ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA: DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA


ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA:

DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA

Kemarin, ada petugas datang ke rumah dinas, mengecek dan menanyakan kepada para penghuni, “Mengapa bendera merah putih belumlah berkibar?” Esok Paginya merah putih itu telah kami kibarkan. Sensitivitas di daerah bekas konflik.

(Uswan, Ulee Kareng, Banda Aceh)

Karnaval peringatan HUT RI yang ke-69 berlangsung meriah hari ini (16/8). Sebanyak 17 gampong di Kecamatan Tapaktuan menjadi peserta pawai. Selain berbusana daerah dan tampilan khas para pejuang kemerdekaan, para peserta karnaval menampilkan atraksi-atraksi hebat yang dipersembahkan kepada masyarakat.

Titik pusat karnaval berada di Jalan Merdeka, Tapaktuan. Di sana didirikan panggung tempat Bupati dan Wakil Bupati hadir dan melihat jalannya acara. Yang menarik dari panggung tersebut adalah pesan yang ditulis di atas sebuah papan dan berada di depan meja Bupati. Pesan itu berbunyi: “DOA KAMI UNTUK GAZA”. Pesan yang mengingatkan kepada dunia bahwa masyarakat Aceh Selatan yang jaraknya ribuan kilometer dari Palestina ini sungguh peduli terhadap nasib penduduk Gaza yang ditindas dan dibantai Israel.

Baca lebih lanjut

Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.


Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.

Ketaatan terhadap syariat agama yang mulia seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang sudah dewasa. Hal yang biasa pula kalau itu ditunjukkan seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah-sekolah berlabel agama atau tinggal dekat komunitas santri. Namun tidak untuk kali ini. Seorang anak SD sudah mulai menunjukkan ketaatan yang menyentuh perasaan salah satu pengguna akun Facebook bernama Rifki Ramdan Maulana.

Rifki sempat memotret anak itu dari belakang dan mengunggahnya di linimasa Facebooknya serta menulis demikian:


Anak SD itu. (Sumber foto dari akun Facebook: Rifki Ramdan Maulana)

  Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA


RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA

Apa kabar, Pengelana Muda? Tak kujumpai kamu di setiap langkahku. Atau aku melangkah di jalan yang salah?

( Surat Jesse kepada Roy dalam Balada si Roy 2-Gola Gong)

Hari ini, Ahad, saya harus berangkat kembali ke Tapaktuan setelah liburan dan cuti lebaran selama dua minggu. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang tertinggal. Ada dokumen yang harus saya bawa ke kota tempat kerja saya itu. Maka saya mencari dokumen tersebut dalam kantung plastik tempat saya biasa menyimpan segala sesuatu yang penting.

Sampai suatu ketika tangan saya menyentuh amplop berwarna telur asin. Saya tergerak membukanya. Ada dua lembar kertas warna putih berukuran A4. Kertas ini membawa ingatan saya kepada suatu waktu hampir empat tahun yang lalu. Kertas surat yang saya baca di atas bus Kopaja. Sebuah surat perpisahan.

Ya surat perpisahan. Namun bukan seperti surat perpisahan dari Jesse kepada anak bengal yang bernama Roy. Melainkan surat perpisahan yang bercerita banyak dan menyertai bingkisan dari teman-teman satu seksi saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat.

Saat itu saya memang dipindahtugaskan dari kantor tersebut ke kantor saya yang baru di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tepatnya di Direktorat Keberatan dan Banding. Surat itu kini saya baca ulang. Tetap saja ada rasa haru yang muncul. Saya membacanya perlahan. Sahabat-sahabat saya tersebut terlalu berlebihan menilai saya. Saya belum seberapa dengan mereka sendiri. Membacanya…

Baca Lebih Lanjut.

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA


DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA

Subhanallah, waktu berjalan tiada berhenti. Tiada melambatkan waktunya sedikit pun. Meninggalkan segalanya. Dan sekarang sudah tanggal 3 Agustus 2014 saja. Meninggalkan tanggal 24 Juli 2014–sebagai saat terakhir saya menulis di Tapaktuan–di belakang. Sekarang saya berada di Semarang. Di sebuah masjid yang teduh, Masjid Agung Jawa Tengah. Tahun ini saya kembali mudik ke kota kelahiran istri. Untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan berziarah ke makam mertua.

