Blog Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.

DENDAM AMANGKURAT

with 20 comments


DENDAM AMANGKURAT

Beberapa pemimpin Bani Abbasiyyah yang tidak berhasil membunuh lawannya dari Bani Umayyah melakukan sebuah tindakan
di luar akal manusia yang beradab hanya dengan alasan kelompok Bani Umayyah tersebut mati sebelum mereka berkuasa.
Karena masih penasaran, seorang dari mereka, Abdullah bin Ali, mengeluarkan mayat-mayat musuhnya dari kuburan, lalu
mencambuki, dan menyalibnya sebelum akhirnya dibakar. Tidak hanya itu ia membantai keturunan Bani Umayyah dan
orang-orang yang bukan berasal dari Bani Umayyah sebanyak 92.000 orang pada hari Ahad di tepi salah satu sungai di
Ramlah.

Beberapa abad kemudian, contoh lain dari begitu banyak obsesi sebuah dendam adalah saat Trunojoyo yang memberontak
kepada kakak iparnya Amangkurat II-raja Mataram yang lalim dan mau menggadaikan harga dirinya di telapak kaki VOC,
padahal kakeknya sendiri tak mau untuk tunduk pada kumpeni hingga menyerang Batavia dua kali walaupun tanpa hasil-tak
sanggup lagi untuk meneruskan perlawanan. Maka yang tampak adalah sebuah tragedi di balai agung pertemuan raja.

Di sana, penyerahan baik-baik itu tak dibalas dengan sebuah penghormatan akan nilai kehidupan. Beberapa pengawal
bergerak, menyeret Trunojoyo untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi, menyambut tubuh yang
telah pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai Balabar. Tusukan tepat di dada hingga menembus punggung. Darah muncrat
membasahi raja.

Tak puas sampai di situ, ia memerintahkan para adipatinya untuk ikut serta terjun ke dalam lautan kebengisannya.
Mereka langsung maju menyarangkan keris masing-masing ke tubuh yang sudah tak bernyawa itu, lalu memakan jantungnya.
Dua orang tumenggung dari Pasuruhan karena tidak mendapat tempat lagi untuk di mana keris hendak ditusukkan, mereka
cuma kebagian upacara melumuri tubuh dan wajah dengan darah. Selesai?

Tidak!

Sebelum Amangkurat meninggalkan balai pertemuan itu, ia memerintahkan agar leher suami dari adik tirinya itu
dipenggal, dan kepalanya dia tenteng menuju balai peristirahatan. Semua selir wanita simpanan ia suruh menginjakkan
kakinya di atas kepala Trunojoyo sebelum masuk ke peraduan. Lalu dini hari nantinya, ia perintahkan kepala tersebut
dimasukkan ke lesung untuk dihancurkan.

Aduhai manusia, sungguh ini adalah secuil dari prahara bahkan badai dendam yang menggelayuti sukma dan hati para
pengusung sifat alami Iblis. Ia yang diusir dan dilaknat Allah ini karena kesombongannya tak mau sujud kepada Adam
tak akan pernah puas untuk senantiasa menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam neraka yang sedalam-dalamnya. Dendamnya
tak berkesudahan.

Puaskah Abdullah bin Ali dan Amangkurat II untuk menuntaskan dendamnya? Tidak! Sungguh membunuh musuh tidak akan
cukup untuk memuaskan nafsu balas dendam. Ia pada galibnya tidak akan pernah menemukan kedamaian atau kebahagiaan
karena api dendam itu akan semakin berkobar ketika satu dendamnya saja terlampiaskan. Ia bagaikan api disiram dengan
bensin, hingga dendam itu akan menguasai seluruh sisi kemanusiaannya.

Maka Syaikh 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni pun meminta kepada para manusia untuk memahami kata-kata ini:
"Pendendam akan selalu merasa lebih menderita dan sengsara dibandingkan dengan musuhnya, karena dia telah
kehilangan kedamaian dan kebahagiaan."

Musuh tidak akan menyakiti orang
lain lebih hebat daripada dia menyakiti diri sendiri.

