau biasa disebut sebagai cincin bertuah. Makanya saya heran ketika ditanya berapa mahar cincin itu? Mahar? Mahar apaan? Ternyata saya baru tahu sebuah batu bisa bernilai tinggi jika ada “khadam”nya. Harga tinggi bukan untuk sebentuk cincin itu melainkan sebagai mahar untuk apa yang ada di dalamnya. Tapi sungguh kita tekor bandar kalau berlaku syirik dalam memakai cincin. Apalagi cincin warisan setan. Semoga kita dilindungi dari hal yang demikian.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al Hadid 20)

Semuanya menjadi serta merta.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13 Mei 2015

Judul dari novel jadul cerita silat zaman dahulu kala karangan Bastion Tito: Wiro Sableng.

Harapan & Tantangan: Pengalihan PBB P2 Simeulue

leave a comment »


Harapan & Tantangan: Pengalihan PBB P2 Simeulue

 


 

Momentum penyerahan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue ini diberi judul “Antara Harapan dan Tantangan”.

“Harapan, karena ini berarti PBB akan menjadi suatu rahmat yang diberikan Allah swt yang akan menambah pendapatan Pemerintah Kabupaten. Namun tantangannya mampukah Pemerintah Kabupaten mengelolanya dengan baik,” tambah Sekretaris Daerah Kabupaten Simeulue, Drs. Naskah bin Kamar pada acara Penandatangan Berita Acara Serah Terima Sistem Aplikasi, Basis Data, dan Softcopy Peta PBB P2 dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue (03/01).

Jailani, S.E., M.M., Kepala KPP Pratama Tapaktuan, menjelaskan dalam sambutannya bahwa acara ini merupakan tahap pertama dari dua tahapan penyerahan. Tahap selanjutnya adalah penyerahan Surat Keputusan Menteri Keuangan, Data Piutang, dan Aset Sitaan PBB P2.

“Pengalihan pengelolaan PBB P2 ini kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue ini merupakan amanat Pasal 2 ayat (2) UU 28/2009. Saya yakin Pemerintah Kabupaten Simeulue telah siap untuk menerima pengalihan ini,” katanya lagi.

Menurutnya, dengan adanya penyerahan pengelolaan PBB sektor Perdesaan dan Perkotaan ini kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue bukan berarti kerja sama, koordinasi, dan silaturahmi yang terjalin selama ini berakhir. Hal tersebut tetap berlanjut sampai di masa yang akan datang. Terutama dalam koordinasi pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan PBB Sektor Perkebunan, Pertambangan, dan Perhutanan, karena di sana akan ada bagi hasil yang diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Selain dihadiri oleh para pejabat dan camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Simeulue, acara ini dihadiri pula anggota DPD sekaligus Ketua MPR RI, DR. Ahmad Farhan Hamid.

Pria kelahiran Samalanga tahun 1953 ini mengatakan bahwa penyerahan pengelolaan PBB P2 ini tampak biasa, namun substansinya luar biasa. Ini menandakan kepercayaan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah.

“Ini menjadi momentum bagi daerah untuk mengelolanya dengan lebih baik sehingga suatu saat Pemerintah Daerah akan dipercaya untuk mengelola sektor pajak yang lebih besar lagi,” imbuhnya. (RA)

***

Riza Almanfaluthi

Dimuat di pajak.go.id tanggal 22 Januari 2014.

http://www.pajak.go.id/content/news/harapan-dan-tantangan-pengalihan-pbb-p2-kabupaten-simeulue

RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT

leave a comment »


 

RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT

 

 

Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

(Pepatah Cina)

 

 

Ini pertama kalinya saya membeli buku secara online. Kurang dari tiga hari dua buku bertemakan psikologi sosial dari Surabaya itu sudah sampai di Citayam. Kenapa tidak dikirim ke Tapaktuan? Karena sudah jelas ongkos kirimnya hampir sama dengan harga bukunya. Kebetulan minggu depan saya akan pulang ke rumah, jadi bisa sekalian saya ambil dan bawa ke Tapaktuan nantinya.