Setelah menempuh ribuan kilometer dari Tapaktuan dan hanya beristirahat sehari semalam, maka dengan tekad dan niat yang diupayakan selurus mungkin saya berangkat mudik pada hari Ahad. Satu hari menjelang lebaran. Syukurnya Allah memudahkan segalanya. Perjalanan relatif dilancarkan. Hanya menemui sedikit kemacetan di Cijelag dan Jembatan Comal. Ya, untuk tahun ini kembali kami arungi medan laga jalur permudikan melalui jalur tengah. Via Cipularang keluar Gerbang Tol Purwakarta lalu tembus ke Situ Buleud, Wanayasa, Sumedang, Cijelag, Palimanan, Kanci, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal sampai ke Semarang.

Saya yang biasanya ‘ngantukkan’ ternyata mampu kuat mengendarai mobil sendiri tanpa istirahat tidur sampai Batang. Setelah di kota sebelah Pekalongan itu saya merasa capek dan harus berhenti. Sampai di rumah Semarang jam setengah empat pagi. Kalau ditotal maka kami telah menempuh jarak 558 KM dalam waktu 18,5 jam. Alhamdulillah kami  bisa salat Id di tempat. Padahal kami sudah tidak berharap dan tidak diupayakan dengan keras untuk segera tiba di Semarang. Mengingat kondisi jalan, situasi lebaran, dan hanya saya sendiri yang jadi supir.
Baca lebih lanjut

RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS


RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS

Akan dipergilirkan kepada mereka tertawa usai kesedihan. Dan akan dipergilirkan kepada mereka sedih usai tertawa.

Saya tidak tahu mau bicara atau menulis apa atas begitu banyak keberkahan yang dilimpahkan pada Ramadhan 1435 H ini. Walau dengan tertatih-tatih mengejar segala ketertinggalan amalan di bulan mulia itu. Semuanya dimudahkan oleh Allah. Sepanjang doa yang terlantun memang terselip salah satu doa: Allahumma yassir wala tu’assir. Ya Allah mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.


(Sumber foto dari sini)

    Maka pengalaman puasa di Tapaktuan ini terasa berbeda ketika di Jakarta. Alhamdulillah saya tidak merasakan batuk yang seringkali mendera saat saya berpuasa. Makanan insya Allah senantiasa terjaga, terkendali, dan tidak berlebihan. Terutama tidak minum yang dingin-dingin di saat berbuka.

Shalat tarawih pun benar-benar dijalankan dengan penuh kekhusyukan. Apalagi rata-rata para imam salat di masjid atau meunasah bacaannya bagus-bagus seperti para masyaikh atau imam Masjidil Haram itu. Suatu saat air mata saya meleleh deras ketika mendengar bacaan imam salat magrib di masjid kompleks Gedung Keuangan Negara di Banda Aceh. Bacaannya seperti bacaan Ahmad Saud. Mungkin pada saat itu frekuensi hati lagi menyambung dengan langit.

Baca lebih lanjut.

PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT


RIHLAH RIZA #39: WEDANG JAHE SEGORO NING ILAT

 

“Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

(Alquran yang Mulia, Alinsaan 17)

 

Tapaktuan itu kota kecil yang mempunyai pilihan makanannya sedikit. Selain itu tidak semua makanan ataupun masakannya bisa sesuai dengan lidah Jawa akut saya ini. Seringkali lauk-pauk yang dijual di warung-warung itu terhidang “anyeb” (tidak hangat). Tentu tak akan pernah bisa menggugah selera. Makan pun jadi sekadar rutinitas wajib agar jangan sampai perut kosong. Maka kalau ada teman satu mes saya yang masak dan saya diizinkan untuk mencicipi masakannya itu adalah anugerah yang luar biasa buat saya.

Tapi saya tidak bisa masak. Saya hanya bisa masak air putih, nasi, jagung, dan mi rebus. Masak nasi pun terkadang hasilnya kering-kering sekali atau lembek-lembek sekali. Namun suasana makmeugang dan Ramadhan memberikan kesempatan besar kepada saya untuk belajar memasak. Karena apa? Selain karena alasan di atas, malas pergi keluar saat sahur menjadi alasan utama.