Tak sekadar di forum diskusi, di dunia nyata syahwat dendam yang membesar hingga sampai menjadi obsesi adalah sebuah
tanda dari hati yang sakit. Ia senantiasa mencari setitik kesalahan yang tampak dari saudaranya sendiri. Menunggu
dengan sabar kelengahan saudaranya bagaikan elang Afrika yang sedang mencari mangsa. Di saat kelinci gurun itu muncul
maka melesatlah sang elang menerkam hingga mencabik-cabik tubuh dan memakannya. Begitu pula di saat kesalahan itu
tampak di depan matanya, ia siapkan mortir pembalasan entah dengan kata-kata atau aksi fisik secara nyata. Ia
bagaikan penjelmaan dari dendam Amangkurat II.

Ah, puaskah? Tidak, sungguh hatinya semakin sakit hingga ia sesungguhnya rapuh dan tidak menyadari bahwa obat yang
sesungguhnya itu bukan sebuah pembalasan dendam tetapi aksi sebuah hati berupa memaafkan. Ya, memaafkan atas sebuah
kesalahan itu akan menyehatkan dan membahagiakan dirinya sendiri. Ia bagaikan air hujan yang memadamkan kobaran api
para pengusung dendam. Ia bagaikan wadi di tengah gurun pasir bagi para kafilah. Ia adalah pulau kecil di tengah
samudera luas bagi orang-orang yang terapung-apung di dalamnya.

Kathleen Lawler, Ph.D-seorang peneliti di University of Tennesse, yang meneliti soal pengaruh memaafkan terhadap
kesehatan-menjelaskan sesungguhnya memaafkan dapat meningkatkan kesehatan karena terjadi pengurangan beban psikologis
yang tertekan karena disakiti dan diserang oleh orang lain. Disadari atau tidak, kemarahan dan rasa sakit hati yang
mendalam memang bisa merusak kesehatan. Memaafkan adalah obatnya. Dengannya tubuh menjadi rileks, aliran darah lebih
lancar karena jantung bekerja normal tanpa gangguan. Dan ketimbang untuk orang lain, memaafkan sebenarnya amat baik
utuk diri sendiri.

Aduhai kawan, menyandingkan sebuah kemaafan untuk menutupi sebuah lubang bernama dendam adalah tugas berat. Di
sanalah butuh sebuah semaian dari ladang keimanan. Keyakinan yang kuat bahwa dengan hanya berlindung pada Sang
Pencipta Segalanya, maka bibit-bibit sifat Iblis itu akan musnah.

Aduhai kawan, sungguh banyak para ulama pendahulu kita berwasiat pada kita semua, dengan dzikir kepadaNya selamanya ,
senantiasa mengambil wudhu, bergaul dengan orang-orang yang shalih, meninggalkan kedurhakaan dan perbuatan-perbuatan
keji, berpaling dari dosa-dosa, banyak beristighfar, tobat, dan kembali padaNya, semuanya itu adalah benteng kokoh
perlindunganNya dari segala bentuk angkara murka.

Selain itu akan kemana lagi kita berlindung? Pada kayu-kayu mati? Pada patung-patung bisu? Pada kedigdayaan diri?
Aduhai, kiranya mati adalah lebih baik daripada hidup.

Semoga kita tidak mendendam layaknya dendam Amangkurat yang tiada berkesudahan.

Allohua'lam bishshowab.

Maraji':

1. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Don't be Sad: Cara Hidup Positif
Tanpa Pernah sedih dan Frustasi
, Maghfirah Pustaka, 2004

2. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Cambuk Hati, Irsyad Baitus
Salam, 2004

3. Asmawati, Memaafkan itu Menyehatkan & Membahagiakan,
Majalah Ummi Edisi 05/XIX September 2007;

4. Bre Redana, Bulan Kabangan, dalam Derabat, Cerita Pendek Pilihan Kompas 1999.

5. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani
Umayyah hingga Imperialisme Modern
, Pustaka Al-Kautsar, 1998;