Buku-buku karangan Malcolm Gladwell itu benar-benar ingin saya baca. Keinginan yang tak tertahankan. Penantiannya seperti bocah yang dibelikan sepatu baru dan dia tidak sabar menunggu esok hari untuk memakainya. Buku pertama berjudul Tipping Point: Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar. Sebuah buku lama yang terbit di tahun 2002 dalam bahasa Indonesia dan saya terlambat tahu. Sedangkan buku lainnya adalah buku yang terbit pada November 2013 berjudul David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa.

Buku-buku Gladwell—nenek dari nenek buyutnya adalah seorang budak di Jamaika yang diperistri oleh pendatang dari Irlandia di tahun 1784—lainnya seperti Blink, Outliers, dan What the Dog Saw sudah saya miliki dan baca sampai tuntas. Bukunya menarik, enak dibaca, ringan, menjungkirbalikkan pendapat dan pemikiran yang sudah mapan selama ini. Seperti pembahasan tentang perempuan yang haidnya tidak teratur. Mereka itulah yang sebenarnya lebih sehat daripada perempuan yang setiap bulannya haid. Ada lagi tentang kesuksesan itu tidak bisa dimungkiri karena faktor keberuntungan, tinggi badan, ketampanan atau saat tepat kapan Anda dilahirkan.

Perkenalan pertama saya dengan buku mantan jurnalis Washington Post ini adalah saat saya membaca buku best seller versi New York Times yang berjudul Outliers: Rahasia di Balik Sukses. Buku ini menyelip di antara berbagai hadiah yang saya terima sewaktu menjuarai Lomba Menulis Artikel Perpajakan di tahun 2012 itu. Akhirnya setelah membaca sampai tuntas saya tertarik dengan buku lainnya. Blink dan What the Dog Saw menyusul. Saya berburu buku secara offline di banyak toko buku untuk mendapatkan Tipping Point. Nihil. Dan setelah setahun lebih akhirnya pencarian itu bakalan berakhir. Beli buku online jadi solusinya.

 

Tiga buku itu (Foto koleksi pribadi)

 

Nah, di antara semua bahasannya yang menarik ada satu bab di buku Outliers yang ingin sedikit saya ceritakan di sini. Tepatnya di bab Bertani Padi dan Ujian Matematika. Bab yang bercerita tentang kegigihan bangsa Asia—terutama Cina, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, dan Jepang—di antara bangsa-bangsa lainnya. Kegigihan itu hasil dari kebudayaan yang dibentuk dari tradisi pertanian dan pekerjaan mereka yang berharga. Bagaimana mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan beras. Karena beras adalah panduan kehidupan mereka setiap hari. Sampai muncul peribahasa para petani seperti ini: Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

Dalam Islam konsep kerja keras yang dimulai dari pagi hari termaktub dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Athabrani. Rasulullah SAW bersabda, “Seusai shalat fajar (shubuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” Dari hadis ini sudah mafhum kalau rezeki kita mau banyak dan bertambah maka bangunlah pagi. Saya yakin teman-teman saya di Jakarta sudah banyak yang menerapkan kaidah ini. Ya, bagaimana tidak kalau mereka sudah harus berangkat kerja bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Jika terlambat bangun jangan berharap bisa masuk kantor tepat waktu berhubung jalanan Jakarta yang begitu padatnya.

Di Tapaktuan, Insya Allah saya mencoba mengamalkan ini. Saya berusaha dengan keras agar bisa salat subuh–yang ada di kisaran jam setengah enam pagi—ke masjid. Setelah itu membaca ayat-ayatNya walau sedikit. Lalu membaca buku. Berbaring sebentar sambil melihat-lihat hp. Membersihkan kamar. Membereskan apa yang perlu dibawa ke kantor. Kemudian sebelum jam tujuh pagi pergi mandi. Tak lama saya berangkat ke kantor sambil mampir terlebih dahulu ke warung langganan untuk membeli nasi gurih sebagai sarapan. Pokoknya sebelum jam setengah delapan pagi saya sudah ada di meja kerja. Bisa berangkat jam tujuh lebih itu adalah sebuah hal yang patut disyukuri, karena kalau di Jakarta mana mungkin bisa tiba di kantor tanpa terlambat, kecuali yang rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu.