Untuk itu, saya sering pergi ke pasar. Beli ikan, telur, gula, minyak sayur, sayur-sayuran, dan masih banyak lagi yang lainnya. Walau seringkali yang masak itu bukan saya melainkan teman satu mes saya. Tapi saya juga berusaha mencoba. Belajar masak dari Google dengan mencari resep-resep memasak yang sederhana. Bahan-bahannya yang mudah dicari dan dengan alat masak yang umum-umum saja serta tidak aneh-aneh.

Saya membuat tempe goreng, ikan bakar, ikan goreng, telur dadar, omelet mi, tumis kangkung, nasi goreng, bubur kacang ijo, dan wedang jahe. Hasilnya ya begitulah. Kalau dinilai dapat C. Saya pernah membuat nasi goreng di sahur hari pertama dengan menggunakan bumbu instan. Hasilnya tidak habis saya makan karena nasi goreng itu berminyak. Pantas kalau saya sebut nasi goreng itu sebagai Nasi Goreng Ladang Minyak Cepu.

Tapi ada yang sungguh sukses luar biasa yaitu ketika saya berhasil membuat bubur kacang ijo sebagai menu berbuka puasa. Bahannya mudah dicari dan tidak banyak. Antara lain kacang ijo, gula merah, santan, daun pandan dan sedikit garam. Saya benar-benar ikuti apa yang diinstruksikan dalam resep dari sebuah blog masak itu. Terutama dalam hal takaran dan cara memasaknya. Saya tak mau ambil resiko dengan berimprovisasi. Supaya kalau tidak enak jangan saya yang disalahkan tetapi pembuat resepnya. He he he he…bisa saja.

Hasilnya sungguh luar biasa. Bubur kacang ijo yang saya bikin sambil bawa-bawa hp dan baca blog masakan itu jadi hidangan berbuka puasa yang pas. Saya sampai geleng-geleng kepala tiada mengira atas keberhasilan membuatnya. Teman-teman saya pun sampai berkali-kali nambah. Saya sangat berterima kasih sekali kepada pembuat resepnya. Semoga amalnya dibalas Allah dengan balasan yang banyak. Pantaslah jika bubur kacang ijo itu saya sebut sebagai Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Saya ambil nama ini dari nama makanan surga yang disia-siakan oleh Bani Israil selepas lolos dari kejaran bala tentara Fir’aun.

Bubur Kacang Ijo Manna dan Salwa. Kata Teh Windy Ariestanti Hera Supraba, kacang ijo yang tidak tenggelam itu berarti kacang ijonya gabug (Foto koleksi pribadi).

 

Lain hari, saya membuat tumis kangkung. Masaknya dengan insting saja. Tidak buka-buka hp. Wajan bekas goreng ikan sebelumnya itu tidak saya bersihkan. Biarkan apa adanya. Agar terasa kangkung itu dengan rasa ikan. Enggak tahu benar apa tidaknya cara seperti ini. Alhamdulillah jadi. Hasilnya lumayan. Buat teman yang tidak suka asin tumis kangkung saya ini sudah pas. Tapi bagi teman yang lainnya dan saya sendiri yang orang Cirebon rasa tumis kangkung itu jelas kurang pas. Wong Cerbon itu suka yang asin-asin. Karena kami berdua sama-sama sedang dalam perantauan dan jauh dari kampung maka pantaslah kalau tumis kangkung ini saya namakan Tumis Kangkung Sinbad Berkelana.

Lain waktu saya mencoba membuat wedang jahe sebagai teman menu utama buka puasa. Setelah saya googling resepnya sederhana. Semua resep yang saya baca mereferensikan daun serai sebagai salah satu bahannya. Jahe, gula merah, daun pandan, garam, dan daun serai adalah bahan utamanya. Saya pikir semuanya ada di mes kecuali gula merah dan jahenya. Maka saya pun pergi ke pasar untuk membeli kedua bahan itu.

Saya mulai membuatnya satu jam sebelum waktu berbuka. Saya cuci bersih semuanya. Iseng saya menanyakan ke teman satu mes saya yang jago masak.

“Bang, batang serai ini masih bagus, kan?” Tanya saya sambil menunjukkan benda keras dan panjang berwarna coklat kepadanya.

“Bukan. Itu kayu manis.”

“Hah…Whaaaat?”