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.22 08 01 08

di sana Islam sekadar simbol

About these ads

Written by dirantingcemara

Tuesday, 8 January 2008 at 9:40 am

Posted in History, Opini

Tagged with , ,

20 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah. Salam!

    http://www.lintasberita.com/Lokal/DENDAM_AMANGKURAT/

    *****

    Riza Menjawab:
    Akan saya coba, terimakasih. :-)

    Like

    Lintasberita

    Friday, 11 January 2008 at 5:53 pm

  2. Sungguh Teganya-teganya-teganya(Kata bang Meggy Z).

    Tapi adegan pembantaian itu bisakah diperjelas sumber dan keakuratannya? Atau hanya sekedar cerita yang sengaja diadakan sebagai pemanis sejarah (semacam novel)? mohon rinciannya.

    Like

    Darisjati

    Friday, 6 February 2009 at 1:44 pm

  3. epada kakak iparnya Amangkurat II-raja Mataram yang lalim dan mau menggadaikan harga dirinya di telapak kaki VOC,

    apaan nih omongnya sama kaya amain rais seenaknya sendiri itu bukan realita yang nyata menceritakan berdasarkan mata penglihatan sendiri mengalami dan merasakan apa yang diomongin

    Amangkurat 2 bukan berpihak pada voc tapi menyusun taktik bagaimana mengalahkannya tetapi banyak pemberontakan dimana sri susuhanan bukan penghianat mataram dan bangsa indonesia sendiri waktu itu belum ada keturuanan sultan agung itu agung alim

    Sejarah tak bisa tercoret begitu saja. Kelaliman tak akan pernah dilupakan oleh bangsa ini.

    Like

    ANdy

    Saturday, 25 July 2009 at 2:40 pm

  4. Sunan Amangkurat II memang raja yang lalim. Itu ada dalam buku sejarah. Saya ingat sekali ketika masih sekolah. Dalam sebuah buku lain, dikisahkan bahwa Sunan Amangkurat II juga membunuh ribuan ulama yang tidak mau tunduk kepada pemerintahannya yang lalim & berkiblat kepada VOC.

    Like

    Farid Wadjdi

    Sunday, 30 May 2010 at 7:03 pm

    • Sumber cerita ada dalam Babad Tanah Jawa menceritakan jg tt Amangkurat 1 dan 2. Diceritakan apa adanya. Kemuliaan moral generasi pendiri Mataram telah luntur, merosot adanya ya demikianlah…

      Like

      dildaar80

      Friday, 8 July 2011 at 8:34 pm

  5. Ceritanya Sulit untuk di simak

    Like

    amangkurat

    Wednesday, 23 March 2011 at 2:57 pm

  6. tes

    Like

    ana

    Tuesday, 5 April 2011 at 10:30 am

  7. Dasar anda pemuda gendut! hidup bukan sekedar memuaskan nafsu makan, jadi hindari perut buncit seperti anda !!

    Like

    si Tampan

    Monday, 20 June 2011 at 10:58 am

  8. malu dong pak! anda ini muslim, tapi kok gendut badannya! itu tanda2 pemalas! jgn ngomong lebih jauh soal agama kalau anda gendut! orang yg gendut itu rakus dan maruk! seperti babi!

    Like

    si Tampan

    Monday, 20 June 2011 at 11:11 am

  9. Trunajaya memberontak di masa Amangkurat I atau II sich yang benar… Ah, itulah sejarah bangsa yang jangan sampe ditiru. Jangan sampe masuk dalam pendidikan karakter,, bisa gawat kalo budaya memberontak masuk kurikulum,,, Kembali ke Islam yang sebenarnya, Mari teladani Rasulullah SAW…

    Like

    guru miskin

    Thursday, 14 June 2012 at 7:42 pm

  10. lha, mau g’mana lagi, memang sejarah kenyataannya seperti itu, memang serba susah mau ditutup-tutupi memang kenyataannya seperti itu, mau dibuka takut ditiru generasi muda, trus g’mana ? baik/buruknya tergantung yg mengomentari dan bumbu-bumbu campurannya.