Saat saya datang, terkadang ruangan masih gelap, tidak ada siapa-siapa, atau sedang dibersihkan. Setelah saya duduk biasanya saya akan ambil buku agenda kerja dan menuliskan apa yang harus saya lakukan seharian ini. Pokoknya hari itu harus ada yang saya pikirkan dan lakukan untuk negara. Kasihan negara sudah bayar saya tapi saya tidak berbuat apa-apa. Pertanggungjawabannya bukan sekadar di dunia tapi juga di akhirat. Ini juga sebenarnya berkaitan dengan volume pekerjaan yang tentunya jauh lebih sedikit daripada pekerjaan yang ditangani teman-teman saya di Jakarta.

Datang sebelum jam setengah delapan pagi, presensi di finger print, tanpa balik lagi ke rumah adalah komitmen yang berusaha saya jaga betul. Bukan apa-apa, bukan pula merasa paling baik, bukan untuk bergaya, bukan merasa mantan orang kantor pusat DJP. Melainkan hanya sekadar untuk menjaga ritme yang sudah terbentuk selama ini di Jakarta. Soalnya khawatir kalau tidak dijaga, penyakit malas saya sebelum modernisasi DJP kumat lagi. Kalau sudah kumat maka pemulihannya butuh waktu lama. Juga dalam rangka persiapan ketika ditakdirkan menekuni kembali ritme kerja yang sudah harus dimulai dari kehebohan di pagi hari, maka saya sudah tidak perlu penyesuaian lagi. Hanya itu. Selainnya adalah efek samping.

Anda tahu efek utama dari bangun pagi? Banyaknya keberkahan dan keberuntungan. Yang bilang Nabi SAW sendiri. “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan (HR Athabrani dan Al-Bazzar).” Apalagi Kanjeng Nabi SAW mendoakan umatnya mendapatkan keberkahan di pagi hari. Dan nilai keberkahan itu tidak bisa dibandingkan dengan gunungan harta yang ada di muka bumi ini. Tak sekadar akan menjadi kaya raya. Bahkan jauh lebih berharga dan tak ternilai. Bahagia adalah salah satu contohnya. Namun kebahagiaan ini tak bisa dibeli dengan uang.

Bicara bangun pagi maka analogi orang yang bangun pagi itu adalah orang yang start untuk sprint tepat pada waktunya. Yang tidak bangun pagi adalah orang-orang yang terlambat. Bangun pagi menjadi karakter utama dari para pekerja keras, walaupun frasa itu sekarang ini sedikit tergeser dengan frasa pekerja cerdas. Tapi tetaplah kerja keras menjadi tulang punggung dari sebuah keberhasilan. Lelah dan susah payah ketika bekerja keras sudah menjadi risiko. Selalu menyertai dari setiap usaha apa pun. Dan…

Bukankah Rasulullah SAW sudah menegaskan, “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala salat, sedekah, atau haji namun hanya dapat ditebus dengan susah payah dalam mencari nafkah. (HR Athabrani). Sebagaimana hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. Siang dapat malamnya pun dapat. Lalu mau apalagi? Iya ada lagi, jika bekerja keras dan sebaik-baiknya itu diniatkan untuk mencari nafkah buat keluarganya. Ini sepadan dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. Subhanallah.

Terakhir. Sisi positif yang baru saya ketahui adalah bisa jadi bekerja di kota kecil ini menjadi sarana terbaik untuk men-delete catatan dosa yang selama ini menghitam di hati. Saya berharap betul. Nah, buat teman-teman, sayang kalau dilewatkan begitu saja kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk bisa bekerja keras dan sebaik-baiknya di Tapaktuan atau di mana saja berada. Keberhasilan dan kesuksesan itu bukan buat orang lain melainkan buat diri sendiri. Janganlah lihat orang lain. Ingat satu hal yang pernah diucapkan Colin Powell : “There are no secrets to success. It is the result of preparation, hard work, and learning from failure.”

Well, saya mendapatkan banyak hal dari Malcolm Gladwell.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 13 April 2014

Ditulis dalam rangka 14 tahun milad Mas Haqi.

 

RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU

leave a comment »


RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU

 

Why look so canny at every penny? You’ll take no money within the grave.

(Snow White and the Huntsman)

 

Jam dinding bertuliskan Direktorat Jenderal Pajak Kanwil DJP Aceh itu sekarang sudah tertempel di dinding kamar saya. Ini pemberian dari Kepala Kantor Wilayah DJP Aceh seusai saya menjadi narasumber sosialisasi KEP-10/PJ/2014 tentang Pembentukan Gerakan “DJP Bersih di Tangan Kita” di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak akhir Maret lalu. Jadi kalau bangun dari tidur saya tak perlu meraba-raba tempat tidur lagi mencari hp untuk melihat jam. Sekarang cukup dengan membuka mata saja. Ini bermanfaat sekali insya Allah.

Sekarang alat penunjuk waktu sudah ada di mana-mana. Di setiap hp dan komputer pasti ada informasi mengenai hal ini. Otomatis jam tangan—entah yang analog atau digital tapi tidak pintar—sekarang sekadar aksesoris. Tapi benda itu tetap dibutuhkan di saat alat-alat elektronik dilarang dibawa atau dinyalakan seperti pada waktu ujian atau di dalam pesawat. Dan di dalam kubur, jenazah juga tak akan membawa jam.

Tapi mereka tahu satuan waktu. Betapa satu detik saja hidup di dunia akan benar-benar memengaruhi kondisi mereka di alam kubur. Mereka meminta-minta sedetik atau sekejap saja agar bisa balik ke dunia dan beramal saleh. Barulah mereka tahu amal saleh yang sedikit pun akan menjadi pembeda apa yang akan mereka dapatkan dan di mana akhir mereka berkedudukan. Surga atau neraka. Kita kelak akan menjadi mereka pula. Lalu mengapa kita tidak menyadari betapa berharganya satu detik itu ketika kita masih hidup?

Satu detik akan menjadi relatif pada masing-masing orang. Satu detik akan terasa lama buat siapa yang menggenggam bara di tangan. Jangankan satu detik, satu jam saja bagi para pecinta akan terasa seperti kilatan cahaya di langit. Mencintalah maka waktu akan berjalan dengan cepat. Seperti waktu yang begitu singkat bagi para pegawai DJP ketika pulang bertemu dengan sanak keluarganya. Mereka yang dicinta yang bisa dijumpai sepekan atau sebulan sekali.

Dan tahukah Anda keberadaan saya di Tapaktuan pun ternyata sudah lima bulan lebih sejak kedatangan atau enam bulan sejak surat keputusan pemindahan. Tak terasa. Mengapa? Karena saya berusaha mencinta, Insya Allah. Mencinta takdir yang hinggap dalam hidup. Mencinta Tapaktuan. Mencinta senjanya yang setiap hari berganti-ganti keindahannya. Sungguh, akan terasa lama bagi siapa yang menunggu.

Kemudian ingatan saya terpelantingkan pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Lev Grossman, penulis buku The Magicians, “For just one second, look at your life and see how perfect it is. Stop looking for the next secret door that is going to lead you to your real life. Stop waiting. This is it: there’s nothing else. It’s here, and you’d better decide to enjoy it or you’re going to be miserable wherever you go, for the rest of your life, forever.” Nikmati satu detik itu dan jangan menunggu.

Seperti saya menikmati detik-detik sepi di Tapaktuan pada tanggal 9 April 2014 ini. Tapaktuan benar-benar menjadi kota sepi sekali di saat pencoblosan. Kata penduduk setempat, situasi ini seperti pada saat lebaran. Tapi penduduk ternyata sedang meramaikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipusatkan di pajak (baca: pasar) inpres. Ada empat TPS yang ada di sana. Dan saya berdua dengan teman sekantor saya, AA Fikri, yang memegang hak suara dari tempat lain, ternyata diprioritaskan untuk mencoblos duluan setelah menyerahkan formulir A5. Padahal banyak penduduk yang menunggu antrian di bawah tenda yang disiapkan panitia. Alhamdulillah berkah.

Memasuki bilik suara, saya buka empat lembar kertas suara itu. Sebagai pendatang di sini saya diberikan empat hak suara untuk DPR RI, DPD, DPR Aceh, dan DPR Kabupaten. Saya sudah menentukan pilihan saya sebelum memasukinya. Saya buka lebar-lebar kertas suara untuk memastikan tidak ada yang rusak. Dan situasi seperti ini, saat mencoblos, sejak tahun 1997, adalah saat mendebarkan bagi saya. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Selalu saya ucapkan bismillah ketika memulai mencoblos. Semoga pilihan ini tidaklah salah. Saya titipkan suara ini kepada mereka untuk perbaikan bangsa.

Mulanya saya sudah pesimis tidak menggunakan hak suara karena ribetnya mengurus pindah TPS dari Bogor ke Tapaktuan. Kalaupun saya menjadi golongan putih (golput pakai huruf kecil) tetapi golput saya bukan karena alasan ideologis melainkan keterbatasan. Kalau itu tidak masalah. Tetapi saya harus memastikan ikhtiar saya sudah maksimal untuk mendapatkan hak suara saya. Dan saya mendapatkan suntikan semangat luar biasa ketika teman-teman saya di Bogor dan Jakarta benar-benar berjuang habis-habisan untuk idealisme yang mereka usung. Saya terlecut. Tercambuki. Agar tidak menjadi orang-orang yang tertinggal. Orang yang duduk-duduk saja. Orang yang datang perang ketika perang sudah usai.

Setelah perenungan habis-habisan malam itu, besok paginya—dua minggu sebelum hari H pencoblosan—saya datang bersama AA Fikri ke Kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Selatan. KIP ini kalau di luar Aceh sama saja dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Awalnya ditolak oleh salah satu komisioner KIP di sana. Artinya kami harus melewati prosedur dengan mengurus pindah pilih dari TPS asal di Bogor. Saya beritahukan informasi tentang surat edaran KPU Pusat, calon pemilih pindah cukup datang ke KPU setempat dan menunjukkan KTP untuk bisa mendapatkan formulir Model A-5 KPU asalkan saya sudah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setelah di cek melalui situs online KPU ternyata saya memang terdaftar di DPT. Pada akhirnya saya sah bisa memilih.

Pertanyaan paling mengemuka adalah mengapa saya capek-capek mengurus ini dan itu dalam rangka pesta rakyat ini? Sedangkan saya tidak kenal dengan para caleg itu. Tapi sungguh inilah jawabannya. Semata dalam rangka ikhtiar memberikan sumbangsih buat negara. Supaya tidak golput. Karena buat saya, saya sudah dikasih otak untuk memilih caleg-caleg baik. Maka mengapa tidak mempergunakan anugerah yang Allah berikan kepada saya untuk sedikit berpikir keras memilah dan memilih. Alasan lainnya adalah kontribusi balik buat dakwah dan kebaikan.

Ah, kerja saya belumlah tak seberapa dibanding mereka yang telah berjuang dan berdoa siang dan malam. Cuma satu suara ini yang bisa saya berikan untuknya, untuk mereka. Mungkin bagi Anda satu suara itu tak seberapa, tapi bagi saya satu itu tak ternilai harganya. Bahkan teman saya sampai bilang seharga satu milyar rupiah pun, satu suara ini tak akan saya jual. Karena semua bermula dari satu. Anda tahu Niagara? Ia kumpulan dari sedikit tetes-tetes mata air itu. Anda tahu musik yang sering Anda dengar itu? Semua bermula dari satu nada yang dikumpulkan dan menjadi indah.

Dari jauh, dari Tapaktuan, inilah yang bisa saya persembahkan untuk umat, negeri, dan bangsa ini sebagai tanda cinta kepada mereka yang telah membelokkan saya dari jalan-jalan sesat kepada jalan-jalan penuh kebaikan dan keberkahan.

Inilah jalan pertengahan yang bisa saya ambil dari dua kelompok orang. Yakni ketika sebagian masyarakat bilang, “Saya hanya mau mencoblos mereka yang memberi uang.” Dan sebagian lainnya bilang dengan penuh apatis (skeptis, pesimis, dan murung melihat masa depan) untuk tidak menggunakan hak suaranya. Inilah jalan saya. Jalan yang kelak akan saya wariskan kepada tiga anak saya kelak. Jalan perjuangan. Jalan senyap dari puja-puji namun penuh onak dan caci maki. Insya Allah.

**

Siang hari setelah mencoblos, setelah meminum segelas kopi Aceh yang nikmat itu, jarum merah pertanda detik yang lekat saya pandangi dari atas tempat tidur masih berjalan tepat waktu di jam dinding hadiah ini. Hawa laut biru di depan mess bebas suka cita masuk rumah dan memenuhi rongga dada. Ini yang saya suka dari Tapaktuan. Tapi ini tak akan lama. With love, this, too, will pass very quickly.

2014-04-07 11.45.30

Formulir Model A.5-KPU

 

 

riza

Minum kopi dulu usai mencoblos di Warung Kopi Terapung. (Sketsa).

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam dinding itu.

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 09 April 2014

 

 

 

 

 

RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA

leave a comment »


RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA

 

 

Suatu waktu kalau Anda berkunjung ke Tapaktuan datanglah sebentar di salah satu sudutnya. Ambillah barang satu atau dua gambar di sana. Itu sudah cukup dikatakan kalau Anda sudah benar-benar datang ke kota kecil ini. Ini sebuah dinding beton penahan longsor dari sebuah bukit. Di dinding itu bertuliskan ucapan selamat datang dan banyak mural sederhana yang menceritakan aktivitas penduduk Tapaktuan. Letaknya berada di ujung jalan masuk terminal atau berada di depan warung kopi terkenal: Terapung. Tempat para supir travel berisitirahat setelah usai perjalanan dari Medan atau pun Banda Aceh. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya mengangkangi sudutnya.

Suatu waktu setelah dari sana Anda juga perlu bergerak ke arah utara. Mengunjungi situs makam Tengku Syaich Tuan Tapa. Tuan yang menjadi legenda di kota ini. Tuan yang pernah bertempur dengan naga dan jejak kaki raksasanya tertancap di karang pinggiran samudera. Makamnya tidak seperti makam orang-orang biasa, bentuknya besar memanjang, dan cukup terawat. Anda bisa masuk ke dalam kompleks makam karena pintu pagarnya tak terkunci. Di sebelah kanan makam terdapat makam dengan ukuran biasa dari seorang penguasa Tapaktuan bernama Datuk Radja Amat Djintan yang wafat pada tahun 1928 M. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya terpekur memandangi rumah keabadian tempat dua manusia berkalang tanah.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi situs makam itu bergeserlah sedikit ke utara lagi. Ke sebuah rumah, tempat seorang Kapiten Belanda di tahun 1929 berfoto bersama dengan teman-temannya dan dua ekor anjing hitam. Mereka berfoto di halaman depan rumah. Rumah yang kini tak berpenghuni. Foto saat mereka mapan dan merasa berhak untuk berbuat apa saja kepada pribumi. Sedangkan di pelosok pedalaman, perlawanan itu tetaplah berlangsung sampai Jepang datang di tahun 1942. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya menggigit dan memamah sejarah tanpa tandas karena saya sisakan sebagian untuk saya simpan di memori kepala.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi semuanya, beristirahatlah sebentar. Sejenak saja. Mendekatlah. Dan jangan menjauh. Duduk bersama saya di tepian pantai ini. Tempat biasa saya melabuhkan atau malah melarungkan rindu. Tempat kata-kata memungut satu per satu dirinya sendiri menjadi sajak dan gigil. Mungkin kita akan duduk di sini sampai matahari bulat di hadapan habis dilahap samudera. Tenang saja di sini, kita nikmati potongan senja, sambil memandang putih buih, mendengar gemuruh ombak, menghirup aroma asin laut, dan merasakan sepoi angin yang membelai wajah. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, saya ingin menceritakan kepada Anda sesuatu. Sudilah Anda mendengarnya.

Suatu ketika saya pulang ke Jakarta dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dengan menggunakan “singa terbang”, para penumpang harus transit di Bandara Kualanamu, Medan dan kami harus turun terlebih dahulu dari pesawat. Saat itu sudah jam setengah tujuh malam. Satu jam kemudian kami diminta masuk pesawat kembali. Di situlah kericuhan dimulai, ada dua orang penumpang dari Banda Aceh yang tidak mendapatkan tempat duduk. Tempat duduknya semula telah diisi penumpang dari Bandara Kualanamu. Sedangkan yang tersisa hanya satu kursi kosong dengan nomor yang berbeda.

Pramugari tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dapat dipastikan telah terjadi kesalahan dalam sistem booking mereka. Petugas “Singa Terbang” di bandara turun tangan dan meminta agar salah satu dari penumpang itu terbang dengan menggunakan pesawat lain yang—kata petugas itu—telah siap untuk terbang juga. Tapi sang penumpang tidak mau karena merasa berhak di pesawat ini. Sang penumpang tidak bisa disalahkan karena ia berangkat dari Banda Aceh. Katanya pun, kalau ia berangkat dari Bandara Kualanamu ia masih bisa memahami dan mau pindah pesawat. Tapi karena ia bayar untuk naik pesawat dengan jam dan nomor penerbangan dari Banda Aceh maka ia bersikeras berada di pesawat yang sama.

Perdebatan semakin memanas, ditambah para penumpang lain membela sang penumpang dari Banda Aceh. Sedangkan dua penumpang yang naik dari Bandara Kualanamu santai saja di tempat duduknya, merasa tidak ada masalah. Sampai-sampai kepala kru hendak melaporkannya kepada pilot karena kericuhan tanpa kejelasan akhir ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saya pikir alangkah eloknya kalau petugas “Singa Terbang” menjanjikan akan memberikan kompensasi layak kepada sang penumpang ketika mau pindah pesawat. Tapi itu tidak pernah terlontar dari mulut petugas. Ujung-ujungnya perdebatan tetap berlangsung.

Di tengah suasana tidak nyaman ini, di antara wajah gelisah para penumpang yang mengharapkan pesawat segera terbang, berdirilah seorang pemuda bertubuh gempal. Tanpa basa-basi ia menawarkan diri kepada pramugari untuk menjadi volunteer. Ia bersedia pindah pesawat. Bergegas ia ambil tasnya dan langsung keluar pesawat. Usai sudah semuanya. Sang penumpang dari Banda Aceh bisa duduk. Penumpang lain ikut senang. Pesawat pun segera bisa terbang. Solusinya sederhana dan tak sulit. Mesti ada yang harus berkorban. Dan pengorbanan itu tidak ditunjukkan dari para empunya masalah. Tapi dari pemuda tidak dikenal. Pemuda yang akan terbang lebih malam dan tiba di Bandara Soekarno Hatta lebih lama dari kami semua. Sebuah solusi yang tidak pernah terlintas dalam benak saya. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, pemuda itu pahlawannya. Bukan saya.

Pahlawan itu adalah orang yang mengorbankan segala. Ia yang berani mewakafkan dirinya bermanfaat buat orang banyak. Di atas pengorbanan itu berdirilah prinsip yang teramat kokoh tak tergoyahkan apa pun. Prinsip tak akan tegak di atas dinar dan dirham yang hanya memuaskan perutnya saja. Maka pada malam itu sebatas kekaguman kepada sang pemuda yang hanya bisa dipersembahkan. Bukankah—mengutip Anis Matta—kekaguman adalah sebagian cara kita membalas utang budi kepada para pahlawan?

Suatu waktu usai sudah cerita ini terkisahkan kepada Anda. Malam telah jelang. Saatnya untuk pulang. Dan saya bukanlah pahlawan karena telah berjasa mengantarkan Anda berkeliling Tapaktuan. Bukan. Terlalu berlebihan soalnya. Cukuplah saya menjadi pahlawan buat kalian di Citayam yang senantiasa saya rindukan setiap malam-malam sepi di tanah seberang. Bukan untuk dikagumi, melainkan diteladani. Itu pun jika saya memilikinya, memiliki keteladanan itu. Di suatu waktu, di saat itu, semoga itu saya adanya.

 

 

Selamat Datang di Kota Naga (Foto koleksi pribadi).

 

Kompleks makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto Koleksi Pribadi)

Makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Makam Datuk Radja Amat Djintan (Foto koleksi pribadi).

Rumah Kapiten Hofstede Tapa Toean di tahun 1929 (Wikipedia) dan masa kini (Foto koleksi pribadi).

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan 22.59 03 Maret 2014