Ternyata saya salah mengira. Yang saya kira daun serai itu ternyata kayu manis. Terpaksa saya manyun. Pergi ke pasar jam segini pasti warung sudah pada tutup. Sepertinya saya akan menunda membuat wedang jahe itu. Tapi teman saya tahu kegundahan saya. Ia bilang kalau daun serai itu tanaman yang mudah ditemukan di halaman belakang mes. Tak lama ia sudah memberikan kepada saya beberapa batang daun serai. Oooo….ini toh yang namanya daun serai. Sebenarnya sudah sering saya lihat tapi tidak tahu benar kalau itu adalah daun serai.

Subhanallah. Maghrib itu jahe hangat menjadi minuman yang sangat nikmat. Jahe atau dalam bahasa arab disebut zanzabil ini merupakan campuran minuman di surga. Benarkah? Iya betul. Di dalam Alquran surat Alinsaan ayat 17 disebutkan, “Di dalam surga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe.”

Jahe di surga itu dari mana asalnya? Dari Hongkong? Dijawab pertanyaan itu di ayat selanjutnya, “(yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil.”


Deu…deu…deu yang punya nama Salsabila.
Sekarang tahu bukan kalau Salsabila itu adalah nama mata air di surga. Indah nian. Cantik nian. Rima dalam akhir dua ayat itu pun juga indah: Zanzabila-Salsabila.

Saat meminumnya saya jadi teringat masa kecil saya dulu. Ibu saya sering beli jamu gendong. Biasanya yang ibu minum adalah jamu yang warnanya kuning dan terasa pahit. Untuk anak-anaknya kami diberinya segelas cairan warna coklat yang rasanya manis itu. Biasa sebagai penawar dan penghilang rasa pahit jamu. Itulah minuman jahenya. Hangat di lidah hangat di perut. Sore itu, ketika azan magrib berkumandang pantaslah kalau minuman jahe yang saya buat itu saya namakan Wedang Jahe Segoro Ning Ilat (Wedang Jahe Samudra di Lidah).

Duh maaf, puasa-puasa begini membahas hal beginian. Bagi yang sudah ahli memasak atau bagi ibu-ibu rumah tangga, pengalaman saya ini pengalaman remeh temeh. Biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tapi bagi saya ini pengalaman yang sangat luar biasa. Minimal saya bisa masak bubur kacang ijo. Insya Allah akan saya praktikkan di Citayam sana untuk bantu-bantu Ummu Haqi. Saya juga jadi tahu mana kayu manis dan mana daun serai. Itu pelajaran berharga.

Kiri Kayu Manis, Kanan Daun Serai. Jangan sampai salah. (Gambar dari berbagai sumber).

 

Kata teman, kemampuan memasak ini akan meningkat seiring dengan waktu. Para tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah pun demikian, sepulangnya dari perantauan, selain bertambahnya pengalaman, mereka pada jago masak. Semua berawal karena keterpaksaan, pada akhirnya memasak pun menjadi candu. Berhasil satu resep maka ingin mencoba resep lain. Ada teman saya yang lain sekarang kecanduan masak. Postingan Facebooknya penuh hasil olahannya.

Saya mungkin belum bisa seperti mereka yang jago masak itu. Saya hanya sekadar memenuhi sebatas kebutuhan perut saja. Cukup yang sederhana-sederhana saja. Yang penting saya bersyukur masih bisa makan. Apalagi di tengah keprihatinan karena masih banyak saudara-saudara kita, entah di Indonesia, di Somalia, atau pun di Jalur Gaza, yang pada susah makan. Entah karena kemiskinan, konflik, ataupun penjajahan.

Semoga Allah memberikan keberkahan atas apa yang kita makan. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamarraahimiin.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juli 2014

 

 

 

RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG


RIHLAH RIZA #38: MAKMEUGANG

 

Ada tradisi yang dipegang begitu kuat oleh masyarakat Aceh, salah satunya adalah tradisi meugang atau makmeugang. Tradisi meugang adalah tradisi berkumpul dengan keluarga sembari makan-makan di hari terakhir bulan Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadhan. Enggak afdal kalau tidak berkumpul. Oleh karenanya, seminggu atau beberapa hari sebelum hari meugang tersebut banyak para perantau kembali pulang kampung.

Selain makan-makan dengan menu khusus maka yang muda berkunjung kepada yang lebih tua dengan menyerahkan bawaan berisi lauk-pauk—termasuk di dalamnya daging kerbau atau sapi yang diolah ke dalam berbagai macam masakan. Tidak heran di berbagai daerah di Aceh banyak bermunculan lapak-lapak baru di pinggir jalan yang khusus berjualan daging kerbau atau sapi.

Dalam masyarakat Aceh tradisi ini dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu menjelang bulan Ramadhan, menjelang hari raya Idul Fitri, dan menjelang hari raya Idul Adha. Tradisi ini berlangsung ratusan tahun dan sudah turun temurun dilaksanakan.

Menurut Acehpedia, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Setelah Aceh dikalahkan Belanda, kerajaan bangkrut. Lalu, rakyat berpartisipasi sendiri dengan memotong sapi atau kerbau guna memeriahkan meugang.

Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang. Tradisi ini malah bisa membantu perjuangan pahlawan Aceh untuk bergerilya, yaitu daging yang diawetkan. Dengan daging awetan, tulis Acehpedia, pejuang Aceh dapat menjaga persediaan makanan yang tetap berkalori sehingga dapat bertahan selama perang gerilya.

Penjual daging di salah satu pasar di Aceh (gambar dari acehmail.com)

 

Di Tapaktuan, tradisi ini berimbas buat saya. Warung nasi tidak ada yang buka. Sebenarnya pemilik warung memahami urgensi keberadaan mereka buat para pekerja rantauan seperti saya ini. Apalagi buat yang menjomblo. Karena kepraktisan membeli makanan daripada memasak sendiri lebih jadi pilihan.

Tapi apa mau dikata, tradisi ini harus dipegang. Harus dihormati. Sebelas bulan mencari nafkah masak satu atau beberapa hari saja saja tutup tidak mau. Ada saja gunjingan ini kepada para pemilik warung yang masih buka.

Daripada saya kelaparan maka pada hari kedua sebelum Ramadhan saya pun membeli sembako sebagai persiapan antara lain lima butir telor, satu kilogram beras, dua ekor ikan, mi dan bumbu-bumbu instan. Sayang sekali tidak ada yang namanya sayur instan. Sedangkan kalau beli ikan tentu di pajak (baca pasar). Saya titip sama teman saya yang sering pergi belanja ke sana, J. Simorangkir, teman saya yang hobi banget makan ikan dan jalan-jalan pagi.

Tapaktuan ini terkenal dengan ikan segarnya. Seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Aceh, Nasir Jamil, saat dia tahu bahwa saya bekerja di Tapaktuan, langsung menyatakan kesukaannya dengan ikan-ikan di Tapaktuan yang segar, putih, dan empuk dagingnya itu. Dalam kunjungan kerjanya, ia pernah mampir di Tapaktuan.

Ya, saya sudah terbayang mau diapakan ikan ini. Dibakar dan digoreng. Ilmu cara bakar ikan dari teman satu mes saya yang jago masak: Tulus Mulyono Situmeang. Cukup dengan memberi garam dan perasan air jeruk nipis. Katanya enak. Kalau menggoreng ikan sepertinya tak perlu repot, bumbunya sudah ada, tinggal beli saja.

    Sahur pertama kali di negeri orang, sendirian, hanya dengan nasi berteman ikan bakar rasa seadanya tanpa sayur. Saya terima semuanya dengan berusaha lapang dada. Sebotol air putih sebagai penutup sahur untuk memulai hari pertama Ramadhan. Seraya memohon kepada Yang Maha Kuat agar Ia menguatkan fisik saya. Tidak hanya itu, saya meminta semua hajat pada-Nya. Bukankah waktu sahur adalah waktu teristimewa untuk kita berdoa?

    Sayyid Quthb ketika menafsirkan QS Alimran ayat 17 menggambarkan “as haar” yakni “pada waktu sahur” sebagai waktu malam menjelang fajar. Saat yang hening, menimbulkan nuansa lembut dan tenang, dan tercurahlah semua perasaan serta getaran yang tertahan dalam hati. Mereka yang sabar, jujur, taat kepada Allah, suka berinfak, dan memohon ampunan kepada Allah pada waktu sahur, akan mendapatkan “keridaan Allah”. Merekalah—yang menurut Penulis Kitab Fii Dzilaalil Qur’an ini—layak mendapatkan keridaan dengan naungannya yang segar dan maknanya yang penuh kasih sayang. Ibnu Hajar mengatakan doa dan istighfar di waktu sahur adalah diijabahi (dikabulkan).

    Alhamdulillah, hari pertama dilalui dengan mudah. Sirine tanda berbuka puasa berbunyi nyaring dari masjid yang berada di salah satu sudut kota Tapaktuan. Selain pada waktu berbuka puasa, sirine ini berbunyi pada jam tiga dan empat pagi, serta pada waktu imsak. Saya meminum segelas air teh hangat. Sepiring nasi dan dua potong ikan goreng yang setengah jam sebelumnya saya masak. Itu saja. Tidak ada yang lain. Tapi benar-benar nikmatnya luar biasa. Benar apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad saw, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-Nya.” Semuanya jadi nikmat karena diterima dengan gembira.

    Pun, foto yang dikirimkan oleh istri saya melalui aplikasi whatsapp di waktu duha sebelumnya meneguhkan kembali kesadaran saya tentang arti banyak-banyak bersyukur terhadap hidangan berbuka puasa. Foto yang bertuliskan dengan huruf besar “Renungan Ramadhan” dan terdapat gambar seorang laki-laki berpakaian tradisional Arab sedang mengusap air matanya dengan sapu tangan. Tulisan di bawah gambar menjelaskan lebih lanjut.

Seorang mufti besar Arab Saudi menangis terisak-isak setelah menerima soalan melalui telefon dalam sebuah rancangan TV live. Panggilan tersebut datang daripada seorang saudara Islam dari Somalia dengan pertanyaan: “Adakah puasa saya (dan kami) sah dan diterima Allah SWT sedangkan saya (kami) tidak dapat bersahur atau berbuka?” Saudara kita di Somalia tiada apa-apa untuk bersahur dan berbuka sedang kita enak menjamu selera dan aman damai.

    Di Citayam, buka puasa sudah satu jam sebelumnya. Ada yang membuat haru ketika saya mendapatkan foto lain yang terkirim dari Umi Haqi. Foto yang menggambarkan Mas Haqi, Mas Ayyasy, dan Kinan duduk bersama di atas meja makan sambil menyantap dengan lahap hidangan buka puasa. Subhanallah. Insya Allah tetap afdal keberadaan kita walau dipisahkan oleh jarak dan waktu di hari meugang dan pertama ramadhan ini. Yang terpenting adalah keberadaan Allah tetap di hati kita masing-masing. Insya Allah.

    Bagaimana hari pertama Ramadhan Anda?

Mas Ayyasy dan Mas Haqi sedang menyantap hidangan berbuka puasa.

 

Kinan lagi buka puasa sebedug dan semaghrib.

 

Kinan lagi sholat. Plirak-pilirik.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

03 Juli 2014

     

Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”


Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”
Sumber: Islamedia.co
Islamedia.co – Hari ini Senin(26/5), sebuah akun Facebook Jiwa Singa mengunggah sebuah foto yang menampilkan sosok bertopeng yang membakar kain putih bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah dalam huruf Arab. Bendera ini dalam literatur Islam dikenal sebagai bendera Rasulullah saat berperang dengan kafir musyrikin Mekkah. 
 
Dalam akunnya saat mengunggah foto tersebut Jiwa Singa menulis, “FYI : Teman saya yang mengirim foto ini tidak anti Islam. Tapi ketika agama atau apapun itu Ideologi, mulai memusuhi dan memaksa, dan bahkan membunuh yang lainnya yang tidak seiman, maka perlawanan tentang hal itu adalah suatu yang memang sudah seharusnya. Termasuk membakar bendera mereka.” 
Atas foto aksi pembakaran yang merupakan kontribusi foto untuk Cronos Zine edisi dua ini menimbulkan pro dan kontra. Salah seorang Facebooker Noor H Dee menyatakan pendapatnya, “Wah wah wah, kenapa begini bro? Itu bendera Islam? Bendera yang dibawa rasul. Ngajakin perang ini namanya.” 
Akun Jiwa Singa menyatakan bahwa aksi ini harus dipahami secara kontekstual bukan secara tekstual. Membaca aksi teman dan pendapat akun Jiwa Singa ini mengingatkan publik pada aksi seorang dosen yang menginjak-injak lafaz Allah. 
Menurut  Abu Faguza Abdullah, selaku pegiat dakwah: “Aksi-aksi demikian seperti unjuk keberanian di Negara yang mayoritas muslim, Pelaku pembakaran dan penyebaran foto ini bisa kena pasal UU ITE.
Link Facebook Penyebar Foto Pembakaran “Bendera Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”:
 
[im/mh]
***
Kontribusi Berita untuk Islamedia.