    Like

    mbow

    Sunday, 14 April 2013 at 1:43 pm

  11. jk kita perhatikan, ada sisi lain dari peristiw kekejaman sejarah amangkurat itu, apa jadinya jika kita tetap nonkooperatif dan tetap nekat melawan voc, apa kira2 kt ada kemungkinan menang ? bukankan pendahulunya saja beberapa kali penyerangan selalu gagal, nah ini salah siapa ? dan bgmana jika kita tetap nekad dgn kondisi kita yg seperti itu, silahkan kita mejawabnya secara jujur perlu kita ingat sejarah yg melatar belakangi peristiwa itu dari seluruh penjuru dunia, baik itu di barat atau di timur, bukankah banyak bangsa2 lain di belahan dunia yang tumbang dan akhirnya hancur diinjak2 kaki voc dan sejenisnya, bahkan banyak yang musnah (memang pada masa itu sudah jadi takdir kemenangan mereka sampai masa tertentu) dan amangkurat berusaha menghidari kenyataan itu dgn taktik lain x, tetapi harus menghadapi benturan2 sementara itu voc sudah di belakang, di samping kanan-kiri amangkurat, terus g’mana lagi

    Like

    mbow

    Sunday, 14 April 2013 at 2:01 pm

  12. kekejaman2 yg dilakukan para amangkurat itu meskipun merugikan, tetapi bisa dilihat sebagai taktik yg ditunjukkan kpd voc bahwa kerjasama itu bukan kerjasama dari orang yg lemah, melainkan orang yg siap berbuat kekejaaman yg tidak masuk akal jika hal itu diperlukan shg dlm hati voc tetap tersimpan rasa keder dan takut penuh misteri (semacam teror)

    Like

    mbow

    Sunday, 14 April 2013 at 2:12 pm

  13. jika disederhanakan akan berbunyi “meskipun kita telah terpukul tinju voc dan jatuh terlentang, bukan berarti kita bisa dng mudah diinjak2 oleh vpc dengan mudah, masih ada permainan bawah yg kejam dan mematikan”

    Like

    mbow

    Sunday, 14 April 2013 at 2:18 pm

  14. Sy buyut dari Amangkurat II..nama panggilannya adalah pangeran puger..beliau suka sekali berkelana..dan beliau akhirnya bertemu dg wanita indo-perancis..

    Like

    Muhammad Irfan

    Saturday, 31 August 2013 at 7:52 pm

  15. as. masa lalu dgn berbagai cerita bersejarah, bisa kita ambil hikmah bahwa dalam menggapai cita dan cinta yg berujung pada motivasi kekuasaan, jabatan, akan berdampak demikian jare wong saiki: politikus, siyasah penuh dgn adu domba, fitnah, iri dan dengki, itu sudah terjadi dari mulai anak nabi adam. jadi ndak usah heran. semua berjalan sesuai sunnatulloh (maaf kalosalah) babad tanah jawa dari mulai masuknya para walipun para petinggi kerajaaan tak luput dari masalah, perebutan kekuasaan, duel ilmu kesaktian, dan perebutan wanita cantik.karena semua itu adalah sifat madzmumah pada diri setiap insan, saya hanya bisa berbaik sangka pada belaiu pelaku sejarah terutama para raja, senopati dll yg sudah masuk islam kemudian mereka terlibat perang saudara atau pemberontakan terhadap orang islam itu sendiri dll, semoga itu semua dlam rangka ijtihad mereka untuk memperjuangkan agama islam dibumi nusantara ini semakin baik, syiarnya semakin maju, semoga Allah SWT Mengampuni mereka semua, bila mereka salah dalam berijtihad semoga mendapatkan satu derajat. dan bila benar mendapat 10 derajat. bagaiman menurut anda kawan???….mereka juga leluhur kita semua sebagai orang jawa yg sudah masuk islam. kecuali bila luluhur anda adalah orang VOC maka bila saat ini menjadi muslim ..semoga tetep dalam iman islam, tp kalo masih di luar islam…saya berharap semoga Allah memberikan hidayah…ws

    Like

    wong alas roban

    Wednesday, 11 December 2013 at 8:02 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: